
"Apa Yara masih tidak mau ditemui?" Tanya Gita, sahabat dari Almarhum Puspa.
Pak Rio menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia selalu menolak ku, Ta!" sahut Pak Rio pasrah.
Pria itu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meminta maaf pada putrinya, Yara.
"Aku pantas mendapatkan ini! Aku sudah memenuhi semua keinginannya. Aku bahkan sudah menyiapkan pengacara untuk memindahkan kepemilikan semua aset milikku atas dirinya. Tapi ternyata aku salah. Yara menolak nya mentah-mentah. Bahkan Yara sama sekali tidak mau menemui ku saat itu." Pak Rio kembali mengeluh. Dan sampai saat ini aku tidak bisa menemuinya. Tapi anak buahku selalu mengikutinya dari jauh. Jadi aku bisa tahu keadaanya saat ini," lanjutnya.
"Masalahmu begitu pelik, Yo. ini adalah masalah pribadi antara anak dan ayahnya akut tidak bisa terlalu jauh ikut campur. Tapi andaikan saja nanti aku bertemu Yara, ingin sekali aku membantu kalian agar kembali bersama. Aku tahu dalam hati Yara pasti menginginkan itu, hanya saja luka dan kekecewaan masih ia rasakan saat ini," ujar Gita. "Lalu bagaimana dengan Syafa?" Tanya Gita.
"Dia bersama Afkar. Dia baik-baik saja. Syafa hanya sesekali menghubungiku menanyakan kabar dan perkembangan kedekatan ku dengan Yara. Aku harus bagaimana menghadapi masalah keluarga ku, Ta. Aku ingin berkumpul bersama kedua anakku," ucap Pak Rio sendu.
Semua keluhan dan kesedihan Pak Rio diceritakannya pada Gita. Wanita yang menjadi sahabat almarhum istrinya, termasuk sahabatnya juga.
Kisah masa lalu yang begitu pelik juga. Sebelum bersahabat dengan Puspa. Gita lebih dulu dekat dengan Rio. Mereka sangat dekat. Sampai akhirnya kehadiran Puspa berhasil mencuri perhatian Rio.
Kisah masa lalu yang di tutup rapat oleh Gita. Wanita itu menyimpan perasaan pada Rio. Tapi ia tidak mau merusak persahabatannya. Rio mengaku menyukai Puspa dan saat perasaan itu berbalas Rio langsung melamar Puspa menjadi istrinya. Saat itu juga Gita mengubur rapat perasaannya tanpa ada yang tahu. Hingga ia menikah dan memilih tinggal di luar negeri meninggalkan Indonesia. Terakhir kali bertemu dengan Puspa pun saat ulang tahun Syafa yang ke-8. Di saat Puspa dan Rio berada dalam kesalahpahaman hingga beberapa tahun. Setelah itu, Gita tidak tahu bagaimana kabar mereka lagi.
Perasaan yang tidak pernah berubah meskipun sudah ia kubur selama ini. Ternyata kembalinya Gita setelah ditinggal suaminya membuat Gita kembali bertemu dengan Rio, sahabat lamanya. Paling menyedihkan saat melihat masalah yang sedang di hadapinya tidak kunjung usai. Gita merasa tidak tega pada pria itu. Karena itulah Gita setia menemani Rio dalam kesedihannya.
...🌱🌱🌱🌱...
Di rumah mewah milik Syafa. Seorang wanita duduk sambil melamun di halaman belakang rumah itu. Dia adalah Mira. Adik kandung Afkar yang sudah kembali dari rumah sakit jiwa. setelah beberapa bulan di rawat di sana karena mengalami depresi berat. Mira berhasil mendapat ijin pulang. Ia mengalami perkembangan yang cukup baik selama ini. Apalagi setiap kali jadwal kunjungan Dhiya gadis kecil keponakannya itu selalu menjadi penghibur buat Mira. Perlahan Mira pun berhasil sembuh Tapi sikapnya menjadi lebih banyak diam tak banyak bicara.
"Mir, sedang apa?" sapa Syafa pada wanita yang sedang duduk sendiri di depan taman bunga di halaman belakang.
"Mba Syafa," sahut Mira. "Aku sedang menikmati sore, Mba!" Mira kembali memandang taman bunga di sana.
Syafa ikut duduk bersama adik iparnya itu.
"Jangan terlalu banyak sendiri! Mana Dhiya?" Syafa mengedarkan pandangannya mencari anak tirinya yang merupakan sekaligus keponakannya itu.
"Dhiya ke dalam, katanya haus!" Jawab Mira singkat. "Kak ...."panggil nya tiba-tiba.
Syafa menoleh ke arah Mira. "Apa?"
"Apa Mba Syafa bisa mempertemukan aku dengan Mba Yara?"
__ADS_1
Syafa tertegun mendengar keinginan Mira.
...🌱🌱🌱...
Di cafe tak jauh dari rumah nya lah saat ini Mira dan Syafa berada. Tak lupa dengan Dhiya yang selalu Syafa bawa kemanapun dirinya pergi.
Sebab Afkar sama sekali tidak mengijinkan Dhiya dan Syafa keluar dari rumah mereka. Terakhir kali saat Syafa pergi ke rumah papa-nya sembari bertemu dengan Yara. Itupun gagal sebab ketahuan Afkar dan beliau melarang Syafa dan Dhiya keluar lagi tanpa ijin darinya.
