Jodoh Instan

Jodoh Instan
Lamaran Vega


__ADS_3

Dua debt collector tersebut segera pergi meninggalkan rumah Velan. Velan dan keempat kakaknya terpaku melihat sosok Vega yang terlihat bak ibu negara datang ke acara resmi. Wanita itu datang dengan pengawalan ketat dari para ajudan berseragam dan berkacamata hitam. Tak heran dua debt collector tadi langsung lari terbirit-birit karena mereka tak ingin terlibat masalah yang justru akan merusak reputasi perusahaan.


"Nona Velan, bisakah kita berbincang lebih lanjut?" tanya Vega.


"I-iya, silakan, Bu Vega, kita bisa berbincang di dalam rumah," jawab Velan.


"Oh ya, Bu Vega, tolong jangan panggil saya Nona Velan, saya merasa canggung mendengarnya," kata Velan.


"Baiklah jika itu maumu, Velan," kata Vega.


Velan segera mengajak Vega untuk masuk ke rumah. Keempat kakak Velan benar-benar terperangah melihat tamu mereka yang nampak luar biasa mewah itu. Para pengawal segera berpencar untuk mengambil posisi masing-masing. Jelas mereka bertugas untuk melindungi Vega.


Vega duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Empat orang pria yang sedari tadi menatapnya memilih duduk bersila di lantai.


"Kenapa duduk di lantai?" tanya Vega pada mereka.


"Tidak apa-apa, Bu, sudah biasa begini," jawab Yoyok.


"Iya Bu, di lantai dingin," sahut Taki.


"Lagi pula bokong Taki bisulan, Bu," Tomi menimpali.


"Iya, kan kamu juga, Tom," Taki langsung menjitak kepala Tomi.


"Aduh!" Tomi mengaduh sambil mengusap kepalanya.


"Taki," tegur Toro sambil melotot.


Taki segera memasang tampang datar, berpura-pura tak ada yang terjadi. Vega tersenyum melihat kelakuan empat orang pria itu.


"Kalian semua saudara Velan?" tanya Vega.


"Benar, Bu," jawab mereka serempak.


"Ngomong-ngomong, dalam rangka apa ya Bu Vega kemari?" tanya Yoyok.


Vega mengulas senyumnya.


Velan datang membawakan secangkir teh yang ia letakkan di atas meja. Velan menyimpan nampan yang dibawanya tepat di bawah meja agar tidak mengganggu.


"Silakan diminum, Bu, maaf tidak bisa menyuguhkan apa-apa," kata Velan.


"Terima kasih ya, tidak perlu repot-repot begitu," kata Vega.


Velan tersenyum kikuk, keempat kakaknya langsung melotot ke arahnya. Mereka jelas bertanya-tanya siapa wanita yang menjadi tamu mereka ini. Tamu yang dari penampilannya begitu mewah seperti ibu pejabat, pengawalannya pun begitu ketat.


"Begini Velan, saya sungguh bukan orang yang pandai berbasa-basi, karena itu saya akan langsung mengutarakan maksud dan tujuan saya datang kemari," kata Vega.

__ADS_1


Velan dan keempat saudaranya menyimak dengan saksama.


"Saya ingin menjodohkan anak saya dengan Velan," kata Vega.


Velan dan keempat kakaknya terperangah mendengar perkataan Vega.


"Oleh karena itu bersediakah Velan menjadi menantu saya?" tanya Vega.


Velan terperangah, apa ia tidak salah dengar?


"Bu Vega, apa Anda yakin?" tanya Velan.


Vega mengangguk sambil tetap mempertahankan senyumnya.


"Bu Vega, apakah anak Anda tampan?" tanya Yoyok antusias.


"Tentu saja, karena anak saya itu kan laki-laki," jawab Vega sambil mengulas senyum.


"Boleh tahu apa pekerjaannya, Bu?" tanya Tomi.


"Anak saya saat ini menjabat sebagai direktur di Emperor Grup," jawab Vega.


"Emperor Grup!" seru Velan beserta saudaranya terbelalak tak percaya.


Emperor Grup sendiri adalah perusahaan raksasa tersohor sebangsa dan setanah air yang kini bahkan telah merambah ke kancah internasional. Bisnisnya pun menggurita dan mengular naga sehingga masuk dalam jajaran sepuluh besar perusahaan dengan aset paling besar sebangsa dan setanah air.


Sungguh gila, seorang direktur dari perusahaan besar itu hendak mempersunting Velan. Velan yang hanyalah remahan rengginang dari kaleng biskuit lebaran.


