Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Masih Mengulur Waktu


__ADS_3

“Apa benar ini gedungnya?” tanya Erza pada Afkar yang dari tadi memperhatikan alamat pada ponsel di tangannya.


“Menurut petunjuk arah, memang di sini tempatnya.” Afkar menunjukkan ponselnya pada Erza.


“Kita turun sekarang!” ajak Erza, ia meraih tas hitam yang ada di kursi belakang. Erza tidak sabar ingin segera menyelamatkan Dhiya dari penculik itu.


Saat hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba saja, Afkar menghentikan gerakan Erza.


“Tunggu, Za!”


“Apa lagi? Kita harus segera menyelamatkan Dhiya.


“Sebelumnya aku mau berterima kasih padamu. Maaf aku tidak bisa membantu menyediakan uang sebesar itu untuk menebus putriku dari Jono,”ucap Afkar.


Erza menggelangkan kepalanya pelan. “Ini bukan saatnya kita membahas itu. Aku sudah menganggap Dhiya seperti anakku sendiri. Jadi jangan permasalahkan ini lagi,” balas Erza. “Kamu mau tunggu di sini atau ikut denganku.” Erza terlihat tidak yakin dengan kondisi Afkar.


“Aku ikut! Aku ayahnya, aku ingin memberi pelajaran pada Jono.” Afkar dengan cepat membuka pintu mobil itu bahkan mendahului Erza.


Erza tersenyum simpul. Kali ini dirinya dan Afkar akan menjadi partner dalam menyelamatkan putri kesayangan mereka.


“Hubungi dia sekarang juga!” titah Erza pada Afkar.


Ayah dari Dhiya itu mengangguk pelan. Lekas Afkar menghubungi balik nomer yang Jono gunakan untuk meminta tebusan padanya.


Di dalam gedung kosong.


Jono kembali membentak Dhiya karena anak kecil itu terus menangis. Teman pria yang bersama Jono berusaha melindungi Dhiya saat Joni hendak memukul Dhiya lagi.


“Udah cukup deh, Jon. Lu gak kasian sama ini bocah. Gue gak masalah kalau yang mau lu pukul orang gede, ‘lah ini bocah kecil gini mah lu pukul juga,” ucap Teman Jono.


“Hei, lu lupa siapa yang kasih ide buat nyulik dia, elu ‘kan?” sungut Jonk tidak terima.


“Tapi gak lu giniij juga ini anak. Lagian kita bakal dapet duit dari nih bocah setidaknya kita buat dia ngerasa nyaman gitu,” lanjut teman Jono.

__ADS_1


“Lu kira ini di hotel, nyaman. Sudah jangan banyak bacot deh, lu! Kalau gue dapet duit dari bapaknya ini anak. Gue bakal bawa pergi anak sama bini gue. Gue mau jadi bandar kalau itu duit udah di tangan. Bosen hidup jadi pengedar mulu dapet cape doang. Bikin kaya bandar iya,” celetuk Jono.


“Jangan lupa, bagi gue tuh duit!” seru teman Jono.


“Makanya lu bantuin gue sekarang!” Jono kembali mengintip ke luar gedung dari sela jendela yang terlihat kotor.


Bibir Jono mengembangkan senyum saat manik matanya melihat sebuah mobil yang berhenti di depan gedung tua itu.


“Mereka sudah tiba. Kita siap-siap,” ucap Jono. “Bawa bocah itu, jangan lupa tutup matanya lebih dulu. Lu sama dia lewat pintu di ujung sana. Saat uang sudah ada di tangan gue. Lu lari ke arah sana. Nanti kita ketemu di ujung gedung.” Jono memberi instruksi.


Anggukan santai Jono dapat dari temannya itu.


Dering ponsel nyaring terdengar dari benda pipih yang Jono letakkan sembarangan di atas meja.


Pria itu segera menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


“Bagaimana apa kalian sudah membawa uang yang gue minta?” ucap Jono tanpa basa basi saat Afkar menghubunginya.


Kekehan nyaring jelas terdengar dari seberang telepon. “Waw ... Ternyata banyak juga yang sayang sama anak ini. Bagaimana jadinya kalau aku memberi sedikit pengalaman menarik pada anak kecil ini. Eum, apa aku aja bersenang-senang secara aku sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan istriku!” Jono mencoba menggoda Afkar.


“Kalau kamu berani menyentuh putriku, akan ku bunuh kau!” teriak Afkar. “Sekarang katakan di mana Dhiya! Sesuai perjanjian uang telah kami bawa dan serahkan kembali Dhiya pada kami. Jangan macam-macam pada putriku, Jon. Ingat aku bisa balik berbuat kejam pada istri dan anakmu.”


