Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Sosok Tinggi Besar Tertutup Kain Putih


__ADS_3

Ruangan luas dengan fasilitas VVIP adalah tempat di mana Syafa berada saat ini. Tidak ada yang tahu keberadaan wanita itu selain Roni.


Syafa memang sengaja meminta Roni untuk tidak memberitahu siapapun. Termasuk papa-nya. Syafa ingin sendiri dulu. Jiwa dan hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Sshh ...." Syafa meringis saat wanita itu hendak duduk dari tidurnya.


Luka bekas sesar yang dilakukan Syafa masih terasa sakit. Dan lebih sakit lagi saat tidak adanya kehadiran sang bayi yang beberapa bulan ini berada dalam kandungannya. Bayi tersebut dinyatakan meninggal dalam kandungan usai peristiwa itu terjadi. Hati Syafa begitu terpukul saat mengetahuinya.


"Biar saya bantu, Non!" Roni dengan siaga berada di sisi Syafa.


Tidak ada penolakan sama sekali karena memang Syafa membutuhkan pertolongan pria itu.


Syafa dalam keadaan duduk kali ini. Kesedihan masih tertangkap jelas di wajah cantik wanita itu. Roni sedikit menjauh dari Syafa.


"Ada yang ingin kamu bicarakan?" Tebak Roni. Asisten kepercayaan papa-nya itu bisa menebak apa yang ada dipikiran Syafa.


Syafa menoleh ke arah Roni. Manik mata mereka saling bertemu. Roni memutus pandangan itu lebih dulu.


"Tolong siapkan tempat tinggal untukku, Mas! Aku mau setelah sembuh nanti bisa aku tempati tempat itu. Aku tidak mau kembali ke rumah," ujar Syafa.


Roni hanya bisa mengangguk pelan.


"Baik, Non,"


"Jangan panggil saya Nona lagi, Mas. Kita bicara seperti biasa saja," sambung Syafa.


Roni kembali menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Ada yang mau saya jelaskan sama kamu. Soal ucapan Pak Rio." Roni berusaha menjelaskannya pada Syafa. Meskipun tidak ada tanggapan dari wanita itu. Tapi Roni tetep terus melanjutkan ucapannya.


"Maaf sudah lancang memiliki perasaan cinta padamu, Fa. Saya tahu kita berbeda. Aku hanya seorang pesuruh yang tidak pantas menjadi pendampingmu." Roni memulai ucapannya.


"Apa aku pernah memandang orang lain dari status atau jabatan seseorang, Mas?" Tanya Syafa.


Roni pun menggelengkan kepala membalasnya.


"Aku tidak bisa menahan seseorang untuk mempunyai perasaan padaku. Siapapun berhak memilih kepada siapa hari mereka berlabuh. Seperti aku yang sudah bodoh menjatuhkan hati pada Pria yang salah. Andai saja aku tahu dari awal siapa sebenarnya Mas Afkar aku tidak akan menjatuhkan hati seutuhnya padanya. Mencintai suami dari adik sendiri." Syafa tersenyum miris.


"Aku berada di sini bukan berarti telah melepaskan perasaan ini begitu saja." Syafa menghela napas berat. "Aku sayang Mas Afkar juga Yara keduanya berarti bagiku. Aku juga berada di sini bukan membenarkan perbuatan papa. Papa tetap salah menurutku, semua kesalahan tidaklah mutlak berasal dari Mas Afkar. Ah ... Entahlah aku bingung!" Syafa menutup wajah dengan kedua tangannya. Lalu menumpahkan kesedihan yang ia rasakan saat itu.


Isak tangis terdengar sendu dari bibir Syafa.


Roni merasa tidak tega melihatnya. Perlahan pria itu berjalan mendekati brankar yang ditempati Syafa. Kedua tangannya mengukur untuk memeluk tubuh Syafa dan tidak ada penolakan sama sekali dari wanita itu.


Syafa menumpahkan rasa sedihnya di pelukan Roni. Pria yang selama ini memang memendam rasa pada Syafa.


Roni membebaskan Syafa dari tangisnya. Biasanya setelah menangis perasaan seseorang pasti merasa lega.


Dan benar saja, Syafa perlahan menjauhkan tubuhnya dari Roni setelah dirinya merasa lega.


"Terima kasih sudah menemaniku, Mas! Tapi aku tegaskan sebelumnya sama kamu. Aku minta maaf tidak bisa membalas perasaanmu padaku. Sungguh aku sudah menganggap kamu sebagai kakakku, Mas. Tolong setelah ini, jangan menjauhiku!" pinta Syafa lirih.


Roni tersenyum simpul pada wanita yang ada di hadapannya. Pria kembali berjalan mendekati Syafa.


"Tidak perlu khawatir. Aku adalah satu-satunya pria yang tidak akan pernah meninggalkan dan menjauhi kamu dalam keadaan apapun!" ucap Roni mengacak rambut Syafa pelan.


