Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E20


__ADS_3

Velan berdiri di depan pintu kaca menatap hujan deras yang mengguyur sejak semalam. Akibatnya banyak jalan di kota yang terendam banjir dan tidak bisa dilalui kendaraan. Begitulah informasi yang beredar di sosial media, membuat Velan merasa terjebak di unit apartemen mewah ini.


Padahal sejak semalam Velan sudah berencana untuk mengerjakan pesanan brownis di kiosnya. Namun melihat kondisi banjir di beberapa ruas jalan terutama ruas jalan utama akhirnya membuat Velan harus menunggu.


Lamunan Velan buyar tatkala mendengar getaran ponsel. Pria pendusta nomor dua di muka bumi ini meneleponnya. Velan sungguh malas menjawab telepon dari pria itu. Pria yang telah berdusta di depan mata kepala Velan sebagai bentuk pengabdiannya kepada iblis berwajah tampan bernama Voren Lazaro.


Velan memilih untuk mengabaikan saja, namun tak berapa lama muncul pesan di layar datar gawai cerdasnya yang tidak begitu cerdas lantaran sering kali hang karena RAM-nya sudah terseok-seok termakan aplikasi yang selalu update.


"Nona, keadaan gawat darurat, tolong jawab telepon saya," Velan membaca pesan yang masuk dengan lantang.


Velan mencebik, beberapa detik kemudian Doni kembali menelepon Velan. Velan pun terpaksa menjawabnya.


"Nona Velan!" seru Doni begitu Velan menjawab teleponnya.


"Pak Doni, ada apakah?" tanya Velan.


"Nona, apa Anda masih di rumah?" tanya Doni.


"Masih," jawab Velan singkat.


"Nona, saya dalam perjalanan menuju ke sana, tapi saat ini saya sedang terjebak macet akibat banjir!" kata Doni dengan kepanikan yang terdengar jelas dari suaranya.


"Terus, masalah untuk saya, begitu?" tanya Velan.


"Sungguh bukan masalah Anda, Nona, tapi ini masalah Tuan Voren," jawab Doni. "Nona, Tuan Voren mendadak sakit! Saya sudah mencoba berkoordinasi dengan dokter pribadi beliau, tapi kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk mengunjungi Tuan Voren," kata Doni.


"Ya sudah, tidak usah dikunjungi," sahut Velan enteng.


"Nona, bukan begitu, saat ini kondisi Tuan Voren benar-benar sedang gawat, asam lambungnya naik dan penyakit maag beliau kumat," kata Doni.


"Oh begitu, semoga cepat sembuh," sahut Velan dengan dinginnya.


"Nona, saya minta tolong pada Anda, saya mohon dengan sangat, saya kirimkan resep obat dari dokter, tolong tebus di apotek terdekat," pinta Doni.


"Pak Doni, jangan minta tolong pada saya, minta saja pada Soraya! Soraya kan wanita yang dicintai dan diinginkan pria itu dalam keadaan sehat maupun sakit, suka maupun duka! Suruh saja Soraya datang kemari, terserah mau dia berenang kek, terbang kek, itu bukan urusan saya! Jangan mentang-mentang saya ada di rumah ini lantas Anda bisa berpikir untuk memberdayakan saya!" sahut Velan menolak dengan tegas permintaan Doni.


Doni terperangah mendengar Nona Velan yang kembali mencecarnya. Yah, wajar saja sih, wanita itu jelas menyimpan dendam kesumat kepada Tuan Voren.

__ADS_1


Namun saat ini, kesehatan Tuan Voren adalah prioritas Doni. Saat menelepon Doni, Tuan Voren bahkan mengaku telah muntah semalaman.


"Nona Velan, saya sungguh tidak bermaksud memberdayakan Anda, saya hanya meminta tolong berdasarkan rasa kemanusiaan! Tuan Voren benar-benar sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Saya mohon dengan sangat kepada Anda, Nona!" pinta Doni.


"Tolong saya, Nona, sebagai gantinya, saya akan mengabulkan permintaan Anda," kata Doni.


"Maaf, aku sungguh tidak tertarik dengan penawaran Anda, Pak Doni!" sahut Velan.


Doni menghela napasnya, ia benar-benar harus memutar otak.