"Mau! Mau!" seru Taki antusias.


'Iya Bu, Velan pasti mau!" seru Toro tak kalah antusias.


"Memang sudah waktunya Velan untuk menikah!" sahut Yoyok.


Tomi nampak ragu, namun melihat ketiga adiknya begitu antusias, ia bisa apa?


"Bu Vega, apakah Anda serius?" tanya Velan.


"Velan, kalau saya tidak serius, untuk apa saya sampai repot-repot datang menemui Anda dan keluarga seperti ini?" Vega balik bertanya.


"Tapi, ini begitu mendadak, Bu Vega, saya bahkan tidak mengenal anak Anda," jawab Velan.


"Nanti kan bisa kenalan," jawab Vega tanpa ragu.


Velan menatap kesungguhan dari mata Vega.


"Bu Vega, mengapa Anda memilih saya?" tanya Velan.

__ADS_1


"Karena saya sangat yakin dengan pilihan Madam Yue," jawab Vega.


Velan terkesiap, apakah ini artinya Madam Yue berhasil menemukan jodoh untuknya?


"Oh ya, ngomong-ngomong di mana orang tua kalian? Saya ingin bicara langsung dengan mereka,"  kata Vega.


"Orang tua kami di kampung karena bapak kami berobat di sana, Bu," jawab Velan.


"Oh begitu, padahal saya ingin mendiskusikan langsung masalah pernikahan," kata Vega.


"Apa? pernikahan?!" seru Velan lagi-lagi terlonjak kaget berjamaah bersama saudara-saudaranya.


Vega ikut terkejut melihat reaksi mereka semua.


"Pernikahan tentu harus segera dilangsungkan tanpa perlu menunda waktu lagi, karena Velan sudah setuju untuk menikah dengan anak saya, kan?" kata Vega.


"Benar, saya setuju sekali dengan Bu Vega," sahut Tomi penuh semangat.


Velan tak tahu harus bereaksi apa, rasanya ini seperti mimpi. Tiba-tiba saja ia akan menikah dengan seorang pria kaya raya yang akan menjadi juru selamat untuk menyelamatkannya dari masalah pelik yang saat ini tengah merundungnya.


Sepertinya ini yang namanya musibah membawa berkah, itulah yang ada dalam pikiran Velan saat ini.


"Kami setuju Velan menikah," kata Yoyok.


"Bu Vega, saya sungguh senang sekali mendengar kabar ini, hanya saja, apakah anak Anda juga bersedia menikah dengan saya?" tanya Velan.


Bukannya Velan tidak senang dengan adanya lamaran mendadak ini, namun ia bahkan tidak tahu pria seperti apa yang akan menikah dengannya. Jika memang pria itu adalah pria yang sesuai dengan kriteria Velan tentulah itu bukan masalah. Entah mengapa Velan mendadak bimbang dan ragu.


"Sudah pasti dia akan setuju, kau sungguh tak perlu mencemaskan itu, Velan," kata Vega.


Vega mengembangkan senyumnya, ia segera meraih kedua tangan Velan.


"Velan, kau adalah wanita terpilih untuk mendampingi anak saya, sehingga dia tidak punya alasan untuk menolak kehadiranmu! Kau adalah takdirnya," kata Vega meyakinkan Velan.


Ya, bagi Vega, wanita pilihan Madam Yue ini adalah jodoh dari surga untuk anak laki-lakinya yang kerap menolak saat Vega mengaturkan perjodohan untuknya. Anak laki-laki Vega tentu sudah harus menikah dan menyiapkan pewaris serta penerus keluarga.


"Bagaimana, Velan? Mau kan jadi menantu saya?" tanya Vega sekali lagi.


"Tapi Bu Vega, apa Anda sungguh tidak keberatan dengan latar belakang saya?" tanya Velan.


Vega tersenyum.


"Velan, aku sangat yakin, bahwa jodoh sama sekali tidak memandang latar belakang! Sungguh, saya percaya bahwa kau adalah jodoh yang sudah ditetapkan dari surga," jawab Vega.


Sesungguhnya bagi Vega saat ini yang terpenting adalah wanita ini adalah pilihan langsung dari Madam Yue. Selama wanita ini lajang dan sehat sudah pasti Vega tak mungkin menolaknya.


"Baik Bu Vega, saya ingin menikah dengan anak Anda," kata Velan yang langsung menghapus semua keraguannya.

__ADS_1


Mungkin ini sudah menjadi jalan takdirnya. Berkat bantuan dari Madam Yue yang sudah membantu menemukan jodoh untuknya.


...~...


__ADS_2