Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Rencana Mendadak Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

Dhiya sangat senang dengan kedatangan Mama Anggi ke sana. Anak kecil itu masih dalam pelukan Mama Anggi.


"Oma, kenapa gak bilang kalau mau ke sini? biar aku jemput di bandara," seru Dhiya seraya melonggarkan pelukannya dari Mama Anggi.


"Oma mau kasih kejutan buat kamu!" Sahut Mama Anggi sambil mengelus pelan pipi Dhiya.


"Padahal aku mau ke luar rumah. Bosan di rumah terus!" Celetuk Dhiya sambil memanyunkan bibirnya.


Yara yang baru saja sampai dari lantai dua langsung menggelengkan kepala saat melihat tingkah manja Dhiya pada Mama Anggi.


"Kakak, Oma baru sampai loh! Biarkan Oma duduk dulu!" Ucap Yara yang berjalan mendekat pada Kedua pasangan suami-isteri berumur itu.


"Mama apa kabar?" Sapa Yara seraya mengulurkan tangan pada Mama Anggi kemudian berganti untuk menyalami papa mertuanya.


"Kabar baik, Sayang," sahut Mama Anggi yang langsung memeluk menantu kesayangannya. "Sudah mulai terlihat kehamilannya, ya?" Mama Anggi mengusap perut Yara yang terlihat sedikit menonjol. "Mama kira kamu akan hamil kembar?" Seru Mama Anggi.


Yara tersenyum menanggapinya. "Mama 'kan sudah tahu kehamilan Yara!" timpal Erza sambil ikut menyalaminya.


Tak lupa juga menyalami Papa Rangga.


"Tidak apa, yang penting sehat ibu dan kandungannya," Papa Rangga ikut menimpali setelah selesai menyalami kedua anak menantunya.


Seorang anak laki-laki pun ikut menyalami Erza dan Yara. Dia adalah Azzam, anak laki-laki yang diangkat sebagai anak oleh kedua orang tua Erza. Mendapatkan sikap sopan dari Azzam. Erza mengacak pelan rambut anak lelaki itu. "Bagaimana sekolahmu?" Tanya Erza.


"Alhamdulillah, baik, Kak!"


"Syukurlah, belajarlah yang giat agar kamu bisa sukses di masa depan," Ucap Erza lembut. Pria itu sudah menganggap Azzam seperti adiknya sendiri.


Azzam mengangguk membalasnya. Pandangannya beralih pada Dhiya. anak gadis itu langsung membuang muka saat manik mata keduanya bertemu. Azzam tersenyum dengan sikap Dhiya padanya. Anak lelaki itupun berlalu dari hadapan mereka semua.


"Mama sama papa sebaiknya duduk dulu!" Yara mengajak kedua mertuanya untuk duduk sambil beristirahat. Mama Anggi dan Papa Rangga pun mengikutinya, begitu juga dengan Azzam.


"Aku buatkan minuman dulu buat kalian." Yara hendak beranjak dari sana.


"Sayang, tidak perlu repot-repot. Nanti kalau haus mama ambil sendiri," Tolak Mama Anggi.


"Hanya minuman saja, Mah. Sama sekali tidak merepotkan, ko. Kalau aku tahu mama mendarat hari ini, dari pagi pasti sudah siap masak, Mas Erza saja yang tidak mengabari ku!" Yara mendelik pada suaminya.


Erza tersenyum kikuk. "Mama yang menyuruhku agar tidak memberitahumu, Sayang!" sanggah Erza.


"Tapi kasihan mereka baru sampai. Masa aku gak masak apa-apa," sesal Yara.


"Sudah tidak usah dipermasalahkan soal makanan. Lagian mama sama papa sudah istirahat di hotel tadi. Sebenarnya kami sudah sampai dari tadi malam. Kami berdua tidak mau membangunkan kalian. Jadi kita menginap di hotel saja. Mama, papa dan Azzam juga sudah makan tadi saat perjalanan ke sini," seru Mama Anggi.


"Nah benar kata mama!" Erza membenarkan ucapan mamanya.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, Mah. Aku jadi gak enak sama mama," lirih Yara. Wanita hamil itu sangat sensitif. Mood kehamilannya sering kali berubah-rubah. Yara sedikit memanyunkan bibirnya pada Erza.


