Jodoh Instan

Jodoh Instan
Mencari Doni


__ADS_3

"Daren!" seru Voren begitu melihat pengemudi mobil mewah itu menghampirinya.


Daren mengerutkan alis melihat Voren yang hanya mengenakan piyama, tanpa alas kaki, dengan napas terengah-engah berusaha kabur dari kejaran para waria.


"Daren, bawa aku pergi sekarang!" Voren langsung berlari masuk ke mobil Daren.


Daren melihat para waria yang nampak kecewa karena buruan mereka lepas begitu saja. Daren kembali masuk ke dalam mobilnya, duduk di belakang kemudi, lalu menginjak pedal gas. Mobil mewah itu pun melesat menembus malam.


"Voren, kau mau ke mana malam-malam begini hanya pakai piyama sampai dikejar waria begitu?" tanya Daren sambil tetap fokus mengemudi.


"Aduh Daren, kalau kuceritakan akan sangat panjang sekali ceritanya! Bisa-bisa sampai season sembilan belum juga selesai!" keluh Voren sambil memijat pelipis.


"Daren, antar aku ke tempat Doni sekarang," pinta Voren.


"Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu sendiri?" tanya Daren.


Voren tidak segera menjawab pertanyaan Daren.


"Oh, jangan-jangan kau tidak bisa pulang karena bertengkar dengan istrimu ya?" tebak Daren sambil mengulas senyumnya.


"Maaf ya, ini tidak seperti yang kau bayangkan," Voren balas tersenyum.


Namun dalam hati ia mengutuk perbuatan laknat istrinya yang berani sekali mencoba berbuat cabul terhadapnya. Voren bahkan keluar dari rumahnya tanpa membawa apa pun.


"Daren, coba kau telepon Doni dan suruh dia menjemputku sekarang," kata Voren pada Daren.


"Memangnya kau tidak bawa ponsel sendiri?" tanya  Daren.


"Kalau aku membawa ponselku, tak mungkin aku sampai harus menumpang denganmu, Daren," gerutu Voren.


Daren hanya mengulas senyumnya, ia segera menelepon Doni. Beberapa kali Daren mencoba menelepon Doni namun tidak ada jawaban dari pria itu.


"Doni, aku bahkan selalu menyuruhnya untuk siaga selama dua puluh empat jam! Ini baru jam berapa dia sudah tidak menjawab teleponku!" omel Voren.


"Voren, bisa saja Doni tidak menjawab teleponmu karena kau menggunakan ponselku!" kata Daren menanggapi omelan Voren.


Voren memutar bola matanya, ia sebenarnya ragu untuk turun dari mobil. Ia terlalu gengsi lantaran hanya mengenakan piyama, ia bahkan sama sekali tidak mengenakan alas kaki. Tak heran orang pasti berpikir ia adalah orang gila yang keluyuran di tengah malam.


"Daren, apa kau tidak punya coat panjang atau apa pun yang lebih layak kugunakan untuk menutupi piyamaku ini?" tanya Voren.


"Maaf Voren, aku baru pulang dari gym, jadi tidak ada pakaian lebih yang bisa kupinjamkan," jawab Daren.


"Kalau begitu, temani aku ke unit Doni," perintah Voren.


"Astaga, memangnya kau tidak bisa pergi sendiri?" tanya Daren seraya tertawa.


"Yah, setidaknya aku tidak akan disangka orang gila jika kau menemaniku!" sahut Voren.


Voren segera keluar dari mobil menuju ke lobi apartemen tempat Doni tinggal. Daren terpaksa mengekori Voren menyusuri koridor yang nampak begitu sepi.

__ADS_1


Voren segera menekan bel di samping pintu masuk unit apartemen Doni.


"Doni!" panggil Voren sambil menggedor pintu depan unit tersebut.


"Doni! Buka pintunya!" seru Voren.


"Voren! Jangan teriak-teriak begitu! Kau bisa membangunkan penghuni unit lain!" tegur Daren.


Voren merengut, ia memandangi Daren.


"Sepertinya Doni tidak ada di dalam," keluh Voren.


"Biasanya dia pasti akan membukakan pintu jika aku sudah menggedor seperti ini," lanjut Voren.


"Jadi, kau mau menunggu Doni atau bagaimana?" tanya Daren.


"Aku mau menginap di hotel saja," sahut Voren.


"Carikan aku hotel," perintah Voren.


"Astaga Voren, kau pikir aku ini sekretarismu?" sindir Daren.


"Daren, kau kan pria yang baik, pandai, rajin menabung, dan suka menolong," sahut Voren sambil mengulas senyumnya.


