
"Bagaimana penampilanku? Apa aku sudah terlihat berkelas?" tanya Taki sambil berputar-putar seperti penari balet di hadapan teman-teman bandnya.
"Aku bagaimana?" tanya Toro yang juga ikut-ikutan muncul di hadapan teman-temannya.
Kedua kakak beradik itu saling beradu pose saat memamerkan pakaian yang menurut mereka jauh lebih baik dari sekadar kaus oblong longgar dan celana jeans robek-robek. Joni dan Jay mengerutkan kening mereka melihat Taki yang mengenakan kemeja batik berwarna kuning dengan bahan satin mengilat sementara Toro mengenakan kemeja batik berwarna ungu terang yang juga berbahan satin. Kemeja batik tersebut merupakan kemeja batik terbaik yang dimiliki oleh bapak mereka.
"Taki, Toro, kalian mau pergi ke acara kondangan siapa?" tanya Joni.
"Joni, siapa yang mau pergi kondangan?" tanya Toro.
"Kami akan pergi menemui adik ipar kami," sahut Taki.
"Kalian sungguh terlihat seperti Pak Lurah yang mau pergi kondangan," seloroh Jay sambil tertawa.
"Hei, kalian belum tahu ya, adik ipar kami sekeren apa?! Penampilannya begitu super mewah! Jangan sampai kami datang menemuinya dan berpenampilan seperti pengemis! Bisa-bisa kami diusir!" kata Taki.
"Makanya, pakaian ini merupakan pakaian termewah punya bapak kami! Bapak bahkan hanya memakainya satu dua kali saja loh, saking sayangnya dengan baju mewah ini," kata Toro sambil mengingat-ingat.
"Taki, apa kau sudah yakin proposalmu siap seratus persen?" tanya Jay.
"Toro, bagaimana?" Taki melemparkan pertanyaan Jay pada Toro.
"Yang penting ada dulu, kita kan sudah mencontoh dari proposal yang ada di internet," sahut Toro.
"Teman-teman, aku ragu jika proposal itu akan diterima adik ipar kalian! Entah mengapa terkesan abal-abal sekali," keluh Joni.
"Joni, jangan pesimis begitu! Kita sudah menggarap proposal ini berbulan-bulan!" sergah Taki.
"Tapi itu kan hanya meniru yang ada di internet," kata Joni.
"Sudah, sudah, yang penting proposalnya sudah jadi, kalau memang ditolak, nanti coba saja lagi," kata Toro menengahi.
"Terus, apa kalian sudah siap melakukan presentasi?" tanya Jay.
"Jay, aku sudah berlatih berhari-hari dengan menonton video cara presentasi yang baik dan benar, ternyata lebih mudah dari yang kupikirkan! Tinggal bicara saja!" sahut Taki penuh percaya diri.
"Ya sudahlah, semoga berhasil untuk kalian berdua," kata Joni.
"Ya, kami bantu doa dari sini!" kata Jay.
"Ya, ya, lihat saja, Toro nanti kamu kasih itu adik ipar baca-baca ya supaya dia takut padamu! Pelototi betul-betul itu ya! Jangan lupa banyak-banyak berdoa!" perintah Taki.
__ADS_1
"Taki, aku tidak perlu melotot! Mataku sudah seperti ini dari lahir," gerutu Toro.
...~...
Taki dan Toro sudah tiba di gedung perusahaan Emperor Grup. Dengan membawa proposal yang mereka garap berbulan-bulan lantaran mencari proposal terbaik yang beredar di internet.
Bagi mereka inilah satu-satunya harapan untuk bisa meraih apa yang mereka impikan. Membawa band mereka tembus ke industri musik, menjadi terkenal, dan punya banyak penggemar hingga ke kancah internasional. Lalu mengadakan konser tur keliling dunia. Itulah impian-impian Taki yang selalu menjadi penyemangatnya untuk berjuang meraih impian.
Doni segera menyambut kedatangan dua kakak ipar Tuan Voren yang nampak menyita perhatian dengan penampilan mereka yang jauh lebih rapi ketimbang saat pertama kali datang berkunjung. Toro mengikat rambutnya yang sudah gondrong agar terlihat lebih rapi sementara Taki hanya memberi banyak gel rambut yang membuat rambutnya begitu klimis.
Keduanya sudah tiba di ruangan kerja adik ipar mereka yang selalu dan senantiasa berpenampilan mewah serta tampan.
"Selamat datang, silakan duduk Kakak ipar," kata Voren mempersilakan kedua kakak iparnya untuk duduk di sofa.
"Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu, Adik ipar," kata Toro.
"Iya, Adik ipar, kami tahu kau begitu sibuk, tapi masih mau menemui kami," kata Taki sambil meringis.
