
Voren benar-benar sangat tegang saat melihat dokter kandungan yang saat ini sedang memeriksa kandungan Velan. Alat USG bergerak secara perlahan di atas cairan lengket bening berwarna kebiruan yang disapukan di area perut bawah Velan.
Velan tertegun ketika dokter memperdengarkan detak jantung bayinya. Disusul dengan proyeksi gambar 4D yang memperlihatkan bayi mungil yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya.
"Detak jantung bayi aman, volume air ketuban baik, plasenta dalam ukuran normal," Dokter Simon menjelaskan
"Pendarahan terjadi karena adanya kontraksi, apa Bapak dan Ibu ada melakukan hubungan?" tanya Dokter Simon.
"Tidak ada, Dokter," jawab Voren dengan cepat.
"Ibu, selama hamil usahakan jangan sampai stres karena akan berdampak pada janin dalam kandungan," lanjut Dokter Simon.
Velan hanya diam, matanya masih terpana pada gambar di layar monitor yang memperlihatkan gerakan halus dari bayinya. Velan bisa melihat lengan, tangan, jari, kaki, dan jemari bayinya yang masih berukuran mikro. Ini pertama kalinya ia melihat langsung penampakan bayi yang sedang dikandungnya. Bayi yang sempat membuat Velan berpikir untuk melenyapkannya daripada harus membuat Velan menderita.
Jantung Velan berdebar-debar, seakan ia baru saja melihat makhluk paling indah di dunia ini. Ya, Tuhan memang sedang menciptakan makhluk terindah melalui kuasa-Nya. Tuhan sedang menitipkan salah satu dari sekian banyak kehidupan yang ada di muka bumi ini padanya.
"Ibu harus menjalani bed rest, istirahat total selama minimal tiga hari, minimalkan aktivitas fisik, dan saya akan memberi resep obat penguat kandungan," lanjut Dokter Simon.
"Ibu harus kontrol tiga minggu lagi, agar kita bisa melihat perkembangan janin Ibu."
Dokter Simon kembali ke mejanya, sementara seorang perawat membantu membersihkan sisa gel kebiruan dengan tisu. Voren dengan sigap membantu Velan turun dari ranjang periksa yang cukup tinggi.
Velan masih terbengong-bengong sendiri, ia bahkan sama sekali tidak fokus dengan apa yang dibicarakan oleh Dokter Simon.
Velan duduk di ruang tunggu, sementara Voren dan Doni pergi untuk menebus resep obat.
"Permisi, saya boleh numpang duduk di sini?"
Velan menatap seorang wanita muda dengan perutnya yang besar menghampiri Velan.
"Ya, silakan," jawab Velan.
"Terima kasih," wanita muda itu berusaha untuk duduk.
Wajah wanita muda tersebut terlihat pucat namun sama sekali tidak mengurangi paras cantiknya. Ia mengenakan baju terusan berwarna kuning lembut, membuat perutnya yang besar menjadi pusat perhatian Velan. Velan reflek mengusap perutnya yang nantinya akan sebesar itu.
"Halo," wanita muda itu menjawab teleponnya yang berdering. "Sayang, aku ini sudah mau melahirkan! Kenapa kamu belum juga ada itikad baik untuk menikahiku?!"
Velan tertegun mendengar wanita di sampingnya mulai menangis.
"Kalau kamu plin plan seperti ini, lebih baik dulu aku gugurkan saja bayimu ini! Hiks," wanita itu menangis sesenggukan.
Tangis wanita muda itu benar-benar membuat dada Velan ikut terasa sesak.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan, Sayang! Keterlaluan! Hiks!" wanita muda itu menutup teleponnya. Masih menangis seakan kehabisan napas sambil memegangi perut buncitnya.
Velan menyodorkan tisu untuk wanita muda itu.
"Terima kasih, Mbak," wanita itu mengambil tisu untuk menyeka air mata dan ingusnya.
"Pacar saya sudah berjanji akan menikahi saya, mulai dari perut saya ini masih rata sampai membesar seperti ini, tapi ujung-ujungnya dia malah ragu, apa benar anak dalam kandungan saya ini adalah anaknya! Makanya sampai sekarang belum juga mau menikahi saya," wanita itu mulai bercerita.
Wanita muda itu saat ini memang membutuhkan tempat untuk meluapkan semua unek-unek yang selama ini hanya bisa disimpannya sendiri.
