Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Rasa Bersalah Dalam Hati Afkar


__ADS_3

"Lalu kamu mau kemana sama Dhiya sudah rapi begitu?" Tanya Bu Nuri. Seperti biasa sikapnya selalu ketus pada Yara.


"Aku mau ke panti, Bu!" Jawab Yara pelan.


"Kenapa harus sepagi ini, Mba?" Mira ikut bertanya.


"Aku mau ikut Paman Yono, Mir! Bukannya kalau habis subuh dia pergi ke pasar untuk mengantarkan beras?" Jawab Yara.


"Iya, sih. Tapi 'kan ada Mas Afkar, dia bisa mengantarkan Mba Yara ke sana!"


Yara sedikit tersenyum. "Kamu lupa, Mas mu saja tidak ingat siapa aku, Mir. Bagaimana dia ingat jalan ke panti?" Yara tertawa kecil membalas Mira.


"Oh, ya aku lupa, Mba!"


"Tapi kamu bisa menunjukkan arah padaku!" Afkar menimpali kemudian berdiri. Dhiya masih betah dalam rangkulan ayahnya.


"Apa kamu akan meninggalkan Mba Syafa jika aku meminta diantar sekarang, Mas?" Tanya Yara. Itu membuat Afkar terdiam sambil berpikir. Cukup lama tak ada jawaban dari Afkar. Dhiya yang berada di gendongan Afkar, menatap Yara dan Afkar bergantian. Gadis kecil itu bingung dengan ucapan yang keluar dari kedua orang tuanya itu.


"Aku sudah bisa menebaknya, Mas. Kamu akan lebih berat pada Mba Syafa karena saat ini yang ada di hati dan pikiran kamu hanya dia benar 'kan. Aku hanya orang asing bagimu, bahkan kamu bingung harus bersikap apa padaku, benar 'kan Mas?" Ucap Yara berhasil membuat Afkar tercekat dan langsung menatapnya.


Afkar merasa terkejut karena ucapan Yara. Ucapan itu sama persis dengan apa yang ia ucapkan pada Syafa semalam.


"Sini, Dhiya. Kita berangkat!" Yara mengambil alih Dhiya. "Sudah salim kan sama ayah? Dhiya nggak takut lagi?" Gadis itu mengangguk pelan. Kemudian Yara menurunkan Dhiya dan meminta gadis kecil itu memeriksa salam pada Bu Nuri dan Mira.


"Salim sama eyang uti sama Tante Mira," Titah Yara dan Dhiya pun mengikutinya.


"Kamu sudah beres-beres di dapur sebelum pergi 'kan, Ra?" Tanya Bu Nuri pada Yara tepat setelah Yara menyalami wanita tua itu.


Yara tersenyum miring. Ibu mertuanya itu selalu seperti itu padanya.


"Aku tidak pernah lupa akan tugasku, Bu. Ibu tenang saja, semuanya sudah rapi."

__ADS_1


Akhirnya Yara dan Dhiya pamit.


"Aku antar ke depan, Mba!" Ucap Mira dan mereka pun berjalan bersama menuju teras rumah. Afkar mengikutinya dari belakang. Setelah berada di teras rumah, Yara menghampiri Afkar.


"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu, Mas! Makanan kesukaan kamu dulu. Aku tidak tahu kamu lupa atau tidak kalau menyangkut makanan. Kalau seleramu pun sudah berubah, buang saja. Biar Mba Syafa yang menyediakan selera barumu saat ini. Aku pamit!" Kemudian Yara berjalan sambil menggandeng tangan Dhiya.


"Da ... Dah ... Atau, ayah!" Teriak Dhiya sambil melambaikan tangan pada mereka. Mira membalas lambaian tangan itu. Tapi tidak dengan Afkar. Pria itu hanya diam mematung melihat kepergian Yara dan Dhiya.


Yara terlihat sangat girang akan pergi ke panti asuhan naik mobil pengangkut barang.


Paman Yono sudah menunggu Yara dan Dhiya di depan halaman.


Yara meninggalkan rumah itu dengan hati perih dan sakit yang tak bisa diungkapkan, kemudian menoleh sekilas ke belakang. Yara melihat Afkar tengah menatapnya dan Dhiya. Tapi ia tidak mau beranjak menyusulnya.


