
Velan berbaring di kasur sambil menatap kosong ke arah luar balkon kamar hotel tempatnya menginap. Sepanjang hari ia menunggu dalam kamar yang kosong. Harusnya saat ini menjadi momen manis bulan madu yang ia lalui bersama suami yang begitu dicintainya. Velan bahkan sudah memiliki rencana untuk benar-benar menghabiskan waktu bersama suaminya seperti berjalan-jalan di pantai, makan malam romantis, hingga bercengkerama dan bermesraan sepanjang hari di atas kasur.
Karena sebuah kesalahan memasukkan takaran obat sakti yang mampu membuat pria menjadi lebih liar dan binal, rencana tinggal rencana tanpa bisa dilaksanakan secara baik dan benar guna mendapatkan hasil yang diinginkan. Lebih parahnya lagi, obat sakti itu berakhir dengan salah sasaran.
Setidaknya Velan sudah merasa mendapat pencerahan setelah melakukan sesi konsultasi bersama pria panggilan yang dipanggilnya. Ia juga sudah merencanakan apa yang harus ia lakukan sehingga kiranya bisa memperbaiki hubungan mereka. Bukankah pertengkaran suami istri itu wajar adanya?
Namun lagi-lagi rencana tersebut belum bisa diimplementasikan lantaran suaminya seakan menghilang ditelan bumi.
Velan tidak tahu harus mencari suaminya ke mana, ia justru malah takut tersesat lantaran sedang berada di kota lain yang sama sekali tak ia kenal. Daripada ia tersesat dan akan menimbulkan masalah, lebih bijaksana jika ia menunggu dengan penuh harap.
Velan sungguh bertanya-tanya, bagaimana kondisi Doni setelah pria itu mengalami kejang hebat?
Semoga pria itu baik-baik saja, begitulah tak henti-hentinya Velan memanjatkan doa kepada Tuhan agar dua pria yang saat ini sedang dicemaskannya bisa memberinya kabar.
Terdengar bel pintu kamar berbunyi. Velan segera melompat turun dari kasur untuk membukakan pintu kamar.
"Selamat sore, Nona," sapa petugas room service.
"Sore," Velan membalas sapaan dua orang petugas room service.
"Kami menginformasikan bahwa kamar ini sudah harus dibereskan sesuai dengan instruksi dari Pak Doni," kata salah satu petugas.
"Tu-tunggu, tapi suamiku bahkan belum kembali," kata Velan.
Ponsel Velan berdering, nama Doni muncul di layar. Velan segera menjawabnya.
"Halo, Pak Doni," kata Velan menjawab teleponnya.
"Nona, mohon maaf baru menghubungi Anda," kata Doni.
"Pak Doni, Anda baik-baik saja?" tanya Velan.
"Terima kasih sudah mencemaskan saya, Nona," kata Doni.
"Pak Doni, saya sungguh minta maaf, saya tidak bermaksud untuk mencelakai Anda," kata Velan.
"Nona, nanti kita bisa membahasnya, hanya saja sekarang yang lebih penting adalah saya sudah mengaturkan perjalanan pulang Anda," kata Doni.
__ADS_1
"Pak Doni, apa maksud Anda?" tanya Velan.
"Nona, saat ini saya dan Tuan Voren sudah pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak," jawab Doni.
Hati Velan mencelos mendengar perkataan Doni.
"Oleh karena itu silakan Anda berkemas-kemas dan menuju ke bandara, saya sudah meminta pihak hotel untuk mengaturkan perjalanan Anda ke bandara, sebentar akan saya kirimkan juga elektronik tiket pesawat Anda," kata Doni.
Velan benar-benar terpaku mendengar perkataan Doni.
"Pak Doni, apa suami saya benar-benar sangat marah pada saya?" tanya Velan.
Doni tidak langsung menjawab.
"Nona, nanti saja kita membahasnya, ya," kata Doni lagi.
"Tapi Pak Doni...," kata Velan tertahan.
"Untuk barang-barang Tuan Voren, Anda tak perlu mencemaskannya, nanti akan saya minta pihak hotel untuk menyiapkannya dan mengirimkannya pada saya," kata Doni.
"Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Nona, sampai jumpa di rumah," kata Doni sebelum menutup teleponnya.
Suamiku benar-benar sangat marah, bagaimana ini?
...~...
Tujuh ekor ikan peliharaan Voren yang berada dalam akuarium nampak berenang-renang dengan santainya, sungguh berbanding terbalik dengan penghuni unit apartemen mewah yang saat ini diliputi atmosfer yang begitu menegangkan.
Velan bisa merasakan tatapan penuh intimidasi dari kedua pria tersebut. Secara bergantian Velan mengarahkan pandangannya pada Doni, sedang berdiri di samping Voren yang duduk di sofa dengan tenang.
