
Velan mengisi piring dengan potongan daging panggang yang telah matang. Ia membawa piring tersebut dan meletakkannya di hadapan Daren.
"Daren, silakan dimakan," kata Velan sambil mengulas senyum semanis mungkin ke arah Daren.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu," kata Daren membalas senyuman Velan.
"Sebentar aku ambilkan daun seladanya," kata Velan segera beranjak dari tempat duduk.
"Terima kasih," kata Daren tanpa melepaskan pandangannya dari Velan.
Voren mengunyah daging panggangnya dengan perasaan yang kesal.
Wanita itu begitu ramah pada Daren, sementara dia selalu bersikap ketus padaku, Voren membatin.
Velan kembali ke tempat duduknya yang berada di samping Daren, membawa sepiring penuh daun selada segar.
Daren mulai membungkus daging panggang dengan daun selada lalu memakannya dalam sekali suap.
"Bagaimana?" tanya Velan ke arah Daren.
Daren mengacungkan dua jempolnya lantaran mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Enak sekali," kata Daren memuji Velan.
"Terima kasih, jika kau tidak keberatan, aku bisa memasak untukmu setiap hari, Daren," kata Velan.
Daren mengulas senyumnya, begitu pula dengan Velan yang membalas Daren dengan senyum yang lebar. Di mata Voren, Velan dan Daren sungguh terlihat seperti pasangan suami istri yang terlihat bahagia sekali.
Dasar wanita tidak berakhlak! Suamimu itu Daren ataukah aku?! Voren mendelik gusar ke arah Velan.
Bagaimana, Voren Lazaro? Apa kau masih meragukan hubunganku dengan Daren? Perlu kutunjukkan apalagi agar kau yakin? Batin Velan.
"Wah, Nona Velan anda benar-benar cekatan. Sungguh istri idaman, bagaimana menurut Anda, Pak Daren?" tanya Dinar.
"Benar," jawab Daren.
Istri idaman? Istri idaman dari neraka?! Voren tertawa dalam hati.
"Daripada disebut sebagai istri idaman, menurutku lebih menunjukan naluri pembantu!" celetuk Voren.
Velan memutar bola matanya mendengar celetukan Voren.
"Daripada disebut naluri pembantu, saya lebih suka menyebutnya saling melengkapi satu sama lain!" Velan menimpali celetukan Voren.
"Oh tapi di mata saya terlihatnya seperti itu!" sahut Voren seraya tertawa.
"Wah, Tuan, sepertinya saya bisa menebak, anda pasti memperlakukan istri anda seperti pembantu," kata Velan.
Voren terkesiap mendengar perkataan Velan.
"Ahaha! Bagaimana anda bisa menghakimi saya seperti itu?!" Voren tertawa lagi.
"Tuan, sepertinya anda belum memahami hakikat cinta yang sesungguhnya?! Cinta ada untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan! Kalau anda menganggap bahwa saling melengkapi sebagai naluri pembantu, itu berarti anda tidak benar-benar mencintai istri anda!" ucap Velan seraya tertawa.
__ADS_1
"Uhuk... uhukk...," Voren terbatuk-batuk lantaran tersedak daging yang dikunyahnya.
"Tuan Voren, silakan minum airnya," Doni menyerahkan gelas berisi air mineral untuk Tuan Voren.
"Daren, mau tambah lagi dagingnya?" tanya Velan.
"Terima kasih, Velan, kau juga harus makan," jawab Daren.
"Aku rasa melihatmu makan dengan lahap sudah membuatku kenyang," ucap Velan.
"'Aduaduh, manis sekali kalian ini! Netizen jadi julid nih," Dinar menimpali seraya tertawa.
Voren sungguh harus pandai-pandai menyimpan rasa kesal melihat betapa Velan ingin menunjukkan bahwa Daren adalah pria yang benar-benar membuat wanita itu merasa bahagia.
Tawa Velan benar-benar membuat hati Voren terasa sakit. Entah mengapa ia merasa tidak adil? Di saat Soraya benar-benar menghilang dari kehidupan Voren, wanita ini justru mendapat kebahagiaan dan mengumbarnya di depan Voren. Sungguh wanita tidak berakhlak!
Voren meneguk air mineralnya, menyudahi sesi makan malam lantaran merasa kehilangan selera makannya.
Dinar merasa atmosfer menjadi begitu tegang, dengan segera wanita itu berusaha untuk mencairkan suasana.
"Pak Daren, apa area karaoke sudah bisa difungsikan?" tanya Dinar.
"Ya, aku rasa sudah bisa," jawab Daren.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pergi karaoke, Pak?" usul Dinar. "Sudah lama sekali saya tidak pernah pergi karaoke, sibuk bekerja sampai lupa nongkrong bersama teman-teman," kata Dinar.
"Hmm, begitu ya, sungguh ide yang menarik, Dinar," kata Daren.
"Bagaimana, Nona Velan? Anda suka pergi karaoke juga bersama teman-teman?" tanya Dinar.
"Bagaimana, Doni, Tuan Voren, apa kalian ingin bergabung juga?" tanya Dinar.
"Silakan kalian saja, saya cuma jago lipsync," jawab Doni malu-malu.
