Jodoh Instan

Jodoh Instan
Resepsi part 2


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan yang mewah dan meriah itu masih berlangsung. Banyak rangkaian acara yang harus dilakukan oleh Velan dan juga Voren sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh MC.


Velan benar-benar merasa grogi saat mereka berdua harus memegang pisau panjang untuk memotong kue pengantin bertingkat lima berwarna putih berbentuk lingkaran yang tersusun rapi dengan hiasan bunga-bunga berwarna perak terbuat dari cokelat.


Setelah pemotongan kue, mereka juga melakukan ritual berupa aksi saling suap kue yang mengundang kehebohan para tamu.


Velan begitu gugup saat Voren menyuapkan potongan kue ke mulut Velan, akibatnya sendok kecil itu terjatuh ke lantai dan jemari Voren masuk sempurna ke mulut Velan.


Voren terkesiap, namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya, ia menyeringai saat menarik jarinya dari mulut Velan.


Keempat kakak Velan yang bersorak dan bertepuk tangan paling heboh.


"Wah, Vels jangan di sini! Nanti saja di kamar!" seru Taki yang langsung mengundang gelak tawa dari para tamu.


"Wah, pengantinnya sudah tidak sabar sepertinya!" Toro tergelak heboh.


Velan merasa wajahnya memanas, ia benar-benar hanya bisa menunduk malu. Sementara Voren nampak menyikapi dengan santai, senyum sejuta voltnya itu benar-benar mengalihkan semuanya.


Taki dan Toro terlihat sudah bersiap di depan panggung untuk menyumbangkan satu sampai dua album lagu. Tidak, kalau satu sampai dua album lebih baik mereka karaokean di tempat karaoke keluarga.


Toro mulai memetik gitarnya sementara Taki mulai menyanyi. Velan bertepuk tangan heboh, setidaknya Taki tidak hanya menyanyi di kamar mandi.


"Mau berdansa?" tanya Voren ke arah Velan.


"Aku tidak bisa dansa," jawab Velan sambil menggeleng.


"Tidak masalah, kau hanya perlu mengikutiku saja," kata Voren.


Velan merasa hari ini benar-benar hari paling indah dalam hidupnya. Ia bisa berdansa bersama pria yang kini menjadi suaminya di depan semua mata yang saat ini tak lepas memandangnya. Dan ia benar-benar jatuh cinta pada pria dengan senyum menawan ini.


"Silakan yang lajang, yang jauh mendekat, yang sudah dekat merapat, sebentar lagi pengantin kita akan melempar buket bunganya," terdengar MC berseru heboh.


Terlihat empat kakak laki-laki Velan berkumpul bersama para wanita lajang yang menunggu proses lempar bunga yang konon katanya membuat penangkap bunga akan menjadi calon pengantin selanjutnya.


"Loh, kenapa kau ikut juga, Taki?! Bukankah tadi katanya kau tidak mau ikut?" tanya Toro.


"Meramaikan saja," sahut Taki.


Toro, Yoyok, dan Tomi berpandangan.


Tak akan kubiarkan kalian enak-enak pegang-pegang wanita cantik sendirian! Aku mau juga, dong! Taki menyeringai jahat.


Velan dan Voren kembali bertukar pandang, Velan sungguh tak mampu berkata-kata karena sudah sepenuhnya terhipnotis pesona suaminya itu. Mereka berdua sama-sama memegang buket bunga tersebut. Lagi-lagi mereka hanya saling menatap sehingga membuat Velan benar-benar sangat salah tingkah.


"Satu, dua, tiga!" seru MC bersamaan dengan Velan dan Voren yang melemparkan buket bunga itu dengan posisi membelakangi para penangkap buket bunga.


Buket bunga itu terbang ke udara, terlihat buket itu menjadi rebutan para wanita dan empat pria lajang yang tidak tahu malu karena ikut berebut bersama para wanita. Aksi saling dorong antara keempat pria itu mengundang gelak tawa para tamu. Mereka semua terjatuh berjamaah dan alhasil menjadi bahan tertawaan.


Taki yang pada dasarnya sangat suka menjadi pusat perhatian tentulah sangat menyukai momen tersebut. Sementara itu terlihat Toro, Yoyok, dan Tomi memilih pergi sambil menutup wajah mereka.


Velan tertawa melihat kelakuan keempat kakaknya itu, namun tiba-tiba tawanya terhenti karena suaminya menatap ke arahnya. Pria itu tersenyum, lagi-lagi menunjukkan dua lesung pipi yang begitu memikat. Sungguh, bagi Velan ia benar-benar sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada pesona suaminya ini. Tidak masalah kan, ia jatuh cinta pada suaminya sendiri bukan suami orang.

__ADS_1


Terlihat seorang pria dan seorang wanita menuju ke pelaminan menghampiri Velan dan suaminya. Velan mengulas senyum, berani juga pria itu datang memenuhi undangan Velan, sungguh muka tembok atau memang sudah tidak punya muka?


"Velan, selamat ya atas pernikahanmu," kata Mila pada Velan.


"Terima kasih sudah datang ya, Mila, Oman," kata Velan.


Pria yang dipanggil Oman itu nampak tersenyum kaku. Oman dulunya dekat dengan Velan. Begitu semua orang menggunjingkannya berkencan dengan Velan, Oman memilih menghindar.


Begitulah kisah cinta Velan yang sama sekali tidak bertepuk, Oman menghindar habis-habisan lantaran merasa malu karena gadis seperti Velan menyukainya. Velan tentu tak bisa melupakan penolakan yang dilakukan oleh Oman, padahal saat itu Velan bahkan belum mengungkapkan perasaannya.