Syafa pun menurut karena wanita itu tidak ingin kehilangan Afkar. Hatinya masih bimbang antara memilih Yara atau Afkar suaminya.
Syafa ingin sekali berkumpul bersama adiknya tapi ia masih berpikir anak yang ia kandung jika dirinya meninggalkan Afkar. Sebab bersama Afkar lah Syafa bisa terbebas dari mantan kekasihnya Ryan Mahardika.
Mendapatkan kabar dari Syafa membuat seorang wanita merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Rasa rindu pada putrinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Yara begitu merindukan Dhiya. Terakhir kali pertemuannya dengan Dhiya gagal karena Afkar benar-benar menutup aksesnya untuk bertemu putrinya.
"Dhiya ...." Panggil Yara saat wanita itu tiba di cafe itu.
Dhiya menoleh ke sumber suara. Anak gadis itu juga tidak menyangka bisa bertemu dengan bundanya saat ini.
"Bunda ...." teriak Dhiya. Anak gadis berumur hampir 5 tahun itu langsung turun dari kursi dan berlari ke arah Yara.
Pertemuan dua orang yang begitu mengharukan. Lama mereka tidak bertemu. Beruntung Dhiya tidak rewel seperti anak lainnya. Dhiya perlahan mengerti kalau Yara dan Afkar tidak bisa tinggal bersama lagi. Syafa selalu memberikan pengertian pada Dhiya.
"Bunda juga kangen... Kangen banget sama kamu!" Yara melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Dhiya dengan kedua tangannya. Diciuminya pipi dan kening Dhiya berulang kali oleh Yara.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?" Tanya Yara sambil menatap Dhiya penuh rasa rindu.
"Baik, Bunda!" jawab Dhiya singkat.
Yara tersenyum bahagia bisa bertemu dengan Dhiya. Wanita itu kembali memeluk Dhiya.
"Ra ...." Panggil Syafa pelan.
Yara kembali meregangkan pelukannya. Kemudian beralih menatap Syafa dengan tatapan datar.
"Terima kasih, Mba Syafa sudah menghubungi ku! Bahkan mengorbankan diri untuk mempertemukan aku dengan Dhiya." Ucap Yara kecut. Ia tahu kalau Afkar melarang Syafa bertemu dengan Yara dan melarang membawa Dhiya kemanapun.
"Apapun akan Mba lakukan, Ra. asal kamu bahagia bisa bertemu dengan Dhiya"
"Apapun, Mba?" Yara memastikan ucapan Syafa. "Kalau Mba berucap apapun berarti Mba rela berpisah dari Mas Afkar dan mengembalikan Dhiya padaku!" Yara berbicara dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
Dhiya yang mendengar itu sedikit mundur ke belakang tubuh Yara. Syafa pun melihat itu.
"Ra, tolong jangan bicarakan itu dulu! Kasihan Dhiya."
"Kenapa memangnya Mba? Biar Dhiya tahu sakit dan penderitaan yang aku rasakan selama ini."
"Ra, tolong! Mba tidak bisa memilih. Keduanya berat buat Mba!" Syafa memohon.
"Terserah, Mba Syafa. Setelah ini aku akan memperjuangkan hakku bersama dengan Dhiya."
"Ra, sebenarnya kamu juga tidak perlu khawatir jika Dhiya tinggal bersama dengan Mba dan Mas Afkar. Mba juga sayang sama Dhiya, Ra. Dan kamu bisa bertemu kapan saja dengan Dhiya."
Yara mengelengkan kepala mendengar penuturan Syafa.
"Mba, Apa sebesar itu cinta kamu sama Mas Afkar sampai tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu sepertiku. Bagaimana jika anak yang mba nanti tinggal bersama orang lain di saat mba begitu merindukannya." Yara tidak mau kalah dengan Syafa. Ia hatinya semakin sakit, wanita yang sedarah dengannya itu hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Tapi mba bukan orang lain, Ra. Aku kakak mu. Kamu dan Mas Afkar tidak bisa bersama lagi karena aku dan kamu bersaudara. Mas Afkar tidak bisa berumah tangga dengan dia orang wanita yang sedarah. Dan kamu sudah bercerai. Jadi, Kakak akan merawat Dhiya dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir."
Yara tersenyum sinis pada kakaknya itu.
"Saudara?" Yara menegaskan. "Aku tidak mempunyai saudara yang tidak satu perasaan dengan ku. Jika mba memang menganggap ku sebagai adik seharusnya mba memberikan Dhiya kepadaku. Bukan malah mengikuti keinginan Mas Afkar untuk melarang aku bertemu Dhiya."
Mendengar perdebatan Yara dan Syafa. Dhiya memundurkan langkahnya, Beruntung Mira mendekati mereka. Dan Dhiya menabraknya. "Ateu!" seru Dhiya saat tubuh kecilnya menabrak Mira. Gadis kecil itu langsung memeluk Mira.
"Tidak apa-apa, Sayang!" Mira mengelus pelan pundak Dhiya. Kemudian beralih pada dua wanita yang sedang berdebat dengan keteguhannya masingmasing.
"Kalau kalian tidak bisa berhenti berdebat sebaiknya aku dan Dhiya pulang saja," celetuk Mira berhasil membuat Yara dan Syafa menoleh padanya.
.
.
.
TBC...
Jangan lupa Follow akun author ya
like komennya juga ...
__ADS_1