Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Bahagia Bercampur Sedih


__ADS_3

...Jangan lupa rating bintang untuk karya ku ini .. Tinggalkan like dan komen kalian. ya. ...


Yara terpaku mendengar penuturan Afkar.


"Ayo, Sayang kita pergi saja dari sini? Bisa aja dia berbohong!" Ungkap Afkar.


"Tapi aku memang istrimu, Mas. Aku sengaja dari kampung hanya untuk mencari mu. Tiga bulan aku berada di sini. Dhiya terus menanyakan kepulanganmu! Ibu dan Bapak membutuhkanmu! Bapak kena stroke, Mas! Tolong percaya padaku," ucap Yara dengan nada memohon.


Yara berusaha agar Afkar mau mendengarkan ucapannya. ia benar-benar tidak menyangka dengan sikap Afkar yang begitu acuh kepadanya.


"Kita dengarkan dia, Mas! Apa kamu tidak mau tahu asal usulmu? Apa kamu tidak mau siapa keluargamu? Bagaimana jika wanita ini benar, kalau dia memang istrimu?" ujar Syafa.


"Aku tidak peduli. Dalam ingatanku saat ini hanya kamu istriku. Aku tidak butuh wanita lain!" Ucap Afkar dengan suara tegasnya.


Deg....


Ucapan yang keluar dari mulut Afkar rasanya bagai belati tajam yang menusuk hatinya. Sakit, perih tapi tak berdarah bagi Yara.


'Kenapa Mas Afkar tega sekali berbicara seperti itu padaku? Apa dia benar-benar lupa siapa aku?' Tak terasa butiran air mata jatuh begitu saja dari sudut mata Yara. Jelas terlihat raut wajah kesedihan dalam diri wanita. Semua itu tertangkap oleh penglihatan Syafa.


'Kenapa aku yakin dia berbicara jujur, aku merasa kasihan sekali padanya. Tapi bagaimana jika ingatan Mas Afkar kembali? Bukankah aku yang akan kehilangannya!'


Batin Syafa yang langsung beralih menatap Afkar.


Mendapat tatapan tak biasa dari Syafa membuat Afkar bertanya. "Lalu mau mu apa, Yang?" Afkar menatap Syafa dengan tatapan lembut dan penuh cinta.


"Tidak ada salahnya jika kita membuktikan ucapannya, Mas! Aku juga ingin bertemu dengan orang tuamu." Syafa merangkul tangan Afkar di depan Yara dan dibalas pula dengan kecupan oleh Afkar.


Kembali di hadapkan dengan situasi yang begitu mengejutkannya, Yara lebih memilih membuang muka ke samping menghindari pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya.


"Baiklah jika itu kemauanmu! Kita akan ikut dengannya," ujar Afkar tanpa memandang ke arah Yara yang begitu terluka dan sakit melihat sikap suami yang selama ini ia cari bermesraan dengan orang lain bahkan telah menikah dengannya. Sungguh hal yang tidak Yara kira.


Syafa menawarkan untuk pergi bersama dengannya di mobil tapi Yara menolak. Ia memilih mengendarai motor matic-nya sendiri. Sebelumnya Yara ijin untuk mengantarkan pesanan pelanggannya terlebih dulu.

__ADS_1


Syafa kembali menawarkan bodyguard yang ikut dengannya untuk menggantikan pekerjaan Yara. Lagi-lagi, ia tidak mau menerimanya.


"Aku hanya sebentar, maaf jika aku menolak semua bantuanmu! Aku harus bertanggung jawab karena akun ojek yang aku pakai juga bukan milikku tapi milik Kak Ima, tetanggaku! Dia begitu baik padaku selama aku di kota ini," ucap Yara sambil menoleh ke arah Afkar yang benar-benar terlihat cuek padanya.


"Baiklah, kami akan menunggu," balas Syafa dengan suara lembut dan sikap baik seperti biasanya.


"Sombong sekali dia! Tidak mau menerima bantuan dari kita, heh!" Afkar tersenyum meremehkan Yara.


"Jangan begitu, Mas! Kamu bilang seperti itu karena kamu tidak ingat siapa dia. Bisa jadi dulu kamu begitu mencintainya," celetuk Syafa dan mendapat gelengan kepala dari Afkar.


Semenjak hilang ingatan sikap Afkar sangat bertolak belakang dengan Afkar yang dulu.


Dulu Afkar begitu manis dan memanjakan Yara. Sekarang Afkar seakan tidak percaya dengan Yara.


Bagi Afkar hanya ada satu wanita untuk dirinya yaitu Syafa. Untuk hal itu Afkar tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Pria itu hanya menempatkan satu wanita saja yang menduduki hatinya meskipun dengan wanita yang berbeda.