Hal biasa yang Roni lakukan pada wanita itu. "Istirahat 'lah! Aku akan kembali tiga jam mendatang. Papa Rio harus tau keadaan kamu saat ini," ujar Roni sambil berjalan menjauhi Syafa.


"Mas," cegah Syafa.


Roni menghentikan langkahnya. "Kenapa?"


"Tolong belikan aku ponsel baru!" pinta Syafa.


Roni menarik sudut bibirnya. Kemudian mengangguk pelan membalasnya.


🌱🌱🌱🌱


Di tempat lain. Keseruan terjadi di aula panti. Anak-anak panti saling bercanda gurau setiap habis isya di sana. Mereka menghabiskan malam usai belajar dan beribadah dengan berkumpul di tempat itu.


Dhiya terlihat begitu senang berada di tengah anak-anak panti. Hal itu membuat perasaan Yara lega.


"Sudah ... Sudah! Kalian semua masuk kamar besar, istirahat!" Bu Lidia memperingati mereka. Wanita itu datang bersama dengan Mama Anggi.

__ADS_1


Satu hal yang menjadi perhatian Mama Anggi dari tadi.


Tadi siang, ketika sampai di panti asuhan itu. Mama Anggi melihat seorang anak laki-laki duduk sendiri di bawah pohon manggis. Seorang anak laki-laki itu tidak banyak tingkah dns gaya seperti yang lainnya. Ada rasa simpatiknya pada anak itu.


Dan malam ini, Mama Anggi kembali melihat anak itu. Anak laki-laki yang tadi siang ia lihat duduk di pojok Aula sambil memperhatikan Dhiya.


Anak laki-laki itu tersenyum ke arah Dhiya. Mama Anggi melihat tatapan yang tidak biasa dari anak laki-laki yang umurnya sekitar 10 tahun itu.


"Kenapa hatiku penasaran dengan anak itu. Ah, biar nanti aku tanyakan pada Bu Lidia soal dia," gumam Mama Anggi yang berdiri di samping Bu Lidia sambil terus memperhatikan anak lelaki itu.


Satu persatu anak-anak berdiri menuju kamar besar. Kamar yang di tempati para anak panti. Dhiya sangat senang ikut berbaris bersama mereka. Anak kecil itu selalu mengembangkan tawanya bersama anak lain.


Kini ... Tinggal ada Bu Lidia, Mama Anggi, Erza, dan Yara yang ada di aula.


"Bu Lidia," panggil Mama Anggi.


"Ada apa, Bu?" jawab Bu Lidia.


"Ada yang ingin saya tanyakan. Kita bisa bicara?"


"Oh, tentu bisa, Bu. Mari ikut saya kita bicara di rumah tengah saja! sambil santai di sana," ajak Bu Lidia sambil merengkuh tubuh wanita itu. Mereka berdua terlihat seperti sahabat.


"Za, Ra, mama ke ruangan sebelah dulu!" Mama Anggi pamit pada keduanya.


"Iya, Mah," jawab Erza.


Kedua wanita berumur itu berlalu dari hadapan Erza dan Yara.


Melihat semuanya pergi Erza menoleh pada Yara.


"Terus kita kemana, Yang? Ngamar, yuk!" ajak Erza dengan tatapan genitnya.


Yara mendelik menatap Erza. Ia paham kalau sebentar lagi hukuman balasan akan ia dapatkan.


"Jalan-jalan, yuk!"


Erza mengerutkan alisnya. "Jalan-jalan kemana, Sayang? Ini sudah malam!" cetus Erza.


"Lihat, Mas! Baru jam delapan malam!" Ucap Yara.


Erza melongo melihatnya. "Ternyata masih sore, kenapa begitu sepi y, di sini?"


"Namanya juga di kampung, Mas!"


"Oke kalau begitu. Kita pergi sekarang! Aku ambil kunci mobil dulu!"


"kita pergi naik motor saja!" usul Yara.


"Motor?" Erza menegaskan.


"Ya, motor. pakai motor Pak Barjo!" balas Yara.


Sebelum pergi, Erza dan Yara pamit terlebih dulu pada Bu Lidia dan


Di sepanjang perjalanan Yara memeluk erat tubuh Erza dari belakang.


Tujuan mereka berdua adalah danau perawan atau biasa disebut Ranu Manduro.Disebut seperti itu karena tempat tersebut masih perawan, alias masih belum banyak disambangi orang banyak.


"Sepi, Yang!" Celetuk Erza. Pria itu mulai ragu dengan perjalanannya.


"Memang sepi!" sahut Yara.


"Kamu tidak takut?"


"Ngapain takut? 'Kan ada Mas Erza. Lagi pula sebentar lagi juga sampai. Dan benar saja, satu jam perjalanan menggunakan motor legendaris. Mereka berdua sampai di danau tersebut.


