Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kesedihan Hilang Berganti Tawa


__ADS_3

Merasa sudah terlalu lama di dalam kamar. Yara berniat untuk keluar dan mencari udara segar. Villa yang tidak terlalu besar itu terlihat begitu rapi dan nyaman. Banyak perabot yang terbuat dari kayu jati. Membuat suasana di dalam sana lebih klasik.


Yara mengedarkan penglihatannya mencari seseorang. Kebetulan Bi Titin masuk ke dalam villa itu.


"Eh ... Non Yara sudah rapi. Wah ternyata pakaian Nyonya Anggi cocok dan pas banget sama, Non Yara," ujar Bi Titin dengan senyum sumringahnya.


Yara tersenyum menanggapinya. "Ini milik Tante Anggi, Bik?" Tanya Yara.


"Iya, Non. Kemarin Nyonya menelpon agar memakai pakaian miliknya saja."


"Sampaikan terima kasih saya sama Beliau, Bi!" Ucap Yara.


Bi Titin mengangguk pelan. "Iya, nanti bibi sampaikan, Non! Sekarang lebih baik Non Yara makan dulu! Sudah bibi siapkan makan malamnya di dapur." Bi Titin menunjuk ke arah dapur sambil berjalan ke sana. Yara pun mengikuti langkah Bi Titin.


Sesampainya di dapur, Yara mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok pria yang telah membantunya. "Erza mana, Bi?" Tanya Yara ketika tidak melihat keberadaan Erza di sana. "Dia tidak ikut makan sama kita, Bi?" lanjutnya.


"Den Erza ada di belakang villa sama suami bibi, Mang Diman. Mereka sedang membuat api unggun, Non.Den Erza biasa melakukan itu kalau ke sini. Kadang sambil main gitar sampai malam. Besoknya pergi mendaki. Tadi bibi baru nganterin singkong ke sana!" jawab Bi Titin sambil menyiapkan makanan di meja makan untuk Yara.


Yara terdiam mendengar penjelasan Bi Titin. 'Kenapa dia tidak menemaniku makan. Dia malah memilih di luar dan meninggalkan aku sendiri di sini!' pikir Yara dalam diamnya.


Bi Titin yang melihat diamnya Yara mengerti apa pemikiran wanita itu.


"Tadi Den Erza duduk lama di sini. Sambil memperhatikan kamar yang di tempati Non Yara, Dia terlihat khawatir. Tapi tidak mau mengganggu dan mengetuk pintu. Den Erza menyuruh bibi menyiapkan makanan kalau Non Yara sudah bangun," ucap Bi Titin seakan mengerti isi pemikiran Yara. "Lebih baik Non Yara makan dulu." Bu Titin telah selesai menyiapkan makanan untuk Yara makan.


"Terima kasih, Bi. Kalau tahu bibi masak, saya bisa bantu tadi." ujar Yara.


"Loh, masa tamu masak. seharusnya di layani dong," canda Bi Titin.


Melihat masakan yang ada di hadapannya, perut Yara mendadak minta di isi. Hawa dingin yang di sana membuat perut jadi cepat lapar.


"Tapi saya tidak enak kalau tinggal menikmati seperti ini, Bi."


"Santai saja, Non. Kalau perlu sesuatu juga bisa minta tolong sama bibi."


Yara menarik kedua sudut bibirnya mendengar ucapan Bi Titin.


Dan akhirnya Yara di temani Bi Titin makan malam berdua di dapur. Sedangkan di luar villa dua orang pria tengah asik mengobrol santai sambil menikmati sepiring singkong bertabur keju parut yang diberi susu di atasnya bersama secangkir kopi yang semakin menambah nikmat suasana perbincangan malam itu.


Erza menanyakan beberapa hal pada Mang Diman setelah hampir beberapa tahun tidak pernah datang ke sana.


"Oh, iya, Mang. Bagaimana kabar Lestari?" Tanya Erza.


Mang Diman sedikit mengerutkan alis mendengar pertanyaan Erza.


"Lestari, anak pemilik peternakan sapi di ujung gang, Mang! Cewek yang dulu sering datang ke sini saat saya sempat tinggal di sini." Erza mengingatkan.


Pria itu memang pernah tinggal beberapa bulan di Villa ini. Saat masa libur kuliahnya dulu.


"Oh, Neng Tari!" seru Mang Diman. "Dia sudah ada di Kota sekarang, Den. Mamang juga tidak tahu kabar dia sekarang. Yang memang tahu, dia menikah dengan orang kaya di kota," sahut Mang Diman sambil melirik ke kanan dan kiri kemudian sedikit berbisik pada Erza. "Suaminya Neng Tari itu, sudah tua dan belum lama meninggal. Terakhir yang mamang dengar, semua kekayaan suaminya berpindah tangan sama dia," bisik Mang Diman kemudian kembali meraih secangkir kopi miliknya.


"Wah, jadi janda kaya dong di usia muda."


"Iya benar, Den. Untungnya Neng Tari belum punya anak dari suaminya itu. Kalau ada, kasihan sekali dia. Masih muda di tinggal suami," lanjut Mang Diman.


