Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Hasil Akuisisi


__ADS_3

Entah mengapa setelah melihat foto-foto Afkar bersama wanita lain selain Syafa membuat Yara terdiam. Pasalnya Yara tidak yakin sifat Afkar bisa berubah seperti itu. Ada rasa kasihan pada Syafa. Terlebih wanita itu sedang hamil saat ini.


"Hei, kenapa diam?" Tanya Erza saat mereka baru saja selesai dari kantor kedutaan Swiss. Suami dari Yara itu, baru saja menyelesaikan dokumen untuk ijin tinggal mereka di sana.


"Ah, tidak!" Elak Yara.


"Bicaralah, jangan pernah menyimpan perasaan atau kegundahan seorang diri!" Ucap Erza sambil menarik Yara agar duduk di sampingnya.


Saat ini mereka sedang berada di rumah Erza. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal Yara saat ini sebelum mereka berpindah ke tempat baru di luar benua nanti.


Yara mengangguk pelan dan tersenyum senang. Suaminya itu memang bisa membuat hati Yara merasa nyaman.


"Benar, Mas. Kau tidak pa-pa. Aku hanya tidak menyangka saja, apa seseorang yang hilang ingatan sikapnya perilakunya bisa berubah juga," sahut Yara yang ikut duduk di samping Erza.


"Menurutku sih semua tergantung dari lingkungan dan desakan. Kamu lupa mantan suami mu bisa berubah!" Ujar Erza.


Yara segera menoleh kepada Erza. "Kalau kamu apa akan berubah juga, Mas?" Yara menatap Erza serius.


"Aku tidak mau mendahului takdir. Kalaupun iya, lebih baik aku mati saja dari harus melupakan kamu," sahut Erza sambil mencubit pelan hidung mancung istrinya.


"Berarti Mas bakalan ninggalin aku!" lirih Yara.


Erza menggeleng. "Kenapa membahas yang kita tidak tahu terjadi atau tidak sih?" sungut Erza. "Bahas yang indah-indah saja bisa 'kan?" pinta Erza pada Yara.


Wanita itu cemberut dengan bibir yang mengerucut. Hal itu membuat Erza menarik kedua sudut bibirnya.


"Kamu kalau cemberut begini tambah cantik!" puji Erza.


"Dih, aneh! Mana ada cemberut itu cantik." gerutu Yara sembari membelakangi Erza.


Pria itu malah menarik tubuh Yara agar lebih dekat dengannya. "Ada ... Cuma 1 di dunia ini yaitu kamu!" bisik Erza dari belang di telinga Yara. Pria itu menggigit kecil telinga istrinya itu.


"Bunda!" Suara anak kecil terdengar dari luar kamar.


Yara tersigap dan melepaskan rangkulan tangan Erza dari pinggangnya. "Ada Dhiya, Mas! Lepas!" Yara lekas berdiri dan merapihkan pakaian yang hampir saja tersingkap ke atas karena sentuhan Erza.


Dress berbahan satin itu langsung tapi seketika saat Yara berdiri.


"Ada apa, Sayang? Tidurnya terganggu ya?" Tanya Yara.

__ADS_1


Dhiya mengelengkan kepalanya pelan sambil mengucek matanya. "Terus kenapa?" Yara kembali bertanya.


"Aku mimpi ketemu sama eyang uti!" ucap Dhiya.


Yara menoleh pada Erza usai putrinya bicara. Wanita itu seakan meminta ijin pada Erza. Yara masih merasa enggan bertemu dengan mantan mertuanya itu. Erza bangkit berdiri dan melangkah mendekati Yara dan Dhiya.


"Dhiya mau ketemu eyang uti?" Kali ini Erza yang gantian bertanya.


Anggukan pelan dari Dhiya menjadi jawabannya.


"Kita akan ke sana besok. Papa janji akan mengantarkan Dhiya pada Eyang uti," ucap Erza sambil mengelus pelan pipi anak itu.


Dhiya beralih pada Erza. Pria yang kini menjadi suami Yara itu telah menempati ruang di hati Dhiya. Apapun yang Dhiya ingin kan sebisa mungkin Erza berikan tapi tentu saja dengan tahap pertimbangan lebih dulu. Erza tidak serta merta memanjakan Dhiya.


Erza dan Yara mendidik Dhiya agar menjadi wanita yang mandiri dan tidak manja. Segala sesuatu yang di inginkan harus sesuai dengan porsinya.


Yara selalu mengatakan beli sesuatu yang sesuai kebutuhan bukan atas dasar keinginan semata. Sesuatu brang akan menjadi percuma jika manfaatnya tidak di rasakan. Untuk apa memiliki sedikit kalau hanya sekedar untuk pamer semata.


Yara tidak ingin menanamkan sikap sombong pada diri Dhiya. Dan cara itu berhasil. Dhiya menjadi sosok yang pandai menentukan sikap.


Di tempat lain, seorang pria tengah merutuki dirinya sendiri karena apa yang ia usahakan selama ini sia-sia.


Pak Rio menjual sahamnya miliknya sebesar 15% pada Pak Waluyo sehingga saham yang dimiliki pria itu bertambah menjadi 55%.


