Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Talak


__ADS_3

Yara menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia terisak dalam diam.


Perasaan benci saat ini Yara rasakan. Saat mengingat apa yang diperbuat Afkar padanya. Berkali-kali memohon untuk tidak memaksa, sama sekali tidak dihiraukan pria itu.


Afkar tanpa ampun menggagahi Yara. Tidak ada kelembutan yang dulu Yara rasakan yang ada hanya napsu.


"Kamu hanya milikku, tidak boleh ada orang lain yang berani mendekatimu. Kamu harus ingat itu!" Ancam Afkar. Kemudian ia kembali memacu tubuh Yara dengan cepat.


Yara tak berdaya. Rasanya tidak kuasa untuk kembali memberontak. Yara sadar jika perbuatannya saat ini tidak benar. Dirinya masih berstatus sebagai istri dari Afkar jadi sudah tugasnya melayani sang suami. Tapi tidak dengan pemaksaan seperti ini, bahkan kelembutan pun tidak ada.


Perih, hatinya bagai tertusuk duri tajam. Cinta yang ia punya buat Afkar seketika hancur berkeping-keping. Cintanya berubah menjadi benci. Berbagai tuduhan dan ucapan kotor yang Afkar berikan padanya membuat Yara hatinya sakit.


Sejenak Yara terdiam, detik kemudian ia melirik ke arah Afkar yang tidur tengkurap di sampingnya. Mungkin karena rasa lelah yang dirasakannya. Afkar langsung terlelap setelah menjamah tubuh Yara.


"Aku benci kamu, Mas!" Ucap Yara disela tangisnya.


Malam ini pun Yara melewatinya dengan kesedihan dan kekecewaan yang amat mendalam.


Yara mencoba memejamkan mata. Tapi rasanya sulit. Ia berpikir ingin pergi ke kamar Dhiya saja demi menghindari Afkar. Yara beranjak dari tempat tidur menuju almari. Berganti pakaian dan segera melangkah untuk keluar kamar. tapi sayang pintu terkunci. Yara ingat tadi Afkar membuang keluar jendela kunci kamarnya karena Yara terus mencoba memberontak tadi.


"Kenapa hidupku begitu sulit, Tuhan." Tubuh Yara merosot ke lantai menyesali nasibnya sendiri.


Sejenak Yara terdiam. Ia menarik kedua kakinya kemudian menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya. Tidak ada tangis saat ini. Rasanya lelah jika harus menyesali diri.Detik kemudian Yara mendongak. "Aku harus pergi dari rumah ini besok." Tekadnya dalam hati.


Kali ini Yara telah mengambil sebuah keputusan besar. Cukup selama ini ia hanya diam dan menurut. Tapi untuk kali ini tidak akan pernah. Perlakuan Afkar tanpa kelembutan membuat cinta itu berubah menjadi benci.


Pagi-pagi sekali Yara terbangun. Ia terkejut saat mendapati diri berada di atas tempat tidur. Yara juga merasa sedikit lengket di sudut bibirnya. Saat ia menyentuh luka itu, ternyata luka akibat pukulan salah sasaran oleh Afkar itu sudah diolesi salep luka, entah siapa yang melakukannya. Sebab Yara tidak menyadarinya.


Yara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Tidak ada keberadaan Afkar di sana. Segera Yara beranjak untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Yara bersiap untuk pergi dari sana. Tekadnya sudah bulat untuk pergi dan tidak ingin kembali ke rumah itu. Tak ingin berlama-lama, Yara segera keluar kamar menuju ke kamar Dhiya.


Yara tersenyum saat melihat Dhiya sudah cantik. Anak perempuannya itu sedang duduk di atas tempat tidur.


"Dhiya," Panggil Yara sontak membuat Dhiya langsung turun dari tempat tidurnya.


"Bunda," Dhiya sedikit berlari menghampiri Yara. Kemudian memeluknya erat.


"Bunda baik-baik, saja?" Tanya Dhiya dengan raut wajah khawatir sambil menangkup wajah Yara.


"Kamu lihat! Bunda baik-baik saja, Nak!" balas Yara yang menumpangkan tangannya di atas tangan Dhiya. Ia pun berusaha menutupinya kehancurannya dari Dhiya.


"Dhiya mau pulang ke rumah Ibu sama Apah, Bunda! Dhiya takut tinggal di sini. Dhiya takut sama ayah," Ucap Dhiya dengan raut wajah ketakutannya.


"Dhiya yakin tidak mau tinggal di rumah ini?" Yara meyakinkan.


Anggukan dari putrinya membuat keputusannya semakin yakin.


"Bunda juga tidak ingin berlama-lama di sini," sahut Yara lirih.

__ADS_1


Dhiya lekas menarik tangan Yara untuk mengajaknya pergi dari sana.


"Ayo, Nda! Kita pulang sekarang aja," rengek Dhiya.


"Sebentar, Bunda mau ke kamar dulu! Ada barang bunda yang tertinggal di sana." Yara ingat kalau kotak musik peninggalan mama-nya tertinggal di kamar itu.


"Kita lewat pintu samping, Dhiya mau?" Dhiya pun mengangguk pelan.


Yara dan Dhiya berjalan pelan agar tidak ketahuan Afkar.


Bi Ami yang kebetulan berdiri di dekat pintu mendengar semua ucapan Yara dan Dhiya. Beliau segera kembali ke ruang makan untuk memberi tahukan Tuannya. Ia pun berjalan cepat menghampiri Afkar.


"Tuan ...." Panggil Bu Ami.


"Mana Yara? Saya menyuruh bibi memanggil dia 'kan?" Tanya Afkar dengan lantang dan tegas.


