Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Perasaan Tidak Enak, Kak Ima


__ADS_3

"Dia, Anggita. Sahabat mama-mu. Kamu memang belum pernah bertemu dengannya, Nak! Tante Gita ini baru kembali dari Inggris setelah 20 tahun tinggal di sana." Papa Rio menjelaskan karena tidak ingin Syafa salah paham pada wanita itu.


Mendengar itu, Syafa lekas menghampiri Gita dan menyalaminya.


"Maaf, aku kurang sopan bertanya seperti tadi, Tan!" Ucap Syafa sopan. Ia merasa tidak enak hati pada Gita.


Afkar menyusul untuk menyalami papa mertuanya itu. Ia menyapa sebentar pada papa mertuanya itu. Kemudian meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama di sana. Sebab ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sebab saat ini Afkar memegang tanggung jawab yang begitu besar di perusahaan yang saat ini ia pimpin.


Afkar segera pamit pada Syafa, Papa Rio dan wanita yang ada di samping mertuanya itu.


Syafa pamit sebentar pada Papa Rio untuk mengantarkan suaminya. Sesampainya di luar rumah. Syafa menyalami Afkar.


"Hari ini Mas mau pulang ke rumah apa ke sini?" Tanya Syafa pada Afkar.


"Kalau pulang terlalu larut, aku akan pulang ke rumah kita, Sayang. Tidak apa-apa 'kan?" Afkar menegaskan.


Syafa sedikit ragu untuk mengiyakan, tapi ia tidak mau mau membuat Afkar merasa terlalu dikekang olehnya. Detik berikutnya Syafa mengangguk pelan.


"Ya sudah, aku pergi!" Ucap Afkar sambil mengecup kening Syafa. Kemudian dengan langkah tegap dan cepat, Afkar segara menaiki mobil mewahnya. Lambaian tangan dari Syafa menjadi perpisahan bagi pasangan itu.


...🌱🌱🌱...


Di tempat lain, Dhiya terlihat begitu senang saat Yara mengajaknya bersiap siang itu. Yara merasa bersalah pada putrinya. Melihat kegirangan Dhiya saat mereka akan pergi memperlihatkan bahwa selama ini Dhiya ingin bertemu dengan ayahnya, tapi gadis kecil itu menahan diri. Sebab tidak ingin membuat Yara sedih jika harus melihat kemesraan ayahnya dengan wanita lain.


"Ayah ada di rumah nggak ya, Bunda?" Tanya Dhiya saat Yara menguncir rambutnya.


"Mungkin masih ada di kantor. Tapi Dhiya bisa main dulu sama Eyang Kung sama Eyang Uti," balas Yara. "Nah, udah cantik. Yuk kita lets go!"


"Ayo!" Dhiya begitu bersemangat siang itu.


"Tunggu, Bunda ambil tas dulu!"


Setelah itu Yara dan Dhiya keluar dari rumah kontrakannya.


Saat akan pergi, Kak Ima dan Bang Boy baru saja datang.


"Ibu ... Dede mau pergi ketemu ayah sama Eyang Kung!" Dhiya langsung bicara dan memberitahu Kak Ima sambil sedikit berlari ke arahnya.


"Benarkah? Dede senang dong?" Tanya Kak Ima seakan terkesima dengan penuturan Dhiya. Wanita itu turun dari motor dengan sangat hati-hati karen kondisi tubuhnya yang semakin membesar karena hamil.


Dhiya mengangguk pelan, membalasnya.


Kak Ima segera beralih pada Yara. "Biar Bang Boy yang antar kalian!" Ucap Kak Ima.


"Apa tidak merepotkan?" Yara merasa tidak enak kepada Bang Boy, sebab mereka baru saja sampai. "Kak Ima dan Bang Boy baru saja tiba. Takutnya, Bang Boy kecapean."


"Kecapean apanya, Ra. Kecuali aku habis gendong Ima, baru cape, secara badannya melar 2 kak lipat saat ini. Main gemes aku lihatnya!" sahut Bang Boy.


"Ya iyalah melar 'kan ada bayinya di dalam." Kak Ima menimpali.


"Baby Boy, ya, Bu?" Dhiya ikut nimbrung.

__ADS_1


"Benar sekali. Baby boy yang nanti nemenin Dhiya ya?" Kak Ima mengusap pelan pucuk kepala Dhiya dengan lembut. Entah mengapa perasaan Kak Ima tidak enak saat ini. Ia seakan tidak rela Yara dan Dhiya pergi ke rumah itu.


"Kamu yakin mau ke sana?" Kak Ima kembali memperjelas niat Yara.


"Iya, Kak."


"Kok, aku punya perasaan tidak enak ya?" Ungkap Kak Ima.


"Hus, jangan berpikir negatif, ibu hamil tuh harus mikir yang positif aja," tegur Bang Boy. Kemudian beralih pada Yara dan Dhiya. "De, ayo naik!" Bang Boy melambaikan tangan agar Dhiya segera naik ke motornya. Anak kecil itu mengikuti perintah Bang Boy." Iya, Apah!" sahut Dhiya.


"Aku pergi dulu ya, Kak! Pinjem Bang Boy sebentar!" canda Yara sambil tersenyum.


