
“Bu Gita, ada seseorang mencari Anda,” ucap Bi Tum. Kedatangannya membuat obrolan hangat kedua sahabat itu terhenti.
‘Sepertinya dia sudah datang!’
Batin Tante Gita. “Suruh tunggu sebentar, Bi!” Sahut wanita itu.
Bi Tum mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Tante Agita dan Pak Rio. Asisten rumah tangga itu kembali ke ruangan depan, di mana tamu dari Tante Gita sedang menunggu.
Tante Gita terlihat sibuk memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. Pak Rio menatap Tante Gita dengan penuh tanda tanya.
“Siapa yang menjemputmu, Ta? Tumben sekali, biasanya kamu akan menginap kalau sudah larut seperti ini,” tanya Pak Rio.
Tante Gita hanya tersenyum kecil membalasnya. “Kamu juga tahu siapa dia, Yo. Apa harus aku kenalkan padanya?”
“Harus, kamu harus memperkenalkan aku dengannya. Aku tidak mau ada pria sembarangan yang dekat denganmu. Aku semakin penasaran siapa pria itu. Kamu yakin kau kenal sama dia, Ta.”
“Aku sangat yakin. Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Tante Gita dengan seulas senyum.
“Jangan ngaco, Ta. Bukan cemburu, Tapi aku tidak mau sahabatku ini salah memilih pendamping.”
‘Memang tidak akan pernah ada perasaan untukku sedikit pun darimu, Yo.’
Batin Tante Gita. Wanita itu lekas tersenyum membalas sanggahan Pak Rio untuknya. “Kamu tidak perlu khawatir. Kamu pernah bertemu dengan dia sebelumnya.”
Pak Rio langsung menoleh ke arah Tante Gita. Pria itu semakin penasaran siapa yang dimaksud oleh Gita.
“Siapa?” Pak Rio semakin penasaran.
“Mau mengantarkan aku pulang tidak? Kalau mau, kamu bisa bertemu dengannya.”
Pak Rio mendorong kursi rodanya sendiri berpindah posisi ke depan Tante Gita. “Dorong! Bawa aku pada pria itu,” titah Pak Rio membuat Tante Gita sedikit mencibir.
“Kenapa tidak pakai tombol otomatis saja. Kamu membuatku repot,” gerutu Tante Gita.
“Aku takut tidak bisa merepotkanmu lagi, Ta. Nikmatilah saat kebersamaan kita,” celetuk Pak Rio.
‘Ya, karena aku tidak akan selamanya bersama kamu, Yo. Sudah ada Yara dan Syafa yang akan menjagamu. Janjiku pada Mira sudah terbayar. Kini giliranku untuk menata hidupku sendiri.’
Lagi-lagi Tante Gita membatin sendiri.
Meskipun menggerutu tapi Tante Gita tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Rio. Saat itu tidak disia-siakan oleh Tante Gita. Secara singkat wanita itu memberi kabar pada pria yang sedang duduk di kursi roda yang sedang didorongnya.
“Aku akan mencoba membangun biduk rumah tangga kembali, Yo,” ucap Tante Gita tiba-tiba.
Pak Rio menekan tombol rem sehingga kursi roda yang sedang didorong Tante Gita berhenti secara tiba-tiba. Sehingga membuat kursi Dira itu sulit melaju. “Kamu yakin, Ta? Apa dengan pria yang ada di depan sana?” Pak Rio menegaskan. “Kenapa secepat ini? Kamu tidak pernah bercerita kepadaku?” Pak Rio melayangkan beberapa pertanyaan secara beruntun pada Tante Gita.
“Karena sekarang kamu sudah berkumpul kembali dengan keluargamu, Yo. Aku tidak mungkin selalu mengikuti kalian terus. Siapa aku? Aku juga ingin bahagia dengan kehidupanku.” Tante Gita tersenyum miris membalasnya.
Pak Rio mengangguk mendengar penuturan Tante Gita. “Aku penasaran siapa yang berani mengajakmu menikah. Dia harus melewati seleksi dariku dulu!” Pak Rio kembali melajukan kursi rodanya tentunya dengan tombol otomatis agar kursi roda itu dapat berjalan sendiri.
Tante Gita menggelengkan kepala melihat tingkah pria tua itu. Pa Rio sempat menghentikan laju kursi rodanya saat melihat beberapa pohon mawar putih yang sengaja ia tanam telah berbunga. Pria itu tersenyum melihatnya.