"Maaf, Sayang!" Erza tersenyum kikuk.


Mama Anggi berdiri dan mendekati Yara. "Sudah, jangan dibuat pusing. Mana katanya mau buatin mama minum?" pinta Mama Anggi pada Yara.


"Oh, ya. Sebentar! Aku buatkan minuman dulu," Yara hendak beranjak tapi Dhiya mencegahnya.


"Biar kakak saja yang buat, Bun!" cegah Dhiya yang langsung menawarkan diri untuk membuatkan minuman.


Yara tersenyum kemudian mengangguk. "Minta dibantu Mbok Yem, ya!" Ucap Yara.


"Iya, Bunda." Dhiya pun berlalu dari ruangan itu. Ia berjalan menuju dapur sembari memanggil Mbo Yem. Pandangannya menangkap sosok Azzam yang berada di kandang kelinci kesayangannya. Dhiya menghentikan langkahnya. Ia merasa penasaran dengan tingkah Azzam.


"Kenapa Kak Azzam mudah sekali menangkap si Cilla?" Gumam Dhiya pelan. Sudut bibir anak jutek itu tertarik saat melihat Azzam bermain-main dengan dua kelincinya yang di beri nama Cilla dan Cillo.


"Non Dhiya nyari mbok?" Tanya Mbok Yem saat wanita tua itu menghampiri Dhiya.


"Nek Yem, bantu aku buatkan minum buat Oma Anggi sama Opa Rangga!" Dhiya segera mengalihkan pandangannya dari Azzam.


Mbok Yem segera membantu Dhiya. Keduanya membuat minuman untuk tamu yang baru datang dari jauh. Tidak berselang lama minuman pun jadi. Dhiya meminta wanita berumur itu membawakannya ke ruang tamu. Sebab dia sendiri ingin segera pergi ke kandang kelinci milikinya. Dhiya berjalan cepat ke arah kandang.


"Kenapa dilepas?" tegur Dhiya saat Azzam melepaskan kelinci bercorak putih dan kuning.


Azzam lekas menoleh ke sumber suara. Kemudian tersenyum manis pada Dhiya.


Dhiya langsung mengerucutkan bibir padahal ia ingin sekali memegang kelinci lucu itu. Hanya saja Dhiya sulit dan tidak bisa menangkapnya.


Cilla dan Cilo baru dua hari ini ada di sana.


"Padahal aku mau pegang!" keluh Dhiya.


"Kamu mau pegang kelincinya?" Tanya Azzam.


Dhiya mengangguk pelan. "Tapi mereka sulit didapat."


"Aku ajari! Sini!" Azzam langsung meraih tangan Dhiya dan menariknya agar mengikutinya untuk menangkap kelinci.


"Nggak mau! Aku bisa sendiri!" Ketus Dhiya seraya melepaskan tangan Azzam darinya. Anak gadis itu berusaha sendiri untuk menangkap kelinci yang cukup lincah saat didekati.


"Cilla, sini! Kamu tuh seharusnya mau aku tangkap. Aku itu gak jahat, kemari 'lah!" oceh Dhiya sembari berjalan mendekati kelinci peliharaannya. Dan saat berada dekat dengan Cilla, Dhiya langsung menangkap kelinci itu. Membuat si kelinci kabur dan alhasil Dhiya malah tersungkur ke tanah sehingga keduanya lututnya sedikit lecet. Kalau saja tidak ada Azzam sudah dipastikan Dhiya akan menangis kencang. Sebab Dhiya paling tidak suka melihat darah.


Azzam berlari cepat mendekati Dhiya. "Kamu nggak pa-pa?" Tanya Azzam.


Dhiya menggelangkan kepala membalasnya. Gadis kecil itu mengindari Azzam agar tidak melihat wajahnya yang sudah memerah menahan tangis.

__ADS_1


"Lututmu berdarah," Azzam menyentuh kedua kaki Dhiya. Hal itu sontak membuat gadis kecil yang sedang menekuk kedua lutut menoleh ke arahnya.