"Ya, bawa aja!" seru Kak Ima.


"Barang kali ah, maen bawa aja," serobot Bang Boy.


Yara terkekeh kecil menanggapinya. Kak Ima juga ikut terkekeh. "Sana pergi nanti!" Kak Ima mengibaskan tangannya agar ke arah Bang Boy.


"Duh untung abang cinta, kalau tidak---” Ucapannya terpotong begitu saja saat melihat manik mata Kak Ima melotot kepadanya.


"Tidak apa?" Hardik Kak Ima sambil berkacak pinggang.


"Tidak apa-apa, Dek!" Bang Boy melempem takut melihat istrinya sudah beraksi.


"Apah, lucu! Masa ibu dipanggil adek, 'kan ibu udah gede. Ya Bun, Dede aja mau dipanggil kakak, kan bentar lagi Baby boy lahir."


Kak Ima lekas menurunkan tangan dari pinggangnya. "Ih ... pinter banget sih, kamu De..." Kak Ima merasa gemas dengan Dhiya kemudian mencubit pipi gembul bocah itu.


"Sana Dede juga, Apah, Ganti!" Dhiya kembali berseru.


"Apa?" Bang Boy penasaran.


"Kakak Dhiya!" Ucapnya sambil menepuk dadanya sendiri sambil menegakkan badannya.


Yara, Kak Ima dan Bang Boy tertawa mendengar celotehan bocah itu.


"Ya sudah, tok kita pergi!" Ajak Bang Boy.


Yara mengangkat tubuh Dhiya untuk naik di jok belakang motor yang di tumpangi Bang Boy.


"Dadah, ibu!" Teriak Dhiya sambil melambaikan tangan kecilnya kepada Kak Ima.


"Dadah ...." Sahut Kak Ima, "Jangan nginep ya, pulang aja!" Kak Ima membalas dengan sedikit berteriak. Perasaanya masih mengganjal saat tahu Yara aja ke rumah Syafa. Meskipun dia bukanlah siapa-siapa Yara. Tapi Kak Ima tulus pada keduanya. Sehingga takut kalau Yara akan sedih dan sakit hati lagi setelah dari sana.


"Semoga yang ada di pikiranku tidak terjadi." Kak Ima menepis pemikiran buruk yang ada dalam benaknya.


Baru sampai di pertengahan jalan. Yara merasakan ada yang aneh dengan motor Bang Boy.


"Bang, kenapa motornya oleng begini?" Tanya Yara sambil berpegangan kuat pada bahu Bang Boy.


Bang Boy segera menepikan motonya. Ia juga merasakannya. "Kayaknya bannya bocor?" sahut Bang Boy.

__ADS_1


Yara lekas turun untuk memeriksanya.


"Iya, Bang!" Yara memberitahu. Kemudian ia menurunkan Dhiya juga dari motor itu.


"Aku cari tambal ban dulu, deh! Kalau nggak, kamu pesan Yho-Jek aja!" Titah Bang Boy sebab ia melihat cuaca sedikit mending. Bang Boy takut Yara dan Dhiya kehujanan.


"Aku dan Dhiya nungguin abang aja di sini!" Yara menolak. Ia merasa tidak enak sudah sejauh ini malah meninggalkan Bang Boy sendiri.


"Ya sudah, tunggu di sini. Duduk aja di sana! Abang ke bengkel di seberang sana!" Bang Boy menunjuk bengkel yang ada di seberang jalan.


Yara mengangguk pelan. Kemudian mengajak dia untuk duduk di depan warung kecil yang ada di belakangnya.


Hampir dua puluh menit mereka menunggu. Tapi motor Bang Boy masih belum juga selesai.


Yara berdiri saat melihat Bang Boy kembali menghampirinya.


"Ra, lebih baik kamu pesen ojek online aja, ya! Motor abang harus ganti ban. tidak bisa ditambal. Pati makin lama kalian nunggu. Kasihan Dhiya kalau kelamaan!" Ungkap Bang Boy.


"Tapi abang?"


"Aku mah gampang!" Seru Bang Boy.


"Ok deh. Aku pesan ojek onlinenya dulu." Yara merogok ponsel yang ada di dalam tasnya.


Bang Boy mendekati Dhiya memberi pengertian pada bocah itu.


"Motor Apah rusak, Kakak Dhiya naik ojek ya?" Bang Boy memberi pengertian pada Dhiya.


"Kenapa sepi ya, padahal bukan jam sibuk!" gerutu Yara sebab tidak ada yang satupun ojek online yang nyangkut di ponselnya.


"Masa sih?" Bang Boy melihat ponsel di aplikasi Yara. Ternyata benar hanya ada beberapa yang aktif saja.


"Coba pakai ponselku!" Bang Boy mengeluarkan ponselnya.


Disaat bersamaan, satu motor berhenti di hadapan mereka.


"Ra ...." Panggil seorang pria membuat Bang Boy dan Yara menoleh kepadanya.


Pria itu turun dari motor dan menghampiri mereka.


"Kamu!"


.


.


.


.


to be continued

__ADS_1


Kalau ada typo nanti aku edit ya...


__ADS_2