
Voren dan Doni masih menunggu di depan ruang operasi. Soraya segera mendapat penanganan yang serius untuk menangani luka akibat percobaan bunuh diri yang ia lakukan.
Doni bisa melihat Tuan Voren yang nampak terpukul dan kehilangan kata-katanya. Yang bisa dilakukan oleh Doni hanyalah merangkul pria itu dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Doni, menurutmu, apa yang membuat Soraya tidak mencintaiku? Kurang sempurna apalagi aku ini? Aku tampan dan mencintainya! Selama lima belas tahun aku bahkan tidak pernah mencintai wanita lain, di hati dan pikiranku hanya ada Soraya saja, Doni," kata Voren dengan tatapan matanya yang menerawang.
"Tuan, menurut saya, mungkin Soraya hanya ingin Anda menyerah pada perasaan Anda," Doni menanggapi perkataan Voren.
"Doni, aku sudah mencintai Soraya hampir separuh hidupku! Masa' aku harus menyerah begitu saja?! Aku pria yang pantang menyerah untuk memperjuangkan yang kuinginkan! Apa yang kuinginkan harus kudapatkan!" kata Voren sambil mengusap wajahnya dengan perasaan gusar.
"Saya tahu Anda pria yang penuh dengan tekad membaja! Hanya saja jika keadaannya sudah seperti ini, Anda harus mundur, Tuan," kata Doni.
Voren bersandar di kursi dengan kepala menengadah menatap langit-langit. Mendadak pikirannya kosong, sekosong hatinya saat ini.
Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan operasi, Voren dan Doni segera menghampiri dokter berpakaian serba hijau tersebut.
"Dokter, bagaimana kondisi pasien saat ini?" tanya Doni.
"Syukurlah, masa kritis pasien sudah lewat, cukup menunggu dengan sabar untuk pemulihan pasien," jawab dokter tersebut.
"Baik, terima kasih, Dokter," kata Doni dan Voren secara serempak.
"Kalau begitu, permisi," kata dokter itu sebelum meninggalkan keduanya.
Voren merasakan kelegaan luar biasa karena nyawa Soraya masih tertolong. Hingga saat ini Voren masih saja gemetaran lantaran masih mengingat dengan jelas bagaimana Soraya meregang nyawa dalam pelukannya.
...~...
Voren mengulas senyumnya saat melihat Soraya yang duduk termenung memandang ke arah luar jendela. Wajah Soraya terlihat pucat namun sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Meski begitu berat bagi Soraya untuk mengembangkan senyumnya di hadapan Voren.
Harusnya hari ini menjadi hari yang penting untuk Soraya. Hari pagelaran busana yang sudah dinantikannya. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun harusnya ditampilkan di hari ini. Saat semua koleksi busananya dikenakan oleh para model yang berlenggak lenggok begitu luwesnya di bawah kilauan lampu sorot. Soraya akan disambut tepuk tangan yang membahana dari para penonton yang menikmati semua karyanya.
Namun semua itu belum bisa direalisasikan lantaran Soraya harus terbaring di rumah sakit pasca percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Ia sudah menolak cinta dari seorang pria yang selama lima belas tahun ini terus menunggu cintanya bisa disambut oleh Soraya.
"Soraya," Voren menatap lembut ke arah Soraya.
"Voren," kata Soraya masih dengan suaranya yang lemah.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Voren.
Soraya hanya mengulas senyumnya.
"Soraya, aku sungguh minta maaf," kata Voren.
__ADS_1
"Aku sungguh minta maaf karena cinta yang kumiliki justru membuatmu terluka," Voren melanjutkan perkataannya.
"Voren, terima kasih sudah mencemaskanku, dan terima kasih karena sudah mencintaiku," kata Soraya.
Voren meraih tangan Soraya dan menggenggamnya, dikecupnya kedua tangan Soraya yang terlihat begitu rapuh.
"Aku sungguh tidak tahu, apa kurangnya aku hingga kau sama sekali tidak membalas cintaku, Soraya. Kenapa kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu?" tanya Voren.
"'Voren, apa kau sungguh ingin tahu, mengapa aku tidak bisa mencintaimu?" tanya Soraya.
Voren menatap Soraya lekat-lekat, nampak mata Soraya mulai berkaca-kaca. Terasa berat lidah Soraya untuk bergerak dan mengucapkan kalimat-kalimat yang menyayat hatinya.
"Aku pernah mencintai setulus hatiku kepada seseorang," kata Soraya memulai ceritanya.
Mata wanita cantik itu menerawang jauh, tabir masa lalu yang selalu ditutupnya rapat harus dibongkar. Membongkar masa lalu kelamnya yang selama ini disimpan serapat-rapatnya.
"Saat itu usiaku baru enam belas tahun, dan pria itu adalah cinta pertamaku! Aku sangat mencintainya dan dia pun juga sangat mencintaiku! Hingga suatu hari cinta kami harus diuji lantaran kehamilanku!" Soraya melepaskan tangannya dari Voren.
Voren terdiam, dalam benaknya ia bisa membayangkan Soraya muda bersama pria dengan wajah diblur yang pada awalnya begitu bahagia menikmati manisnya cinta. Namun mendadak Soraya menangis dengan menunjukkan alat uji kehamilan yang menampakkan garis dua kepada pria itu.
Soraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya begitu berat untuknya membuka kembali kenangan pahit tersebut.
"Kami belum siap untuk menjadi orang tua, karena saat itu kami masih belia! Akhirnya setelah berdiskusi, aku pun menggugurkan janinku," lanjut Soraya dengan air mata yang mulai berlinangan.
