Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E30


__ADS_3

Velan keluar dari ruang penatu untuk mengambil air mineral di meja dapur. Langkah Velan terhenti karena melihat kedatangan Voren yang menuju ke dapur. Velan mencebik, lagi-lagi ia mendapati Voren berkeliaran di rumah hanya dengan memakai celana panjang. Entah apa maksud pria itu dengan bertelanjang dada.


Voren terlihat menyusun akuarium mini berisi tujuh ekor ikan peliharaannya di atas meja makan. Satu persatu memindahkan ikan ke dalam gelas berisi air dengan begitu perlahan. Ia akan mencuci semua akuarium itu lalu mengganti airnya.


"Istriku, kenapa semua akuarium anak-anakku sampai kotor seperti ini?" tanya Voren ke arah Velan.


Velan mengedikkan bahunya. "Tanyakan saja pada  mereka," sahut Velan seraya mengambil air mineral yang ada di sudut meja.


Selama ini memang Velan yang mengurus semua ikan-ikan peliharaan Voren seperti merawat anak sendiri. Namun begitu Voren memutuskan untuk berpisah, membuat Velan tidak peduli lagi pada tujuh ekor ikan warna-warni itu. Tak heran akuarium mini itu kini nampak kotor dan tidak terawat lagi.


"Istriku, kau pasti tahu kan, aku begitu sibuk hingga akhirnya jarang bisa membersihkan semua akuarium mereka? Bukankah biasanya kau yang membantuku mengurus mereka?" tanya Voren.


Velan meneguk air mineralnya, lalu menatap sinis ke arah Voren.


"Minta saja Soraya yang mengurusnya!" kata Velan dengan nada begitu ketus.


Voren menarik napas, lagi-lagi Velan memancing emosinya dengan menyeret nama Soraya di tengah pembicaraan mereka.


"Istriku, apa sekarang Soraya ada di sini? Yang ada di rumah ini kan kamu!" kata Voren.


"Ya sudah, suruh saja Soraya datang ke sini! Aku tidak keberatan jika Soraya tinggal bersama di sini! Sehingga aku pun bisa keluar dari rumah ini dan tinggal bersama dengan pria idaman lainku!" sahut Velan dengan entengnya.


Akuarium yang akan dicuci oleh Voren nyaris meluncur dari tangannya. Pria itu meletakkan kembali akuarium itu ke atas meja makan, menatap lurus Velan dengan kedua tangan yang memegangi pinggangnya.


"Istriku, kita bahkan belum resmi bercerai, bisa-bisanya kau bicara seperti itu!" sergah Voren.


"Voren Lazaro! Sekarang atau pun nanti toh kita akan bercerai dan kau akan menikahi Soraya! Apa salahnya jika aku pun mendambakan pernikahan dengan pria idaman lainku?!" Velan menatap tajam ke arah Voren.


Voren tersenyum menatap wanita di hadapannya yang menurut Voren benar-benar pandai bersandiwara.


...~...


Doni membawakan empat buah amplop besar, membuka dan meletakkan isi amplop tersebut di atas meja kerja Tuan Voren selagi pria itu memandang ke luar dinding kaca ruang kerjanya. Menatap kendaraan di bawah sana yang berlalu lalang memadati jalan raya.

__ADS_1


"Tuan, ini adalah laporan hasil penyelidikan dari empat detektif swasta yang saya tugaskan untuk menyelidiki Nona Velan," kata Doni.


Voren segera duduk kembali di kursinya lalu mengamati satu per satu hasil laporan penyelidikan adanya dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh istrinya.


Semua laporan itu memberikan satu kesimpulan yang sama yakni tidak ada sosok pria idaman lain yang hadir dalam kehidupan sang istri.


"Tapi mengapa istriku terlihat seakan dia punya pria idaman lain ya, Doni?" tanya Voren sambil mengamati satu per satu foto-foto yang diambil secara diam-diam.


"Tuan, kalau hanya satu detektif mungkin bisa saja salah, tapi ini empat detektif lho! Masa' iya mereka salah berjamaah?" Doni balik bertanya.


"Menurut pendapat saya, Nona Velan hanya berhalusinasi tentang adanya pria idaman lain. Besar kemungkinan, bahwa Nona Velan mungkin mengalami depresi berat yang mengakibatkan terganggunya kesehatan mental beliau," Doni mengemukakan pendapatnya.


