Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E49


__ADS_3

Daren segera turun dari mobil, menyerahkan kunci mobil mewahnya kepada petugas valet yang dengan segera membantu memarkirkan mobilnya. Daren memasuki restoran privat yang berada di pusat kota.


Sebuah undangan makan siang dari Tante Vega jelas membuat Daren bertanya-tanya. Menurut beliau ada hal penting yang harus disampaikan dan tidak enak jika tidak dibicarakan secara empat mata.


Vega mengulas senyum ramah saat menyambut kedatangan Daren.


"Daren," Vega langsung memberikan pelukan lembut kepada Daren.


"Tante Vega," Daren membalas singkat pelukan dari Vega.


"Silakan duduk, Daren," kata Vega.


"Terima kasih, Tante," ucap Daren.


Vega mengulas senyumnya saat pelayan mengantarkan menu makanan yang sudah dipesan oleh Vega.


"Daren, Tante sungguh berterima kasih karena kau sudah bersedia meluangkan waktu untuk memenuhi undangan makan siang ini padahal kau begitu sibuk," kata Vega.


"Tidak masalah, Tante," tukas Daren singkat.


"Daren, akhir-akhir ini bagaimana pekerjaanmu?" tanya Vega.


"Seperti biasanya saja, Tante," jawab Daren singkat.


"Silakan dimakan, Daren," kata Vega.


"Terima kasih, Tante," ucap Daren. "Oh ya, Tante, ngomong-ngomong, hal penting apa yang ingin Tante sampaikan kepada saya?" tanya Daren.


Vega mengulas senyumnya sambil melemparkan tatapan ramah.


"Daren, ada beberapa hal yang ingin Tante tanyakan padamu, Tante harap, kau bisa menjelaskannya kepada Tante, terutama hubunganmu dengan istri Voren," kata Vega.


Daren tertegun mendengar perkataan wanita paruh baya yang saat ini masih mempertahankan senyum ramahnya. Daren memutar spaghetti dengan garpu lalu menyuapkannya. Ia berusaha untuk terlihat tetap tenang meski saat ini dalam hatinya sedang menebak kira-kira ke mana arah pembicaraan mereka.


"Daren, Tante menyadari bahwa Tante tidak punya hak untuk ikut campur masalah pribadimu, hanya saja masalahnya saat ini mengencani istri Voren jelas merupakan masalah bagi keluarga kita," kata Vega.


"Sungguh tidak baik jika masalah ini sampai terdengar oleh orang lain, kau pasti paham maksud Tante kan?" tanya Vega.


"Tante tahu, rumah tangga Voren dan istrinya memang sedang bermasalah. Dengan adanya kehadiranmu di antara mereka, turut memperkeruh masalah yang ada. Padahal Tante sangat berharap bahwa Voren dan istrinya bisa kembali rujuk karena menurut Tante, Voren dan istrinya masih saling mencintai," Vega menatap lurus ke arah Daren.

__ADS_1


Daren masih tetap diam, mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Ibu Voren. Vega mengamati Daren yang terlihat diam dan itu sungguh membuat Vega jelas harus menyembunyikan rasa kesalnya.


"Daren, cinta memang tidak bisa diprediksi kehadirannya, namun cinta yang kau jalani bersama Velan jelas adalah cinta yang salah! Menurut Tante kau hanya menjadi tempat pelarian!" kata Vega.


...~...


"Dinar!"


Dinar yang sedari tadi berkutat di depan layar monitornya tersentak kaget saat seseorang memanggil namanya. Dinar terkesiap melihat sosok wanita berwajah angkuh dengan mata kucingnya yang menakutkan.


"Nyonya Darla," sapa Dinar yang langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk dalam.


Mau apa Mak Lampir ini datang? Dinar membatin was-was.


Dinar menyebut Ibu Pak Daren sebagai Mak Lampir karena wanita paruh baya itu sungguh menyebalkan. Dinar tidak mungkin bisa lupa bagaimana saat Nyonya Darla menuduhnya menggoda Pak Daren hanya karena Dinar menjawab ponsel Pak Daren yang ketika itu tertinggal di meja kerja Dinar.


Dinar tidak mungkin bisa lupa bagaimana wanita paruh baya itu mencecarnya dan menyebutnya wanita murahan, padahal saat itu Dinar baru saja menjadi sekretaris Pak Daren.


Darla datang bersama seorang wanita yang begitu asing di mata Dinar.


"Apa Daren ada di kantornya?" tanya Darla dengan mata kucingnya.


