Jodoh Instan

Jodoh Instan
Kunjungan Velan


__ADS_3

Velan memasuki lift bersama Doni. Doni nampak mengusap nomor lantai yang terlihat muncul pada panel elektrik, membawa lift naik ke lantai yang dituju.


"Pak Doni," kata Velan menatap pantulan bayangan Doni.


"Iya, Nona," jawab Doni.


Velan berbalik menghadap ke arah Doni. Ia segera menarik dasi yang dikenakan Doni. Doni tersentak kaget, sementara Velan mengamati leher Doni dengan lebih dekat.


Mencari jejak cinta yang kira-kira mungkin akan tertinggal jika semalam Doni dan suaminya bercinta dengan panasnya. Velan juga mencari kalung yang mungkin saja saat ini dikenakan Doni di balik kemejanya yang selalu terkancing rapi.


"No-nona...," Doni tergagap karena berada dalam posisi yang kurang nyaman.


Merasa tidak melihat dan menemukan apa yang dicarinya, Velan melepaskan Doni sambil mengulas senyumnya.


"Tadi dasimu miring, Pak Doni," kata Velan.


Doni merasa jantungnya benar-benar nyaris lepas akibat ulah Nona Velan yang mendadak seakan hendak menyerangnya. Entah mengapa Doni benar-benar merasa sangat terintimidasi dengan sikap Nona Velan yang seperti itu. Entah kemarahan macam apa yang sedang disembunyikan oleh wanita tersebut.


"Silakan, Nona," Doni mempersilakan Velan untuk keluar lebih dulu dari lift.


Velan keluar lebih dulu dari lift.


"Mari Nona, silakan berjalan lebih dulu dari saya," kata Doni.


"Pak Doni, kalau Anda berjalan di belakangku, bagaimana jika aku salah masuk ruangan?" tanya Velan.


"Tentu tidak Nona, saya akan mendampingi Anda! Saya ini tipe pria yang mendahulukan wanita," jawab Doni.


"Begitu ya? Aku pikir, kau takut jika aku mencekikmu dari belakang!" sahut Velan seraya tertawa.


"Tentu tidak, Nona," jawab Doni mengulas senyum ramah.


"Tenang saja Pak Doni, aku bukan tipe orang yang suka menikam dari belakang! Lebih baik langsung hadapi secara jantan!" kata Velan dengan nada penuh mengintimidasi membuat Doni terkesiap.


"Kenapa, Pak Doni? Kau lebih suka main tusuk-tusuk dari belakang ya?" tanya Velan lagi.


Doni tidak langsung menjawab, senyum Nona Velan sungguh terlihat begitu menakutkan di mata Doni.


"Baik Nona, terserah Anda, kalau begitu silakan ikuti saya," kata Doni segera melangkah menyusuri koridor yang nampak sepi.


Velan mengamati dinding-dinding kaca yang berada di kiri-kanan koridor panjang. Di balik dinding kaca itu terlihat ruangan besar berisi meja puluhan karyawan yang sibuk berkutat di kubikel-kubikel panjang yang tersusun saling berhadapan. Entah mengapa Velan merasa rindu bekerja kantoran seperti itu.


Langkah Velan terhenti di depan pintu kaca dengan label Finance Director. Doni membukakan pintu dan mempersilakan Velan untuk masuk.


Mata Velan menangkap sosok Voren yang nampak masih sibuk berkutat dengan setumpuk dokumen yang ada di atas meja kerjanya.


"Suamiku," sapa Velan.

__ADS_1


Voren langsung mengarahkan pandangannya ke arah Velan.


"Istriku, apa yang membawamu kemari?" tanya Voren sambil mengulas senyum ramah yang harus dipaksakannya.


Velan meletakkan tas kain yang dibawanya ke atas meja yang berada di depan sofa.


"Aku membawakanmu bekal makan siang, Suamiku," jawab Velan sambil berjalan mendekati Voren.


Velan langsung menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Voren. Voren terkesiap karena Velan benar-benar langsung merangkulnya. Keduanya saling berpandangan.


"Semalam kau tidak pulang dan aku begitu mencemaskanmu, aku yakin kau pasti lapar sekali, Suamiku," kata Velan sambil mencuri pandang ke arah leher Voren.


Velan kembali mencari jejak cinta yang mungkin ditinggalkan oleh Doni untuk memprovokasi Velan. Jika ada jejak cinta yang tertinggal, habis kau, Doni! Batin Velan sambil berpura-pura merapikan dasi Voren.


"Istriku," Voren berusaha mendorong agar Velan menjauh darinya.


Namun Velan malah menahannya, sungguh bagi Doni yang melihat pemandangan itu sebenarnya kurang nyaman.


Nona Velan sepertinya benar-benar marah gara-gara kejadian semalam, batin Doni.


Voren melirik ke arah Doni, berharap Doni bisa membantunya agar Velan tidak seenaknya duduk di pangkuannya seperti ini.


"Suamiku, mari makan siang bersama, aku sudah membawakan bekal yang spesial untukmu," kata Velan sambil mengulas senyumnya.