‘Bunga yang indah. Seandainya saja kamu masih hidup. Pasti kamu sangat senang melihat bunga mawar putih itu, Sayang.’
Batin Pak Rio. Pria itu tersenyum manis sambil membayangkan kehadiran istri tercintanya yang sudah tiada. Pak Rio kembali melajukan kursi rodanya.
Sesampainya di ruangan depan.
__ADS_1
Pak Rio mengerutkan alis saat melihat sosok yang ia kenal duduk di ruang tamu. “Dokter Indra!” Panggil Pak Rio saat dirinya tiba di ruang tamu.
Sosok pria yang dikenal Pak Rio lekas berdiri kemudian berjalan menghampiri pemilik rumah itu.
“Selamat malam Pak Rio, bagaimana keadaan Anda malam ini,sehat?” tanya Dokter Indra. Dokter yang menangani Pak Rio selam ini.
“Baik, Dok,” jawab Pak Rio. “Maaf apakah ada jadwal pemeriksaan malam ini!” tanya Pak Rio. Dokter Indra pun membalasnya dengan gelengan kepala. Pak Rio sedikit heran dengan kedatangan dokter tersebut. Sambil terdiam sejenak, Pak Rio terlihat sedang berpikir. Manik matanya langsung beralih menatap Gita, wanita yang ada di sampingnya.
“Apa dia pria yang kamu maksud, Ta?” tanya Pak Rio tanpa basa basi lagi pada Tante Gita.
Seulas senyum dan anggukan kecil adalah balasan dari sahabat nya itu.
****
Ada perasaan lega di hati Pak Rio saat melihat senyum di wajah sahabatnya. Dirinya mengenal baik Dokter Indra selama ini.
Dokter yang menangani kesehatan Pak Rio selama ini. Seorang pria yang memilih untuk tidak berkeluarga setelah tahu kondisi dirinya. Dokter Indra sulit untuk memiliki keturunan begitu juga dengan Gita. Entah bagaimana caranya mereka bisa dekat seperti itu. Takdir ‘lah yang membuat mereka bersatu.
Lambaian tangan dari Tante Gita menjadi salam perpisahan bagi mereka berdua.
‘Aku merasa tenang, jika kamu memang bersama Dokter Indra. Dia pria baik. Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Meskipun tak pernah terucap dari bibirmu tapi aku tahu perasaan di hatimu, Ta. Kamu wanita kuat dan hebat karena kamu berusaha untuk tidak merusak persahabatan kita.’
Batin Pak Rio.
“Pah,” panggil Erza. Menantunya itu berjalan mendekat ke arah Pak Rio. Ia melihat mobil yang baru saja keluar dari pekarangan rumah mewah itu.
“Apa itu Tante Gita?” tanya Erza.
Hanya anggukan yang didapat dari papa mertuanya itu.
“Sudah malam, Sebaiknya papa beristirahat!” titah Erza.
Erza pun mengarahkan kursi roda itu dan mendorong Pak Rio menuju kamarnya.
“Yara sudah tidur?” tanya Pak Rio saat kursi roda yang didudukinya didorong oleh Erza.
“Sudah, Pah,” jawab Erza.
Pak Rio tersenyum mendengarnya. “Yara pasti kecapean mengurus ku.”
“Sama sekali tidak, Pah. Malah Yara merasa senang bisa turun tangan sendiri mengurus papa,” sahut Erza.
“Benarkah, apa dia bicara seperti itu?”
“Ya,” jawab Erza singkat.
Tiba juga Pak Rio di depan kamarnya. Erza membuka pintu kamar dan mendorong kembali kursi roda itu sampai ke dalam kamar.
“Za,” panggil Pak Rio.
Erza berjalan beberapa langkah ke depan, hingga posisi mereka saat ini saling berhadapan. Pak Rio duduk di kursi roda sedangkan Erza berdiri di depannya. “Iya, Pah.”
Pak Rio berusaha berdiri sendiri. Dan dengan cepat Erza membantu mertuanya itu.
“Biar ku bantu, Pah,” ujar Erza.
Pak Rio menahan tangannya mencegah Erza. “Papa bisa sendiri,” cegahnya. Pak Rio berjalan tertatih menuju sebuah lemari.
__ADS_1
Erza memperhatikan sambil mengawasi Pak Rio. Pria itu takut terjadi sesuatu pada mertuanya.
Pak Rio kembali dengan sebuah map di tangannya. Lalu menyerahkan map tersebut pada Erza.
“Apa ini, Pah?” tanya Erza bingung.