"Pak Daren keluar kantor, Nyonya," jawab Dinar.


"Keluar kantor di jam istirahat begini?" tanya Darla. "Apa Daren makan siang di luar?" Darla kembali bertanya.


"Benar Nyonya, Pak Daren mendapat undangan makan siang bersama Nyonya Vega," jawab Dinar.


"Apa?! Daren pergi makan siang bersama Vega?! Dalam rangka apa?!" tanya Darla keheranan.


"Maaf, Nyonya, Pak Daren tidak menjelaskan secara detail," jawab Dinar.


"'Dinar, kau pasti tahu kan bahwa aku tidak suka dengan hal-hal yang berusaha kau sembunyikan!" kata Darla mengintimidasi Dinar.


"Kau itu kan sekretarisnya Daren, harusnya kau tahu semua kegiatan Daren! Dan kau jangan coba-coba menyembunyikan apa pun dariku!" lanjut Darla kembali mencecar Dinar.


Dinar menunduk, dalam hati ia benar-benar mengasihani Pak Daren yang sepertinya jelas tertekan punya orang tua macam Nyonya Darla. Pantas saja kan, Pak Daren kerap tidak menjawab telepon dari Nyonya Darla.


"Jadi ke mana Daren pergi?" tanya Darla pada Dinar.

__ADS_1


Dinar meneguk ludahnya, mata kucing milik Darla benar-benar mengancam, begitu juga dengan sosok wanita cantik yang saat ini melayangkan tatapan sinis ke arah Dinar.


"Restoran D, Nyonya Darla," jawab Dinar.


"Baiklah, terima kasih atas informasimu, Dinar. Ayo kita pergi, Sonya," ajak Darla kepada wanita yang datang bersamanya.


"Baik, Tante," jawab wanita cantik bernama Sonya itu segera mengikuti Darla.


...~...


Sepanjang perjalanan menuju ke Restoran D, Darla jelas bertanya-tanya, mengapa Daren menemui Vega? Ada urusan apa?


Darla benar-benar kesal karena Daren lagi-lagi mengabaikan panggilan teleponnya padahal saat ini Darla pada akhirnya datang bersama Sonya untuk menemui Daren secara langsung.


Sonya adalah wanita yang begitu rupawan. Wanita bertubuh tinggi, langsing, dengan rambut panjang berwarna cokelat terang. Wanita yang dipilih langsung oleh Darla untuk menjadi tunangan Daren.


Sudah dua kali Darla mengaturkan pertemuan antara Daren dengan Sonya, namun Daren seakan terus menghindar sehingga Darla merasa perlu turun tangan secara langsung.


Darla tentu saja sudah berupaya mengaturkan pernikahan antara Daren dengan Sonya, anak dari komisaris utama Wier Trade yang diharapkan oleh Darla akan mendukung Daren menjadi Presiden Direktur melalui jalur pernikahan.


"Sonya, maaf ya, Daren memang selalu sibuk, Tante harap kau bisa memaklumi hal tersebut," kata Darla sambil menatap lekat-lekat wanita cantik yang duduk di sampingnya.


Sonya menyampirkan rambutnya ke sisi telinganya, mengulas senyum penuh keanggunan.


"Tante Darla tidak perlu cemas, saya sungguh dapat memahami semua itu," kata Sonya.


"Sonya, sungguh, Tante sudah tidak sabar untuk melihatmu naik pelaminan bersama Daren! Bagi Tante, Daren adalah anak Tante yang begitu berharga sehingga sudah sepantasnya mendapatkan wanita yang begitu berharga sepertimu," kata Darla.


Darla tentu saja merasa luar biasa bangga dengan calon tunangan Daren ini. Banyak wanita cantik yang mengincar Daren, namun bagi Darla hanya wanita ini saja yang pantas untuk Daren. Latar belakang keluarga, pendidikan, dan kelas sosial wanita ini jelas tidak perlu diragukan oleh Darla.


Darla dan Sonya sudah tiba di Restoran D, Darla mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan hingga akhirnya mendapati sosok Daren yang sedang berbincang dengan Vega.


Tidak ada penjaga yang biasa berkeliling di sekitar Vega membuat Darla dengan mudah menghampiri meja Daren dan Vega.


"'Daren, Tante mohon kepadamu, segera akhiri hubunganmu dengan istri Voren!" kata Vega.


"Apa maksudmu, Vega?!" 


Vega terkesiap saat melihat kehadiran Darla, begitu juga dengan Daren yang seketika mematung melihat kehadiran ibunya.

__ADS_1


...~...


__ADS_2