
Sesuai rencana kemarin. Pagi ini Syafa dan Afkar akan kembali ke Jakarta. Bu Nuri dan Pak Setyo juga ikut bersama mereka, begitu juga dengan Yara dan Dhiya. Tapi tidak dengan Mira. Adik iparnya itu tidak ikut ke Jakarta sebab suaminya Agung telah kembali dari tugasnya.
Mira berjanji akan mengunjungi mereka nanti kalau Agung ada waktu libur yang sedikit panjang. Mira hanya mengantar keluarganya itu sampai di bandara saja. Mira juga tidak lupa memberi semangat pada Yara. berharap Yara kuat menjalani ini semua.
Yara meneguhkan hati dan perasaannya demi Afkar suaminya juga demi bapak mertua yang memang butuh bantuan Syafa untuk pengobatannya.
Yara menerima semua ucapan Bu Nuri yang memojokkan dirinya tidak bisa membantu apapun. Hanya dengan tenaga dan setia di samping Afkar yang bisa Yara lakukan saat ini.
Perjalanan Mojokerto- Jakarta tidaklah lama jika menggunakan pesawat terbang.
Bu Nuri terlihat bangga saat mereka tiba di kota besar yang begitu terkenal dengan sebutan kota metropolitan itu.
"Akhirnya ibu menginjakkan kaki, ke sini. Kalau bukan karena Syafa tidak mungkin kita berada di sini, Pak!" Seloroh Bu Nuri yang begitu bangga sesamanya di Jakarta.
Syafa hanya bisa tersenyum mendengar ocehan mertuanya.
"Ayo kita segera pulang ke rumah. Kalian pasti cape!" Ajak Syafa kepada kedua mertuanya itu. Kemudian melirik ke arah Yara yang selama perjalanan dari kampung ke kota tak mengeluarkan sepatah kata pun pada mereka. Hanya kepada Dhiya Yara bersuara. Sebab putri kecilnya itu banyak bertanya kepada Yara. Sesekali juga Dhiya bersama Afkar. Tapi Dhiya tidak betah berlama-lama dengan ayahnya itu. Banyak perbedaan yang Dhiya rasakan sehingga anak kecil itu lebih memilih bersama Yara selama perjalanan.
Tiga mobil mewah sudah menunggu mereka di depan bandara.
Orang suruhan Papa Rio sudah menunggu Syafa dan keluarga Afkar di sana. Bu Nuri semakin takjub dibuatnya. Beberapa pengawal yang biasa mengikuti Syafa dan Afkar mendekat ke arah mereka.
"Biar saya yang dorong Ayah Anda, Tuan," ucap salah seorang pengawal pada Afkar.
Bu Nuri terkejut saat para pria bertubuh kekar itu menghampiri mereka. Tapi beberapa detik kemudian ia melongo saat para pria itu menunduk hormat pada Afkar dan Syafa.
'Ternyata menantuku yang satu ini tidak bukan orang sembarangan.'
Batin Bu Nuri kemudian menyunggingkan senyumnya lalu menoleh ke arah Yara sambil menatapnya rendah.
Bu Nuri merasa bangga saat putranya diperlakukan seperti raja oleh para pengawal itu.
"Biar saya bawakan tas nya, Nyonya!" Ucap salah seorang pengawal.
"Ya ... Ya, Silahkan!" Bu Nuri menyerahkan tas yang dipegangnya pada pria itu. Kemudian wanita itu berjalan cepat mendekati Syafa.
"Syafa," panggil Bu Nuri dan Syafa menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Bu?" Jawab Syafa sembari menghentikan langkahnya.
"Apa mereka selalu mengikutimu?" tanya Bu Nuri sambil melihat para pengawal yang ada.
"Papa yang menyuruh mereka, Bu. Beliau takut terjadi sesuatu padaku," sambung Syafa.
"Memangnya kamu pernah mengalami apa? Apa kejadian itu begitu menakutkan sehingga papa-mu menyuruh para pengawal untuk mengikutimu?" Bu Nuri terlihat begitu penasaran.
"Kita bahas ini di rumah ya, Bu!" sahut Syafa.
"Baiklah," seru Bu Nuri kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil mewah yang sudah menunggu mereka.Bu Nuri masuk ke dalam mobil itu lebih dulu.
Para pengawal membantu Pak Setyo masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati," Ucap Bu Nuri saat pengawal dengan pelan dan hati-hati memindahkan tubuh Pak Setyo dari kursi roda ke bangku belakang.
