
Swiss
Saat yang dinanti pun tiba. Yara memutuskan untuk melakukan acara sederhana saja untuk syukuran empat bulan kehamilannya. Mengundang tetangga sekitar dan komunitas muslim yang ada di sekitar rumah. Yara dan Erza berdoa bersama di kediamannya untuk bayinya yang baru menginjak usia empat bulan. Acara berlangsung begitu hikmat.
Para tamu undangan yang datang memberikan selamat dan doa untuk Yara dan calon bayinya.
"Sehat trus untuk bunda dan bayinya ya," ucap Bu Meli, ibu dari Windi.
"Terima kasih untuk doanya, Bu," sahut Yara.
Erza dan Yara merasa bersyukur para undangan sesama muslim bisa hadir dalam acaranya.
Wanita hamil itu terlihat cantik dengan gamis yang ia kenakan. Kehamilannya tidak begitu terlihat karena pakaian tertutupnya.
"Saya senang sekali bisa berkumpul dengan saudara satu keyakinan dengan kita di sini, Pak Erza. Tentunya berkat adanya acara syukuran ini," sambung Pak Mizwar suami dari Bu Meli.
"Dengan begini, Anda bisa ikut bergabung dengan komunitas muslim yang berasal dari negara asal yang sama dengan kita, Pak Mizwar. Bukan begitu?" Sahut Erza.
"Ya, benar sekali!"
Obrolan pun berlangsung singkat. Ternyata tak hanya sesama muslim. Rekan bisnis Erza di sana pun turut hadir dalam acara syukuran itu. Mereka datang memberikan selamat dan doa untuk Yara dan kandungannya.
Matahari semakin terik, satu persatu tamu undangan undur diri dari kediaman Erza. Setelah acara selesai Yara dan Erza pergi mengunjungi salah satu panti asuhan di kota Zurich sebagai nazar atas rasa syukurnya yaitu berbagi pada anak-anak yang kurang beruntung. Bersama dengan Mama Anggi dan Dhiya tentunya. Sedangkan Papa Rangga dan Azzam memilih berada di rumah dengan kegiatan baru yang mereka lakukan.
Yara memilih pergi ke salah satu panti asuhan yang merupakan panti asuhan penerima bayi yang diletakkan di fasilitas baby hatch yang akhir-akhir didengar oleh Yara.
Akhirnya Yara sampai juga di tempat tujuan. Berada di salah satu kamar yang ada di panti asuhan itu. Yara memandangi beberapa anak bayi lucu yang tengah tertidur. Yara sangat menyayangkan banyak anak-anak buangan di sana. Yara juga tidak menyangka disaat orang lain berusaha untuk memiliki keturunan, malah ada orang tua yang membuangnya. Tapi di sini, negara ikut bertanggung jawab dengan menyediakan fasilitas pembuangan bayi. Jadi anak-anak yang terbuang bisa terurus dengan baik.
Di beberapa tempat juga terdapat fasilitas untuk menyimpan bayi bagi para orang tua yang ingin membuangnya. Aneh bukan, Tapi semua terjadi di sini. Tempat pembuangan bayi lebih berguna karena bayi itu akan diserahkan pada panti asuhan atau organisasi yang mengurus mereka secara legal daripada membuang mereka di jalan.
"Kasihan sekali mereka ya, Mas. Aku jadi ingat adik-adikku di panti asuhan," ucap Yara sedih. "Tapi sayangnya mereka jauh."
"Meskipun jauh, kamu tidak lupa untuk mengirimkan bantuan rutin pada mereka, Sayang," balas Erza yang merangkul tubuh Yara dari samping.
Setelah puas berinteraksi dengan anak-anak tanpa orang tua dan memberi santunan pada mereka. Erza dan Yara pun undur diri.
"Thank you for the compensation that ladies and gentlemen gave to this orphanage," ucap salah satu pembina wanita di panti asuhan Emerald orphanage seraya mengulurkan tangannya pada Erza dan Yara.(Terima kasih atas santunan yang bapak ibu berikan kepada panti asuhan ini)
"You're welcome madam. We are happy to be able to share with them," sahut Erza sopan dengan bahu yang sedikit membungkuk. (Sama-sama nyonya. Kami senang bisa berbagi dengan mereka)
"Kak, ayo!" Ajak Yara pada Dhiya yang masih betah bermain dengan anak balita yang baru bisa merangkak.
Mama Anggi yang ada bersama Dhiya lekas berdiri dan meninggalkan anak balita itu. Sebelum pergi, Dhiya mencubit gemas pipi gembul si balita. Kemudian berlari kecil menghampiri Yara. Diikuti oleh Mama Anggi dibelakangnya.