Pemandangan malam yang indah. Indera pendengarannya serasa hening. Hanya ada suara jangkrik yang bersahutan di tempat itu. Suasana semakin dingin disertai angin yang menembus danau menerpa tubuh mereka.


"Duduk sini, Yang!" Erza menepuk tempat kosong di sampingnya.


Yara mengangguk menyetujuinya. Mereka berdua duduk berdekatan di bangku kayu yang menghadap langsung ke danau. Di tepi danau terlihat ada cahaya-cahaya kecil. Yara menjelaskan kalau mereka adalah orang yang sedang memancing di sana.

__ADS_1


"Aneh, mancing ko malam hari. Mending mancing bini!" Celetuk Erza setelah mendengarkan penuturan Yara.


"Itu sih, kamu memang mesum, Mas!" serobot Yara.


Erza terkekeh mendengarnya. Canda tawa dan cerita pun terukir malam itu. Erza dan Yara menikmati malam berdua di tepi danau. Pemandangan yang tidak pernah ada di kota. kelap kelip cahaya dari kunang-kunang semakin menambah indahnya suasana malam itu. Tidak terasa hampir satu jam mereka berada di sana.


Di kampung dan di kota memang berbeda. Jam 9 di kampung sudah terasa begitu sepi. Sedangkan di kota sedang ramai-ramainya.


Yara mengusap kedua lengannya. Udara dingin semakin terasa. "Mas, pulang yuk!" Ajak Yara.


Erza menoleh kemudian mengangguk pelan. "Ayo."


Keduanya pun bergegas kembali ke panti asuhan.


"Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu," Erza bersenandung saat motor yang ia kendarai baru saja keluar dari area danau.


Tidak ada jawaban dari Yara. Wanita yang ada di belakangnya malah terkekeh mendengarkan Erza bernyanyi.


"Terusin, Sayang! Biar gak ngerti lewatin jalan sepi nya," titah Erza.


"Udah, Mas Erza aja yang nerusin. Suaranya lebih pas!" tolak Yara.


"Ah, dasar artis kamar mandi!" ledek Erza. "Aww ..." jerit pria itu di detik selanjutnya. Sebab Yara mencubit pinggangnya dari belakang.


"Kamu meledekku, Mas!"


"Hahaha ..." Erza tertawa renyah di jalanan sepi di tengah sawah.


"Ayara Faeqa, I Love You," teriak Erza. Pria itu menghentikan motornya tiba-tiba di tengah jalan.


"Mas, ih jangan lebay deh!"


"Kok lebay, ini sungguhan, Yang," sanggah Erza.


Pria itu kembali melajukan motornya.


Yara semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas Erza ... Aku tresno karo kowe!" Yara tak kalah berteriak. Setelah berteriak Yara meletakkan dagunya di pundak Erza sambil berbisik. "Aku sangat mencintaimu, Mas," ucap Yara dengan lembut membuat tubuh Erza meremang. Seakan memberikan sengatan yang tidak biasa. Erza tiba-tiba menghentikan laju motornya. Pria itu menoleh ke sisi di mana wajah Yara berada. Erza menyambar bibir Yara. Di tengah perjalanan yang sepi, mereka berdua saling menautkan bibir. Saling menghisap dan tarik menarik dalam sensasi nikmat yang Erza berikan.


Pagutan bibir baru terlepas saat Yara terengah-engah karena kehabisan napas. Keduanya saling tertawa kecil setelah sentuhan bibir itu terlepas.


"Terusin di rumah, yuk!" Celetuk Erza.


Yara hanya bisa tertunduk malu. Erza pun tersenyum melihatnya. Pria itu kembali menghidupkan mesin motor yang mereka tumpangi.


"Ko starter-nya mati, Yang!" Ucap Erza.


Pria itu mencoba cara lain tapi tetap tidak bisa menyala.


"Bagaimana, Mas? Bisa tidak?" Tanya Yara yang sudah mulai panik. Sebab ia tahu tempat yang saat ini mereka berada itu jauh dari pemukiman. Hanya ada beberapa rumah di dekat sana. Itu artinya Yara dan Erza harus mendatangi rumah penduduk supaya bisa mendapat pertolongan.


"Yang," panggil Erza dengan suara ketakutannya.


"Hem," jawab Yara singkat.


"Itu apa, Yang?" Erza menatap lurus ke arah depan.


Sosok tinggi besar tertutup kain putih terlihat samar dari kejauhan. Dengan setitik cahaya yang diperkirakan sebatas lutut manusia, menggantung dan berayun. Bergerak-gerak seperti tertiup angin. Erza gemetar melihatnya.


.


.


.


To Be Continued


Selamat sore


Pada nungguin buka puasa ya?

__ADS_1


Masih semangat puasanya?


__ADS_2