Jodoh Instan

Jodoh Instan
Serangan Mendadak


__ADS_3

Velan membukakan pintu begitu mendengar bunyi bel yang menggema memenuhi unit apartemen. Sosok Vega muncul dengan senyum ramahnya dan langsung memeluk Velan dengan penuh kasih sayang.


"Velan, menantuku sayang," kata Vega.


"Ibu," Velan balas memeluk erat pelukan Vega lalu mengecup punggung tangan Vega.


"Ibu mampir karena ada yang ingin Ibu berikan padamu," kata Vega membawa Velan untuk duduk bersamanya di sofa.


Vega mengeluarkan sebuah botol berukuran air mineral tanggung berisi cairan berwarna merah muda yang terlihat seperti jus jambu dan menyerahkannya pada Velan.


"Apa ini, Bu?" tanya Velan.


"Ini ramuan zaman kekaisaran kuno yang dijamin akan membuatmu langsung hamil anak laki-laki," jawab Vega antusias.


Velan mengulas senyumnya.


Aduh Ibu, hal aneh apa lagi yang Ibu berikan padaku? Velan membatin.


Ia tentu masih merasa sangsi lantaran waktu itu Vega juga memberikannya obat perangsang yang justru menciptakan tragedi. Bulan madu yang harusnya berlangsung penuh dengan hal-hal manis itu pun benar-benar berakhir dengan bencana.


"Terima kasih, Bu," kata Velan yang mau tidak mau harus menerima apapun pemberian ibu mertuanya itu.


"Velan, Ibu minta maaf bukannya tidak bersabar untuk bisa segera menimang cucu, hanya saja saat ini mendapatkan penerus keluarga Lazaro adalah prioritas yang utama," kata Vega menatap Velan dengan penuh pengharapan.


"Baik Bu, saya mengerti, terima kasih atas dukungan dari Ibu," kata Velan.


Vega mengulas senyumnya.


"Baiklah, kalau begitu Ibu pamit dulu," kata Vega.


Velan segera meraih tangan Vega dan mengecup punggung tangan Vega sebelum wanita paruh baya itu pergi. Velan terpaku mengamati ramuan aneh itu dengan perasaan yang hampa.


"Suamiku bahkan tertarik dengan wanita lain, bagaimana bisa aku mengandung anaknya?" Velan bermonolog.


...~...


"Selamat datang, Suamiku," Velan menyambut kedatangan Voren dan Doni di depan pintu masuk.


Voren hanya mengulas senyum tipis, begitu juga dengan Doni yang nampak mengangguk singkat ke arah Velan.


"Suamiku, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, akan kusiapkan makan malam juga," kata Velan segera menghampiri Voren dan membantu Voren melepas sepatunya.


"Terima kasih," kata Voren.


Velan mengulas senyum cerianya. Ia sengaja tidak menyinggung mengapa Voren tidak pulang ke rumah. Bagi Velan, suaminya pulang kembali ke rumah itu sudah lebih dari cukup.


Voren segera menuju ke kamarnya, Velan masih mengekori suaminya itu.


"Suamiku, aku akan membantu menggosok punggungmu," kata Velan.


"Istriku, terima kasih. Tapi aku rasa itu tidak perlu," kata Voren.


Velan segera menyiapkan pakaian ganti untuk Voren dan meletakkannya di atas tempat tidur. Velan segera keluar dari kamar dan saling bersitatap dengan Doni.


"Pak Doni, Anda mau teh stroberi?" tanya Velan.


"Terima kasih Nona, saya rasa tidak perlu," jawab Doni.

__ADS_1


"Padahal aku baru membeli teh stroberi yang sedang ada diskon," kata Velan segera memanaskan air di teko listrik.


Velan segera menyeduh teh beraroma stroberi dalam cangkir porselen. Aroma stroberi langsung menguar memenuhi ruangan. Velan segera duduk di belakang meja makan.


Velan diam sambil menyeruput teh buatannya, matanya mengawasi Doni yang nampak bersikap waspada. Doni tentu saja harus terus waspada, mengingat Nona Velan sudah mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Tuan Voren. Doni pun merahasiakan hal tersebut dari Tuan Voren guna menghindari peperangan yang tidak diperlukan.


Doni harus bersikap netral dan tidak perlu memihak antara Nona Velan atau pun Soraya. Yang terpenting adalah reputasi dan nama baik Tuan Voren yang harus dijaga dengan baik.


Voren sudah keluar dari kamar, pria itu mengenakan piyama hitam dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya. Voren mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es.


"Doni, kau bisa pulang sekarang," kata Voren.


"Baik, Tuan," sahut Doni.


"Kalau begitu saya pamit undur diri," kata Doni berpamitan.


Voren segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Velan pun ikut masuk ke dalam kamar. Voren mengambil ponselnya dan segera naik ke atas tempat tidur. Menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Suamiku, aku bantu mengeringkan rambutmu ya," kata Velan.


"Tidak perlu Istriku, nanti akan kering dengan sendirinya," sahut Voren.


Velan sebenarnya kesal dengan sikap dingin Voren yang seperti ini. Dalam hati ia mencaci maki Soraya yang sudah membuat suaminya jadi bersikap dingin padanya. Velan langsung naik ke atas tempat tidur dan bergelayut manja di sisi Voren.


