Jodoh Instan

Jodoh Instan
Mengembalikan


__ADS_3

Doni menghentikan mobil yang dikemudikannya di depan pelataran rumah mewah yang menjadi kediaman keluarga Lazaro. Doni segera membukakan pintu untuk Tuan Voren yang akhirnya datang untuk menginjakkan kakinya kembali ke rumah mewah tersebut. Di rumah mewah yang luar biasa besar, berada di wilayah eksklusif, serta memiliki akses yang terbatas dengan dunia luar. Bangunan bergaya istana modern dengan halaman yang luas, taman-taman bunga, kebun buah, dan danau buatan mengelilingi area rumah mewah dengan penjagaan yang begitu ketat bersenjata lengkap. Hidup di rumah yang penuh dengan ketatnya peraturan tentu membuat Voren memilih untuk keluar dari rumah itu demi mencari kebebasan.


Kepala pelayan bernama Pak Jun beserta empat orang pelayan langsung menyambut kehadiran Voren.


"Selamat datang, Tuan Voren," sapa Pak Jun.


"Selamat datang, Pak Doni," sapa Pak Jun.


"Pak Jun, aku perlu menemui ibuku," kata Voren.


"Baik, Tuan," jawab Pak Jun.


Pak Jun bergegas mengantarkan dua pria itu menuju ke ruangan tempat Vega berada.


Vega sedang sibuk mengikuti kelas privat melukis saat ruangannya diketuk oleh Pak Jun.


"Masuk," sahut Vega yang tak melepaskan pandangannya dari depan kanvas.


"Mama," kata Voren segera memberi pelukan kepada Vega.


"Voren, tumben kau kemari, ada angin apa?" tanya Vega keheranan.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Ma," kata Voren.


"Kami permisi dulu," kata Doni bergegas pergi meninggalkan ibu dan anak itu bersama Pak Jun.


Guru privat kelas melukis Vega pun ikut keluar dari ruangan tersebut.


"Voren, apa perlu Mama meminta Pak Jun untuk menyiapkan teh?" tanya Vega.


"Mama, itu tidak perlu," jawab Voren mengulas senyumnya.


"Baiklah, memangnya apa hal penting yang ingin kau sampaikan sampai datang menemui Mama seperti ini Voren?" tanya Vega.


"Mama, aku rasa aku akan mengakhiri pernikahanku dengan istriku," jawab Voren mantap.


Vega tersentak kaget mendengar jawaban Voren. Mereka saling berpandangan lama satu sama lain.


"Voren, mengapa kau ingin mengakhiri pernikahanmu? Memangnya ada masalah apa?" tanya Vega.


"Mama, aku mencintai seorang wanita dan itu bukan istriku," jawab Voren.


Vega menghela napas berat melihat kesungguhan di mata Voren.


"Astaga, Voren! Mana bisa begitu! Kau sudah menikah, sudah punya istri, bagaimana kau bisa mencintai wanita lain selain istrimu?" tanya Vega yang langsung memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Mama, aku sudah mencintai Soraya jauh sebelum aku menikah dengan istriku," jawab Voren.


"Aku sudah mencintainya hampir separuh hidupku, Ma, aku tidak bisa mencintai wanita lain selain Soraya," kata Voren.


Vega kembali menarik napas dan menghembuskannya dalam-dalam.


Jadi namanya Soraya, pikir Vega.


"Voren, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal sebelum pernikahanmu dengan Velan?" tanya Vega.


"Mama, aku juga tidak tahu bahwa Soraya akan kembali muncul dalam hidupku! Meski berkali-kali Soraya pergi dari hidupku, namun takdir kembali mempertemukan kami," jawab Voren.


"Lagipula, saat itu bukankah Mama sendiri yang menginginkan aku menikah dengan wanita lain?" tanya Voren.


"Voren, kau selalu menolak perjodohan yang Mama aturkan! Kau pun juga tidak pernah mendiskusikan tentang siapa wanita yang kau cintai, wanita yang kau inginkan! Sedangkan sudah waktunya bagimu untuk menikah dan memberi penerus keluarga! Sehingga Mama pikir lebih baik kau langsung menikah saja dengan wanita yang langsung Mama pilihkan!" Vega menjawab pertanyaan Voren.


"Mama sungguh berharap melalui pernikahan tersebut, seiring berjalannya waktu, kalian bisa saling mengenal dan saling mencintai satu sama lain, karena kalian sudah saling memiliki," Vega melanjutkan.


"Daripada kau mengharapkan cinta yang tidak pasti dari seseorang yang belum tentu kau miliki lebih baik kau mencintai wanita yang menjadi istrimu seutuhnya. Itulah yang menjadi motivasi Mama agar kau menikah, sehingga kau bisa mendapatkan kebahagiaan, Voren," Vega masih menatap Voren.


"Mama, sungguh aku berterima kasih karena Mama sudah sangat memikirkan tentang kebahagiaanku! Tapi, aku bisa menentukan kebahagiaanku sendiri," kata Voren meyakinkan Vega.


"Aku ingin menikah dengan wanita yang kucintai, wanita yang kuinginkan! Aku ingin melamar wanita itu seperti pasangan kekasih pada umumnya! Menggelar pesta pernikahan yang tertutup demi menjaga privasi, dan menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia selama-lamanya," lanjut Voren.


"Mama, hanya pada Soraya-lah aku bisa melihat kebahagiaan sejatiku."


