
Doni Damien
Pria itu bergegas memasuki mobil dan mengemudikannya dengan cepat. Pertemuannya dengan Dinar di restoran, terlibat perseteruan dengan kekasih Dinar, hingga berbincang-bincang dengan Dinar sungguh menyita waktunya.
Tuan Voren yang biasa makan malam sebelum jam enam sore akhir-akhir ini kerap makan lebih malam lantaran pria itu kehilangan selera makannya. Penyebabnya adalah banyaknya pekerjaan yang beberapa waktu lalu sempat tertinggal lantaran Tuan Voren terfokus pada kesembuhan Soraya. Akibatnya mereka berdua harus bekerja lebih ekstra dari biasanya.
Sesampainya di ruang kerja Tuan Voren, Doni terkejut karena atasannya itu memasang ekspresi kesal.
"Kenapa kau baru datang, Doni?" tanya Voren.
"Maaf, Tuan," jawab Doni.
"Aku hanya menyuruhmu membeli steik daging di restoran steik yang jaraknya hanya lima kilometer dari sini! Kondisi jalan juga tidak macet, kenapa sampai menghabiskan waktu hampir dua jam lamanya?" tanya Voren.
"Maaf Tuan, tadi ada sedikit masalah yang harus saya luruskan," jawab Doni.
"Lebih penting mana, meluruskan masalahmu itu ataukah perutku yang sudah begitu lapar hanya untuk menunggumu datang, Doni?!" cecar Voren.
"Lambungku seakan sudah hendak mencerna dirinya sendiri! Bagaimana jika penyakit maagku kambuh? Bagaimana jika aku harus terbaring tak berdaya di rumah sakit dan meninggalkan lagi semua pekerjaan ini, Doni?! Siapa yang akan bertanggung jawab?!" Voren masih tetap mencecar Doni.
Doni hanya diam, membiarkan Tuan Voren meluapkan kemarahan beliau padanya. Saat Tuan Voren sedang marah seperti ini, diam adalah hal yang paling bijaksana.
"Maaf Tuan, akan segera saya siapkan makanan Anda," kata Doni.
"Tidak perlu! Aku sudah merasa kenyang lantaran menunggu lama!" keluh Voren.
Doni kembali diam, ia mulai membuka bungkusan makanan yang dibawanya. Ia sudah hafal, Tuan Voren benar-benar rese' saat sedang marah.
Voren kembali duduk di meja kerjanya, berkutat di depan tumpukan dokumen yang harus diperiksa.
"Tuan, akan saya hangatkan kembali makanan Anda," kata Doni.
Voren tidak menyahut dan memilih mengabaikan Doni. Doni menghela napas berat, saat sedang benar-benar marah, pria itu memilih diam.
Doni segera keluar dari ruang kerja Tuan Voren dan membawa makanan itu ke pantry untuk dihangatkan kembali.
Begitulah, Doni sudah terbiasa menjadi sasaran amukan Tuan Voren. Sepuluh tahun ia sudah bekerja sebagai asisten pria itu, namun sebenarnya ia sudah mengenal Tuan Voren sejak pria itu masih duduk di sekolah menengah atas.
__ADS_1
...*****...
Doni Damien merupakan anak laki-laki sulung dari tujuh bersaudara. Ia memiliki enam orang saudari. Ayah Doni bernama Dodi, bekerja sebagai pekerja serabutan yang kerap berpindah-pindah kerja. Ibu Doni bernama Nilam, adalah seorang buruh cuci dari rumah ke rumah yang membutuhkan jasa beliau.
Meski berasal dari keluarga dengan ekonomi yang benar-benar serba kekurangan, namun Doni memiliki impian untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi bergengsi.
"Doni, kamu jangan ketinggian mimpi! Kita ini orang susah! Pokoknya begitu kamu lulus SMA, kamu cari kerja yang bagus!" kata Nilam.
"Tapi Bu, zaman sekarang, kalau mau dapat pekerjaan bagus, harus lulus dari universitas yang bagus juga! Sekarang perusahaan-perusahaan besar mencari pegawai yang tidak hanya sekadar pintar, tapi juga harus ada almamater bergengsi," kata Doni membela diri.
"Doni, kita ini orang susah! Bisa makan sehari dua kali saja sudah bagus! Tidak usah membahas kuliah lagi!" keluh Nilam.
"Kalau saja kamu itu perempuan, Ibu pasti sudah merelakanmu diambil juragan-juragan yang mau sama kamu!" gerutu Nilam.
Nilam beralih pada anak-anak perempuannya yang nampak merengut ke arahnya.
