
Yara terus berjalan cepat keluar dari area gedung Pengadilan Agama. Bu Haryani yang melihat itu membiarkannya begitu saja. Wanita itu mengerti apa yang saat ini Yara rasakan. Setelah tenang nanti, Bu Haryani yakin Yara pasti kembali kepadanya.
Yara berjalan sambil menangi Tak peduli tatapan orang yang melihatnya. Langkahnya terus menyusuri jalan setapak yang ada di pinggir jalan raya.
Cittttt....
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping Yara. Wanita yang sedang menangis sambil berjalan itu sempat menghentikan langkahnya. Yara hanya menoleh sekilas. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Ra," Panggil seorang pria dari dalam mobil tersebut. Kaca mobil terbuka dan pria itu tersenyum pada Yara.
Merasa dirinya dipanggil Yara menghentikan langkahnya lagi. kepalanya sedikit menunduk agar bisa jelas melihat siapa yang telah memanggil namanya dari dalam mobil itu.
"Kamu ...."
Yara terkejut melihat siapa yang memanggilnya itu. Di saat yang bersamaan hujan lebat tiba-tiba saja turun.
"Cepat masuk!" Erza segera membukakan pintu mobil untuk Yara.
Yara memilih ikut bersama Erza sebab wanita itu merasa lelah. Tak mau Erza melihat wajahnya yang sembab karena menangis Yara menghindari tatapan Erza.
"Tidak perlu menghindar, aku sudah tahu semuanya!" Celetuk Erza sontak membuat Yara menoleh kepadanya kemudian menunduk kembali.
"Tolong bawa aku pergi dari sini!" pinta Yara.
Sesuai permintaan Yara, Erza membawanya ke tempat yang sejuk dan nyaman. selama dalam perjalanan Yara tidak banyak bicara. hanya sesekali menjawab pertanyaan dari Erza.
Erza juga tidak banyak bicara saat itu. Pria itu memilih fokus ke jalan menuju ke suatu tempat.
Mobil mewah yang dikendarai Erza tiba dia sebuah villa di kawasan Puncak Bogor. Erza melihat ke sisi kemudi, pria itu melihat Yara tengah terlelap. Pria Itu tersenyum melihatnya.
"Kamu wanita kuat, Ra!" Ucap Erza pelan. Sambil menyibakkan surai yang menutupi wajah manis wanita itu. Cukup lama mereka berdua di dalam mobil. Erza sengaja tidak membangunkan Yara.
Seorang pria yang melihat kedatangan mobil mewah milik Erza di depan villa yang ia jaga selama ini merasa heran, kenapa mobil itu tidak segera masuk ke dalam villa. Padahal dengan membunyikan klakson saja, Bi Titin istrinya pasti langsung membukakan gerbang.
"Loh Den Erza kenapa tidak langsung masuk ke dalam saja?" pikir Mang Diman.
Pria tua itu melangkah mendekati mobil Erza.
Tok ... Tok ... Tok ...
Erza terperanjat saat mendengar kaca mobilnya yang diketuk. Ia pun segera membukanya.
"Kenapa Mang Diman?" Tanya Erza.
"Selamat sore, Den. Mamang lihat Den Erza tidak masuk ke dalam Villa. Apa Bi Titin tidak membukakan pintu?" Mang Diman bertanya sambil menyapa.
Erza melirik Yara yang terusik karena ketukan obrolan mereka.
"Kita sudah sampai, ya?" Tanya Yara.
"Ya, kita sudah sampai," jawab Erza kemudian menyuruh Mang Dirman yang membukakan gerbang.
"Mang, tolong sekalian buka gerbangnya."
__ADS_1
"Iya, Den!" Pria tua itu langsung bergegas mengikuti perintah Erza.
"Kita ada di mana, Za?" Yara kembali bertanya.
"Kita ada di darah Cisarua, Puncak. di Villa keluargaku!" sahut Erza. Pria itu lekas turun dari mobil dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Yara.
"Terima kasih, maaf aku pasti merepotkan mu!"
"Santai saja. Lebih baik kamu membersihkan diri dulu. Hari sudah sore. Kamu pasti lelah!" Kemudian Erza mengajak Yara menuju sebuah bangunan mewah namun nampak begitu nyaman saat melihatnya. Berada di luar sana membuat suasana di villa itu terasa nyaman dan damai.
"Tempat ini nyaman sekali, Za!" Tutur Yara.
"Bukan kah ini yang kamu butuhkan? Berada di tempat yang nyaman seperti ini?" Tanya Erza.
Yara hanya bisa mengangguk pelan. Yang diucapkan Erza benar adanya. Yara pun melangkah menjauh dari Erza. Ia ingin melihat tempat yang ada di balik pagar. Ternyata pemandangan indah terlihat di sana. Villa tersebut b|rasa di atas bukit. Yara bisa melihat indahnya kebun teh dari tempatnya berdiri saat ini. Susana sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan ibu kota membuat perasaan Yara yang memang sedang sedih dan tak karuan lekas berubah tenang dan nyaman.
Yara memejamkan mata sejenak menikmati sejuknya udara di sana. Sesaknya dada yang ia rasakan menguar begitu saja menjadi lebih lega.
Erza pun ikut senang melihat perubahan dalam diri Yara.