"Aduh, maaf ya, saya jadi curhat, tapi rasanya jadi lebih lega setelah cerita begini," tukas wanita muda itu.
"Tidak masalah, toh kadang seseorang memang perlu orang lain untuk diajak bicara, saya sungguh bisa memahami itu," Velan berusaha mengulas senyumnya.
"Terima kasih ya, Mbak, sudah mau mendengarkan saya," lanjut wanita muda itu.
"Ibu Citra," seorang perawat memanggil nama seseorang.
"Ya, saya," sahut wanita muda itu. "Saya permisi dulu ya, Mbak," wanita muda itu berpamitan pada Velan.
"Ya, silakan," kata Velan.
Velan tertegun melihat wanita muda bernama Citra itu. Dia masih begitu muda, datang seorang diri untuk memeriksakan kandungan tanpa ada yang mendampingi. Bahkan kekasih dari wanita muda itu justru menolak untuk bertanggung jawab.
Entah mengapa hati Velan rasanya mencelos seketika. Tidakkah nasib Velan masih jauh lebih baik daripada nasib wanita itu?
"Istriku," Voren segera menghampiri Velan.
Pria itu sudah kembali bersama Doni dengan membawa satu kantong penuh berisi obat-obatan yang diresepkan oleh Dokter Simon.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Voren.
"Aku lapar," jawab Velan.
"Oh begitu, baiklah, kau mau makan apa?" tanya Voren.
Velan tidak tahu, namun saat ini dalam benaknya ia hanya ingin makan bersama Voren.
...~...
Velan sudah berbaring di tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang sepi. Ia mengusap perutnya yang masih rata, membayangkan bahwa sebentar lagi perutnya akan membesar lantaran bayi dalam kandungannya kini sedang tumbuh dan berkembang.
Voren memasuki kamar Velan, mengantarkan obat yang harus diminum Velan sebelum tidur.
__ADS_1
"Voren," kata Velan terdengar ragu-ragu.
"Ada apa, Istriku?" tanya Voren.
"Malam ini, aku ingin kau menemaniku tidur," jawab Velan.
Voren tertegun melihat Velan yang terlihat menunduk.
"Baiklah," jawab Voren sambil mengulas senyumnya.
"Di sini," Velan menepuk sisi kasurnya yang kosong.
Voren mengulas senyumnya, ia segera naik ke tempat tidur sesuai dengan keinginan Velan.
"Aku mau kau memegangi perutku," pinta Velan.
"Apa kau yakin?" tanya Voren.
"Kau tidak mau?" Velan balik bertanya.
Voren menyeringai lalu segera memeluk Velan dari belakang, lalu meletakkan tangannya di perut Velan. Voren rasanya ingin menangis saking senangnya karena pada akhirnya Velan mengizinkannya sedekat ini.
Velan benar-benar merasa sangat nyaman dalam pelukan Voren. Velan baru menyadari bahwa saat ini ia memang sangat membutuhkan pria ini. Velan sungguh merasa jauh lebih beruntung daripada wanita yang harus melewatkan masa kehamilan seorang diri.
...~...
Velan tertunduk lesu begitu keluar dari kamar mandi. Ia masih menemukan adanya bercak darah yang keluar saat buang air kecil. Hatinya sungguh tidak tenang, sudah hampir satu minggu melakukan istirahat total, namun ia masih mengalami pendarahan.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memeriksa ulang, aku sungguh cemas apakah bayi kita baik-baik saja," kata Voren.
"Tapi kata dokter kita harus menunggu tiga minggu lagi," kata Velan.
"Istriku, dokter memang mengatakan bahwa kita harus datang kontrol tiga minggu lagi untuk melihat perkembangannya, hanya saja menurutku lebih baik kita segera periksa saja, lebih cepat lebih baik," kata Voren.
"Nona Velan, apa yang dikatakan oleh Tuan Voren ada benarnya," Doni menyahut.
...~...
"Bapak, Ibu, kalian harus mengikhlaskan janin kalian," kata Dokter Simon.
Velan merasa ada petir yang menyambar dalam kepalanya.
"Dokter, apa maksud, Dokter?" tanya Voren.
__ADS_1
"Janin yang dikandung istri Anda berhenti berkembang, sudah tidak ada detak jantung yang terdengar, oleh sebab itu, istri Anda harus menjalani prosedur kuret," jawab Dokter Simon.
...~...