"Nona, Anda tidak lupa kan, bahwa proses perceraian Anda ada di tangan saya! Cepat atau lambatnya proses itu juga saya yang atur!" kata Doni yang terpaksa harus mengeluarkan kartu As-nya.


"Pak Doni, apa Anda sedang mengancam saya?" tanya Velan.


"Saya tidak sedang mengancam Anda, saya hanya bernegosiasi dengan Anda," jawab Doni diplomatis.


Velan mendengus kesal.


"Saya jugalah yang mengaturkan besaran nominal dana kompensasi yang akan Anda terima. Bukankah Anda menginginkan dana kompensasi itu?" tanya Doni.


Ya, Doni harus bisa mendesak Nona Velan.


"Baiklah, kirimkan resep obat itu sekaligus uangnya!" kata Velan yang menyerah pada keadaan.


"Baik, Nona, silakan kirim nomor rekening Anda" kata Doni.


...~...


Velan bergegas menuju ke apotek terdekat yang lokasinya masih berada di sekitar komplek apartemen.  Menyerahkan foto resep obat yang harus ditebusnya dan membayar semua obat yang membuat Velan tercengang karena nominal yang begitu fantastis. Pantas saja Doni mengirimkan uang dalam jumlah yang begitu besar ke rekening Velan. 


Di apotek ia harus menunggu hampir satu jam lamanya sambil menyaksikan berita di televisi lokal yang menginformasikan status terkini dari banjir yang merendam beberapa daerah di kota. Kondisi geografis kota yang berada di pinggir laut, air laut yang pasang, dan derasnya hujan benar-benar membuat kota ini seakan lumpuh total akibat terendam banjir.


"Atas nama Tuan Voren Lazaro," pegawai apotek membuat panggilan.


Velan segera menuju ke bagian pengambilan obat. Velan tentu terkejut melihat tumpukan obat yang jumlahnya hampir selusin. 


"Tolong diperhatikan dengan benar petunjuk konsumsinya, untuk obat maag ada yang diminum satu jam sebelum dan setelah makan, untuk obat mual satu jam sebelum makan, obat demam diminum per empat jam, vitamin yang ini diminum satu kali sehari, untuk yang ini, dua kali sehari, obat flu dan batuk setelah makan," pegawai apotek menjelaskan kepada Velan.

__ADS_1


"Baik, saya mengerti," jawab Velan.


Obat sebanyak ini apa tidak over dosis ya? Batin Velan sambil meninggalkan apotek.


...~...


Velan sudah tiba di unit apartemen dan langsung mengetuk pintu kamar Voren.


Tok...


Tok...


"Tuan Voren, saya letakkan obat di depan pintu, silakan ambil sendiri!" seru Velan.


Velan bisa mendengar pria itu berhuek-huek ria.


"Masa bodoh!" rutuk Velan.


Ponsel Velan kembali berdering.


"Halo, Pak Doni, saya sudah membeli obat di apotek!" kata Velan.


"Nona, tolong bantu Tuan Voren minum obat," kata Doni.


"Aduh, apa lagi sih, Pak Doni?!" keluh Velan.


"Tuan Voren tidak bisa minum obat dalam bentuk tablet atau pun kapsul, sehingga obatnya harus dihancurkan dulu hingga berbentuk puyer," kata Doni.


"Alamak, suruh saja dia mengunyahnya sendiri!" keluh Velan. "Kenapa juga tidak minta obat dalam bentuk sirup?!" cibir Velan.


"Obat dalam bentuk sirup pasti mengandung gula, Nona," sahut Doni.


"Astaga, apa saat sakit pun dia masih memikirkan diet gulanya? Apa dia itu masih bayi?!" rutuk Velan.


"Nona, saya minta tolong, lagi pula kondisi Tuan Voren juga saat ini begitu lemah karena semalaman Tuan Voren muntah-muntah," kata Doni.


Velan mendelik gusar, para pria ini benar-benar jelas sekali berusaha untuk mengeksploitasinya.

__ADS_1


"Saya mohon kepada Anda, Nona, saat ini, Anda lah satu-satunya orang yang berada di sekitar Tuan Voren," Doni kembali memohon.


...~...


__ADS_2