"Kita pulang sekarang, Bun?" Tanya Dhiya.
"Iya, kenapa? Kamu masih betah di sini?"
"Sepertinya Dhiya begitu sayang dengan anak kecil, bahkan para bocah itu tidak menolak saat Dhiya mendekati dan mengajak mereka bermain," ujar Mama Anggi yang menemani Dhiya bermain dengan beberapa anak balita tadi.
Erza tersenyum mendengarnya. "Bagus dong, berarti kakak bisa sayang sama adek nanti."
Dhiya menganguk pelan. "Pasti dong, Pah. Kakak bakalan sayang banget sama adek nanti. Kakak juga gak sabar nunggu adek lahir," sahut Dhiya.
Yara tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
***
Lambaian tangan dari beberapa balita menjadi hal yang begitu mengharukan bagi Dhiya.
"Kakak jadi ingat sama mamih, Bun!" ujar Dhiya saat mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan panti asuhan.
"Kenapa begitu?" Tanya Yara.
"Bagaimana perasaan mamih saat kehilangan dede bayi waktu itu!" jawab Dhiya dengan wajah sedihnya. "Pasti sangat sedih" lanjutnya.
"Kakak pasti mau ketemu Mamih Syafa?" Yara lanjut bertanya.
Dhiya menatap Yara. Kemudian mengangguk pelan. "Sama ayah juga, Bun!" akunya.
"Sabar ya, besok 'kan kita pulang ke Indonesia. Kakak bisa bertemu Mamih dan ayah!" Ucap Yara menenangkan Dhiya. Wanita itu sangat mengerti perasaan yang dirasakan anak gadisnya.
Dhiya menganguk pelan sebagai jawaban. "Iya, Bunda."
...***...
Esok hari
Kesibukan begitu terlihat dari seorang gadis yang sibuk mempersiapkan barang yang ia bawa. Dari jauh-jauh hari Dhiya sudah menyusun rapi semuanya. Anak itu tidak mau ada barang yang tertinggal satupun nantinya. Jadi ia kembali mengecek semuanya.
"Nenek yem bener sudah ada semua 'kan?" Tanya Dhiya pada asisten rumah tangga yang membantunya.
"Sudah Non Dhiya. Sekarang boleh Mbo Yem bawa kopernya ke bawah ya?" tanya asisten tersebut.
Dhiya mengangguk pelan. "Oke deh kalau begitu, bantu bawain ya, aku 'kan anak kecil jadi gak kuat kalau bawa barang banyak," Celetuk Dhiya dan membuat si asisten itu terkekeh geli.
"Kenapa, Dhiya lama sekali?" gumam Yara. "Sebaiknya aku susul ke kamar. Mbo Yem juga jadi ikutan lama!" gerutu Yara.
"Hati-hati, Ra!" Ucap Mama Anggi mengingatkan.
"Iya, Mah."
Sesampainya di kamar Dhiya. Mata Yara membelalak saat melihat ternyata masih ada dua koper lagi bareng milik Dhiya karena setahu Yara semuanya sudah diangkut oleh pak supir ke dalam mobil.
"Ya Allah, Kakak. Banyak sekali barangnya. Ini semuanya isinya oleh-oleh? Apa isinya atau ini hanya alasan kamu saja yang mengucapakan semua oleh-oleh tapi sebetulnya barang kamu sendiri?" Tanya Yara yang begitu terkejut saat melihat ada dua koper lagi koper milik Dhiya.
Dhiya mengelengkan kepala pelan. "Ini betul oleh-oleh, Bunda!" Ujar Dhiya.
"Apa isinya?" Tanya Yara.
"Ada deh, ini rahasia!" sahut Dhiya. "Papa udah ngasih ijin kok, Bun." Lanjut Dhiya dengan wajah iba. takut Yara tidak mengijinkan membawa dua koper lagi miliknya.
Di saat bersamaan Erza datang menyusul Yara ke kamar Dhiya. Pria itu mendapat tatapan tajam dari Yara. Mengetahui kalau istirnya sedang marah. Erza meminta asisten rumah tangga yang ada di dalam kamar Dhiya keluar dari kamar itu dengan sebuah kode saja.
Mbo Yem pun mengikuti perintah Erza.
"Kenapa, Bun?" tanya Erza saat Mbo Yem sudah berlalu dari sana. "Ayo, kita sudah ditunggu di luar."
"Mas yang ijinkan Dhiya membeli banyak barang ini?" Protes Yara sambil menggelengkan kepalanya.
Erza mengangguk pelan. Melihat kedatangan Erza Dhiya segera berjalan ke arah papa-nya.