"Mama pasti tahu kan, segala sesuatu yang dipaksakan sungguh kurang baik untuk aku dan istriku! Kami seakan terjebak pada keadaan yang membuat kami tidak nyaman satu sama lain, sungguh aku tidak ingin menyakiti atau pun tersakiti dengan keadaan ini, sehingga aku yakin, perpisahan adalah jalan terbaik bagi kami berdua."


"Jadi kalian sudah sepakat untuk berpisah?" tanya Vega.


"Saat ini tentu istriku masih belum bisa menerimanya, Mama," jawab Voren.


"Mama, aku harap Mama bisa membantuku untuk bicara pada istriku! Aku kembalikan istriku pada Mama," kata Voren lagi.


Vega lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Melihat kesungguhan yang terpancar dari sorot mata Voren tentulah Vega tidak bisa melakukan apa pun lagi. Keputusan tentu ada di tangan Voren karena yang menjalani pernikahan adalah Voren. Sebagai orang tua yang bijaksana tentu saja Vega hanya bisa memberi dukungan tanpa perlu campur tangan.


"Baiklah, jika itu keputusanmu, Voren," kata Vega.


"Mama, terima kasih sudah menerima keputusanku," kata Voren.


...~...


Vega mengulas senyumnya dan langsung memeluk Velan dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Velan, bagaimana keadaanmu?" tanya Vega sambil menatap Velan lekat-lekat.

__ADS_1


Velan menarik senyum yang terasa begitu berat, seberat kehidupannya saat ini.


"Ibu membawa makanan untukmu, mari kita makan bersama," ajak Vega begitu memasuki unit apartemen tersebut.


Vega dan Velan segera duduk di meja makan saat asisten Vega menghidangkan makanan di atas meja makan. Vega bisa melihat kondisi menantunya ini tentu tidak baik-baik saja. Velan terlihat pucat dengan wajah yang sembab. Wanita itu seakan kehilangan gairah hidupnya. Tak ada senyum cerah dan ceria yang biasa ia tampilkan. Yang ada hanya kemurungan seakan di sekelilingnya sedang melayang-layang awan mendung.


"Velan, coba cicipi, Ibu mempraktekkan resep masakan ini dari kelas memasak," kata Vega mengisi piring Velan dengan lauk pauk.


"Ibu, terima kasih," kata Velan.


Velan segera mencicipi masakan Vega, mengunyah lambat-lambat tanpa semangat. Velan bahkan lupa kapan terakhir ia makan dengan benar lantaran merasa begitu terpuruk pasca Voren memutuskan untuk menceraikannya. Velan begitu depresi karena suami yang begitu dicintainya akan segera menceraikannya karena mencintai wanita lain.


"Velan," kata Vega sambil menggenggam tangan Velan.


"Masalah ini pasti sangat berat untukmu," kata Vega.


"Ibu sudah mendengar semuanya," lanjut Vega menatap lurus ke arah Velan.


Velan meneguk air dari dalam gelasnya, berat rasanya untuk bisa menahan air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata.


"Ibu sungguh tidak bermaksud untuk ikut mencampuri urusan rumah tangga kalian, kau dan Voren sudah dewasa, kalian pasti sudah mendiskusikan masalah kalian dengan pikiran yang terbuka," kata Vega.


"Dalam setiap pernikahan masalah pasti ada, pasang surut sebuah hubungan jelas mewarnai perjalanan dari sebuah pernikahan dan perceraian tentu bukan menjadi akhir yang diharapkan oleh pasangan suami istri," lanjut Vega.


Vega menatap Velan lekat-lekat.


"Ibu sungguh minta maaf, karena Ibu sudah memaksa Voren untuk mengikuti kemauan Ibu. Ibu hanya ingin agar Voren menikah, mendapatkan penerus di tengah kondisi krisis generasi penerus keluarga Lazaro, dan berbahagia selamanya," kata Vega menatap lembut ke arah Velan.


"Makanya pada saat Ibu berkonsultasi dengan Madam Yue, beliau merekomendasikanmu pada Ibu. Ibu sungguh yakin dan percaya dengan wanita pilihan Madam Yue sebagai jodoh terbaik untuk Voren, yaitu kau, Velan," lanjut Vega.


Velan cepat-cepat mengusap air mata yang menetes dari pelupuk matanya saat mendengar penjelasan dari Vega.


"Makanya, Ibu tanpa merasa ragu sedikit pun langsung melamarmu untuk Voren! Seakan takdir sudah menggariskan pertemuan kalian untuk bertemu di saat yang tepat," lanjut Vega.


"Velan, Ibu sungguh percaya bahwa kau adalah jodoh untuk Voren, hanya saja Voren masih belum menyadarinya! Ibu sungguh lebih percaya pada wanita pilihan Madam Yue daripada pilihan Voren," kata Vega.


Vega langsung memeluk Velan yang tiba-tiba menangis sesenggukan.


"Ibu, maafkan saya! Saya tidak bisa menjadi wanita yang dipilih Voren," kata Velan.


"Velan, maafkan Ibu ya, sungguh Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu," kata Vega melepas pelukan Velan dan menatap Velan lekat-lekat.


"Velan, percayalah, tak akan lari gunung dikejar, jika sudah waktunya, jodoh pasti ketemu," Vega mengusap air mata di pipi Velan.


"Berbahagialah meski tidak bersama Voren, karena Voren pun begitu yakin sudah menemukan kebahagiaannya sendiri," kata Vega.

__ADS_1


Velan hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang berderai.


...~...


__ADS_2