"Suamiku, apa kau tahu, betapa aku kesepian tidur sendirian?" kata Velan.


Voren tersentak kaget karena Velan tiba-tiba merebahkan kepalanya di pangkuan Voren.


"Suamiku, apa kau tahu, kau semakin tampan jika kulihat dari posisi ini," kata Velan.


"Istriku, jangan bicara yang aneh-aneh, aku mau tidur," Voren berusaha menggerakkan kedua pahanya agar Velan menyingkir.


"Istriku, lepaskan aku!" sergah Voren berusaha melepaskan diri.


"Istriku! Jangan!" Voren menahan celananya yang sudah nyaris melorot karena ulah Velan.


"Suamiku! Aku sungguh menginginkanmu! Tiduri aku, Suamiku! Kumohon, Suamiku!" Velan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melucuti celana suaminya.


"Istriku!" sergah Voren.


Argh, wanita gila ini mau mencabuliku! Yang benar saja! Maki Voren dalam hatinya.


Voren berguling dan mengunci Velan yang terhempas ke atas kasur. Voren merayap turun dari tempat tidur sambil menarik kembali celananya.


Velan menangkap kaki Voren dan mereka kembali bergulat di lantai. Voren berusaha melepaskan diri, ia bisa saja menggunakan kekerasan, namun ia cukup santun untuk tidak melakukannya.


"Baiklah Istriku, mari kita lakukan!" kata Voren dengan napasnya yang terengah-engah.


Velan terperangah karena pada akhirnya suaminya menyerah juga. Ia begitu senang saat Voren menggendongnya dan membaringkannya ke atas kasur.


Voren dan Velan saling bertatapan, jantung Velan benar-benar berdegup kencang dan birahi benar-benar sudah menguasainya seutuhnya.


Voren menghitung dalam hati.


Satu, dua, tiga...


Voren melompat dari tempat tidur, berlari saat membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Suamiku!" teriak Velan melompat turun dari kasur.


Voren membuka pintu depan, ia berlari tunggang langgang dari kejaran istrinya yang jelas sekali terobsesi untuk tidur dengannya. Voren berlari ke arah lift khusus, menekan panel menuju ke lobi. Saat ini ketegangan benar-benar menyerangnya, memacu adrenalinnya untuk bekerja gila-gilaan.


"Suamiku!" teriakan Velan membuat Voren merasakan teror yang nyata seperti di film-film dengan genre thriller.


Voren berlari seakan ia adalah atlet perwakilan tanah air yang berlaga di kejuaraan lari internasional. Dinginnya udara malam sama sekali tak lagi ia rasakan.


Hingga Voren sudah tak mendengar teriakan yang begitu horor di telinganya.


...~...


Serombongan pria berpakaian menyerupai wanita yang baru saja mangkal di pinggir jalan mengarahkan pandangan mereka pada sosok pria yang nampak berjalan dalam keadaan linglung. Pria itu hanya mengenakan piyama dan tanpa alas kaki.


"Hai, lekong ganteng! Kesindang dong!" panggil pria dengan rambut panjang, pakaian pendek dan ketat, serta stoking jala-jala.


Voren mengabaikan panggilan para waria yang nampak menatapnya penuh minat.


"Hei, ganteng! Main sama kita-kita, yuk," goda mereka.


Voren benar-benar memilih mengacuhkan para wanita jadi-jadian itu yang justru malah mengikuti langkahnya.


"Idih, ganteng-ganteng sombong!" cibir mereka lagi.


"Baru kabur dari rumah sakit jiwa ya? Cuma pake baju bobo," sahut mereka sambil mencoba mencolek-colek Voren.


"Jangan sentuh aku!" bentak Voren.


"Ihh, ya ampun! Bikin gemes deh," para pria berpenampilan wanita itu makin gencar menggoda Voren.


"Argh sial!" Voren langsung kembali berlari dari kejaran para waria.


Apa salah dan dosaku?! Sial sekali aku hari ini! Di rumah diganggu wanita gila! Sekarang dikejar wanita jadi-jadian! rutuk Voren dalam hatinya.


"Hei ganteng, tunggu dong!" seru para waria.


"Pergi kalian semua! Pergi!" teriak Voren penuh kemurkaan.


Sebuah mobil mewah pun terhenti mendadak karena Voren menyeberang jalan tanpa melihat-lihat keadaan sekitar.


Pengemudi mobil mewah tersebut turun dari mobilnya.


"Voren?!"


...~...


Velan merasa frustrasi, dengan napasnya yang tersengal-sengal dan langkah yang gontai ia menyusuri koridor menuju ke unit apartemennya. Tubuhnya limbung begitu memasuki ruang tamu.


Derai air mata kembali membasahi pipinya.


"Arghhh!!" raung Velan sambil memukuli lantai.


Ia benci dengan situasi yang saat ini benar-benar sedang menguji kewarasannya. Masalah utangnya, perselingkuhan suaminya, hingga ibu mertua yang meminta momongan begitu membuat Velan tertekan.


"Aku harus bagaimana?!" teriak Velan sambil menjambak rambutnya.


"Apa yang harus kulakukan?!"

__ADS_1


Velan menangis sambil menjerit histeris dalam kesendiriannya lantaran merasa terjebak dalam lingkaran masalah yang tak berujung.


...~...


__ADS_2