Pak Waluyo yang gila bisnis tak mau menyia-nyiakan hal itu begitu saja.


Meskipun Afkar sudah mengalihkan kepemilikan perusahaan atas namanya tapi dalam dunia bisnis pemilik saham terbesar di perusahaan bisa mengambil alih kekuasaan atas kendali perusahaan tersebut lebih tepatnya merebut perusahan dari pemilik lamanya. Hal seperti ini sudah tidak asing lagi dalam dunia bisnis. Kepemilikan PT. Textilindo Abadi secara otomatis beralih pada pemimpin baru yaitu Pak Waluyo yang memiliki saham terbesar di perusahaan itu.


Afkar begitu murka. Pria itu tidak terima dengan semua yang terjadi.


"Shitt ... Kenapa orang tua itu menjual sahamnya pada Pak Waluyo!" geram Afkar pada Pak Rio.


Sebab Pak Rio menjual 15% saham miliknya yang sengaja ia pisahkan untuk Yara. Itu semua tidak serta merta berdasarkan keputusannya. Hal ini sudah ia bicarakan oleh orang suruhannya dengan Yara.


Saham 30% tetap milik Syafa dan 30% milik Yara di bagi dua. 15% diberikan untuk Dhiya dan 15 % disumbangkan kepada Panti asuhan tempat tinggal Yara dulu. keputusan itu sesuai dengan keinginan Yara. Meskipun tidak mendapat bagian untuknya tapi Yara tidak merasa rugi.


Satu hari ini Afkar lewati dengan penuh emosi dan Kekesalan.


Hari ini adalah sidang keputusan soal hak asuh Dhiya tapi Afkar memilih untuk menghadiri rapat penting dalam perusahaannya. Sebab menyangkut kelangsungan karirnya. Mendengar akan ada perebutan kendali perusahaan oleh pemilik saham terbesar, membuat Afkar merasa tidak terima. Afkar akan mengajukan banding kepada semua pemilik jabatan atas kerja kerasnya selama ini yang telah memajukan perusahaan.

__ADS_1


Mereka tidak bisa berbuat apapun. Perusahaan milik Afkar telah diakuisisi oleh Pak Waluyo sebagai pemimpin yang baru karena posisi Afkar sudah terganti pelgi pemilik saham terbesar di sana.


Hasil keputusan yang di sampaikan dapat disimpulkan. Kalau proses akuisisi perusahaan oleh pemegang saham diatur dalam UU 40/2007 yang mana terdapat 6 tahapan, yaitu Perundingan dan Kesepakatan, Pengumuman Rencana Kesepakatan, Pengajuan Keberatan Kreditor dan Penyelenggaraan RUPS, Pembuatan Akta Pemindahan Hak atas Saham, Pemberitahuan ke Menteri dan Pengumuman Hasil Akuisisi Menyatakan bahwa kepemimpinan perusahaan Textilindo Abadi telah beralih pada Pak Waluyo saat ini.


Sebuah keputusan yang begitu berat buat Afkar. Tidak puas dengan keputusan rapat itu. Afkar keluar ruangan dengan dipenuhi emosi dan kekesalan.


Semuanya makin runyam saat mendengar keputusan sidang berhasil dimenangkan oleh Yara dan Erza. Afkar semakin frustasi.


Hanya satu yang masih membuat Afkar penasaran. Keberadaan Syafa yang masih belum ia temukan.


"Shittt ... Di mana papa menyembunyikan Syafa?" Geram Afkar sambil memukul stir mobilnya. Dengan perasaan tidak karuan. Pria yang masih tersulut emosi itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perceraian, kehilangan hak asuh dan kehilangan jabatan sebagai pemimpin perusahaan diterima dalam waktu bersamaan. Yang paling menyakitkan adalah tidak ada sosok Syafa yang begitu sabar menemani dan menuruti setiap keinginannya.


"Argghhhh ...." Teriak Afkar. Lagi- lagi pria itu memukul stir mobilnya. Afkar mencoba untuk menghubungi seseorang. Tapi sayang ponselnya terjatuh. Hingga Afkar harus sedikit menunduk untuk meraih ponselnya. Konsentrasi mengemudinya buyar begitu saja.


Tatapannya tidak fokus lurus ke depan sebab Afkar lebih fokus pada ponsel di tangannya. Tapi Naas, baru saja sambungan telepon terhubung. Afkar terkejut saat didepannya ada beberapa orang yang menyeberang di jalur Zebra Cross hampir saja tertabrak olehnya.


Afkar membuang stir ke arah kanan. Sesuatu pun terjadi pada pria itu.


Brukkk....


Drakkk....


"Mas Afkar ...." Jerit seorang wanita di sebrang telepon yang masih tersambung.


.


.


.


To be continued


Maafkan bukan puasa ini Author slow up ya...


InsyaAllah tetap diusahakan 1 bab meskipun tidak banyak.


Readers tercinta mampir ke Ig Author ya. Kita saling sapa di sana.


Ig. Mayya_zha

__ADS_1


FB. Mayya Zha


__ADS_2