"Terus kalau ada di sini, bapak mau gitu ngerawat anaknya?" serobot Bi Titin yang tiba-tiba menyerobot ucapan Mang Diman.


Kedatangan Bi Titin dan Yara membuat Mang Diman terkejut. Erza pun ikut menoleh ke arah kedatangan kedua wanita itu.


Bi Titin langsung berjalan mendekat ke arah Mang Diman kemudian menjewer kupingnya.


"Aww ... Ampun Bu, sakit. Bapak cuman menjawab pertanyaan Den Erza doang!"

__ADS_1


"Ah, emang bapak demen gibahin orang, ih! Apalagi soal di Tari, Janda viral di kampung ini, 'kan?" Bi Titin mendelik sambil melotot ke arah Mang Diman yang tengah meringis karena jeweran istrinya.


"Dikit doang, Bu!" Mang Diman kembali menimpali.


"Bapak, ih. Awas ya, ibu gak bakal kasih jatah besok malam. Sekarang kasih makan dulu tuh kambing. Berisik banget, pasti bapak lupa ngasih makan," ujar Bi Titin.


"Iya, bapak lupa ngasih makan. Tadi sore bapak balik lagi ke kebun 'kan ngambil singkong. Atuh lepas dulu ini tanyanya dari kuping bapak, Bu!" Mohon Mang Diman.


Pria tua itu mengusap-usap pelan kupingnya yang terlihat merah akibat Jeweran istrinya.


"Baru ngomong mau ngedeketin, apalagi bener-bener ngedeketin ya, Den. Bisa kiamat dunia mamang!" keluh Mang Diman.


"Mana mau dia sama pria kere kayak bapak!" ejek Bi Titin.


"Iya, duh si ibu. Hanya ibu yang mau sama bapak ini!" rayu Mang Diman.


"Gomba! Cepetan kambingnya kasih makan. Jangan banyak merayu di sini!" omel Bi Titin.


"Temenin atuh, yuk!" ajak Mang Diman.


"Ih .. Dasar aki-aki penakut." gerutu Bi Titin.


Yara tersenyum kecil melihat perdebatan dua orang itu. Satu pemandangan yang tidak lepas dari pandangan Erza. Perasaan pria itu lega ketika melihat senyuman telah kembali di wajah Yara. Erza memeluk gitar yang ada di tangannya sambil terus menatap Yara.


Cukup lama Yara terkekeh pelan sambil memperhatikan perdebatan yang masih berlangsung saat Bi Titin dan Mang Diman melangkah menuju belakang villa. Setelah itu pandangannya beralih pada Erza. Pria itu kepergok sedang memperhatikan Yara. Tanpa merasa bersalah, Erza langsung melayangkan senyuman pada Yara.


"Cantik ... Kamu cantik kalau tersenyum seperti tadi. Aku senang senyuman itu telah hadir kembali di wajahmu," ucap Erza pelan.


Seulas senyum kembali Yara berikan.


"Kenapa tidak mengajakku ke sini!" Yara membuka obrolan.


"Kamu benar aku lelah, bahkan sangat lelah dan hampir menyerah dengan hidupku." Setelah berbicara Yara ikut duduk di samping Erza.


"Kalau kamu menyerah siapa yang akan menemani Dhiya. Bukankah kamu menginginkan hal asuh Dhiya." Erza menyenderkan gitar yang ia pegang di bangku lain yang ada di sisinya.


Yara mengangguk pelan. Kemudian wanita itu mendongak menatap Erza.


"Za," panggil Yara.


"Hm," jawab Erza sambil menambahkan kayu bakar pada api unggun.


"Apa ajakan yang kamu tawarkan padaku waktu itu masih berlaku?" Tanya Yara ragu.


Erza langsung menghentikan gerakannya kemudian beralih menatap Yara dengan tatapan serius. Erza pun ikut duduk di sebelah Yara. Di kursi panjang yang


"Tawaran itu berlaku sampai kapanpun. Dan itu hanya untukmu. Kamu yakin ingin menerima tawaranku?" Erza kembali bertanya pada Yara.


Anggukan dari Yara menjadi jawabannya.


"Bawa aku pergi dari negara ini, Za! Setelah menikah nanti, aku ingin kamu membawa aku dan Dhiya pergi dari tempat yang sudah meninggalkan banyak luka di hatiku." Yara berbicara sambil tertunduk. Ia kembali merasakan kesedihan yang begitu mendalam dalam hatinya. Luka yang teramat perih, Yara berpikir jika berada di tempat baru, perlahan luka itu bisa terobati.


Erza melihat pundak Yara naik turun seiring tangis yang kembali pecah. Lekas ia menarik Yara dalam pelukannya. "Aku akan membawamu dalam kehidupan baru, Ra. Kita rangkai kebahagiaan bersama. Aku janji, akan selalu membuat kamu bahagia," ucap Erza di sela pelukannya.


Perjodohan yang dilakukan oleh Mama Anggi dan Bu Haryani, telah di setujui oleh Erza dan Yara. Tapi mereka harus menunggu Yara menyelesaikan perceraiannya terlebih dulu. Yara menerima perjodohan itu karena memang membutuhkan bantuan Erza. Sedangkan Erza tulus mencintai Yara. Pria itu berharap cinta perlahan tumbuh di hati Yara untuknya.


