Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tukang Ojek Cantik


__ADS_3

"Dhiya mana?" Tanya Bang Boy. Suami dari Kak Ima itu baru saja keluar dari parkiran mall.


Kak Ima menunjuk Dhiya dengan dagunya. Bang Boy tersenyum melihat tingkah Dhiya. Anak kecil itu terlihat menggemaskan saat memberikan permen lollipop pada seorang pria.


"De," panggil Bang Boy.


Dhiya langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Iya apah, sebental," jawab Dhiya kemudian kembali menatap pria yang di hadapannya itu.


"Dede pelgi dulu, Om jangan sedih. Dede doa'in motolnya cepat balik!" Ujar Dhiya dengan gaya bicaranya yang terlihat dewasa. Gadis kecil itu langsung berlari ke arah Bang Boy dan Kak Ima sambil melambaikan tangan ke arah Erza.


"Terima kasih, Cantik," teriak Erza ke arah Dhiya sembari mengupas permen lollipop dan memasukannya ke dalam mulut.


Bang Boy melambaikan tangan membalas teriakan Erza. Dan dibalas lambaian tangan juga oleh Erza.


Mendapat perlakuan manis dari gadis kecil itu membuat Erza merasa tersanjung. Pria yang saat ini lari dari rumahnya sendiri karena menghindari kedatangan orang tuanya itu terus memperhatikan Dhiya.


"Lucu sekali anak itu," gumam Erza.


Pria itu kembali teringat dengan motor sahabatnya yang hilang dipinggir jalan.


Erza terlihat santai saat kehilangan motornya. Orang lain yang ada di sekelilingnya menatap heran pada pria itu.


"Mas, apa ngga pergi lapor polisi kalau kehilangan motornya?" Ucap salah seorang yang ada saat Erza kehilangan motornya. Lebih tepatnya motor sahabatnya.


"Buat apa melapor, kalau sudah dibawa kabur ya gak bakalan balik lagi! Cuma bikin cape sama ribet aja berurusan sama polisi," balas Erza santai.


Orang yang bertanya tadi menggelengkan kepalanya heran mendengar jawaban dari Erza. Kalau orang lain sudah heboh dan ribut karena kehilangan. Tapi Erza yang mengalaminya terlihat santai dan cuek.


Erza malah asik menikmati permen lollipop yang diberi oleh Dhiya.


Di saat yang bersamaan seorang pengemudi motor VWX berhenti di hadapan Erza. Dengan menggunakan atribut jaket hijau dengan logo GoGo Jek yang ia kenakan. Hampir saja pengemudi itu mengenai Erza.


"Hei, hati-hati dong, hampir aja gue kena!" Ujar Erza kesal sambil menatap pengemudi ojek online itu.


Merasa bersalah pengemudi itu lekas turun dan segera membuka helm-nya.


Erza lekas berdiri. Ia ingin segera memberi teguran pada pengemudi itu. Alangkah terkejutnya saat Erza melihat siapa orang dibalik helm hijau itu.


Saat pengemudi itu membuka helm rambut panjangnya terlihat lebih dulu. barulah orang itu membuka masker mulut yang dipakainya.


"Maaf, Mas! Ada yang kena tidak ya?" Ucap Yara yang langsung mendekat pada Erza.


Pria itu hanya bisa mematung. Awalnya mau marah-marah malah dibuat diam tak berkutik melihat pesona ojek cantik di hadapannya itu.


Gelengan kepala menjadi jawaban dari Erza.


"Syukurlah kalau Mas tidak kenapa-napa. Maaf sekali aku buru-buru sekali mau ke dalam sebentar doang. Oh ya, sejalan titip bentar ya. Mau masuk parkiran kejauhan. Saya janji cuman sebentar!" Ujar Yara membuat Erza tidak bisa membalas ucapannya. Sebab Yara tidak memberi waktu untuknya menjawab.

__ADS_1


Yara langsung menghubungi seseorang sambil melangkah ke dalam halaman parkiran. Erza baru sadar saat Yara sudah menjauh darinya.


"Kenapa hari ini gue ketemu dua wanita berbeda usia yang aneh dan menakjubkan. Barusan gue di sapa hangat sama anak perempuan cantik dan baik hati. Eh, sekarang ketemu ojek cantik tapi gak punya rem saat ngomong," gumam Erza. Matanya tidak berhenti memperhatikan Yara. "Ah, mana si Beno, lama banget gue suruh ke sini juga. Telat dikit gak bakal gue ganti motor lu!" gerutunya.


Erza hendak pergi dari sana. Tapi seseorang mencekalnya.


"Mas jangan pergi. Tadi temannya nitipin motor di sini 'kan. Kalau hilang lagi, saya tidak mau tanggung jawab. Tunggu temannya datang aja, baru pergi," Ucap seseorang yang tadi berbicara dengan Erza.


"Eh, dia bukan teman saya, Pak!" elak Erza. Tapi tidak digubris olehnya. Orang itu sibuk melayani pembeli.


"Sue banget sih gue!" kesal Erza.


