
Mila dan Oman adalah pasangan yang sebenarnya sangat dihindari oleh Velan. Velan tentu masih menyimpan kekesalannya pada Oman. Perbuatan pria itu yang dulu nampak memberikan harapan palsu pada Velan tentu tidak mudah dilupakan oleh Velan. Perlu bertahun-tahun bagi Velan untuk melupakan perasaannya pada Oman.
Kenapa pria itu begitu baik, membuat Velan terbawa perasaan, kemudian menghindar habis-habisan?!
Velan yang saat itu berteman baik dengan Mila tentu saja menceritakan semua yang bisa ia ceritakan tentang perasaannya pada Oman. Mulai dari apa yang ia sukai dari Oman hingga rasa kecewanya pada Oman. Namun beberapa tahun kemudian, Oman justru menikahi Mila.
"Kau benar, Velan, Oman sungguh pria yang baik, saat dia mengajakku pacaran, aku sungguh terkejut, kemudian saat dia melamarku, aku tambah terkejut lagi! Tanpa pikir panjang, langsung saja kuterima lamarannya!" kata Mila pada Velan tanpa merasa bersalah sama sekali.
Saat itu Velan sungguh terpukul, seorang sahabat yang menjadi tempatnya untuk bercerita tiba-tiba saja seakan menikung pria yang disukainya. Seakan Mila sudah mengkhianati kepercayaan Velan. Velan sampai merasa tak punya muka lagi untuk menemui Mila. Sejak saat itulah, Velan jadi menjaga jarak dan tidak lagi mengungkapkan rasa tertariknya pada pria kepada teman-temannya. Ia lebih memilih untuk memendam semuanya sendiri. Kejadian Oman sungguh melukai perasaan dan juga harga diri Velan.
"Velan, sungguh kebetulan bertemu di sini," kata Oman.
"Kau menyewa gaun dan menggunakan jasa rias di sini juga ya, Velan?" tanya Mila.
"Aku baru melihat-lihat," jawab Velan. "Kau sewa gaun dan rias di sini?" Velan balik bertanya.
"Benar, aku sudah booking sejak satu bulan yang lalu," jawab Mila.
"Oh begitu," sahut Velan.
"Kau sendiri saja Velan, di mana suamimu?" tanya Oman.
"Ya, aku sendiri saja, karena suamiku begitu sibuk dengan pekerjaannya," jawab Velan.
"Memangnya suamimu bekerja apa, sampai akhir pekan seperti ini begitu sibuk?" tanya Mila.
"Ya, harap maklum, suamiku kan seorang direktur dari perusahaan yang sangat besar! Tentu tidak bisa disamakan dengan pria-pria yang pekerjaannya biasa saja sehingga terkesan bisa membuntuti ke mana pun istrinya pergi," kata Velan sambil mengulas senyumnya kepada Mila dan Oman secara bergantian.
"Oh ya, memangnya suamimu direktur di perusahaan apa, Velan?" tanya Oman.
"Kenapa, Oman? Kau ingin melamar pekerjaan di tempat suamiku?" tanya Velan.
"Yah, kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak dicoba?" jawab Oman.
Velan mengulas senyum kecut.
Aku sungguh akan memohon pada suamiku untuk menjadikanmu petugas kebersihan, Oman!
"Haha, iya sih, tenang saja, rezeki tidak akan ke mana," Velan tertawa dengan tawanya yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Wah, beruntung sekali ya kau, Velan, bisa mendapatkan suami yang begitu tampan dan kaya raya," kata Mila.
"Oh jelas! Aku benar-benar sangaaat beruntung sekali! Memang ya, doa orang yang tersakiti lebih mudah dikabulkan oleh Tuhan," Velan masih tersenyum lebar.
Ekspresi Oman dan Mila nampak berubah masam.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang, aku rasa di sini tidak ada sesuatu yang cocok untuk kukenakan! Sampai ketemu di acara reuni," Velan berpamitan.
Mila dan Oman saling berpandangan melihat Velan yang pergi meninggalkan mereka.
"Mila, kamu kok bisa-bisanya memuji suami Velan seperti itu di hadapanku?" tanya Oman dengan ekspresi tidak senang.
Mila nampak merengut dan menatap kesal ke arah Oman.
"Oman, aku hanya mengatakan hal yang sejujurnya! Suami Velan kan memang begitu tampan dan kaya raya! Mereka bahkan menyelenggarakan pesta pernikahan yang begitu mewah! Sungguh beruntung sekali Velan!" cecar Mila ke arah Oman.
"Mila, jangan bilang kau iri pada Velan!" kata Oman.
