
Delapan belas jam sebelum hari pernikahan.
*Melalui masa pingitan sungguh membuat Velan merasa bosan. Masa pingitan ini membuat Velan sama sekali tidak bisa pergi kemana-mana. Banyak mitos yang beredar seputar masa pingitan yang mana konon kabarnya bahwa calon pengantin itu 'harum' sehingga lebih baik cukup berdiam diri di rumah. Merapalkan banyak doa untuk memohon keselamatan dan mengharapkan ridho ilahi agar pernikahan akan lancar jaya serta mendapatkan keberkahan dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Velan jadi teringat biasanya saat teman-teman terdekatnya akan menikah ada semacam tradisi pesta lajang. Pesta lajang sendiri bertujuan untuk menikmati detik-detik sebelum menjadi istri atau suami orang. Menikmati kebebasan tanpa perlu meminta izin dari siapapun.
Notifikasi yang muncul pada layar ponselnya membuat Velan merasa ia harus pergi dari rumah untuk sekadar bersenang-senang sebelum melepas masa lajang. Ia membuka jendela kamarnya, keluar melalui jendela kamar, dan mengendap-endap memastikan tidak ada orang yang melihatnya*.
"Velan, kau mau ke mana?"
Suara Yoyok membuat jantung Velan nyaris lepas saking kagetnya. Yoyok nampak muncul dari kegelapan.
"Kak Yo! Kakak mengagetkanku saja!" kata Velan merendahkan suaranya.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Velan.
"Menjaga koleksi tanaman hiasku, sekarang sedang musim maling," jawab Yoyok.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya, Kak Yo," kata Velan.
"Mau ke mana kau, Velan?" tanya Yoyok.
"Pesta lajang!" sahut Velan menyeringai.
"Velan, kamu kan lagi proses pingitan!" sergah Yoyok.
"Kak Yo, nanti pulang aku bawakan martabak asin dua porsi!" kata Velan.
Yoyok nampak berpikir.
"Baiklah, setuju!" sahut Yoyok akhirnya.
Velan segera mengacungkan dua jempolnya lalu berlari keluar dari pekarangan rumah. Di ujung jalan sudah ada Desi yang menunggunya.
Velan segera memakai helm yang diserahkan oleh Desi.
"Sudah siap?" tanya Desi.
"Sudah," jawab Velan dengan mantap.
Desi segera melajukan sepeda motornya menembus malam yang mulai terasa dingin.
...~...
Desi segera memarkirkan sepeda motornya di area parkir sebuah tempat karaoke keluarga yang menjadi tempat berkumpulnya teman-teman Velan.
__ADS_1
Teman-teman Velan sejak zaman SMA yang hari ini khusus datang ke tempat karaoke untuk merayakan kabar gembira bahwa Velan akhirnya akan menikah.
Gian, Samsul alias Sam, dan Lita sudah menunggu di salah satu ruangan karaoke. Mereka bertiga langsung berhenti bernyanyi begitu melihat kehadiran Velan dan Desi.
"Velan!" seru ketiga teman Velan yang langsung menyambut kehadiran Velan.
"Mendadak sekali kau menikah, Velan! Besok jadwalku naik ke lokasi," keluh Sam.
"Iya, aku juga besok ada perjalanan dinas ke luar kota," keluh Gian.
"Aku pun juga besok harus menemani mertuaku, ada acara di rumah keluarga suamiku," sahut Lita.
"Iya, aku paham sekali, paham," sahut Velan seraya tertawa.
"Lantas, mengapa kau menikah begitu mendadak? Kamu sudah isi duluan, ya?" tanya Gian penuh selidik.
"Wah, jangan berprasangka buruk begitu, Gian!" sahut Desi.
"Penasaran sekali dong ya, kan! Velan yang tidak ada kabar lagi setelah ditolak Oman belasan tahun yang lalu tiba-tiba menikah kan mengagetkan!" Lita menimpali.
"Sudah, sudah, tidak usah bahas Oman! Oman sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan calon suamiku! Pokoknya suamiku itu gantengnya tidak karu-karuan lah!" Velan tertawa.
"Coba tunjukkan fotonya! Tidak ada gambar sama saja hoaks!" sahut Sam.