"Hubungan kami pun kembali seperti sediakala, hingga akhirnya aku kembali hamil, saat itu aku pikir kami bisa menikah karena aku sudah lulus SMA, dan dia juga sudah menyelesaikan kuliahnya, namun ternyata kenyataan pahit harus kembali kuterima! Dia masih belum bisa menikahiku karena banyak hal yang masih harus diraihnya," air mata Soraya mengalir lebih deras.
"Lagi-lagi aku mengalah dan harus menggugurkan janinku, karena cintaku padanya yang begitu besar," isakan Soraya makin keras.
Soraya bahkan nyaris lupa cara bernapas, Voren menepuk lembut punggung Soraya.
"Soraya, tarik napas, hembuskan perlahan," Voren memberi komando.
Soraya menarik napas dan menghembuskan perlahan mengikuti perintah Voren sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.
"Itulah sebabnya mengapa aku tidak mengikuti ospek angkatan kita, Voren, aku harus mendapat perawatan di rumah sakit lantaran pada saat aku melakukan prosedur aborsi kedua, rupanya ada masalah yang pada akhirnya membuat dokter harus mengangkat rahimku, membuatku menjadi wanita yang tidak sempurna!" tubuh Soraya bergetar hebat.
Voren merangkul bahu Soraya, menguatkan Soraya yang kembali menangis lebih keras.
"Hubungan kami kembali diuji, saat ia harus menerima perjodohan yang diaturkan oleh orang tuanya! Ia pernah berkata bahwa tidak akan pernah meninggalkanku, pun akhirnya justru meninggalkanku," lanjut Soraya.
Voren hanya terpaku mendengar setiap ucapan yang dilontarkan oleh Soraya.
"Sejak saat itu, aku pun bersumpah tak akan pernah lagi jatuh cinta! Aku bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama yang benar-benar membuatku terluka! Buah dari sebuah kepercayaan adalah pengkhianatan, itulah hikmah yang akhirnya kudapat dari sebuah kesalahan yang pernah kulakukan!" Soraya menyeka air matanya.
__ADS_1
Wanita itu berusaha menguatkan diri, menangisi kesalahannya di masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur.
"Soraya," kata Voren. "Seandainya saja kau bisa memberiku kesempatan, akan kubuktikan padamu bahwa aku bukan lelaki seperti itu! Aku menerimamu apa adanya, Soraya. Bahagiaku adalah membuatmu bahagia," Voren menyeka air mata yang masih mengalir deras membanjiri pipi Soraya.
Voren mengusap lembut rambut Soraya dan berusaha agar air matanya tidak jatuh. Soraya menenangkan dirinya lalu menatap lembut Voren.
"Voren, terima kasih sudah mencintaiku dengan kesungguhanmu," kata Soraya.
"Voren, wanita yang mencintaimu adalah istrimu, kembalilah padanya! Lupakan aku dan fokuslah pada rumah tanggamu! Aku sungguh tak ingin kehadiranku membuat rumah tangga kalian hancur!" lanjut Soraya.
Soraya menatap Voren lekat-lekat, air mata nampak menggenang di pelupuk mata pria tampan itu.
"Sungguh aku tidak ingin dicap sebagai perusak rumah tangga orang!"
Voren menatap Soraya dengan pandangan yang nanar, Soraya segera menghapus air mata yang turun dari kedua bola mata Voren yang memerah.
"Berbahagialah meski bukan bersamaku, Voren!" Soraya menggenggam tangan Voren.
"Soraya, apa kau yakin?" tanya Voren.
Soraya menjawabnya dengan mengangguk pelan namun cepat kemudian mengulas senyumnya.
"Cintailah seseorang yang mencintaimu sehingga kau tidak akan merasa terluka. Cinta itu ada untuk membahagiakan, bukan membawa penderitaan," kata Soraya.
...~...
Doni segera menepuk punggung Tuan Voren yang keluar dari ruangan tempat Soraya menjalani perawatan untuk memulihkan kondisi wanita itu.
Pria itu nampak terpukul dengan tatapan mata yang kosong.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Doni.
"Doni, apa aku terlihat baik-baik saja?" Voren balik bertanya sambil mengulas senyumnya.
"Tuan, saya tahu ini pasti berat untuk Anda, namun Tuan harus menghormati keputusan Soraya sebagai bentuk rasa cinta Anda pada Soraya! Saya setuju dengan ucapan Soraya, bahwa cinta itu ada untuk membahagiakan, bukan membawa penderitaan," kata Doni.
Voren mengulas senyumnya, senyum untuk menutupi hatinya yang lagi-lagi harus terluka. Lima belas tahun ia hanya mencintai Soraya, meski Soraya selalu menolaknya tanpa pernah memberi alasan yang jelas. Soraya selalu menolaknya lalu pergi menghilang begitu saja. Namun kali ini Soraya sudah mengungkapkan alasan yang sebenarnya tidak bisa Voren terima. Sebuah alasan yang menurut Voren hanya dicari-cari Soraya untuk menolak cintanya. Voren sesungguhnya masih merasa belum bisa menerima penolakan yang dilakukan oleh Soraya. Soraya yang sudah menutup pintu hatinya karena luka yang teramat dalam yang hingga kini masih menyisakan kepedihan.
Jika Voren memang harus menyerah pada cintanya agar Soraya berbahagia, maka Voren sungguh harus melakukannya demi kebahagiaan Soraya.
Mencintai seseorang berarti membahagiakannya, membahagiakannya tidak berarti harus bersama. Itulah kesimpulan yang dapat ditarik oleh Voren setelah selama lima belas tahun mencintai wanita itu dan harus berakhir tanpa pernah bertaut.
...~...
__ADS_1