“Ini adalah sertifikat rumah ini. Papa titip sama kamu. Di dalamnya juga ada beberapa aset yang sengaja papa beli untuk Yara dan Syafa. Tolong beritahu mereka, nanti!” titah Pak Rio.
Erza mengerutkan alis mendengar penuturan papa mertuanya. “Kenapa harus aku yang memberitahunya, Pah. Lebih baik papa sendiri yang menyampaikannya,” tolak Erza, ia menutup kembali map tersebut kemudian menyerahkannya lagi pada Pak Rio.
“Kamu yang bisa papa andalkan sekarang ini karena kamu adalah satu-satunya menantu di rumah ini, Za. Papa minta tolong sama kamu. Jual lah beberapa aset untuk membeli saham di Perusahaan Textilindo Abadi yang diakuisisi oleh Pak Waluyo. Papa dengar dia akan menjual hampir 50 persen saham miliknya,” ujar Pak Rio.
Ucapan papa mertuanya itu membuat Erza tertarik. Erza dengan serius mendengar setiap ucapan dari Pak Rio.
Pria tua itu mulai mengungkapkan rencananya pada Erza. Dari hak penting hingga beberapa pesan ia sampaikan pada menantunya itu. Entah mengapa ucapan yang dilontarkan Pak Rio ada yang berbeda bagi Erza.
“Jika perusahaan itu sudah berhasil berpindah tangan lagi pada kita. Dan kamu sanggup untuk mengelolanya, silakan!”
Erza menggelengkan kepalanya pelan. “Itu tidak mungkin, Pah. Aku tidak bisa memegang dua perusahaan. Apalagi berbeda negara seperti ini.”
“Jika seperti itu, Papa ingin Afkar yang mengelolanya.” Pak Rio duduk di tepi tempat tidurnya. Pria tua itu tidak kuat berdiri terlalu lama.
“Dia menyerahkan kembali semua hasil kerja kerasnya saat keluar dari perusahaan itu. Kinerja Afkar memang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun saat itu dia sedang hilang ingatan. Papa sangat bersalah pada dia, Za. Papa minta tolong lakukan dan atur baiknya bagaimana. Papa yakin kamu bijak dalam mengambil keputusan. Papa sudah lelah, papa ingin sekali beristirahat.”
Erza menghela napas berat mendapat amanah dari papa mertuanya itu. Ini hal berat menurutnya. Erza tidak bisa mengambil keputusan sendiri.
‘Aku akan bicara soal ini sama Yara dan Syafa besok. Oh ya, mumpung ada Roni di sini. Tidak ada salahnya aku bertukar pikiran dengan pria itu. Dia pasti tahu keputusan apa yang harus diambil. Secara Roni pasti tahu seluk beluk perusahaan itu.’
Batin Erza, kemudian beralih menatap Pak Rio. Erza dapat melihat wajah lelah papa mertuanya itu.
“Sebaiknya papa istirahat!” titah Erza.
Pak Rio mengangguk pelan. “Ya, papa juga sudah lelah sekali.”
Dibantu Erza, Papa Rio bersiap untuk tidur.
“Selamat beristirahat, Pah,” ucap Erza sambil menaikkan selimut pada tubuh papa mertuanya.
“Terima kasih, Za. Titip anakku dan cucuku.” Pak Rio meraih tangan Erza dan menggenggamnya.
“Papa tenang saja! Yara, Syafa dan Dhiya aman bersamaku,” sahut Erza membuat perasaan Pak Rio tenang. Lagi-lagi Erza merasakan sesuatu yang aneh dengan sikap Pak Rio malam itu.
Pandangan Erza mengedar ke sekeliling kamar, ketika Erza akan keluar dari kamar papa mertuanya setelah menunggu beberapa saat hingga Pak Rio terlelap.
Banyak sekali foto dari seorang wanita terpajang di sana. Bahkan Erza melihat lemari pakaian yang terbuat dari kaca yang ada di kamar itu. Dari jauh saja sudah bisa dilihat kali isi lemari itu adalah pakaian wanita. Erza kembali menatap Pak Rio yang sudah terlelap.
Erza tidak menyangka pria yang saat ini ringkih karena usia dan sakitnya itu selalu setia pada wanitanya. Melihat dari barang-barang milik Mama Mira masih tersimpan rapi di dalam kamar itu.
‘Aku berharap sikapku bisa seperti dirimu, Pah. Selalu setia pada satu wanita. Dan Yara adalah wanita itu.’
Batin Erza kemudian meninggalkan kamar itu dengan penuh kekaguman.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continued