
"Pak Daren, hari ini rapat dengan dewan direksi diundur lantaran Pak Presdir masih belum kembali," kata Dinar sambil membaca informasi yang muncul dari tablet pintarnya.
"Oh begitu," sahut Daren tanpa teralih dari ponselnya.
"Baik Pak, untuk jadwal selanjutnya ada rapat koordinasi dengan tim proyek Arvanas, siang ini jam tiga," Dinar mengingatkan kembali jadwal harian bosnya itu agar beliau tidak lupa.
"Oh, iya, terima kasih sudah mengingatkan, Dinar," Daren menanggapi.
Dinar segera kembali ke meja kerjanya yang berada di luar ruangan kerja Pak Daren. Dinar sudah bekerja selama tiga tahun menjadi sekretaris Pak Daren.
Dinar sendiri memiliki kecantikan di atas rata-rata. Ia berkulit cerah dan mulus. Ia memiliki tinggi 168 cm dan berparas cantik serta mempunyai aura keseksian yang membuat pria manapun tak melepaskan pandangannya dari Dinar.
Ia merasa beruntung bekerja di bawah pimpinan langsung Pak Daren karena menurutnya sejauh ini Pak Daren adalah tipikal atasan yang sangat profesional dalam bekerja. Pria tampan itu juga tidak bersikap genit kepada wanita. Pak Daren sungguh pria yang sangat sopan terhadap wanita.
Hanya saja Dinar selalu menaruh kecurigaan besar terhadap atasannya itu. Pak Daren kerap menjaga jarak dengan wanita bahkan Dinar tak pernah melihat atasannya itu mengencani wanita manapun.
Dinar sadar mungkin Pak Daren harus fokus dulu terhadap pekerjaan beliau yang saat ini memegang jabatan sebagai Direktur Operasional Emperor Grup. Pak Daren pun saat ini juga sedang berkompetisi dalam rangka perebutan posisi Presiden Direktur Emperor Grup, sehingga wajar jika pria itu mengesampingkan urusan pribadinya.
Hanya saja Dinar sungguh menaruh curiga pada Tuan Voren Lazaro, Direktur Keuangan Emperor Grup yang menjadi salah satu saingan Pak Daren dalam memperebutkan kursi kebesaran di Emperor Grup. Pria itu kerap menggoda Pak Daren, dan anehnya Pak Daren justru menanggapi godaan pria itu. Hingga akhirnya mereka kerap saling menggoda satu sama lain.
Dinar sungguh gemas dengan interaksi dua pria tampan yang membuat Dinar merasa curiga bahwa keduanya kemungkinan besar sedang menjalin hubungan rahasia. Toh kedua pria itu sama-sama tidak pernah terdengar mengencani wanita manapun. Keduanya juga kerap terlihat bersama di berbagai kesempatan.
Lalu mendadak terdengar kabar bahwa Tuan Voren Lazaro akhirnya justru menikah.
Sungguh Dinar bertanya-tanya, apa maksud Tuan Voren Lazaro itu menikah, ya? Apa agar pria itu dianggap normal di mata publik?
Yah, padahal cinta itu buta sehingga tidak memandang jenis kelamin, itulah yang selama ini selalu diyakini oleh Dinar.
"Selamat siang, Dinar," sapa Doni yang langsung membuyarkan lamunan Dinar.
"Oh, selamat siang, Doni, Tuan Voren," Dinar menyambut kedatangan dua pria itu.
Panjang umur kau, Tuan Voren! Batin Dinar.
"Tuan Daren ada tamu?" tanya Doni.
"Tidak ada, Doni," jawab Dinar sambil mengulas senyum ramah.
"Kami mau bertemu dengan Tuan Daren," kata Doni.
"Oh, baiklah sebentar," kata Dinar segera meraih gagang telepon dan menghubungi bosnya.
__ADS_1
Voren dan Doni saling berpandangan. Voren tentu tidak mau langsung menerobos masuk ke ruang kerja Daren. Ia tentu harus menghargai posisi Dinar yang menjadi petugas keamanan di depan ruang kerja Daren.
Dinar meletakkan kembali gagang teleponnya, ia beranjak dari kursi dan membukakan pintu ruang kerja Pak Daren.
"Mari, silakan masuk," kata Dinar mempersilakan kedua tamu internal Pak Daren.
Voren dan Doni memasuki ruang kerja Daren. Ruangan kerja Daren memiliki ukuran yang sama dengan ruangan kerja Voren, hanya saja ruangan tersebut jauh lebih minimalis. Hanya ada meja kerja Daren dan sofa untuk mempersilakan tamunya duduk.
"Anda mau minum kopi, Tuan Voren?" tanya Dinar.
"Terima kasih, aku rasa tidak perlu," jawab Voren dingin.
Dinar mengulas senyum, Tuan Voren memang kerap bersikap dingin pada wanita, sehingga Dinar sudah memakluminya.
"Wah Voren, sungguh kebetulan kau datang, ada angin apa?" tanya Daren yang langsung duduk bergabung di sofa.