Pengawal itupun sedikit menurunkan posisi kursi penumpang agar Pak Setyo merasa nyaman dengan posisinya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang!" Ajak Afkar pada Syafa.
"Mas duluan saja!" Sahut Syafa. "Aku mau menunggu Yara dan Dhiya.
"Baiklah." Kemudian Afkar berjalan lebih dulu. Pria itu menghampiri kedua orang tuanya.
"Pak, Bu. Afkar di mobil depan sama Syafa, tidak pa-pa 'kan kita berbeda kendaraan?" Tanya Afkar.
"Tidak apa-apa, Nak. yang penting tujuan kita sama," jawab Bu Nuri.
"Afkar," Bu Nuri memanggil putranya saat Afkar hendak berjalan menuju mobil yang ada di depannya.
"Apa, Bu?"
"Ibu minta jangan pernah melepaskan Syafa. Ibu sangat senang kamu bisa mendapatkan istri seperti dia," ucap Bu Nuri.
Afkar hanya tersenyum membalasnya. Kemudian berlalu menuju mobilnya.
Saat hendak turun dari pesawat Dhiya terbangun, anak kecil itu merasa takjub saat dia menuruni anak tangga.
Dhiya terus bertanya apa yang ia ingin ketahui pada Yara. Semenjak turun dari pesawat sampai mengikuti langkah Afkar dan Syafa yang lebih dulu berjalan di depan.
Yara melihat Syafa berdiri sedang menunggunya.
"Maaf aku terlalu lama. Banyak yang Dhiya tanyakan selama perjalanan tadi." Ucap Yara pada Syafa.
"Tidak pa-pa, Ra. Dhiya mau gantian sama Mamih?" Tanya Syafa pada Dhiya sambil mengulurkan tangannya.
Anak gadis itu bingung untuk menjawab. Ia malah menoleh ke arah Yara seakan meminta persetujuannya.
Wanita cantik itu tersenyum Dhiya mau menerima uluran tangan darinya. Kemudian menatap Yara. "Kamu bisa naik di mobil depan, Ra! Ada Mas Afkar di sana," ucap Syafa sebelum ia langkah bersama Dhiya.
"Kita satu mobil 'kan Mba?" Tanya Yara.
Syafa menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Ada yang ingin Mas Afkar bicarakan sama kamu sebelum kita sampai di rumahku," balas Syafa.
Yara terdiam sesaat kemudian mengangguk pelan.
"Dhiya akan bersama ku di mobil tengah. Ibu dan bapak ada di mobil belakang. Mereka butuh kenyamanan setelah turun dari pesawat."
"Tapi, bagaiman kalau nanti Dhiya menanyakan aku?"
"Kamu tenang saja, Aku yakin Dhiya anak baik. Dia aka mengerti jika ayah dan Bunda nya butuh waktu untuk berbicara berdua," lanjut Syafa.
"Mbak tidak marah aku berdua bersama Mas Afkar?" Tanya Yara memastikan.
Syafa menggelengkan kepalanya. "Bukannya memang seharusnya seperti ini. Aku menerima jika aku adalah istri kedua Mas Afkar. Dan kamu adalah istri pertama. Aku hanya mau kamu rela berbagi suami denganku. Kamu harus menerimanya karena memang saat ini aku dan Mas Afkar telah sah menjadi suami istri," ucap Syafa pada Yara.
Sudut bibir Yara tertarik sedikit mendengar ucapan Syafa. "Bukankah memang aku menerimanya, Mba. Bahkan Mas Afkar lebih sering sama kamu dibanding aku!"
"Itu karena sekarang Mas Afkar hanya tergantung sama aku, Ra. Selama ini hanya aku yang ada di sisinya. Jujur sekarang aku merasa takut kalau Mas Afkar mengingat semuanya, dia akan melupakanku."
"Berarti Mba berharap Mas Afkar tidak sembuh dari amnesianya?" tuduh Yara.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kamu berbuat sama sepertiku. mengingatkan Afkar jika ia juga mempunyai istri lain yaitu aku." Syafa terlihat ketakutan dan berharap pada Yara.
"Mba tenang saja, ketulusan Mba Syafa tidak akan sia-sia." Yara melangkah menuju mobil, dimana Afkar ada di dalamnya. Yara juga ingin berbicara sesuatu pada suaminya.
Melihat kepergian Yara menghampiri Afkar, hati Syafa pun merasa perih.
