Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Dari Rahim Yang Sama


__ADS_3

"Terima kasih, Neng! Semoga hidupmu selalu diberkahi kebahagiaan," ucap pedagang asongan itu.


"Terima kasih, Pa!" Syafa pun kembali melanjutkan melangkahkan masuk ke dalam gedung Pengadilan Agama.


Wanita itu mencari ruangan di mana persidangan Afkar dan Yara berlangsung. Berulang kali mencoba menghubungi suaminya tapi tidak membuahkan hasil. Tersambung tapi tidak diangkat. Syafa lebih memilih mencari tahu sendiri ruang persidangan itu sendiri.


"Mba Syafa ...." Panggil seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.


Syafa langsung menoleh ke arah sumber suara. Lalu berjalan mendekatinya.


Yara berdiri sambil menatap sendu wanita yang tengah hamil itu. Begitu juga Syafa. Ia menatap Yara dengan tatapan yang tidak biasa. Ada rasa bersalah dan rindu jadi satu. Kedua manik mata Syafa berkaca-kaca melihat Yara yang berdiri tak jauh di depannya.


"Faeqa ...." lirih Syafa. Wanita itu berjalan cepat ke arah Yara. Tanpa banyak berkata-kata, Syafa langsung memeluk Yara.


"Faeqa ...," ucap Syafa lagi.


Deg ....


Panggilan itu sontak membuat Yara mematung. Tidak ada orang lain yang memanggil dia dengan sebutan itu. Hanya mama-nya seorang, itu yang Yara tau.


Dari ujung ruangan terdengar suara derap langkah menghampiri mereka. Pria berumur yang terlihat berjalan tergesa-gesa memasuki area gedung Pengadilan Agama.


Pak Rio dia lah orangnya. Beliau langsung menuju ke tempat lokasi. Saat Syafa menghubunginya.


"Ayara ...." Panggil Pak Rio saat melihat dua wanita saling berpelukan di hadapannya.


Yara merasa heran. Apa maksud dari Syafa? Kenapa wanita itu ada di sini? Dan mengapa Pak Rio yang Yara kenal sebagai papa dari Syafa juga berada di sana.


Yara melepaskan pelukan Syafa pada dirinya. Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak dengan Syafa.


"Suami Mba Syafa sudah pergi dari sini kami resmi bercerai. Jadi mbak nggak perlu takut kalau aku akan merebut Mas Afkar dari sisi mba," ucap Yara salah paham.


Kedatangan Syafa ke sana memang untuk menemui Mas Afkar. Tapi ada urusan lain yang lebih penting dari itu.


"Aku aku minta maaf soal Mas Afkar. Tapi kedatanganku ke sini bukan untuk itu."


Pak Rio langsung mendekati Syafa dan Yara. "Termasuk kedatangan Papa ke sini. Ada hal penting juga yang ingin Papa sampaikan kepada kalian berdua," Pak Rio tiba-tiba ikut berbicara.


"Sebenarnya ada apa ini? Kalian ingin aku berbuat apa?" Tanya Yara bingung. "Aku dan Mas agar sudah resmi bercerai kalian tidak perlu takut kalau aku akan merebutnya," lirih Yara. Wanita itu baru saja menenangkan dan mengikhlaskan hatinya untuk perceraian ini.


Tiba-tiba saja Syafa menyodorkan kotak musik berwarna merah kepada Yara. "Apa ini milikmu?"


Yara menyipitkan mata saat melihat benda miliknya berada di tangan Syafa.


"Iya, ini milikku! Kenapa ada sama mba Syafa?" iyalah sedikit heran dan merasa aneh.


"Barang ini tertinggal di rumahku di kamar tempat yang pernah kamu tempati, Faeqa!"


"Dari mana mba tahu nama panggilanku? tidak ada yang tahu panggilan itu selain----” ucapan Yara terpotong oleh Syafa yang langsung meneruskan ucapannya.


"Selain Mama Puspa. Puspa Almira Rajak," cetus Syafa.