Voren dengan tangan terlipat di depan dada menatap Velan yang nampak menunduk saat berlutut dengan memasang ekspresi memelas. Velan harus melakukannya demi memohon pengampunan kepada Voren. Sungguh Velan tidak ingin rumah tangganya retak akibat kesalahannya. Obat perangsang itu tidak bersalah, yang salah adalah takaran dan sasarannya.
"Suamiku! Aku sungguh minta maaf, aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi! Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk mencelakaimu ataupun Pak Doni," kata Velan.
Voren dan Doni saling berpandangan.
"Istriku, katakan sejujurnya, dari mana kau mendapatkan obat perangsang itu?" tanya Voren.
__ADS_1
Velan tidak tahu, apakah ia harus berbohong ataukah harus mengatakan hal yang sejujurnya. Velan terlalu takut untuk berbohong karena pasti akan menimbulkan kebohongan yang lain. Velan pun berpikir cepat, suaminya bahkan sudah bicara hal yang sejujurnya pada Velan mengenai orientasi seksualnya, itu artinya Velan pun harus mengatakan hal yang sebenarnya. Hanya saja jika mengatakan hal yang sebenarnya, Velan takut Voren akan menganggap bahwa Velan menjatuhkan nama baik Ibu mertuanya. Bagaimana jika Voren tidak percaya dan malah kembali menuduh Velan melakukan pencemaran nama baik terhadap Ibunya. Bagaimana jika Voren justru semakin marah pada Velan dan ibu mertuanya? Terlalu banyak kemungkinan yang membuat Velan begitu dilema dan pada akhirnya memilih untuk diam dan menunduk.
Doni melemparkan tatapannya ke arah Tuan Voren yang nampak menghela napas berat. Doni memang sedang menyelidiki latar belakang Nona Velan, mencari siapa yang menjadi dalang di belakang wanita ini. Namun saat ini Doni masih menyelidiki dan hasil penyelidikan awal menyatakan bahwa Nona Velan hanyalah wanita biasa dengan latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Yang masih menjadi pertanyaan besar Doni adalah mengapa Nyonya Vega begitu berpihak pada Nona Velan?
Apa istimewanya Nona Velan hingga Nyonya Vega memilih Nona Velan sebagai istri Tuan Voren? Batin Doni bertanya-tanya.
"Suamiku, seandainya saja kau tidak menolak untuk bercinta denganku, aku tentu tidak perlu repot-repot menggunakan obat perangsang! Aku sungguh akan berusaha keras untuk memuaskanmu, Suamiku!" kata Velan mengabaikan pertanyaan Voren.
Terserah jika pria itu akan menertawai Velan lantaran Velan menjelma menjadi istri yang begitu menyedihkan, saking inginnya ditiduri suami hingga bersedia berbuat hal nekat.
Senang kau, Pak Doni?! Senang melihatku terpuruk dan begitu menyedihkan seperti ini?! Geram Velan dalam hatinya sambil mencuri pandang ke arah Doni.
Voren mengulas senyumnya, namun dalam hati ia jelas mengumpat kesal.
Kenapa kau jadi menyalahkanku? Aku tentu saja tidak bersedia bercinta dengan wanita menakutkan macam kau, batin Voren.
Yah, selain menakutkan, wanita ini juga murahan dan jelas membuat Voren sama sekali tidak berselera.
"Pak Doni, aku sungguh minta maaf padamu, aku tidak bermaksud untuk mencelakaimu," kata Velan ke arah Doni.
Doni pun hanya bisa mengulas senyum.
Anda benar-benar sangat nekat dan menakutkan Nona, pikir Doni.
"Suamiku, sungguh! Aku hanya mengharapkan cinta dan kasih sayangmu karena aku adalah istrimu!" kata Velan memelas.
Voren hanya bisa tersenyum kecut dan ia harus pandai-pandai menyimpan rasa kesalnya pada wanita ini.
Gara-gara wanita ini, agenda kerjanya jadi berantakan lantaran Doni harus mendapat perawatan di rumah sakit. Pekerjaannya jadi banyak terbengkalai dan membuat Voren serta Doni harus bekerja ekstra.
"Istriku, kau pasti lelah, segeralah beristirahat," kata Voren seraya beranjak dari sofa.
"Suamiku! Kumohon jangan tinggalkan aku, Suamiku! Tolong jangan pergi, Suamiku!" Velan menahan kaki Voren.
"Istriku, aku hanya akan kembali bekerja di ruangan kerjaku," kata Voren sambil melepaskan pegangan Velan di kakinya.
Voren menuju ke ruang kerjanya diikuti Doni. Velan lagi-lagi hanya bisa nelangsa, namun ia sudah mengutarakan apa yang harus disampaikannya. Sesungguhnya obat perangsang tidak diperlukan jika saja suaminya tertarik pada wanita.
__ADS_1
...~...