
Voren memasuki kamar, mengunci pintu dan langsung bergegas memasuki ke kamar mandi pribadinya. Rasa kesal bergemuruh menguasai diri antaran istrinya menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Wanita yang akan segera menjadi mantan istrinya terang-terangan mengejeknya seperti itu.
Bagaimana wanita itu bisa tertawa senang di atas penderitaan Voren? Di atas rasa sedih dan terluka karena Soraya menolaknya dan kembali menghilang meninggalkan Voren yang harus menelan kepahitan akan cinta bertepuk sebelah tangan.
Sungguh wanita tidak berakhlak!
Entahlah, Voren tidak tahu, apakah wanita itu tahu akhir kisah cinta Voren yang begitu mengenaskan. Wanita itu bahkan menyebut-nyebut masalah pernikahan Voren dan Soraya yang justru membuat Voren meradang seperti jerawat yang terinfeksi bakteri.
Belum lagi wanita itu meminta perceraian dengan segera lantaran mengaku telah menemukan pria idaman lain.
"Menyebalkan!" geram Voren sambil meninju wastafel.
"Aduduh!" Voren meringis kesakitan sambil mengibaskan tangannya ke udara disertai lompatan ala kanguru.
"Sial!" Voren kembali mengumpat lantaran meluapkan rasa kesalnya.
...~...
Doni kembali menatap ke arah Nona Velan yang masih terlihat menantangnya. Wanita ini tanpa rasa bersalah sudah berani mengejek percintaan Tuan Voren yang begitu tragis.
Apa Nona Velan mengetahui hal tersebut sehingga menjadikan hal tersebut sebagai bahan tertawaan? Batin Doni bertanya-tanya.
"Pak Doni, kenapa sua- eh maksud saya Tuan Voren jadi sensitif seperti itu? Apa dia sedang datang bulan?" Velan tertawa lagi.
__ADS_1
Doni hanya mengulas senyum kecut. Mana bisa Tuan Voren datang bulan, Nona?! Ejekan Anda sungguh keterlaluan!
"Nona, Anda terus tertawa untuk menutupi kesedihan Anda ataukah Anda memang sudah kehilangan kewarasan Anda?" tanya Doni.
Velan melayangkan senyum dingin untuk menanggapi pertanyaan Doni.
"Pak Doni, kalau saja air mata saya bisa berubah menjadi emas batangan dengan kadar dua puluh empat karat, saya pasti sudah menjadi seorang miliarder!" jawab Velan seraya terkekeh.
Velan melangkah menuju ke dapur dan mengambil air mineral kemasan botol dalam lemari es. Membuka penutup botol yang masih bersegel plastik lalu meneguk isinya hingga habis.
"Tapi rasanya setelah saya pikir-pikir, mungkin inilah jalan terbaik untuk kami berdua!" Velan melanjutkan perkataannya. "Pernikahan tanpa cinta membuat kami berdua sama-sama tidak bahagia! Tuan Voren sudah menemukan cintanya dan akan hidup bahagia selamanya dengan cintanya! Sehingga saya pun akhirnya mendapatkan kebahagiaan saya sendiri," lanjut Velan.
Velan melangkah menuju ke arah sofa lalu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya dan bersandar pada sandaran sofa yang empuk dan nyaman.
"Lagipula sekarang saya kan sudah menemukan pria idaman lain yang telah menghibur saya secara pribadi, sehingga untuk apa tetap menunda-nunda perceraian? Bagaimana jika nanti pria idaman saya mengetahui bahwa saya masih satu atap dengan suami?" Velan mengulas senyum dingin ke arah Doni.
"Nona Velan, saya minta maaf sebelumnya, bukannya saya bermaksud untuk mencampuri urusan pribadi Nona, hanya saja berdasarkan surat perjanjian pasca cerai, Anda tentu harus menjaga sikap, baik sebelum maupun setelah perceraian. Menjaga nama baik Tuan Voren dan keluarga Lazaro adalah prioritas Anda, Nona. Hubungan asmara yang saat ini Anda jalani tentu saja akan menimbulkan skandal yang jelas akan mencoreng nama baik Tuan Voren dan keluarga Lazaro!" Doni menjelaskan panjang lebar.