"Istriku, sungguh aku hargai kemurahan hatimu, kau pasti begitu sibuk dan masih sempat menyiapkan bekal makan siang untukku, nanti akan kumakan," kata Voren.


"Aku mau kita makan bersama, Suamiku," kata Velan.


Velan mengulas senyumnya.


"Suamiku, mari kita makan bersama," ajak Velan.


"Tidak, Istriku, aku masih kenyang," jawab Voren cepat.


"Tadi katamu masih banyak pekerjaan, sekarang kau mengaku kenyang, lantas apa lagi alasanmu, Suamiku?" tanya Velan.


Velan menarik dasi Voren, mereka saling bertatapan.


Voren terperangah karena tiba-tiba saja Velan mendorongnya lalu memberi kecupan ke bibirnya. Doni terbelalak melihat aksi berani Nona Velan yang membuat Tuan Voren melambaikan tangan karena Nona Velan memberi ciuman panas dan penuh tuntutan. Doni sampai memalingkan wajahnya karena merasa tegang sendiri.


Doni! Tolong aku! Voren berharap Doni bisa menolongnya.


Melepaskan belitan bak ular piton dari wanita mungil yang ternyata begitu bertenaga.


Ya, ampun, Nona Velan memang kecil-kecil cabe rawit, batin Doni.


Velan melepaskan ciumannya, lalu tersenyum ke arah Voren yang nampak mematung seakan kehabisan napas.

__ADS_1


"Suamiku, ayo makan sekarang, jika tidak, aku akan melanjutkan kegiatan ini lebih jauh lagi," kata Velan.


Voren seakan tak punya pilihan, ia dengan patuh beranjak dari kursinya karena Velan menarik dasinya seperti penggembala sapi yang menggiring sapi ke kandang.


Velan segera duduk di sofa dan segera menyiapkan  makanan yang ia bawa.


"Sini Suamiku, aku suapi," kata Velan masih dengan tersenyum.


"Aku bisa sendiri, Istriku," kata Voren menolak.


"Suamiku, tenang saja, aku tidak mencampurkan sesuatu yang aneh ke dalam masakanku," Velan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Voren melirik ke arah Doni yang nampak mengangguk sambil berkedip-kedip. Doni memberi kode tanda bahaya yang hanya mereka berdua saja yang tahu maksudnya.


"Ayo dibuka mulutnya, Suamiku! A...," Velan menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Voren.


Voren terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah apa yang sudah disuapkan oleh istrinya untuknya.


Velan melirik ke arah Doni yang nampak mematung.


Lihat, Pak Doni! Apa yang bisa kau lakukan juga bisa kulakukan! Apa kau mau melihatku bercinta dengan suamiku di depan matamu? Batin Velan sambil mengulas senyum kemenangan.


"Suamiku, aku sungguh tersinggung dengan para pegawaimu yang bisa-bisanya menganggapku hanyalah peminta sumbangan! Wanita halu yang mengaku sebagai istrimu! Aku bahkan teman tidurmu di atas ranjang! Apa mereka sungguh tidak tahu bahwa kau sudah menikah?" tanya Velan.


"Maaf, Istriku, mereka hanya tidak tahu," jawab Voren.


"Bagaimana mereka bisa tidak tahu, apa kau tidak mengundang mereka di pesta pernikahan kita?" tanya Velan.


"Hmm, aku memang membatasi undangan yang hadir, Istriku," jawab Voren.


"Suamiku, apa kau tahu, rasanya aku ingin berteriak keras-keras dan memperkenalkan diriku pada semua orang di perusahaan ini bahwa aku adalah istri sahmu! Aku bukan wanita halu yang hanya mengaku-ngaku sebagai istri dari Voren Lazaro demi konten!" cecar Velan.


"Aku sungguh tersinggung, Suamiku! Aku ini manusia yang punya hati dan perasaan! Bisa-bisanya aku diperlakukan seperti itu! Dua wanita tidak sopan itu bahkan memanggil petugas keamanan untuk mengusirku!" lanjut Velan.


Voren langsung memberikan pelukan lembut untuk menenangkan Velan. 


"Istriku, biarkan aku yang mewakili permintaan maaf dari mereka ya, sungguh masalah ini terjadi karena kesalahpahaman saja," kata Voren menepuk lembut punggung Velan.


"Maaf ya," Voren melepas pelukannya dan menatap lembut ke arah Velan.


Velan mengangguk dan tersenyum.


Pria yang sudah berbuat curang memang penuh dengan tipu daya, untuk menutupi rasa bersalahnya, batin Velan.


"Suapi aku lagi, masakanmu sungguh enak, aku suka sekali, Istriku," puji Voren.


"Baiklah, Suamiku, mulai besok aku akan membawakan bekal makan siang untukmu dan aku akan menyuapimu," kata Velan.

__ADS_1


Voren terkesiap, sepertinya ia sudah salah karena memuji wanita ini.


...~...


__ADS_2