"Selamat ya, Velan, akhirnya kau menikah juga, setelah sekian lama," kata Oman


Perkataan Oman terdengar sangat menyindir Velan.


"Terima kasih Oman, bagiku tak masalah menunggu sedikit lebih lama, toh hasilnya benar-benar sesuai," kata Velan.


"Benar, menunggu yang terbaik lebih baik daripada harus terburu-buru dan akhirnya justru mendapat yang terburuk lalu menyesal," Voren menimpali.


Velan terperangah mendengar perkataan Voren. Apakah suaminya saat ini sedang membelanya?


Lihat, suamiku bahkan lebih hebat segala-galanya darimu, Oman! Sungguh aku menyesali kebodohanku, mengapa dulu bisa tergila-gila pada pria sepertimu, pikir Velan.


Ekspresi Oman nampak menegang saat menatap suami Velan yang memang luar biasa tampan. Sebagai pria tentu saja Oman merasa kalah jauh. Belum lagi perkataan pria itu jelas melukai harga diri Oman sebagai seorang pria.


Velan tersenyum bangga atas pencapaiannya tersebut. Rasanya ingin ia berteriak keras-keras di depan muka Oman.


Sadar diri kau, Oman! Muka kentang sepertimu belagu! Sok cakep! Dasar cumi-cumi busuk!


...~...


"Ihiy, nanti malam ada yang belah duren!" goda Taki ke arah Velan yang hanya diam dan nampak begitu malu-malu di sisi suaminya.


"Kak Taki, apa sih?!" Velan melotot ke arah Taki.


Velan sungguh jadi semakin salah tingkah karena keempat kakaknya menertawakannya. Voren dan Doni nampak saling berpandangan.


"Adik ipar, apa kalian langsung pergi bulan madu?" tanya Yoyok ke arah Voren.


"Maaf, saat ini jadwal pekerjaan saya masih bentrok, mungkin lain waktu saja," jawab Voren.


"Tidak masalah, kan?" Voren bertanya pada Velan.


"I-iya," jawab Velan malu-malu.


"Ihiy! Manisnya pengantin baru ini," puji Tomi.


"Sudah, jangan menggoda adik kalian terus," kata Veny ke arah empat anak laki-lakinya itu.


Veny menatap ke arah Velan. Lagi-lagi Veny meneteskan air mata haru saat memeluk erat Velan.


"Velan, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri," kata Veny.

__ADS_1


"Sikap yang baik akan membawa berkah dalam pernikahanmu. Jadilah istri yang berbakti pada suami agar surga dapat tercipta dalam rumah tanggamu," Veny melanjutkan wejangannya untuk Velan.


"Iya bu, aku mengerti," kata Velan kembali memeluk ibunya.


Vega segera menghampiri keluarga barunya itu. Terlihat Veny dan Pak Totok juga sudah berkumpul bersama anak-anaknya.


"Semuanya, terima kasih atas kerja sama dan partisipasi yang baik hingga acara resepsi pernikahan Voren dan Velan berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti," kata Vega.


"Sama-sama, Bu Vega," sahut keempat kakak Velan begitu antusias.


"Kalian semua pasti sudah lelah, silakan beristirahat," kata Vega.


"Bu Vega, terima kasih banyak, ya," kata Veny sebelum berpamitan dengan Vega.


"Sama-sama Bu Veny, Pak Totok," kata Vega menatap lembut besannya itu.


"Baiklah kalau begitu kami undur diri dulu," kata Tomi.


"Velan, jangang lupa minum antibiotik," pesan Toro sambil terkekeh.


"Bisa bengkak loh, dihajar benda tumpul, wkwkw," Taki tergelak.


"Kak Toro! Kak Taki! Apa sih kalian ini?!" rutuk Velan sambil mengantar kepergian keluarganya.


Vega tersenyum melihat Velan yang nampak begitu salah tingkah. Ia melihat Voren juga nampak santai, Vega benar-benar bersyukur pada akhirnya Voren menerima pernikahan ini. Padahal Vega sempat merasa was-was karena Voren bisa saja masih tetap bersikeras menentang pernikahan ini. Namun melihat sikap Voren yang begitu kooperatif, Vega tentu tak perlu mencemaskan apa pun lagi.


"Velan," kata Vega langsung merangkul Velan.


"Iya, Bu," kata Velan menyahut.


"Kamu tidak lupa kan, apa saja yang sudah kau pelajari untuk mensukseskan malam pertamamu dengan Voren?" tanya Vega dengan suara yang rendah.


"I-iya, Bu," jawab Velan malu-malu.


"Ibu sungguh berharap besar padamu, Velan," kata Vega sambil menatap Velan lekat-lekat.


"Kaulah ujung tombak untuk meneruskan generasi keluarga Lazaro, jadi berusahalah melakukan yang terbaik," kata Vega sambil tersenyum sumringah.


"I-iya Bu, terima kasih," kata Velan yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum kikuk.


Vega beralih pada Voren.


"Voren, perlakukan Velan dengan baik dan lembut, Velan adalah istrimu, bukan hanya sekadar pasangan cinta satu malam!" kata Vega.


"Mama," Voren terperangah mendengar perkataan Vega.


Vega tentu saja hanya asal bicara karena ia tak pernah tahu persis bagaimana kehidupan seksual anaknya ini. Terlebih Voren sudah dewasa dan memilih untuk hidup sendiri selama beberapa tahun terakhir.


"Kalau begitu Mama pulang dulu, selamat bersenang-senang," Vega tersenyum sumringah sebelum meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut.


...~...

__ADS_1


__ADS_2