Velan mengulum senyum, membatin dalam hati betapa piciknya para pria pendusta yang sudah melakukan pendustaan secara masif terhadapnya.
"Pak Doni, Anda tenang saja, saya tidak sebodoh itu dengan mengumbar status saya sebagai istri dari Voren Lazaro! Saya hanya mencari kebahagiaan setelah sebelumnya sama sekali tidak merasakan kebahagiaan dari sebuah pernikahan!" kata Velan.
"Sungguh saya membutuhkan uang kompensasi itu untuk sekadar bersenang-senang dengan pria idaman lain saya! Jadi, Pak Doni, tolong Anda memahami hal tersebut dengan bijaksana," lanjut Velan.
__ADS_1
Velan masih menyunggingkan senyum dengan melontarkan kebohongan yang begitu lancar. Yah, ini hanya kebohongan yang memang harus dikemukakan oleh Velan demi mendapatkan uang kompensasi.
"Nona, apakah Anda serius saat ini sedang menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Doni penuh selidik.
"Pak Doni, sungguh perbuatan yang kurang bijaksana jika Anda kerap memandang remeh orang lain," kata Velan.
Doni nampak terdiam dan kehilangan kata-kata melihat Nona Velan yang masih nampak tersenyum, membuat Doni bergidik ngeri. Entah sebesar apa rasa sakit hati wanita ini sampai beliau mencari pria idaman lain. Sungguh wanita yang tidak terduga.
"Oh begitu, baiklah, Nona, saya berusaha untuk mengerti Anda. Namun Anda tentu harus bersikap kooperatif dengan tetap menjaga reputasi dan nama baik Tuan Voren serta keluarga Lazaro. Sungguh rasanya tidak baik jika menantu keluarga Lazaro sampai tersandung skandal lantaran memiliki pria idaman lain," kata Doni.
"Haha," Velan tertawa.
"Tuan Voren bahkan lebih dulu memiliki wanita idaman lain yang menjadi pemicu kehancuran rumah tangga kami! Pria yang lebih memilih cinta pertamanya daripada istrinya sendiri! Yah, saya memang hanya istri yang tidak diinginkan, tapi itu tentu tidak mengubah status saya sebagai istri sah dari Tuan Voren Lazaro! Seorang istri yang benar-benar menjadi korban keegoisan seorang suami pendusta dan asistennya yang berkomplot serta bersekongkol menutupi perselingkuhan tersebut! Sungguh para pria pendusta," cecar Velan ke arah Doni namun masih dengan senyumnya yang mengembang.
Senyuman yang sejujurnya benar-benar membuat jiwa dan raga Doni merasa gentar sehingga Doni perlu menutupi rasa gentarnya itu dengan sebaik-baiknya.
"Oleh sebab itu, daripada meributkan masaĺah tersebut di pengadilan dan justru malah menimbulkan masalah yang tidak diperlukan, makanya saya terima saja saat mendapat penawaran dana kompensasi pasca perceraian yang menurut saya sungguh masih belum cukup untuk mengobati rasa sakit dan terluka yang saya rasakan akibat hancurnya perasaan saya!"
"Laki-laki egois yang bahkan tidak merasa bersalah ataupun berdosa karena sudah menyakiti hati seorang istri! Memilih wanita lain di saat ada istri yang begitu mencintainya!" Velan masih terus mencecar Doni.
"Jangan salahkan saya jika saya pun pada akhirnya mendambakan pria idaman lain! Jadi, dengan kata lain, posisi saya dan Tuan Voren sama, kan? Impas!" lanjut Velan.
Doni benar-benar tak mampu membalas cecaran Nona Velan, beliau sungguh mengerikan saat mencecarnya bertubi-tubi seperti itu. Wanita yang merasa tersakiti hatinya benar-benar sangat mengerikan. Nona Velan yang begitu mengerikan dan saat ini sedang mengalami fase sakit hati membuat Doni harus pandai-pandai menjaga diri demi kemaslahatan umat manusia.
__ADS_1
...~...