'Kenangan kita benar-benar tidak tersisa dalam ingatanmu, Mas!'


Batin Yara sedih saat menatap Afkar dari kejauhan. Padahal Yara berharap Afkar berbalik menatap dirinya. Tapi ia berusaha untuk tidak meratapi takdirnya. Mau tidak mau Yara harus bangkit untuk hidupnya. Berjuang untuk terus berada di sisi Afkar atau mengikhlaskan pria itu dengan kehidupan barunya.


Afkar menatap sedih melihat mobil pengangkut barang itu pergi. Setelah mobil pengangkut barang itu pergi, Afkar berbalik masuk kembali ke dalam rumah. Pria itu merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hatinya. Ia lekas berbalik melihat kembali ke arah mobil pengangkut barang tadi. Ternyata mobil tersebut sudah menghilang di ujung jalan.


"Mas ... Sini, Sarapan dulu!" Syafa memanggil Afkar untuk ikut duduk bersama dengannya.


"Nasi gorengnya kelihatan sederhana sekali. Tapi enak loh, Mas. Cobain deh!" Syafa menyuapi Afkar satu sendok nasi goreng buatan Yara. "Gimana rasanya?" Tanya Syafa.


Afkar terdiam saat merasakan masakan itu. Cukup lama Afkar terdiam.


"Mas ...," Panggil Syafa.


"Ya, kenapa?" Afkar tidak fokus dengan pertanyaan istirnya itu.


"Bagaimana rasanya?"

__ADS_1


"Enak sekali, ini masukan kesukaan ku dari dulu. Semua masakan yang Yara buat itu selalu enak. Lidahku hanya cocok dengan masakannya." Cetus Afkar tanpa ia sadari dengan ucapan yang keluar dari bibirnya.


Syafa terdiam mendengar ucapan Afkar.


'Apa Mas Afkar mulai mengingat Yara? Bagaimana jika setelah ini semua ingatannya kembali? Apa ini saatnya aku harus bersiap berbagi Mas Afkar dengan istri pertamanya.'


Batin Syafa. Ia langsung menghentikan gerakan menyuapi Afkar.


"Kamu juga bisa masak nantinya, Fa. Umur pernikahan kalian baru sebentar. Rasa masakan yang kita masak itu akan nikmat dan enak jika sering dilakukan jadi terbiasa dengan bumbu di dapur. Yara bisa masak karena memang dia tidak punya pekerjaan lain selain di dapur. Kami pasti akan pintar dalam hal memasak kalau kamu belajar." Bu Nuri menenangkan pikiran Syafa. Dia bisa menebak isi pikiran menantu idamannya itu.


Afkar langsung diam setelah Bu Nuri menyenggol tangannya. Lalu menyuruh putranya itu untuk melihat ke arah Syafa yang menunjukan raut wajah sedih.


Afkar baru tersadar dengan ucapannya.


"Maaf, Sayang! Aku tidak bermaksud membedakan kamu dengan Yara. Aku juga tidak tahu kenapa berbicara seperti itu," Ucap Afkar.


"Ah, tidak pa-pa, Mas. Aku paham ko. Itu karena naluri kamu yang sudah lama hidup bersama dengan Yara. Aku mengerti ko. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku," elak Syafa.


"Kamu juga bisa pintar masak nantinya, asal kamu mencoba. Kamu bisa belajar sama Yara, nanti," sambung Bu Nuri.


"Boleh Mas?"


"Boleh, Sayang! Asal itu tidak membuatmu lelah," sahut Afkar.


"Tidak akan, Mas. Aku ingin pintar memasak agar Mas Afkar betah di rumah nantinya," wajah Syafa sudah kembali berubah ceria. Wanita itu meraih lengan Afkar yang duduk di sisinya. Kemudian sedikit bermanja di sana.


Afkar mengelus pucuk kepala Syafa tapi pikirannya tertuju pada Yara. Ada rasa bersalah muncul dalam hatinya pada Yara saat itu. Sebab bayangan dirinya yang sedang mencium Yara saat memakan nasi goreng terlintas dalam pikirannya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2