Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Hamil


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Sudah jadi rutinitas Yara memasak di rumah itu untuk Afkar, bahkan untuk semuanya. Yara sama sekali tidak merasa lelah. Sebab semua terbayarkan oleh sikap Afkar yang semakin hangat padanya.


Meskipun belum bisa bersama dalam satu malam yang indah karena Syafa kurang sehat selama seminggu ini. Yara merasa senang. Syafa hanya bisa tiduran di kamar bahkan untuk turun dari tempat tidur pun rasanya pusing.


Malam ini, waktunya makan malam. Yara kembali disibukkan oleh rutinitasnya. Menyiapkan makanan di meja makan. Malam ini Afkar meminta menu makan malam pada Yara. Capcay dan daging teriyaki sesuai permintaan Afkar.


"Maaf, Ra. Malam ini, Mas tidak bisa ikut makan bersama di sini. Syafa minta ditemani," ujar Afkar saat ia baru saja sampai di ruangan itu.


Ada rasa kecewa yang Yara rasakan. Padahal hanya saat seperti ini, Yara bisa dekat dan bertukar cerita dengan Afkar. Sebab Afkar sangat sibuk di perusahaan yang ia kelola saat ini.


Jarang ada waktu banyak yang bisa Yara lewati bersama Afkar. Pernah satu malam Afkar menemani Yara tidur. Namun, mereka tidak bisa melakukan apapun selain bercerita tentang masa lalu. Afkar masih merasa asing dengan Yara. Dan akhirnya hanya pelukan hangat yang bisa Afkar beri untuk istri pertamanya itu. Hanya sebatas itu saja Yara sudah sangat senang. Apalagi saat Dhiya ikut dalam obrolan mereka. Tawa dan canda mereka lewati bersama.


"Bawa ini ke kamar, temani istrimu makan. Beberapa hari ini, dia sulit sekali makan! Besok bawa dia ke rumah sakit, Kar!" Titah Bu Nuri sambil menyerahkan nampan berisi makanan pada Afkar.


Afkar hanya mengangguk pelan dan menatap Yara dengan perasaan bersalah.


"Mas temani Syafa dulu, Ra!" Ucap Afkar sambil berlalu dari hadapan mereka.


Tak lupa Afkar membawa nampan berisi makanan yang sudah di siapkan oleh Bi Nuri.


"Pasti kamu kecewa tidak bisa bersama Afkar malam ini. Harusnya kamu bisa lebih mengerti, Ra. Syafa sedang sakit, mungkin dia kepikiran dengan sikap kamu yang terlalu menguasai Afkar." Celetuk Bu Nuri.


"Maksud ibu apa? Menguasai? Aku!" Yara menunjuk dirinya sendiri."


"Kamu menguasai Afkar saat dia ada di meja makan. Bahkan kamu memakai Dhiya untuk mendekatinya," lanjut Bu Nuri.


Yara menggelengkan kepalanya sambil sedikit tersenyum miris.


"Bukankah memang seharusnya seperti itu, Bu. Aku dan Dhiya mencoba dekat dengan Mas Afkar agar dia cepat kembali ingatannya," sahut Yara.


"Seharusnya kamu tahu diri, sekarang tinggal di mana. Dan apa yang kamu nikmati saat ini adalah milik Syafa." sindir Bu Nuri sontak membuat Yara melepaskan tangannya dari sendok nasi yang ia pegang.


"Nah, baru sadar 'kan?" Bu Nuri lagi-lagi menyindir Yara.


Yara jadi terdiam, kemudian memandang Pak Setyo yang terlihat sedih memandangi Yara.


"Iya, Bu, maaf. Aku lupa kalau semua yang ada di sini milik Mba Syafa." Yara tertunduk sedih.


Sebenarnya buka karena sindiran yang dilontarkan Bu Nuri melainkan karena Afkar pergi begitu saja dari hadapannya. Padahal Afkar berjanji untuk mendengarkan kembali cerita yang akan Yara ceritakan kepadanya.


...🌱🌱🌱...


Pagi harinya. Yara tidak menyerah untuk kembali membuatkan sarapan untuk Afkar dan juga yang lainnya.


Yara juga menyiapkan sarapan untuk Syafa. Melihat kondisi Syafa yang terlihat sangat pucat dan lemas, Yara telah membuatkan bubur kacang hijau untuknya. Sebab Syafa selalu menolak saat diberikan menu nasi dan lauk.

__ADS_1


Yara melihat Afkar dan Syafa baru saja turun dari lantai dua. Afkar begitu mesra menggandeng Syafa yang berjalan dengan pelan.


Bu Nuri langsung mendekati Syafa. "Apa semakin pusing? Apalagi yang kamu rasakan, Fa?" Tanya Bu Nuri.