"Ibu, tapi apa yang Abang katakan itu benar, zaman sekarang berbeda dengan zaman dulu Bu, aku juga mau sekolah yang tinggi dan dapat pekerjaan bagus," kata Nada, adik pertama Doni.
"Iya Bu, aku juga mau," kata Nining, adik kedua Doni.
"Kalian ini juga, kenapa sih tidak ada yang berwajah cantik seperti anak-anak tetangga?! Kalau ada yang mau sama kalian, kalian langsung menikah saja! Sayang sekali kalian ini tidak ada cantik-cantiknya!" omel Nilam.
Saat itu Doni tentu saja merasa terpuruk. Padahal pihak sekolahnya sudah merekomendasikannya beberapa perguruan tinggi bergengsi berkat kecerdasan yang dimiliki Doni.
Doni bisa bersekolah di SMA Negeri terbaik di kota juga berkat mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Doni pun kerjanya hanya belajar dan belajar. Karena menurut para guru, jika Doni dapat mempertahankan prestasi akademiknya, ia bisa mengajukan beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi bergengsi.
...*****...
Suatu hari, kelas Doni kedatangan murid pindahan. Murid yang langsung menjadi perbincangan lantaran pindah sekolah di tahun ketiganya.
Pemuda itu bernama Voren Lazaro. Pemuda itu memiliki kulit seputih susu, tubuh bongsor, dan pipi yang bulat seperti bakpao kukus. Sungguh menggemaskan dan membuat siapapun pasti ingin mencubit pipinya.
"Voren, kau bisa duduk di samping Doni," kata wali kelas mempersilakan Voren untuk duduk di kursi kosong yang ada di samping Doni.
"Hai," sapa Voren dengan senyum yang mengembang dan memperlihatkan dua lesung pipinya.
"Hai," Doni balas menyapa Voren.
__ADS_1
"Hai Voren, katanya kau pindahan dari SMA khusus anak-anak orang kaya ya?!" tanya Beni yang duduk di depan Doni.
"Benar," jawab Voren singkat.
"Wah, berarti kau anak orang kaya dong," sahut Budi yang duduk di samping Beni.
Voren hanya mengulas senyumnya.
"Kenapa kau pindah dari sekolah khusus itu? Apa orang tuamu bangkrut dan tak mampu membayar uang sekolahmu?" tanya Beni lagi.
"Teman-teman, wawancaranya nanti saja, sekarang kita harus belajar," kata Doni menyela sesi wawancara itu.
"Huu, tidak seru kau, Doni," rutuk Beni.
"Dasar kutu buku," cibir Budi.
Doni kembali berkutat dengan buku pelajarannya. Ia terperangah melihat teman sebangkunya ini bukannya mengeluarkan buku pelajaran, pemuda itu malah mengeluarkan camilan berupa cokelat, keripik kentang, dan kue-kue. Ia juga mengeluarkan game portable keluaran teranyar di zaman itu.
Voren dengan santainya menggunakan buku sebagai tameng untuk menutupi game portable yang sedang dimainkannya.
Doni tentu saja merasa konsentrasinya terganggu, karena ia tentu penasaran dengan permainan yang sedang dimainkan oleh teman sebangkunya ini. Terlebih game portable itu adalah produk yang baru dirilis dan begitu heboh karena semua orang membicarakannya. Siapa yang akan menduga bahwa Doni sebangku dengan salah satu anak yang mempunyai game portable keren tersebut?
Doni pun melirik tipis-tipis untuk menyaksikan permainan apa yang sedang dimainkan oleh teman sebangkunya ini.
Voren bahkan diam-diam mengunyah cokelat. Doni hanya bisa mengelus dada melihat teman sebangkunya ini seakan pemuda itu sedang ada di rumah, bukannya berada dalam kelas.
"Kau mau main juga?" tanya Voren yang memergoki Doni sedang melotot seakan bola matanya nyaris keluar.
"Oh, tidak," sahut Doni.
"Ini, main saja kalau kau mau, aku sudah bosan," Voren menyodorkan game portable tersebut ke atas buku Doni.
Doni gemetaran dan langsung mendirikan posisi bukunya untuk menutupi kehadiran game portable keren di mejanya.
Doni jadi mengerti godaan yang Adam terima saat Adam tergoda untuk mencicipi buah terlarang yang membuat Adam terlempar dari surga.
Hari itu, untuk pertama kali, Doni tidak memerhatikan pelajarannya dan malah bermain game portable karena tergoda oleh bujukan Voren.
__ADS_1
...*****...