"Aduh Doni, kau jangan merendah begitu! Asal kalian tahu, Doni ini kalau tidak menjadi asisten pribadiku, dia sudah jadi penyanyi dangdut jebolan audisi akademi dangdut!" ucap Voren seraya tertawa.
"Wah, Doni, aku sungguh tidak menyangka," kata Dinar antusias.
"Ahaha, Tuan Voren, bukannya Anda yang suka sekali menyaksikan konser dangdut agar bisa memberi saweran kepada biduan dangdutnya?!" Doni membalas ejekan Tuan Voren.
"Ahaha! Bukannya biduan dangdut yang kusawer itu kau, Doni?" balas Voren.
"Ahaaha," kedua pria itu tertawa sambil saling melotot dan membuat ketiga orang di hadapan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.
Khayalan Velan membawa wanita itu untuk menonton pertunjukan Doni sang biduan dangdut yang tengah melenggok genit di atas panggung dan Voren yang menjadi tukang sawer datang dengan mengibaskan segepok uang.
Kemudian Soraya naik ke atas panggung, menjewer telinga Voren karena memergoki sang suami yang berjoget ria bersama sang biduan dangdut.
"Ahaha!" Velan tertawa namun cepat-cepat ia menghentikan tawanya karena semua mata langsung tertuju padanya.
...~...
Velan sudah tiba di area yang menjadi tempat hiburan keluarga. Bangunan yang menjadi area karaoke terlihat sudah dalam tahap penyelesaian.
__ADS_1
Dari lobi yang mewah mereka bergegas menuju ke ruang karaoke berkapasitas besar. Ruangan tersebut bercat putih gading dengan dekorasi etnik dan lukisan-lukisan pemandangan alam yang menempel di salah satu tembok.
Sebuah layar datar selebar dinding, dilengkapi dengan perangkat audio sistem mutakhir segera dioperasikan oleh seorang operator. Di bagian belakang ruangan juga terdapat layar datar selebar dinding.
Sofa panjang dengan bentuk huruf U mengelilingi sebuah meja besar. Sebuah tablet pintar sebagai remot kontrol telah terkoneksi pada perangkat canggih yang memudahkan pengunjung untuk mengoperasikan sistem karaoke, mulai dari pemilihan lagu hingga daftar lagu yang hendak dinyanyikan.
Velan duduk di samping Daren, ia jelas merasa sungkan, namun ia tentu harus menunjukkan kepada Voren bahwa ia dan Daren adalah sepasang kekasih asli meski palsu.
Sementara Voren dan Doni duduk di sisi lain sofa. Voren jelas harus pandai-pandai menyembunyikan rasa kesalnya melihat keakraban yang terjalin antara Velan dan Daren.
Sedangkan Doni saat itu hanya bisa mengambil alat musik kecrekan berwarna kuning terang yang berada di atas meja dan memainkan keping-keping kecrekan tersebut untuk mengusir radiasi hawa panas yang dipancarkan dari Tuan Voren.
"Siapa yang bersedia menyanyi pertama?" tanya Dinar sambil memegang tablet pintar tersebut.
"Silakan jika kau bersedia, Dinar," jawab Doni.
Dinar tersenyum kecut. Ia segera mencari lagu yang akan dinyanyikannya. Lagu yang menurut Dinar cocok untuk mengungkapkan apa yang saat ini sedang dirasakannya.
"...Mau bilang sayang tapi bukan pacar... bilang tidak ya... bilang tidak ya...," Dinar menyanyi dengan penuh penghayatan.
Velan menepuk lembut tangan Daren, Daren mendekatkan telinganya ke arah Velan.
"Wah, suara Dinar bagus juga ya," puji Velan.
"Dinar memang jago menyanyi," sahut Daren.
"Apa Anda jago menyanyi?" tanya Velan.
Daren hanya tertawa kecil, Velan mengulas senyumnya.
Voren meneguk air mineralnya dengan perasaan kesal yang makin menjadi setiap menitnya.
"..Tembak tidak ya... tembak tidak ya...," Dinar menyanyi sambil mencuri pandang ke arah Doni.
Lelaki itu nampak menggoyang-goyangkan kecrekan di tangannya seakan menghalau sesuatu.
Kenapa kamu tidak peka sih, Doni? Batin Dinar.
Muncul skor di layar monitor diiringi tepuk tangan heboh dari sistem yang memberi penilaian atas nyanyian Dinar.
"Wah... Dinar, apakah lagu yang kau nyanyikan merupakan curahan hati? Kau sangat menghayati," kata Velan.
"Terima kasih, Nona Velan, ahh... ini bukan curahan hati kok," kilah Dinar.
"Doni, aku mau menyanyi," kata Voren.
"Anda mau menyanyi, Tuan?" tanya Doni keheranan.
"Kenapa? Bukankah kita memang harus menyanyi secara bergiliran?" Voren balik bertanya.
"Baik Tuan, Tuan ingin menyanyi lagu apa?" tanya Doni.
"Lagu fenomenal di zamannya," sahut Voren sambil mengulas senyum sinis ke arah Velan dan Daren.
__ADS_1
...~...