Daren hanya menghela napas berat, kalau saja ia tidak mengenal Voren dengan baik, ia pasti sudah akan meninggalkan pria itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Dinar untuk membantumu," kata Daren.


"Daren, kau mau pulang kan? Aku akan menunggu Doni di rumahmu saja," kata Voren.


...~...


Daren menghentikan mobilnya di area parkir sebuah rumah mewah yang berada di kawasan perumahan elit. Rumah mewah bergaya minimalis yang ditempati Daren seorang diri. 


Voren segera turun dari mobil dan mengekori Daren yang membuka pintu rumah tersebut. Voren menatap sekeliling rumah yang nampak kosong dan minim perabot. Mata Voren menangkap beberapa dus yang nampak tersusun di sudut ruang tamu.


"Kau mau pindah, Daren?" tanya Voren.


"Begitulah," jawab Daren singkat.


"Kau mau pindah ke mana?" tanya Voren.


Daren mengulas senyum misterius.


"Maaf Voren, aku tidak bisa mengatakannya," jawab  Daren.


"Yah, aku juga tidak peduli kau mau pindah ke mana," sahut Voren sekenanya.


Daren kembali mengulas senyum melihat Voren yang memang kerap bersikap seenaknya.

__ADS_1


"Daren, yang penting sekarang kau pinjami aku baju yang lebih layak untuk kugunakan! Aku akan menginap di hotel saja," kata Voren.


"Kau cari saja sendiri di ruangan itu," Daren menunjuk ke arah pintu ruangan yang tertutup di depan ruang tengah.


Ruangan tersebut dijadikan Daren sebagai ruangan pakaiannya. Beberapa pakaian yang belum dikemas masih tersisa di lemari pakaian.


Voren membuka pintu ruangan tersebut, namun jantungnya nyaris lepas lantaran melihat sesuatu yang mengerikan muncul di hadapannya.


"Daren!" seru Voren.


Daren yang berada di dapur tentu saja terkejut mendengar seruan Voren. 


"Ada apa lagi, Voren?" katanya sambil bergegas menghampiri Voren.


Daren tertegun melihat ruangan pakaiannya yang nampak kacau. Darah membanjiri lantai dan lemari-lemari dengan banyak cermin juga nampak bersimbah darah.


"Hueek...," Voren merasa mual melihat pemandangan dan aroma ruangan yang berbau anyir dan busuk.


"Haha, Voren, kau jangan bereaksi berlebihan begitu," Daren tertawa kecil.


"Daren! Kau melihat banyaknya darah dan tertawa! Apa kau ini psiko?!" keluh Voren.


Daren berjongkok dan mencolek darah yang menggenang di lantai.


"Voren, ini hanya darah ayam, bukan darah manusia," kata Daren.


"Lagipula ini bukan pertama kalinya aku mendapat teror seperti ini," lanjut Daren.


"Siapa yang melakukan hal gila macam ini?" tanya Voren.


"Entahlah, Voren, aku juga tidak tahu," jawab Daren singkat.


"Jangan bilang ini ulah mantan-mantan kekasihmu yang tidak terima kau putuskan!" ejek Voren.


"Voren, apa kau tahu, aku malah berpikir teror-teror yang kuterima ini berasal dari pihak yang tidak senang aku mengikuti kompetisi memperebutkan kursi Presiden Direktur," kata Daren.


"Kenapa kau tidak melaporkan hal ini ke polisi?" tanya Voren.


Daren mengulas kembali senyumnya.


"Voren, jika aku sampai melaporkan hal seperti ini pada polisi, secara tidak langsung mereka akan berpikir bahwa aku merasa gentar dan takut dengan ancaman-ancaman dari mereka! Dengan demikian mereka jelas merasa sudah berhasil menjalankan rencana mereka," lanjut Daren.


"Lantas kau hanya berdiam diri saja mereka menerormu seperti ini?" tanya Voren.


Daren mengambil ponselnya dan mulai memotret ruangan tersebut. Di ponselnya sudah banyak foto-foto yang menjadi bukti aksi teror yang diterimanya selama ini. Namun Daren memilih diam sambil mengawasi.


"Terserah mereka saja, aku tidak mau ambil pusing," sahut Daren.


Daren tentu saja tidak akan mengatakan apa pun terkait kasus ini. Baginya siapa saja bisa menjadi lawannya, siapa pun punya kesempatan untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Tidak menutup kemungkinan bahwa Voren bisa saja menjadi pelakunya, kan?


...~...


__ADS_2