"Apa seperti ini perasaan Yara saat menyaksikan suaminya berdua denganku. Apa aku sanggup terus seperti ini, Apa aku sanggup bertahan seperti ini." Syafa menggelengkan kepala. "Tidak aku yakin Mas Afkar tidak akan pernah melupakan aku nantinya. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Mas. Apapun caranya. Kali ini aku bersikap sabar dan rela berbagi. Tapi aku yakin kamu akan memilihku, Mas. Setelah apa yang telah aku korbankan untuk kamu." gumam Syafa.
"Dhiya mau cama bunda!" Ucap Dhiya saat melihat Yara menjauh darinya.
"Eh, Dhiya sama Mamih saja, ya? Bunda sama ayah mau bicara berdua." Syafa mencoba menenangkan Dhiya.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, ia tetap ingin bersama dengan Yara.
"Dhiya sama Mamih dulu ya, nanti ditempat tinggal yang baru Dhiya bisa buat kamar seperti kamar princess Elsa, Mau?" Bujuk Syafa dan berhasil mengalihkan perhatian Dhiya.
"Plincess Elsa?" Tanya Dhiya. Gadis kecil itu sangat menyukai tokoh kartun itu. Syafa mengetahui hal itu dari banyaknya boneka princess Elsa yang ada di rumah Bu Nuri. Semua boneka itu dibelikan oleh Mira, selama Yara berada di Jakarta agar Dhiya tidak selalu menanyakan bunda-nya.
"Iya, Princess Elsa. Mamih akan menyiapkan kamar untuk Dhiya di sana. Dan aksesoris di dalamnya semuanya Princess Elsa." Ucap Syafa meyakinkan Dhiya.
"Mau ... Mau ...," Dhiya akhirnya menurut.
Syafa tersenyum mendapat respon naik dari Dhiya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil tengah. Syafa mengijinkan Afkar berdua dalam mobil yang sama dengan Yara karena permintaan Afkar yang ingin berbicara berdua dengan Yara. Afkar meminta ijin pada Syafa. Sebab jika ingin membicarakan hal serius dengan Yara di hadapan ibu dan bapaknya rasanya tidak enak hati. Melihat sikap Bu Nuri yang begitu ketus kepada Yara menurut pandangan Afkar.
"Kenapa harus berbicara di sini, Mas? Apa tidak bisa setelah sampai di rumah Mba Syafa."
Tak ada jawaban dari Afkar. Pria itu malah menekan tombol yang membuat sekat antara supir dengan penumpang belakang tertutup. Sehingga supir tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh penumpang yang ada di bangku belakang.
"Aku harus berbicara ini sekarang. Saya rasa kamu tahu bagaimana sikap ibu-ku jika aku berdua dengan kamu. Sudah pasti aku tidak akan berbicara serius seperti sekarang ini," ucap Afkar tegas.
Yara mengangguk pelan. Ia mengerti ucapan Afkar padanya.
"Setelah kita sampai di rumah Syafa aku harap kamu mengerti. Aku di sana juga hanya numpang. Bisa di bilang semua yang aku miliki saat ini adalah milik Syafa."
Yara menatap Afkar, wanita itu tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya.
"Maksud, Mas apa?" Tanya Yara heran.
"Meskipun aku hilang ingatan tapi aku paham jika hidupku dan orang tuaku bahkan juga dirimu butuh uang untuk melanjutkan hidup. Kita disini membutuhkan Syafa. Aku harap kamu tidak membuat hatinya bersedih. Kau harap kamu tidak protes jika aku selalu bersama dia. Karena jujur saat ini memang hanya Syafa yang ada dalam hatiku. Aku merasa asing dengan kehadiranmu. Jadi maaf jika nanti sikapku padamu berbeda dengan sikapku pada Syafa."
Yara tersenyum kecut mendengar penuturan Afkar.
"Apa kamu berusaha membuat aku menyerah sebelum memulai, Mas?" Tanya Yara dan Afkar menggelengkan kepalanya pelan.
Afkar terlihat bingung setelah itu. Ia merasa terpaksa berbicara seperti itu pada Yara tapi ia harus melakukannya. Sebab seseorang telah menghubunginya tadi pagi dan menekan Afkar agar tidak membuat Syafa bersedih sebab jika itu terjadi, orang itu akan menarik kembali apa yang sudah beliau berikan pada Afkar.
Bahkan bisa membatalkan pengobatan terbaik untuk bapaknya.
.
.
.
__ADS_1
.