Manik mata mereka bertemu. Azzam bisa melihat kalau Dhiya menahan tangis.


Tak kuat menahan tangis akhirnya air mata jatuh juga dari pelupuk mata Dhiya. "Lutut ku sakit!" Rengek Dhiya.


Azzam malah terkekeh kecil menanggapinya. "Ternyata bocah judes dan jutek ini cengeng juga!" ledek Azzam.


Satu lemparan batu kecil mendarat di kepala Azzam dari Dhiya. "Awww ... Sakit, Dhiy!" ringis Azzam sambil mengusap kepalanya.


"Rasain, emang enak! Lagian Kak Azzam bukan bantuin aku malah meledek. Nanti aku bilang sama Oma biar tahu rasa!" ancam Dhiya kesal. Masih dengan tangis sesenggukan nya.


"Aku becanda, Dhiy! Tunggu aku ambil obat sama plester biar obati luka kamu."


"Gak usah!" tolak Dhiya tapi tak di dengar oleh Azzam. Anak laki-laki itu terus berlari menuju rumah untuk mengambil P3K.


Saat melewati ruangan tamu di mana orang tua angkatnya dan orang tua Dhiya mengobrol. Azzam melihat raut wajah bunda dari Dhiya begitu sedih. Bahkan sampai menangis.


"Apa yang terjadi? Kenapa Kak Erza sampai menenangkan bundanya Dhiya seperti itu? Apa sebenarnya yang Mama Anggi bicarakan?" Azzam penasaran dibuatnya. Merasa tidak sopan mendengarkan obrolan mereka Azzam pun hendak berlalu dari hadapan mereka. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar bunda dari Dhiya berbicara.


"Aku mau pulang ke Indonesia, Mas!" Ucap Yara disertai isak tangis. Setelah mendengar penuturan dari Mama Anggi dan Papa Rangga. Mama Anggi sedikit bercerita kalau keduanya sempat bertemu di rumah sakit dengan Pak Rio. dan sedikit mendengarkan keluhan dan isi hati dari pria yang terlihat lemah duduk di kursi roda. Mama Anggi dan Papa Rangga tidak bertemu dengan Syafa. Mereka hanya saja seorang wanita yang masih terlihat cantik menemani Pak Rio wanita itu. Saat itulah Mama Anggi mendengar


Erza yang ada di sampingnya sambil mengusap pelan bahu wanita itu terus menenangkannya.


"Ya, Sayang! Kita akan pulang sesuai keinginanmu. Untuk acara empat bulan kandunganmu, kita bisa melakukannya di sana," tutur Erza.


"Sayang, Maaf. Kamu jadi sedih begini mendengar cerita mama," ucap Mama Anggi merasa tidak enak hati.


"Aku malah berterimakasih, Mah. Kalau mama tidak bicara soal papa, aku tidak akan pernah tahu. Karena memang aku masih menutup diri dari mereka. Aku hanya tahu kabar dari Mba Syafa kalau mereka baik-baik saja di sana. Tapi ternyata aku juga egois dengan menjauh dari mereka."


"Ini bukan salah kamu, Yang! Mungkin saja Mba Syafa memang sengaja menutupinya darimu," sanggah Erza.


"Entahlah, Mas"


"Sudah jangan bersedih lagi, menurut papa memang sebaiknya kamu pulang dulu ke Indonesia. Meskipun maaf terlontar untuknya tapi papa yakin kalau di lubuk hati Pak Rio, dia juga ingin sekali bertemu kamu, Nak!" Papa Rangga menimpali.


"Aku juga ingin bertemu dengan mereka, Pah!" sahut Yara.


"Kalau begitu pulang 'lah. Kita tidak tahu sampai dimana papa mu bisa bertahan. Mungkin dengan bertemu denganmu lagi rasa bersalahnya pada mending ibumu bisa terobati."


Erza dan Yara membenarkan ucapan Papa Rangga.


Azzam sedikit terkejut mendengarnya. "Mereka akan kembali ke Indonesia? Apa Dhiya tahu soal ini?" Azzam merasa penasaran dibuatnya.


.

__ADS_1


.


.To Be continued


__ADS_2