"Tidak, tidak! Kalian harus lihat sendiri dengan mata telanjang betapa menyilaukannya calon suamiku! Haha! " Velan tertawa dengan penuh rasa bangga.
"Apa dia pakai gigi palsu dari emas?" tanya Gian.
"Aduh, yang pasti calon suamiku yang bervisual serbuk berlian tidak bisa dibandingkan dengan pria-pria bervisual serbuk gergaji!" jawab Velan lagi.
"Wow, ngerinya visual serbuk berlian itu manusia macam apa?" tanya Gian keheranan.
"Baru melihatnya saja sudah membuatku basah kuyup!" sahut Velan antusias.
"Wah, Velan, cabul juga pikiranmu!" Sam tertawa heboh.
"Hei, apa coba tujuan orang menikah kalau bukan untuk melakukan pencabulan secara halal?! Intinya kan seperti itu," sahut Lita dengan frontalnya.
"Haha, jadi sudah hafal gaya apa saja yang mau dipakai di malam pertama?" tanya Gian.
"Haha, aku bahkan sudah ikut pendidikan kilat!" jawab Velan yang langsung disambut tawa heboh teman-temannya.
...~...
"Aku ke toilet dulu, ya," Velan berpamitan kepada teman-temannya yang masih asyik bernyanyi.
__ADS_1
"Mau kutemani, Velan?" tanya Desi.
"Aku bisa pergi sendiri," jawab Velan.
Velan segera melangkah keluar dari ruangan tersebut menuju ke toilet yang ada di ujung lorong dengan pencahayaan temaram membuat semua ruangan bernyanyi nampak serupa dan sama.
Begitu keluar dari toilet, Velan segera kembali ke ruangan tempat teman-temannya berkaraoke ria. Velan segera memasuki ruangan berpencahayaan temaram, namun membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Ia melihat dua orang pria nampak berangkulan mesra di atas sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Meski ruangan itu nampak temaram namun Velan bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh dua orang pria itu lantaran mendapat siraman dari cahaya terang layar monitor besar yang saat ini sedang menampilkan video musik.
"Eh, maaf, salah ruangan," kata Velan yang langsung melangkah mundur dari ruangan temaram itu.
Velan segera mencari ruangan tempat teman-temannya berkumpul. Ia lega karena kali ini ia tidak salah ruangan lagi.
"Ada apa, Velan?" tanya Desi yang melihat gelagat Velan begitu mencurigakan saat kembali dari toilet.
"Des, aku habis melihat sesuatu yang harusnya tidak aku lihat," jawab Velan ragu-ragu.
"Kamu lihat apa?" tanya Desi.
"Itu, aku melihat pria bersama pria," Velan memberi kode dengan menguncupkan kedua tangannya.
"Hihh yang benar? Di mana?" tanya Desi terlonjak kaget.
"Ada di ruangan sebelah! Haduh! Edan!" kata Velan.
"Apanya yang edan, Velan?" tanya tiga teman Velan menyadari bahwa Velan dan Desi nampak berkasak-kusuk berdua.
"Itu, pria dan pria begini-begini," sahut Desi seraya tertawa.
"Wah, sudah tidak heran sih, zaman sekarang kan memang begitu! Terutama pria tampan sekarang itu senang dengan pria yang tampan juga!" kata Sam seraya tertawa.
"Hati-hati Velan, katamu suamimu kan tampannya tidak karu-karuan!" Gian menimpali.
"Hei! Kalian jangan bicara mengada-ada seperti itu!" sergah Desi.
"Lagipula Velan pasti sudah coba tipis-tipis, ya kan?" tanya Lita.
"Haha!" Velan tertawa.
"Jangan sampai beli kucing dalam karung! Menyesal seumur hidup kau kalau barang suamimu hanya jadi aksesoris saja! Haha!" Lita tertawa lagi.
Velan tentu saja memilih untuk mengabaikan ocehan Lita. Ia sungguh yakin bahwa calon suaminya adalah pria terbaik yang sudah dikirimkan oleh Tuhan melalui Madam Yue.
Yang penting yakin saja dulu!
__ADS_1
...~...