Yara sibuk mengambilkan nasi dan sayur untuk Pak Setyo dan Dhiya.


Saat sampai di meja makan. Afkar dengan penuh perhatian dan kelembutan memperlakukan Syafa dengan baik.


"Makasih, Mas!" Ujar Syafa.


"Sama-sama, Sayang!" balas Afkar sembari mencium kening Syafa. Kebiasaan yang Afkar lakukan sebelum bertemu dengan Yara.


Yara hanya bisa menghela napas berat. Melihat kemesraan mereka berdua. Ia mencoba mengerti situasinya saat ini.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Afkar pelan.


Syafa menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya semuanya tidak membuatnya berselera.


Yara merasa kasihan melihat Syafa. Raut wajah Syafa memang terlihat sangat pucat.


"Aku buatkan bubur kacang hijau buat Mba Syafa, mau?" Ucap Syafa.


"Mana?" Tanya Syafa sambil mengedarkan pandangannya ke atas meja. Wanita itu tidak melihat adanya bubur kacang hijau di sana.


"Masih ada di dapur. Aku sengaja belum memasukkannya ke dalam mangkuk. Pas mau dimakan baru di ambil. Sebab lebih enak makan dengan keadaan hangat kuku. Aku ambilkan ya?" balas Yara. Syafa pun mengangguk pelan menjawabnya.


"Nah coba makan seperti ini dari kemarin, pasti akan cepat sembuh, Sayang!" celetuk Afkar.


Syafa tersenyum kecil membalasnya.


"Habisnya kacang hijaunya enak, Mas. Kamu mau coba?" tawar Syafa.


Afkar menggelangkan kepalanya.


"Tida udah. Aku sudah kenyang!" elak Afkar.


"Kalian jadikan ke rumah sakit?"tanya Bu Nuri sambil melirik ke Afkar kemudian ke arah Syafa.


"Jadi, Bu!" jawab keduanya kompak.


"Ya sebaiknya periksa. Sebenarnya apa yang terjadi pada Syafa beberapa hari " Bu Nuri terlihat sangat mengkhawatirkan Syafa.


"Jadi ibu , setelah ini kami akan ke rumah sakit."


Usai Afkar menghabiskan sarapannya. Dia dan Syafa bersiap untuk pergi.

__ADS_1


"Ayah pergi dulu, De!" Ucapnya pada Dhiya. Kemudian mengulurkan tangan pada Dhiya yang masih sibuk makan. sendiri. Berlanjut pamitan kepada Pak Setyo dan Bu Nuri.


"Kalian hati - hati, kabari ibu jika terjadi sesuatu," ucap Bu Nuri sambil melambaikan tangan ke arah Afkar dan Syafa yang sudah berada di dalam mobil. Mobil itupun melaju meninggalkan halaman rumah mewah itu.


"Pantas saja, Bu Syafa mengalami semua ini. Ini reaksi dari kehamilannya." Ucap Dokter Rima yang memeriksa saat itu.


Syafa begitu terkejut mendengar penuturan Dokter Rima.


"Maksud dokter, saya hamil?" Syafa memastikan.


"Ya, untuk lebih pasti kita USG ya!"


Keduanya mengangguk setuju.


Lalu Dokter Rima mengoleskan gel ke perut Syafa. Lalu menempelkan alat sebuah alat ke perut Syafa.


"Lihat sudah ada calon bayi di perut istri Anda," ucap Dokter Rima sambil terus menggeser alat tersebut.


Syafa dan Afkar saling menatap. Mereka saling melempar senyum bahagia. Afkar meraih jemari Syafa dan menggenggamnya erat.


"Kamu hamil, Sayang!" Ucap Afkar sambil mengecup kening Syafa.


"Aku senang sekali, Mas!"


"Ya, Aku juga sangat senang."


"Sudah lihatkan! Ada calon bayi yang harus dijaga saat ini, ukurannya masih sangat kecil. Jadi sangat rentan sekali ya. Bunda harus menjaga kesehatan dan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh bunda. Saat ini ada yang ahrus diberi makan didalam sini!" Dokter menepuk pelan perut Syafa. Kemudian menutup baju yang tersingkap akibat alat USG yang tadi dipakainya untuk memeriksa kandungan Syafa.


"Iya, dokter. aku akan berusaha sebaik mungkin," balas Syafa.


"Harus itu bunda, demi kesehatan bunda dan calon bayinya."


"Mas aku ingin menghubungi papa. Aku ingin memberitahu kabar bahagia ini," ucap Syafa.


"Sebentar, Aku ambilkan ponselmu!" sahut Afkar.


Syafa melihat punggung Afkar yang menjauh darinya.


'Kamu tidak akan pernah lepas dariku kali ini, Mas. Aku akan meminta kamu menjauh dari Yara karena kehamilanku.'


Batin Syafa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2