
Berbicara dengan Bu Lidia membuat semangat Yara kembali. Mereka berdua kembali berbincang hal lain selain Afkar. Bu Lidia tidak mau Yara terus bersedih dengan situasi yang sedang Iya hadapi saat ini.
"Jangan pernah takut jika kamu belum berjuang. Kamu belum mencoba dekat dengan Afkar lebih lama. Bantu dia mengingat kenangan kalian. Jangan lemah dihadapan ibu mertuamu, Ra. Selama ini kami cukup tunduk dan patuh padanya. Cukup kamu dihina dan direndahkan olehnya."
"Doakan aku bisa, Bu," balas Yara.
"Bisa kamu pasti bisa, bukan maksud ibu mengajari kamu melawan pada mertuamu. Ibu tahu mertuamu adalah pengganti orang tua kamu. Tapi ibu menyaksikan sendiri selama ini, sikap beliau tidak pantas padamu. Hanya karena kamu dari berasal dari panti asuhan. Dia tidak tahu saja kalau kamu adalah anak seorang---," ucapan Bu Lidia terhenti begitu saja. Wanita tua itu tidak sadar dengan ucapannya yang hampir saja mengungkapkan siapa Yara sebenarnya.
"Aku anak siapa, Bu? Kenapa Ibu berhenti bicara? Apa ibu tahu siapa papa-ku, Bu?" Tanya Yara penuh selidik padanya.
Selama ini Bu Lidia menyembunyikan rapat-rapat rahasia yang diceritakan almarhum mama-nya Yara. Dan mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk beliau mengungkapkannya.
Bu Lidia sempat terdiam. Ia sempat ragu, tapi Yara berhak tahu siapa papa nya dan saudara perempuannya.
"Bu, tolong beritahu Yara siapa mereka. Yara ingin bertemu jika memang mereka masih hidup. Yara ingin sekali bertemu dengan kakak kandungku, Bu. Saat mama masih hidup, dia hanya menceritakan kalau kakak gadis pendiam dan baik, begitu juga papa," desak Yara pada Bu Lidia.
"Apa sebenernya ibu juga tahu kenapa mama berada di sini? Kenapa saat mama melahirkan, papa tidak bersamanya. Atau ... Aku anak haram, sampai mama harus pergi atau bisa jadi diusir oleh papa?" Yara semakin meracau dengan ucapannya.
Bu Lidia menggelengkan kepalanya.
"Semua yang kamu ucapkan tidak benar, Ra!" elak Bu Lidia dengan ucapan yang Yara tuduhkan pada almarhum mama-nya.
"Lalu apa? Apa Bu? Aku ingin tahu yang sebenarnya?" Yara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya ingin kembali menangis tapi lelah rasanya. Percuma menangis jika pada kenyataannya semua membaurnya kecewa.
Bu Lidia membuang napas berat. "Baiklah ibu akan menceritakannya semuanya saat ini. Kamu juga berhak tahu siapa keluargamu dan kenapa kamu dan mama-mu berada di sini!" Ucap Bu Lidia. Sesaat wanita itu terdiam, Ia mencoba mengingat kejadian lalu yang sudah terlewati begitu lama.
Perlahan Bu Lidia mulai menceritakan bagaimana pertemuannya dengan seorang wanita yang tengah hamil lima bulan sedang butuh bantuan di stasiun kereta api di Jakarta. Wanita cantik itu meminta tolong agar mengajaknya untuk itu bersama Bu Lidia saat itu.
mengungkapkan sambil mengingat kembali kejadian yang sudah lalu membuat wanita tua itu sedikit kesulitan.Tapi inti dari masalah yang dihadapi almarhumah mama nya secara jelas diceritakan pada Yara.
__ADS_1
"Begitulah singkat cerita yang ibu tahu soal kehidupan mama kamu. Bahkan sampai kamu berusia 7 tahun, Mira selalu menyempatkan diri menengok kakak kamu Aileen, tepat di saat ulang tahunnya. Meskipun harus memperhatikan dari jarak jauh. Tapi dia tidak lupa memberikan hadiah pada Aileen. Kamu juga punya barang yang sama dengan kakakmu, karena Mira selalu membeli 2 setiap barang yang akan diberikan pada Aileen. Dia hanya membedakan warnanya saja," ungkap U Lidia panjang lebar saat menceritakan semuanya pada Yara. Tidak ada yang terlewati sama sekali.
"Apa termasuk kalung ini, Bu?" Yara mengeluarkan kalung yang selalu ia pakai selama ini. peninggalan Mama Mira yang tidak pernah lepas darinya.
Bu Lidia menggelengkan kepala menjawabnya.