“Oke ... oke, gue gak mau banyak berdebat. Buka tas itu dan tunjukkan kalau memang kalian tidak berbohong!” Jono masih mengulur waktu. Erza semakin geram menanggapinya.


Manik mata Erza mendelik ke beberapa arah. Memastikan kalau orang suruhannya memang berada di sekiranya. Agar mempermudah untuk membekuk kedua penjahat yang sedang menyandera Dhiya di dalam gedung tua itu.


Afkar mengikuti apa yang Jono inginkan. Membuka dan menunjukkan tas berisi uang senilai lima ratus juta yang ia bawa saat ini. Kemudian Afkar kembali menutup tas itu. Afkar juga mengedarkan pandangannya mencari di mana Jono berada.


“Katakan di mana kalian!” Erza kembali berbicara dengan nada kasar dan tinggi. Mengarah pada ponsel yang Afkar genggam.


“Kalian tidak perlu tahu gue ada di lantai berapa dan ruangan yang mana. Asal kalian ikuti langkah selanjutnya, Dhiya pasti kembali pada kalian,” ucap Jono.


“Ok, kami akan ikuti kemauanmu. Coret katakan sekarang juga.”

__ADS_1


Kekahan renyah kembali terdengar dari seberang telepon. “Sabar ... Aku hanya ingin memastikan tidak ada orang lain yang mengikuti kalian.”


Erza menyunggingkan senyum. “terlalu banyak basa-basi, kamu dapat melihat 'kan tidak ada orang lain. Hanya ada kamu berdua di sini!” elak Erza. Padahal anak buahnya sudah berpencar mengepung gedung itu. Sebab Erza bukanlah orang bodoh yang dengan mudahnya mengikuti ucapan Jono.


“Sekarang gue mau satu orang diantar kalian maju membawa tas berisi uang itu kemudian letakkan tas itu di atas meja yang ada di dalam ruangan yang pintunya terbuka. Kalian bisa lihat ke arah jam 9,” titah Jono. Erza dan Afkar mengerakkan kepalanya melihat ke arah yang di tunjuk Joni. Kemudian pria itu kembali berkata, “Saat satu orang sudah meninggalkan ruangan itu sambil menutup pintu. Dhiya akan keluar dari salah satu pintu yang ada di barisan salah satu gedung di arah jam 3.” Erza dan Afkar kembali mengikuti arahan yang ditunjukkan Jono.


“Kamu mempermainkan kami!” sarkas Erza. “Katakan di pintu yang mana Dhiya keluar!” teriak Erza.


Pria itu sudah tidak sabar dengan ulur waktu yang dilakukan oleh Jono.


“Lihat foto yang gue kirim barusan. Itu keadaan anak kalian. Kalau memang kalian mau anak ini selamat ikuti perintahku!” Jono segera menutup sambungan teleponnya.


Afkar segera membuka pesan yang dikirim Jono untuknya. “Sialan aku tidak akan pernah membiarkan Jono bebas lebih lama,” geram Afkar. Pria itu kemudian menoleh pada pria yang ada di sampingnya. “Kita harus bagi tugas,” ucap Afkar.


“Sepertinya begitu,” sahut Erza.


Keduanya pun bekerja sama melakukan hal yang sudah direncanakan. Erza memberikan kode pada anak buahnya dengan tatapan dan gerakan tangan. Mereka siap mengepung Jono dan temannya agar segera tertangkap.


Di rumah sakit.


Kebingungan kembali Yara rasakan saat Tante Gita memberi kabar kalau Pak Rio menanyakan keberadannya dan Syafa. Sebisa mungkin sahabat papanya itu berusaha menutupinya untuk sementara waktu perihal keadaaan Syafa yang tengah berjuang hidup saat ini. Wanita itu tengah memikirkan alasan apa yang tepat untuk disampaikan pada Pak Rio.


"Tolong berikan alasan apa saja agar papa tidak curiga, Tan. Aku tidak mau papa kembali drop mendengar kalau Mba Syafa mengalami musibah," ucap Yara saat keduanya kembali bertemu usai beberapa saat lalu Tante Gita kembali dari ruangan Pak Rio.


Mama Anggi yang ada di sana selalu menguatkan Yara. Sedangkan Bu Nuri dan Mira dijemput oleh suami Mira. Mantan mertua dan mantan adik iparnya itu pamit pulang dulu dan berjanji akan kembali lagi. mengingat keadaan Bu Nuri juga yang kurang baik.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2