__ADS_1
"Papa," panggil Dhiya. anak itu meminta pertolongan di balik tubuh Erza.
"Kak," Yara balik memanggil Dhiya.
"Sudahlah, Bun. Tidak apa! Toh barang yang dibeli Dhiya semuanya diperlukan ko. Bukan yang Dhiya inginkan," Erza membela Dhiya.
Yara terdiam mendengarnya. Wanita itu kemudian beralih menatap Dhiya.
"Apa benar yang dibilang papa, Kak?" Tanya Yara tegas.
Anggukan pelan diberikan oleh Dhiya. Anak kecil itu berjalan menghampiri Yara dan menarik tangan bundanya.
"Maaf udah main rahasia sama bunda. Sini kakak kasih liat apa yang kakak beli kemarin sama Oma." Dhiya menarik kopernya kembali. Membuka resleting dan memperlihatkan oleh-oleh yang sudah diberi nama oleh anak itu. Yara memperhatikannya dan mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Dhiya.
"Ini buat Kak Laras, dia senang menggambar jadi kakak belikan lengkap di sini. Ini buat Nenek Lidia, Yang ini buat Ayah." Banyak lagi yang diucapkan Dhiya pada Yara. Sebagian besar oleh-oleh yang Dhiya beli untuk teman-temannya di panti asuhan. Semua barang yang Dhiya beli sesuai dengan kebutuhan masing-masing dari penerima oleh-oleh itu sendiri.
Timbul sebersit rasa bersalah dalam hati Yara. Ia sungguh tidak menyangka, ternyata Dhiya masih ingat dengan nasihatnya. Berbagi kepada saudara yang membutuhkan dan membeli barang yang berguna untuk orang lain. bukan yang diinginkan tanpa ada guna.
Yara menanamkan sikap seperti itu dari sini untuk Dhiya. Sebab hidup tidak ada yang tahu. Roda kehidupan terus berputar. Saat ini kita berada di atas dan esok hari kita tidak tahu kehidupan kita akan berada di mana.
Erza telah memberikan banyak barang mewah berlimpah untuk Dhiya. Dan Yara rasa itu sudah lebih dari cukup. Tinggal menanamkan rasa berbagi dalam hati Dhiya.
"Maafkan Bunda yang sudah curiga sama Dhiya," ucap Yara dengan perasaan bersalahnya.
"Aku juga minta maaf, Bun. Merahasiakan ini dari bunda karena takut bunda melarang."
Keduanya pun saling meminta maaf dan berpelukan. Anak dan ibu itu segera bergegas menyusul semuanya di teras rumah. Mereka sudah dikejar jadwal penerbangan ke Indonesia.
Di tempat lain.
Seorang wanita merasa bahagia saat mendapat kabar kalau Yara sekeluarga sudah tenang dari Swiss. Diperkirakan hampir dua hari mereka tiba di Indonesia. Rasanya sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka. Berita bahagia ini juga disampaikan oleh Syafa pada papa-nya.
Pria yang sudah ringkih itu turut merasa senang.
"Papa tidak sabar ingin sekali bertemu dengan Yara," ucap Pak Rio terbata dengan suara yang sudah tidak jelas.
"Sabar ya, Pah. Papa pasti akan bertemu dengan Faeqa. Syafa pastikan itu!" ucap Syafa menenangkan Pak Rio.
"Dengarkan, doa kamu akan segera terkabul, Yo." ucap Gita. Wanita yang selalu setia di sisi Pak Rio.
Syafa tersenyum membalasnya. Ia merasa bahagia ada orang baik selain Roni yang setia bersama papa-nya. Sahabat baik yang selalu setia dengan menemani sang papa. Meskipun Syafa tahu perasaan dari Gita pada papanya tidak mungkin terbalas. Tapi Gita tidak mempermasalahkan itu. Dia tetap memilih bersama Rio hingga akhir hidup pria itu.
"Papa ingin bertemu Afkar, Fa!" pinta Pak Rio tiba-tiba sontak membuat Syafa menoleh ke arah pria tua yang sedang duduk di kursi roda itu.
"Ya, Pah. Syafa akan segera menghubungi Mas Afkar," sahut Syafa lembut.
"Papa, tunggu!" Pak Rio pun berlalu meninggalkan Syafa dibantu oleh Gita yang mendorong kursi rodanya.
Syafa mengangguk pelan. "Iya, Pah."
Usai berbicara dengan papa-nya. Syafa termenung. 'Apa ini sudah saatnya aku bertemu dengan Mas Afkar dan menyelesaikan semuanya.'
Batin Syafa.
.
__ADS_1
.