Yara harus menunggu pelanggannya masuk mengambil uang untuk membayar pesanannya. Sambil menunggu Yara, termenung. Rasa terkejut yang langsung membuatnya sakit hati jelas terasa.


Syafa menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada Afkar, wanita itu juga menjelaskan posisinya saat ini. Yara harus berbuat apa? Semuanya sudah telanjur. Mendapati suaminya masih hidup dan selamat dari kecelakaan itu saja, Yara sudah bersyukur. Tapi Yara menyayangkan dengan keadaannya.


"Ah, tidak Kak, aku hanya kelilipan saja! sepertinya malam ini jalanan penuh debu," elak Yara.


"Ya, memang sepertinya begitu!" balas pelanggannya.


Setelah itu Yara pamit dan berterima kasih karena pelanggannya menambahkan tips yang lumayan besar untuknya.


Dua mobil mewah mengikuti perjalanan Yara. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah kontrakan milik Afkar.


Kak Ima dan Bang Boy yang kebetulan berada di depan rumah kontrakannya memandang heran ke arah Yara.


"Bang... Kenapa Yara diikuti dua mobil mewah? Wah, yang keluar para bodyguard, Bang!" Celetuk Kak Ima yang tampak terkejut dengan beberapa orang bertubuh kekar kekar dari mobil depan.


Para pria bertubuh kekar itu langsung berjalan menuju mobil yang ada di belakangnya. Salah satunya membuka pintu mobil. Mempersilakan seorang pria turun dari dalam mobil itu.

__ADS_1


Tuan Rio sengaja menyuruh para bodyguard menemani Syafa dan Afkar kemanapun mereka pergi. Sebab ia tidak mau kecolongan lagi dengan kejadian di Singapura satu minggu yang lalu.


Ryan mantan kekasih yang diputuskan Syafa secara tiba-tiba karena tertangkap basah telah berselingkuh di depan Syara, merasa tidak terima dengan keputusan gadis itu. Ryan sampai menyusul Syafa ke luar negeri. Pria itu bahkan hampir menculik Syafa. Ia ingin gadis itu kembali padanya. Ryan tidak mau kehilangan gadis yang begitu royal padanya.


Afkar berhasil menolongnya dari kejahatan Ryan. Dan saat itulah Afkar memberanikan diri ingin melindungi Syafa setiap waktu dengan menikahinya. Tuan Rio pun langsung menerimanya dan tak lama mereka menikah, meskipun Afkar dalam keadaan tidak ingat dengan masa lalunya.


Yara langsung berlari menghambur dalam pelukan Kak Ima. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Senang ataukah sedih.


"Ra, kamu kenapa?" Tanya Kak Ima khawatir pada gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


Tak ada jawaban dari Yara. Wanita yang berada dalam pelukan Kak Ima itu terus menumpahkan tangis yang rasakan. Sesak, sedih dan menyayat hati. Yara hanya butuh tempat untuk bersandar saat ini.


"Afkar," celetuk Bang Boy saat pandangannya tertuju pada seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah.


Awalnya sempat tidak percaya tapi saat Bang Boy menyipitkan matanya. Suami dari Kak Ima juga terkejut. "Benar, itu Afkar!" pekik Bang Boy sontak membuat Kak Ima itu menoleh ke arah pandangan yang dituju oleh suaminya.


"Yara... Akhirnya kamu bisa menemukan suamimu!" teriak Kak Ima senang sambil membalas pelukan Yara.


Kak Ima belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menganggap tingkah Yara yang menangis dalam pelukannya adalah tangis bahagia.


Selanjutnya Kak Ima melepaskan perlahan pelukannya dari Yara. Kak iMa hendak menghampiri Afkar. Tapi langkahnya terhenti begitu saja tak jauh dari Afkar. Kak Ima tercengang saat melihat Afkar mengulurkan tangan pada seorang wanita cantik dan anggun yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Hati-hati, Sayang!" Ucap Afkar dan mendapat balasan senyuman hangat dari wanita yang sudah berdiri tegak di samping pintu mobil itu.


"Terima kasih, Mas! Kamu suami yang selalu membuatku merasa istimewa dimanapun dan kapanpun," balas Syafa seraya menatap Afkar senyum yang penuh cinta.


Kak Ima membulatkan matanya saat mendengar ucapan mereka berdua. Pantas saja Yara menangis sedih di pelukannya. Ternyata, tangis itu adalah tangis kebahagiaan bercampur kesedihan yang Yara rasakan. Bahagia bisa menemukan Afkar tapi sedih melihat kenyataan yang terjadi pada suaminya. Hilang ingatan saat Yara menemukannya bahkan pria yang sangat Yara cintai telah menduakannya secara tidak sadar. Sungguh begitu menyakitkan buat Yara.


"Ya Allah, Yara!" gumam Kak Ima. Ia merasa tidak tega pada wanita itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2