"Ya, aku begitu merindukanmu padahal baru beberapa jam tidak bertemu," jawab Voren dengan nada mengejek.
Dinar menyembunyikan senyumnya, sungguh menggemaskan sekali melihat interaksi dua pria tampan itu saat saling menggoda.
"Haha," Daren tertawa lagi lalu menatap Voren.
Doni mengeluarkan tumpukan dokumen yang dibawanya dalam tas kerja ke atas meja.
"Aku rasa estimasi semua proyek barumu ini tidak masuk dalam anggaran perusahaan yang telah disetujui oleh Pak Presdir," Voren melanjutkan.
Daren menautkan alisnya.
"Voren, tapi semua proyek baru itu sudah disetujui langsung oleh Pak Presdir," kata Daren sambil mengulas senyum.
Voren mengulas senyumnya.
"Daren, apa Pak Presdir sudah menyetujui nominal anggarannya?" tanya Voren.
Daren masih mengulas senyumnya.
"Aku sungguh kurang yakin, sehingga menurutku, aku perlu mengkonfirmasi langsung padamu," Voren melanjutkan.
"Voren, kalau kau tidak percaya, mengapa kau tidak bertanya langsung pada Pak Presdir?" tanya Daren.
Dinar bersorak dalam hatinya melihat kedua pria tampan itu nampak saling menatap secara intens. Di mata Dinar nampak muncul percikan-percikan api asmara yang berkobar penuh gairah dari tatapan mereka. Terlebih kedua pria tampan itu saling melemparkan senyuman.
__ADS_1
Voren menatap Daren dengan perasaan kesal yang harus ditutupinya dengan baik. Dalam hati, Voren merutuki pria ini yang selalu menjadikan Pak Presdir sebagai tamengnya.
Begitupun dengan Daren yang menatap Voren sambil melemparkan senyumnya. Daren sangat tahu, bagi pria di hadapannya ini, Pak Presdir sudah seperti kartu matinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Voren dan Pak Presdir yang tak lain adalah Ayah Voren memiliki hubungan yang kurang harmonis.
Ponsel Doni bergetar di saku jasnya, ia segera keluar dari ruangan tersebut untuk menjawab telepon. Dinar bergegas mengikuti Doni keluar dari ruangan tersebut, memberikan waktu untuk dua pria tampan itu untuk saling beradu tatapan.
"Baik, baik, saya mengerti, saya tunggu e-mail data estimasi biayanya," kata Doni.
Haha, kau pikir bisa menipuku dengan estimasi biaya abal-abalmu itu, Doni menertawakan lawan bicaranya.
"Baiklah, terima kasih atas informasi Anda," kata Doni sebelum menutup teleponnya.
Doni baru saja berbalik namun langkahnya terhenti karena Dinar menghadang langkahnya. Dinar melemparkan tatapan skeptis dengan senyum misteriusnya.
"Doni," kata Dinar dengan suaranya yang lembut dan gestur tubuhnya yang nampak menggoda.
"Ada apa, Dinar?" tanya Doni berusaha menjaga sikapnya agar tidak nampak salah tingkah lantaran Dinar menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Doni, ada hal yang harus kutanyakan padamu," kata Dinar.
"Iya, kau mau bertanya apa, Dinar?" tanya Doni.
"Doni, apa kau yakin Tuan Voren benar-benar sudah menikah?" tanya Dinar.
"Dinar, bukankah Tuan Daren sudah mendapatkan undangan pernikahan Tuan Voren, tapi beliau tidak bisa menghadiri acara tersebut?" Doni balik bertanya.
Dinar tersenyum misterius, membuat Doni sungguh bertanya-tanya.
"Ya, aneh saja, mengapa Tuan Voren tidak mengundang seluruh karyawan Emperor Grup, sehingga beliau terkesan menyembunyikan pernikahannya," kata Dinar.
"Dinar, Tuan Voren tidak menyembunyikan pernikahannya, beliau hanya sangat membatasi jumlah undangan beliau. Tuan Voren tentu tidak ingin terjadi insiden seperti yang dialami oleh Pimpinan Royal Grup di acara resepsi pernikahannya! Mengundang banyak orang dan justru malah menimbulkan tragedi," jelas Doni panjang lebar.
Terlebih dalam masa pemilihan kursi presiden direktur seperti ini. Siapa kawan dan siapa lawan jelas tidak bisa terdeteksi. Sehingga Tuan Voren sungguh membatasi jumlah undangan pernikahan beliau, pikir Doni.
"Oh begitu, padahal aku sempat berpikir alasan Tuan Voren tidak mau mengundang para karyawan lantaran menjaga perasaan Pak Daren," kata Dinar sambil mengulum senyumnya.
Seketika Doni menegang mendengar perkataan Dinar.
Tuan Voren pasti menikah hanya untuk mendapatkan status dan agar terlihat normal di mata publik, itulah yang saat ini ada dalam pikiran Dinar.
...~...
__ADS_1