"Bukan, itu bukan kalung hadiah dari mama kamu. Itu adalah hadiah untuk nama-mu dan Aileen karena kamu saat itu belum lahir jadi kamu tidak punya kalung itu. Mira bilang, papa-mu sengaja memesan dua kalung itu khusus untuk mama dan kakakmu. Itu saat kamu belum hadir."
"Kenapa papa tega sekali memfitnah mama? Kenapa mama tidak membela diri, Bu?" Tanya Yara semakin penasaran.
"Itulah mama-mu, dia terlalu lemah saat seseorang memfitnahnya. Di tambah dirinya tidak punya bukti untuk membela diri," jawab Bu Linda.
"Heh ... Berarti apa yang selalu diucapkan mama tidak benar. Papa bukanlah orang yang baik selama ini. Buktinya dia tidak pernah mencari tahu kebenarannya, dia membiarkan mama dan aku hidup berdua di sini." Yara balik membenci pria yang disebut papa olehnya.
"Kita tidak pernah tahu, Ra. Mungkin saja papa kamu mencari keberadaan kalian. Tapi mama kamu menutup dan mengubah semua jati dirinya. Kamu tinggi sebentar! ibu akan mengambil sesuatu untukmu." Bu Linda bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju bangunan yang tak jauh dari sana.
bangunan tempat para anak-anak panti dan Bu Lidia beristirahat.
'Kenapa kamu selalu membela pria itu jika dia sudah mengecewakan kamu, Mah? Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Kenapa kamu harus menyerah saat wanita lain memfitnah kamu di hadapan papa? Dan kenapa ibu dari papa sama sekali tidak membelamu jika dia tahu yang sebenernya?'
Batin Yara sedih. Rasanya ini lebih sakit dibanding dengan permasalahannya dengan Afkar.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Aku tidak mau jadi Puspa Almira Rajak yang lemah dan menyerah pada kehidupannya. Papa ... Kamu hutang penjelasan padaku, tentang semua ini!" Gumam Yara dengan tegas.
Mendengar semua penuturan Bu Lidia soal masa lalu dan asal usulnya yang terungkap membuat Yara penasaran dengan sosok pria yang disebut dalam cerita itu. Nama itu nama papa nya yang akan ia ingat. Yara aka mencarinya jika ia kembali ke Jakarta nanti.
Tak lama Bu Lidia kembali membawa album foto di tangannya.
"Apa ini, Bu?" Tanya Yara saat Bu Lidia menyodorkan album foto itu kepada Yara.
__ADS_1
"Buka lah."
Yara pun mengikuti perintahnya.
Dia wanita cantik ada dalam beberapa pose dalam foto usang yang ditunjukkan oleh Bu Lidia.
"Mereka siapa, Bu?"
"Perhatikan baik-baik, wanita yang ini! Apa kamu kenal siapa dia?" Bu Lidia menunjuk satu dari dua orang dalam foto tersebut.
Yara dengan teliti memperhatikan foot tersebut.
"Ini mama! Tapi apa benar, Bu? Mama sangat berbeda sekali jika penampilannya seperti ini. Dia sangat cantik, cantik sekali!" Ucap Yara.
"Ya, itu mama kamu. Dia sengaja merubah penampilannya agar papa mu tidak mudah mengenali dia. Pernah waktu itu ada orang mencari ibumu, Tapi itu hanya orang suruhan papa kamu. Jadi Mira tidak mau menemuinya, ia kembali bersembunyi dalam balutan gamis nya. Mama mu berharap papa kamu sendiri yang mencarinya tapi itu tidak pernah terjadi, entah kenapa? Dan di sebelahnya adalah Priska, sahabat baik mama-mu."
Kemudian Bu Lidia membalikkan halaman foto selanjutnya.
Tiga orang dalam foto yang ditunjukan oleh Bu Lidia kembali membuat Yara penasaran. Ia melihat gadis kecil yang ada di fotonya bukan lah dirinya.
"Ini adalah ayah dan kakakmu. Saat itu kamu belum hadir diantara mereka." Bu Lidia terus berbicara tentang dua orang yang baru Yara lihat wajahnya.
Yara meraba foto itu dengan jari telunjuknya.
"Kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis ini, Bu? Aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi, di mana ya? Melihat manik mata ini. Aku benar-benar tidak asing melihatnya, "jelas Yara. Ia terus menyelidiki foto yang ada di hadapannya saat ini. Yara juga memperhatikan gadis kecil itu. menelisik lebih dalam dan mengingat pelan ingatannya.
"Kenapa aku merasa gadis ini begitu dekat dengan ku?"
.
__ADS_1
.
.