"Maaf, tuan. Nyonya Yara dia---” Bi Ami kemudian sedikit mendekat ke arah Afkar. setengah berbisik untuk memberitahukan soal Yara.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Afkar sambil mengepalkan tangan.


"Kemungkinan mereka sudah ada di samping rumah, Tuan!" sahut Bu Ami.


Afkar sontak berdiri kemudian mendorong kursi yang sedang ia duduki. Dengan langkah cepat Afkar menyusul Yara.


"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dari sini. Kamu miliku, Ra!" Geram Afkar.


Yara dan Dhiya yang sedang berjalan lewat pintu samping tidak bisa berkutik saat melihat Afkar berdiri menunggu Yara di teras rumah.


"Kalian tidak bisa pergi dari sini!" Suara tegas Afkar menghentikan langkah Yara dan Dhiya.


"Bunda, aku takut!" ucap Dhiya.


"Kenapa kamu susah sekali menuruti ucapanku, Ra. Aku sudah bilang jangan pergi dari sini." Afkar mencoba mendekati Yara. Dhiya terlihat ketakutan dibuatnya.


"Jangan mendekat, Mas! Kamu lihat Dhiya ketakutan melihatmu."


Afkar lekas melirik ke arah Dhiya. "Dhiya sini sama ayah! Tidak usah takut," Afkar mengulurkan kedua tangannya ke arah bocah kecil itu.


Dhiya mengelengkan kepala cepat.


"Tidak, ayah jahat sama bunda," sahut Dhiya cepat.


Afkar menghela napas berat. Sejenak ia memejamkan mata. Kemudian kembali menatap Dhiya. Pria yang saat ini di selimuti rasa penyesalan itu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Dhiya.


"Maafkan ayah. Mungkin kamu kaget dengan sikap ayah kemarin. Benar?" Tanya Afkar meyakinkan. Dhiya pun mengangguk pelan. Afkar menarik Dhiya dalam pelukan.


"Maafkan ayah, Nak!"

__ADS_1


Yara tidak bicara sedikit pun. dia sudah memperkirakan kalau Afkar pasti akan meminta maaf dan mengajaknya kembali. Tapi hati Yara akan tetap dengan pendiriannya.


Afkar mendongak menatap Yara lalu kembali berdiri. Pria itu meraih tangan istri pertamanya itu. Dengan cepat tangannya di tepis oleh Yara.


"Ra, maafkan aku. Aku tahu kamu marah padaku." Afkar berusaha membujuk Yara.


"Kamu berubah, Mas! Kamu memang tidak akan pernah kembali menjadi suamiku yang dulu. Aku sudah kehilangan suamiku. Karena itu, Aku sudah memutuskan untuk pergi dari sini," seru Yara sontak kembali membuat Afkar emosi.


Bu Nuri yang mendengar perdebatan, lekas menghampiri keduanya.


"Ada apa ini?" tanya wanita tua itu dengan tatapan sinis.


"Yara mau pergi dari sini. Dia tidak mendengar ucapanku, Bu?" sahut Afkar. "Heh ... Apalagi ini, Ra? Kenapa kamu suka sekali membuat suami kamu ini emosi. Kalau suami bilang jangan pergi ya tidak usah. Kamu mau jadi istri pembangkang."


"Cukup, Bu! Tolong jangan ikut campur dulu urusanku," timpal Yara.


"Eh, kamu baru tinggal beberapa hari tanpa suamimu sudah jadi pembangkang begini?" Bu Nuri semakin memanasi Afkar. Kemudian beralih pada cucunya.


"Dhiya mau ke mana? Oma sudah masak makanan kesukaan kamu. Ayo kita makan dulu!" Ajak Bu Nuri yang mengerti jika Afkar pasti ingin berbicara serius dengan Yara.


Awalnya Dhiya menolak, Tapi Bu Nuri tetap memaksa. Yara pun tidak menginginkan Dhiya masuk ke dalam rumah. Sebab Yara tidak mau dipisahkan dengan Dhiya nantinya.


"Jangan paksa Dhiya, Bu!" Yara hendak mencegah Bu Nuri.


"Kenapa, Dhiya juga cucuku!" Bu Nuri tidak menghiraukan ucapan Yara sama sekali. Wanita tua itu malah menggendongnya Dhiya yang sedikit memberontak kepadanya.


"Bunda ..." Teriak Dhiya.


"Sebaiknya kita masuk, Ra!" Ajak Afkar.


"Heh ... Kamu bersikap seperti ini karena tidak ada Mbak Syafa, Mas. kalau ada dia pastinya ku tidak akan terlihat sama sekali olehmu!" Yara tersenyum miris. "Aku akan tetap pergi dari sini. Jangan halangi aku! Dhiya ...." Panggil Yara.


Afkar mencegah Yara untuk masuk ke dalam rumah.


"Kamu tidak akan bisa membawanya pergi! Kecuali kamu menuruti perkataanku."


"Heh ... Kamu tidak bisa memaksaku untuk menuruti semua keinginan mu sekarang ini, Mas. Aku tetap akan pergi! percuma aku di sini." Yara berbalik badan kemudian melangkah pergi meninggalkan Afkar.


Meski berat hati Yara pergi tanpa Dhiya. Akan skit berdebat dengan Afkar saat ini.


"Jika kamu melanjutkan langkahmu, talak akan terucap untukmu, Yara!" Teriak Afkar dengan lantang.


Seketika Yara menghentikan langkahnya. Rasa perih, sakit dan sedih masih terasa. Hinaan dan lontaran kata kotor untuknya masih terngiang di benak Yara. Tanpa ragu, Yara terus melangkah.


"Ayara Faeqa, aku menjatuhkan talak padamu saat ini." Teriak Afkar saat melihat Yara terus melangkah pergi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2