__ADS_1


"Kamu mengenal mama-ku?" tanya Yara sambil beralih menatap Pak Rio. wanita itu memicingkan mata pada pria tua yang berada di sisi Syafa. Sebab Yara merasa curiga ada sesuatu yang mereka ketahui.


Syafa meraih sesuatu di dalam paper bag yang ia bawa. Syafa juga mengeluarkan kotak musik berwarna putih bagian sebelah kiri yang mirip dengan kotak musik milik Yara.


"Kita mempunyai kotak musik yang sama. Kamu tahu, kotak musik kita diberikan oleh orang yang sama." Syafa membalikkan kedua kotak musik itu. Di bawah masing-masing kotak musik itu terdapat inisial huruf dari pemiliknya.


Kotak musik berwarna merah berinisial 'F' sedangkan di kotak musik berwarna putih berinisial 'A'.


Yara memperhatikan gerakan Syafa. Wanita itu masih tidak percaya dengan penjelasan Syafa.


"Kamu mengerti apa maksudku, Faeqa?" desak Syafa.


Yara menggelengkan kepalanya pelan dia masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan Syafa.


"Tolong jangan menyebut panggilan itu lag, Mba! Hanya mama-ku yang boleh melakukannya!" Hardik Yara. Ia merasa tidak terima karena dari tadi Syafa selalu memanggil sebutan kesayangan dari Almarhum mama-nya.


"Karena mama kamu adalah mamaku juga. Kita lahir dari rahim yang sama!" Tutur Syafa tidak mau kalah.


Yara menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian menoleh ke arah Bu Haryani yang ada di sampingnya. Wanita berumur yang masih terlihat cantik itu tidak banyak bicara dari tadi. Sama seperti Yara, kedatangan Syafa dan Pak Rio juga mengejutkan untuknya.


"Ini bisa saja terjadi, Bu! Banyak yang mempunyai kotak musik yang sama Seperti milikku. Jadi, jangan terlalu menyangkut pautkan kebetulan ini, Mba!" Sanggah Yara. Ia lekas mengambil kotak musik miliknya dari tangan Syafa. Yara pun berusaha menyangkal semuanya. Tangannya bergetar saat memegang kotak musik itu dan tiba-tiba saja benda itu jatuh.


Yara sedikit membungkuk untuk meraih benda yang tergeletak di lantai itu. Membuat kalung berlian putih yang ia bersembunyi di balik pakaian Yara menggantung di lehernya.


Pemandangan itu tertangkap oleh manik mata Pak Rio.


"Tapi ucapan Syafa itu benar, Nak!" lanjut Pak Rio sambil mendekat ke arah jarak lalu meraih kalung yang menggantung di leher wanita itu.


Pak Rio lekas mendekati siapa lalu mencari kalung yang selama ini tidak pernah lepas dari putri pertamanya itu. Dikeluarkannya kalung tersebut dari balik baju Syafa. "Lihatlah! Kamu perhatikan kalung yang Syafa pakai ini!"


Yara pun memerhatikan itu.


"Kamu samakan dengan kalung milikmu! Sama 'kan?" Pak Rio mencoba meyakinkan Yara. "Itu karena papa yang membuatkan kalung itu khusus untuk mamamu dan Syafa. Sebab waktu itu kamu belum lahir, Nak! Dan kalung yang sekarang kamu pakai adalah milik istriku, Puspa." Usai berbicara Pak Rio mencoba mendekati Yara.


Mendengar penjelasan Pak Rio, Yara semakin tidak percaya.


"Kalian jangan bohongiku!" Sentak Yara.


"Papa tidak berbohong, Nak!" sanggah Pak Rio.


Bu Haryani menghadang pria berumur itu untuk mendekati Yara.


"Apa Anda punya saksi yang lebih akurat untuk membenarkan semua ucapan Anda barusan?" Bu Haryani mencoba menengahi.


"Saya rasa tidak perlu saksi. Dengan semua bukti yang ada, seharusnya sudah membuat dia yakin, Bu!" Balas Pak Rio.


"Tapi menurutku ini terlalu berat untuk Yara, Pak. Coba bapak bayangkan. Dia baru saja bercerai dengan suaminya dan saat ini Yara juga harus menerima kenyataan kalau madunya adalah kakak kandungnya sendiri. Sehancur apa perasaan anak bapak ini? Bapak tidak memikirkan itu?" Bu Haryani merangkul Yara.