Di dalam pelukan Erza. Yara menumpahkan semua kesedihannya.


"Mereka jahat padaku, Za. Apa salahku? Kenapa takdir begitu kejam! mereka mempermainkan perasaan ini," ungkap Yara masih dalam pelukan Erza.


Usapan pelan dan lembut Erza berikan. Hal itu membuat Yara merasa nyaman berada dalam dekapan Erza. Ia merasa terlindungi, dan mempunyai tempat mengadu saat ini.

__ADS_1


"Karena ini adalah takdir yang harus kamu jalani, Ra. Sang Pencipta Kehidupan yakin kamu mampu melewati semuanya dengan sabar. Makanya dia memberikan ujian ini padamu." Erza meregangkan pelukannya. Menangkup wajah Yara yang masih berderai air mata di pipinya.


Perlahan Erza mengusap air mata itu.


"Yakinlah setelah hujan pasti ada pelangi. Dan aku sangat menantikan bisa melihat pelangi bersamamu, Ra!" Ucapan Erza begitu menyentuh hati Yara. "Perlahan sakit yang kamu rasakan akan berganti ceria dan bahagia. Dan aku harap bahagia itu bersamaku! Kamu tahu, aku senang sekali mendengar kamu bersedia menerima tawaranku. Aku sungguh mencintaimu, Ra!" Kedua tangan Erza masih menangkup wajah Yara.


Kedua manik mata mereka saling bertemu. Yara memutus tatapan itu lebih dulu, wanita itu menunduk tidak bisa memberi jawaban atas ungkapan cinta yang Erza berikan padanya.


"Maaf, Za. aku belum bisa membalas perasaanmu. Tapi jujur, aku merasa nyaman dan tenang saat ada di sisimu, Za," ucap Yara sambil tertunduk.


Erza tersenyum mendengarnya. kemudian pria itu beralih meraih kedua tangannya lalu menggenggamnya erat.


"Maaf, kalau aku terlalu cepat mengungkapkan perasaan ini. Tapi rasa cinta ini sudah tumbuh sejak lama, Ra. Aku mengerti, tidak semudah itu perasaan cinta itu ada untukku. Aku harap dengan rasa cinta yang aku berikan, perlahan bisa mengantikan nama seseorang di hatimu!" Erza berucap tulus dan meyakinkan membuat Yara tersentuh dengan setiap ucapan manisnya.


Ketulusan bisa Yara rasakan dari sikap Erza.


"Terima kasih kamu sudah mau membantu dan menolongku, Za. Terima kasih juga mau bersabar menunggu cinta tumbuh."


"Sama-sama. Kalau kamu yakin, aku akan segera mempersiapkan semuanya setelah selesai kita bisa secepatnya menikah dan pergi ke tempat baru. Tentunya bersama Dhiya."


Yara menarik kedua sudut bibirnya kemudian mengagumkan kepalanya pelan. Wajah sendunya berubah cerah saat senyuman menghiasi wajahnya.


"Nah, senyum seperti ini 'kan cantiknya makin keliatan. Berbeda kalau cemberut," sindir Erza mencairkan suasana.


"Memangnya kalau aku cemberut kenapa?" Tanya Yara.


"Lihat kelinci di sana!" Erza menunjuk kelinci kecil yang mendekati mereka di ujung anak tangga. Yara pun melihatnya dan di saat yang bersamaan kelinci itu langsung kabur saat Yara melihatnya.


"Tuh 'kan dia pasti kabur pas lihat wajah cemberut kamu!" Erza berbicara dengan nada tinggi membuat kelinci itu langsung terbirit-birit kabur dari hadapan mereka.


Plak....


Pukulan keras mendarat di bahu Erza.


"Itu karena kamu yang berbicara dengan suara keras," sanggah Yara.


Erza terbahak melihat reaksi Yara yang melotot tajam padanya.


Malam ini pun kesedihan hilang begitu saja. Berganti dengan tawa Yara yang mulai kembali menghiasi indahnya malam ini. Erza mampu membuat Yara tersenyum dengan tingkahnya, begitu juga dengan Erza. Setelah mengetahui kalau Yara adalah wanita yang dijodohkan oleh mama-nya. Sikap Erza kembali seperti dulu. Jiwanya telah kembali seiring dengan kehadiran Yara di sisinya.


Banyak yang Erza dan Yara ungkapkan malam ini. Termasuk rencana mereka kedepannya. Erza pun menjadi pendengar baik bagi Yara. Segala yang wanita itu ungkapkan, Erza memberi solusi yang terbaik. Yara tersenyum hangat saat solusi dari Erza sesuai dengan harapan Yara.


.


.


.


.


To be continued


Selamat sore....


Siapa nih yang nunggu bab ini.


tinggalkan like dan komentar kalian yang banyak ya...


Jangan lupa follow akun Author Mayya_zha ya ..


Salam kenal buat kalian... tak kenal maka tak sayang...

__ADS_1


__ADS_2