Tak Lama Yara kembali dengan dua bungkus makanan yang ia ambil di restoran Solariyus yang ada di dalam mall itu. "Mas, makasih ya udah jagain motorku. Sebentar 'kan?" Yara menggantungkan makanan yang ia bawa di motornya sembari tersenyum manis pada Erza.


"Ini minuman buat Mas karena udah bantuin aku jaga motor," lanjutnya.Yara langsung memakai lagi atributnya. Sebab pemesan cumi saus padang yang memesan makanan itu padanya sudah berulang kali menghubungi Yara.


"Sekali lagi makasih ya?" Ucap Yara kemudian pergi dari hadapan Erza.


Pria itu tidak bereaksi apapun. Entah mengapa Yara bisa menghipnotis dirinya menjadi diam. Bahkan ingin menanyakan namanya saja ia bisa lupa.


Pertemuan pertama yang tidak berkesan tapi mampu membuat rasa penasaran dalam diri Erza.


"Cantik juga tukang ojek itu. Ah ... Kenapa enggak sekalian gue carter tadi. Mayan gue bisa kenalan," sesal Erza yang baru menyadari kebodohannya.


Erza menatap kepergian Yara yang pergi dengan cepat meninggalkannya. Hingga motor VWX itu menghilang dari pandangannya. Erza sampai tidak menyadari kedatangan mobil mewah yang berhenti tepat di hadapannya.


"Woi ... Di pinggir jalan sempat- sempatnya bengong!" Beno mengejutkan Erza.


"Lagian lagi ngapain lu, lihatin apa sih emang?" tanya Beno sambil mengikuti arah pandang yang tadi Erza lihat.


"Ah, buka urusan lu. Cepat masuk, kita pulang!" Titah Erza dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Eh, tunggu! Lu pulang naik mobil?" Tanya Beno.


"Naik becak. Ya naek mobil 'lah, Bro!"


"Kalau gitu, balikin kunci motor gue! Biar gue pulang naik motor aja," pinta Beno. Sahabat Erza itu tidak tahu kalau motor miliknya sudah hilang.


"Motor lu hilang barusan!" celetuk Erza tanpa rasa bersalah. Beno yang mendengarnya merasa terkejut.


"Ko bisa?"


"Bisa aja, namanya juga maling!" Erza langsung masuk ke dalam mobilnya, disusul oleh Beno yang masih tidak percaya kalau motor kesayangannya sudah hilang di bawa maling.


"Za, lu harus tanggung jawab gantiin motor baru, ya!" pinta Beno dengan senyum liciknya. Sahabat Erza itu akan memanfaatkan situasi ini dengan baik.


🌱🌱🌱🌱


Yara sampai di rumah pelanggan yang memesan cumi saus Padang padanya.

__ADS_1


Berulang kali Yara menghubungi pelanggannya itu tapi tidak tersambung. Yara kembali memastikan alamat yang dia tuju saat itu. Yara takut kalau dia salah alamat.


"Bener ko alamatnya," ujar Yara.


Melihat ada seseorang keluar dari pintu samping rumah mewah itu, Yara memanggilnya.


"Bu ... Bu...," panggil Yara.


Wanita paruh baya yang baru saja keluar itu menghampirinya.


"Ada apa, Neng?" Tanya ibu tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf, tidak sopan memanggil ibu," ujar Yara sopan.


Si ibu itupun mengangguk tidak mempermasalahkannya.


"Ini benar rumah Bu Haryani Wangsadinata?" Tanya Yara.


"Iya, benar," jawabnya.


"Saya mau mengantarkan pesanan beliau." Yara mengangkat kantung makanan yang ia bawa.


"Oh, ya tadi kata Bu Har, suruh langsung di bawa ke dalam saja, silahkan!"


"Saya masuk gitu?"


Wanita tua itu mengangguk. Tidak pa-pa, beliau baik ko. Tadi sudah berbicara 'kan sama dia?" Tanyanya lagi .


"Sudah ," jawab Yara.


Tanpa menunggu lagi Yara langsung masuk ke dalam rumah itu. begitu masuk ruang tamu Yara melihat beberapa kertas berserakan di lantai. Yara melihat goresan pensil di setiap kertas putih itu. Matanya memicing saat melihat gambar yang terukir di kertas itu.


"Ini 'kan design pakaian," gumam Yara. Kantung belanjaan yang ia bawa diletakkan di atas meja tersebut. tangan Yara meraih salah satu kertas bergambar gaun pengantin.


"Bagus sekali," ucap Yara.


Brak ...


Box makanan yang ada di kantong belanjaan itu terjatuh karena tersenggol oleh Yara.


Bumbu cumi saus padang sedikit tumpah mengenai salah satu gambar desain itu. Yara terlihat panik dibuatnya.


"Ya Allah, kenapa tumpah!" sesal Yara.


Design dengan gambar yang indah itu harus ternoda dengan tumpahan bumbu cumi saus padang.


"Aku harus bagaimana ini?" Yara terlihat ketakutan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2