"Oman! Hal yang wajar jika semua orang merasa begitu iri pada Velan! Velan yang seperti itu bisa mendapatkan suami yang begitu tampan dan kaya raya!" Mila masih mencecar Oman.
Rasa iri kepada Velan benar-benar membuncah dalam dada Mila.
Aku yang begitu cantik ini harusnya bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya dari suami Velan! Batin Mila.
...~...
Reuni SMA tentu saja menjadi ajang untuk pamer kesuksesan dan keberhasilan apa saja yang sudah dicapai. Berlomba-lomba semua orang menceritakan pencapaian mereka dan membuat semua pendengarnya akan memuji dan berdecak kagum.
Velan segera bergabung di meja Desi dan Lita yang sudah menunggunya.
"Aduh, cantiknya kau Velan, sudah macam ibu negara," puji Lita begitu melihat penampilan Velan.
Velan mengulas senyumnya, ia mengenakan gaun terusan berwarna biru gelap berbahan beludru dengan panjang medium. Ditambah riasan yang sederhana namun justru membuat Velan terlihat mewah. Penampilan Velan juga makin terlihat sempurna dengan tas dan sepatu bermerk untuk menyempurnakan penampilannya. Velan beruntung karena mendapat tempat penyewaan gaun yang juga menyewakan tas dan sepatu bermerk, sehingga bisa ia gunakan untuk sekadar pamer demi menaikkan nilai prestisnya.
"Aku pikir kau tidak datang, Velan," kata Lita.
"Maaf ya, jalanan macet, dari salon aku langsung meluncur ke sini," sahut Velan.
"Suamimu tidak datang, Velan?" tanya Desi.
__ADS_1
"Suamiku masih sibuk, katanya kalau sempat akan menyusul," jawab Velan. "Loh, Sam dan Gian tidak datang?" tanya Velan.
"Mereka masih di lokasi, baru off bulan depan," sahut Lita.
"Hai, teman-teman," Mila dan Oman segera menghampiri meja tempat Velan, Lita, dan Desi berkumpul.
"Kami numpang di sini boleh, ya?" kata Oman.
"Ya, silakan," sahut Lita.
Velan dan Desi saling berpandangan. Mila dan Oman mengulas senyum kepada mereka semua.
"Lita, kau datang sendiri?" tanya Mila.
"Iya, suamiku masih dinas ke luar kota dan anak-anakku tidak mau ikut," jawab Lita.
"Kau sendiri, Desi? Tidak membawa serta pacarmu?" tanya Mila.
Ekspresi Desi berubah masam. Bagi Desi, Mila tetap saja tidak berubah, masih saja kepo dengan urusan orang lain.
"Untuk apa aku membawa pacar ke sini?" Desi balik bertanya.
"Ya, siapa tahu, sekalian bisa memberi pengumuman penting," kata Mila sambil tersenyum.
"Pengumuman?" Desi mengerutkan alisnya.
"Pengumuman pernikahanmu, Desi! Mau sampai kapan kau pacaran terus? Masa' ya, kau tidak ingin seperti Velan, yang tidak ada kabarnya tiba-tiba langsung menyebarkan undangan," sahut Mila begitu antusias.
"Jadi kapan kau menyusul menikah, Desi?" tanya Oman.
Ekspresi Desi benar-benar berubah sangat masam, begitu juga dengan Velan dan Lita. Pasangan suami istri di hadapan mereka ini memang selalu kompak saat melakukan perundungan.
"Coba kamu tanya-tanya sama Velan, apa sih rahasianya sampai Velan mendadak bisa punya suami yang begitu tampan dan kaya raya? Bagaimana Velan, coba kamu kenalkan Desi pada teman-teman suamimu, kasihan dia semakin hari usia makin bertambah, wanita yang jauh lebih muda juga makin banyak! Akan susah mendapatkan pria lajang kalau usia sudah tiga puluh lebih! Kakek-kakek bandot tua saja carinya perempuan yang masih berusia belasan tahun!" beber Mila panjang lebar sambil terkekeh diikuti Oman.
"Mila!" Lita menyela. "Menikah itu bukanlah perlombaan! Toh jodoh tak akan ke mana!"
"Iya sih, jodoh tidak akan ke mana, tapi ya jodoh itu harus dijemput, jangan cuma ditunggu!" sahut Oman.
"Begitu ya, biar kata menikung teman sendiri, yang penting dapat jodoh?!" celetuk Velan.
__ADS_1
Mila dan Oman seketika terdiam sementara Velan hanya mengulas senyum dinginnya.
...~...