Voren menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap foto-foto kegiatan sehari-hari istrinya yang selama ini tak pernah ia tahu lantaran ia sama sekali tidak peduli pada wanita ini.


"Nona Velan mungkin depresi karena belum bisa menerima perceraian ini. Sebagai bukti, sikap Nona Velan berubah seratus delapan puluh derajat. Nona Velan yang dulu begitu ramah dan ceria, kini menjadi dingin, pemberontak, dan kerap memicu pertengkaran dengan Anda," Doni melanjutkan analisisnya.


"Begitu ya, jadi dia stres berat," Voren masih menatap foto-foto yang menunjukkan Velan sedang tersenyum kepada semua orang yang ditemuinya.


Sementara saat bertemu dengannya, wanita itu selalu merengut, menatap skeptis, bahkan kerap mengabaikannya.


"Huh, dia mencintaiku? Omong kosong macam apa itu? Dia pasti hanya menginginkan uangku saja! Buktinya dia meminta uang kompensasi bahkan sebelum kami resmi bercerai!" Voren tertawa.


"Tapi Tuan, menurut saya, jika memang Nona Velan hanya menginginkan uang Anda, harusnya selama menjalani pernikahan, Nona Velan meminta kartu kredit tanpa limit. Tapi Nona Velan tidak pernah meminta sepeser pun uang Anda, Tuan," Doni menjelaskan.


"Saya bahkan selalu menunggu kalau-kalau Nona Velan meminta uang untuk keperluan pribadinya, namun selama ini Nona Velan tidak pernah melakukannya!" lanjut Doni.


Voren menghela napas berat.


"Tapi dia menginginkan uang kompensasi perceraian!" sahut Voren.


"Itu karena Anda memberikan uang kompensasi perceraian," kata Doni.


Voren tertegun, satu hal lain yang selama ini tidak ia pedulikan kembali terungkap.

__ADS_1


"Sungguh aku tidak peduli, Doni! Pastikan bahwa istriku tidak berbuat macam-macam yang bisa merusak reputasiku! Saat ini kita benar-benar tidak boleh lengah! Satu kesalahan saja bisa membuatku kehilangan kursi Presdir!" Voren melempar laporan penyelidikan itu ke atas meja.


Sejujurnya ia juga ragu, apakah istrinya benar-benar punya pria idaman lain?


...~...


Voren masih mempertahankan senyumnya, mengingat hasil diskusinya dengan Doni yang menduga bahwa istrinya hanya berhalusinasi memiliki pria idaman lain.


Pria idaman lain yang jelas hanya menjadi kekasih dalam delusi istrinya saja.


Entahlah, Voren tidak tahu harus merasa kasihan, ataukah menertawakan betapa istrinya nyaris gila lantaran sebentar lagi akan diceraikan olehnya.


"Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu? Apa kau sudah gila?" tanya Velan membuyarkan lamunan Voren.


"Bukankah yang sudah gila itu kau, Istriku?" Voren balik bertanya.


"Apa? Aku sudah gila?" tanya Velan keheranan.


"Ya, kau sudah gila karena mengaku punya pria idaman lain, padahal pria itu hanya ada dalam anganmu saja!" sahut Voren seraya tertawa.


"Haha! Kau salah, Voren Lazaro! Aku sungguh punya pria idaman lain yang menjadi kekasihku!" Velan tertawa.


"Kekasih? Kekasih halu?!" tanya Voren seraya tertawa.


"Aku benar-benar punya kekasih, Voren Lazaro! Apa kau pikir kau saja yang bisa punya wanita idaman lain?!" sergah Velan.


"Baiklah, begini saja, bagaimana kalau kau ajak pria idaman lainmu itu untuk bertemu denganku? Jadi kau tidak hanya sekadar menyebarkan berita hoax padaku!" tantang Voren.


"Baiklah, bagaimana jika kita pergi kencan ganda?" Velan balas menantang Voren.


"Kencan ganda?! Haha!" Voren tertawa lagi.


"Ya, kencan ganda! Dengan begitu kau bisa bertemu langsung dengan kekasihku! Sehingga kau tidak perlu menunda-nunda lagi perceraian kita!" tantang Velan.

__ADS_1


"Oke! Aku akan meminta Doni untuk mengaturkan jadwal kosong! Kita akan pergi kencan ganda dengan kekasih halumu itu!" Voren mengulas senyum penuh kemenangan.


...~...


__ADS_2