Seorang wanita berjalan menghampiri Erza. "Selamat sore, Den. Apa kabar? Lama pisan nya tidak ketemu sama Den Erza. Sekarang mah meni ganteng pisan," sapa Bi Titin dengan sopan.
"Kabarku baik, Bi!" sahut Erza sambil melihat pemandangan sekitar Villa.
Yara melirik ke arah suara yang berbicara dengan Erza. Pandangan Bi Titin dan Yara saling bertemu. Yara lekas memberi salam dengan menangkupkan tangan di depan dada. Sebab jarak mereka terlalu jauh untuk saling menyapa. Bi Titin membalas dengan hal yang sama.
Erza memandang Yara dengan seulas senyum. Tatapannya tidak lepas dari wanita itu. Hal itu tidak lepas dari pandangan Bi Titin.
"Dia adalah calon istriku, Bi! Doakan niat hati untuk mempersunting nya lancar," jawab Erza sambil menatap Yara dengan penuh harap.
"Aamiin ... Niat baik pasti terbalas dengan baik pula, Den. Selama kita mau berusaha dengan hati yang tulus. InsyaAllah akan lancar semuanya."
"Aamiin," sahut Erza dengan harapan yang ingin terkabul. Tangannya mengusap wajah saat berucap demikian. "Tempat ini tidak ada yang berubah ya, Bi! Masih sama seperti terakhir saya ke sini," ujar Erza sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling villa.
Terakhir kali Erza ke tempat ini saat pria itu masih berkuliah. Sekitar 7 tahun yang lalu. Setiap kali libur kuliah Erza pasti ke tempat ini untuk liburan. Kadang bersama temannya kadang kala bersama dengan keluarga. Tapi lebih sering dia datang sendiri. Erza senang berpetualang sendiri di sana.
"Pak Rangga dan Bu Anggi tidak ingin ada yang berubah dari tempat ini. Sebab ini adalah tempat mereka bertemu pertama kali sudah berpuluh tahun tidak ada yang berubah. Hanya beberapa dekorasi dan bangunan saja yang diperbarui. Mang Diman merawat tempat ini dengan baik, Den. Meskipun Pak Rangga dan Bu Anggi jarang sekali ke sini. Beliau selalu menanyakan keadaan villa ini. Mereka ingin tempat ini terjaga dengan baik. Mang Diman hanya menambah peliharaan hewan ternak saja di belakang rumah, Den," tutur Bu Titin.
"Peternakan apa, Bi?" Tanya Erza penasaran.
"Kambing, Den. Udah ada beberapa ekor sekarang. Daripada suami bibi tidak ada kegiatan lain. Itu juga modal dari Pak Rangga, Den." Ungkap Bi Titin sambil tertunduk sopan.
"Syukurlah kalau begitu. Pantas saja, beliau baru saja pulang bawa rumput tadi," ujar Erza. "Bi, tolong siapkan kamar untuk Yara. Kemungkinan kami akan menginap di sini!"
"Baik, Den. Apa perlu bibi siapkan pakaian ganti juga buat Non Yara?"
"Memangnya ada?" Erza balik bertanya.
"Biar bibi siapkan saja ya!" Usul Bi Titin.
"Terserah bibi, bagaimana baiknya saja."
Usai berbicara dengan Bu Titin, Erza melangkah mendekati Yara.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan mu saat ini?" Tanya Erza. Pria itu ikut berdiri di samping Yara sambil melihat ke arah wanita itu.
Yara menarik napas panjang. Lalu menghembuskan nya perlahan.
"Lebih baik!" jawabnya singkat.
"Sepertinya kita akan menginap malam ini," ujar Erza. "Kamu tenang saja ada banyak kamar di sini! Kalau kamu ingin di temani. Bi Titin bisa menemanimu."
Yara menggelangkan kepala. "Tidak perlu, aku biasa sendiri." Ujar Yara. Wanita itu berbicara tanpa memandang Erza. "Maaf ya, Za. Aku selalu merepotkanmu." lanjutnya seraya memandang lurus ke depan. "Aku merasa tenang berada di sini, Za!"
Ucap Yara pelan.
"Permisi, Den," sela Bi Titin.
Yara dan Erza menoleh berbarengan.
"Kamar untuk istirahat sudah siap. Pakaian ganti juga sudah bibi siapkan."
"Terima kasih banyak, Bi! Tolong sekalian temani Yara menuju kamarnya." titah Erza
Bi Titin mengangguk pelan. "Mari, Non!" Ajak Bi Titin.
Yara tersenyum membalasnya.
"Aku ke kamar dulu, Za!" pamit Yara.
"Ya, istirahat lah!"
"Sekali lagi terima kasih telah membantuku!"
Erza mengangguk dan tersenyum membalas Yara.
Yara pun berlalu meninggalkan Erza seorang diri. Wanita itu berjalan beriringan dengan Bi Titin menuju kamarnya.
'Ra, aku janji kesedihan yang kamu rasakan akan aku ganti dengan kebahagiaan. Tidak akan aku biarkan seorang pun menyakiti hatimu lagi. Aku janji!'
Batin Erza. Tatapannya tertuju pada Yara yang perlahan menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Selamat malam...
Maaf Author mepet waktu update nya.
Sehat sehat buat kalian semua.
Hari ini Senin Vote. yang yang punya Vote bolehlah kirimkan ke karya ini hadiah atau kopi juga boleh biar author semakin semangat...
Salam hangat Author buat kalian semua
__ADS_1