Pak Rio pun terdiam. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi.


Yara berjalan mendekati Pak Rio dan Syafa. Wanita itu memberanikan dirimu ungkapkan semua yang ia rasakan selama ini.

__ADS_1


"Kenapa Anda baru mengakui aku sebagai putri mu? Ke mana saja Anda selama ini?" Apa anda tahu bagaimana penderitaanku selama ini? Apakah anda tahu setiap tahun setelah kepergian mama aku selalu mengharapkan kehadiranmu? Aku menunggumu dan berharap kamu akan menjemputku," ucap Yara tegas pada Pak Rio.


"Papa bisa jelaskan semua padamu, Nak!" Wajah Papa Rio terlihat sedih dan merasa bersalah pada Yara. Begitu juga dengan Syafa.


Yara menarik sudut bibirnya. "Kurasa terlambat untuk menjelaskannya saat ini. Penderitaanku terlalu banyak. Anda tidak tahu apa yang mama lakukan untuk berjuang demi kehidupan kami 'kan? Kalian bisa hidup mewah, semua yang kalian inginkan tercukupi.Tapi aku dan mama harus berjuang bahkan untuk tempat tinggal kami menumpang di panti asuhan. Tempatku tumbuh, tempat aku mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Aku rela menolak semua permintaan menjadi anak angkat karena aku berharap, orang yang di sebut papa oleh mama. Orang yang disebut sebagai suami yang baik bagi seorang Puspa datang menjemputku. Tapi kenyataannya 18 tahun waktu yang aku habiskan di sana. Anda ..." Yara menatap tajam pada Pak Rio. " Anda tidak pernah datang. Dan bagiku, seorang papa yang tidak baik dan papa yang buruk!" ucap Yara sinis. Saat itu adalah kesempatan bagi Yara mengungkapkan semua isi hatinya pada Pak Rio.


Ucapan Yara mampu merobek hati Pak Rio. Semua yang di ucapkan Yara benar. Tubuh tegap itu sedikit terhuyung mencari keseimbangan. Beruntung Syafa berada di dekatnya.


"Papa ... Kenapa?" Tanya Syafa.


"Papa tidak apa-apa, Nak. Semua yang diucapkan Yara benar," lirih Pak Rio sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Setiap kata yang terlontar dari bibir Yara bagaikan belati tajam yang melukai hati Pak Rio.


"Faeqa, cukup! Kamu tidak tahu papa juga menderita selama ini!' Ujar Syafa.


"Aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu, mba. Hanya mama yang aku ijinkan." Sentak Yara.


Depan ruang persidangan itu menjadi ramai karena perdebatan mereka. "Penderitaan dia belum seberapa dengan rasa sakit dan derita yang aku rasakan selama ini. Waktu ku terlalu lama untuk derita dan haus kasih sayang. Tidak seperti kamu, mba. Apapun yang kamu inginkan segera terwujud. Seperti menandai istri satu-satunya Mas Afkar. Suamiku yang menjadi suami ku satu-satunya saat ini. Mba Syafa senang 'kan?" Tanya Yara seakan menyudutkan Syafa.


"Aku sudah berulang kali meminta maaf sama kamu, Ra. Kali ini apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahan papa di masa lalu dan aku?" Syafa akhirnya membuka suara.


"Kamu yakin, mau melakukan apa saja?" Tanya Yara sambil tersenyum licik.


"Ya apapun itu! Asal kamu mau menerima aku sebagai kakak kamu, kamu juga mau memaafkan semua kejadian masa lalu."


Yara tersenyum sinis, ucapan dari Syafa akan ia pertimbangkan.


Syafa tidak menyangka sikap Yara bisa berbeda dari yang ia kenal pertama kali.


Tegas dan berani itu yang Syafa lihat dari sikap Yara saat ini.


.


.


To Be continued.


Jangan lupa follow akun author ya


Mayya_zha .


mampir ke karya teman ku lagi yuk



.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2