Voren mengulas senyum ramahnya, menatap satu persatu calon mantan kakak iparnya. Ke depannya hubungan mereka jelas hanya sekadar rekan bisnis ketika ia dan istrinya bercerai.
"Kami membawa proposal yang kau minta, Adik ipar," kata Toro menyerahkan sebuah amplop kepada Voren.
Voren mengambilnya dan membuka amplop tersebut. Secara sekilas ia membaca proposal tersebut.
"Vow Band," jawab Taki dengan mantap.
"Apa artinya?" tanya Voren sambil membuka setiap lembar proposal di tangannya.
"Vow bisa berarti sumpah, karena kami bersumpah untuk membawa band kami terkenal sejagad," jawab Taki.
"Vow juga merupakan singkatan dari Victory of World yang berarti kemenangan dunia!" Toro menimpali.
"Begitulah, sumpah kami untuk memenangkan perhatian dunia, itulah kira-kira makna dari nama band kami," Taki menambahkan.
"Jadi, berapa lama estimasi agar investasi yang kutanamkan kepada kalian bisa kudapatkan hasilnya?" tanya Voren.
Voren tentu tak perlu membaca keseluruhan isi proposal yang jelas hanya merupakan hasil salin tempel dari internet. Voren jadi tahu setelah mendengar nama band yang dijelaskan oleh kedua kakak iparnya dengan yang tertuang dalam proposal jelas berbeda.
"Ya, tunggu band kami mendapat popularitas," jawab Taki.
Voren tentu tidak puas mendapat jawaban seperti itu.
__ADS_1
"Kakak ipar, setiap investasi pasti ada jangka waktunya agar manfaatnya dapat dirasakan! Sama halnya seperti saat kita mengikuti asurasi, baik asuransi jiwa, asuransi kesehatan, ataupun asuransi lainnya! Investasi properti hingga investasi logam mulia! Yang paling cepat dirasakan manfaatnya jelas adalah investasi logam mulia, kalian pasti mengerti apa maksudku," kata Voren.
Taki dan Toro saling berpandangan, jujur saja mereka tidak mengerti apa maksud yang diutarakan oleh adik ipar mereka. Doni jelas bisa melihat dua kakak ipar Tuan Voren yang kebingungan.
"Pak Taki, Pak Toro, pada intinya, berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk meraih popularitas? Apakah dalam waktu satu hingga tiga tahun? Sehingga pada tahun kelima kalian sudah bisa menghasilkan keuntungan bersih," Doni menjelaskan.
"Oh begitu ya," kata Taki.
"Dan setahu saya, terjun ke industri musik tentu tidak mudah, ketatnya persaingan dengan banyaknya agensi, idola-idola yang sudah punya nama besar, kualitas karya, dan faktor-faktor lain tentu harus diperhitungkan secara matang!" Doni menambahkan.
"Lain halnya jika kalian menjadi idola instan, dengan mengikuti kompetisi ataupun ajang-ajang pencarian bakat di televisi! Asal mendapat banyak dukungan dari pemirsa, kalian bisa langsung menjadi pemenang," sambung Voren.
"Tapi Adik ipar, jebolan-jebolan kompetisi seperti itu biasanya tidak mendapatkan popularitas seperti idola yang berjuang dari awal! Idola yang berjuang dari awal tentunya dikawal oleh penggemar-penggemar setia! Hanya penggemar sejati yang akan mendampingi idolanya hingga sang idola mendapatkan nama besar!" kata Taki.
"Apa band kalian sudah membuahkan karya?" tanya Voren.
"Band kami baru di tahap meng-cover lagu-lagu dari band besar," jawab Toro.
Voren dan Doni berpandangan.
"Begini saja, kalau Adik ipar punya waktu, datanglah ke Kafe KLM, kami biasa manggung di sana setiap malam Kamis dan malam Minggu, kalian bisa melihat penampilan kami," kata Toro.
"Kakak ipar, menurut saya agar dapat memaksimalkan waktu dengan baik, bagaimana jika kalian membuat sebuah karya? Buatlah demo rekamannya, dan kalian bisa memberikannya padaku," kata Voren.
Taki dan Toro kembali saling melemparkan tatapannya.
"Kalau aku menyukainya, kupastikan aku akan berinvestasi pada kalian," kata Voren lagi.
Voren mengulas senyum melihat ekspresi dua pria di hadapannya yang jelas menunjukkan bahwa mereka benar-benar kebingungan.
"Bagaimana, Kakak ipar? Jika tak ada hal lain lagi yang ingin kalian sampaikan, aku minta maaf karena masih ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan," kata Voren.
"Ba-baik, kalau begitu kami akan membuat demo karya kami," kata Taki.
Voren mengangguk, lalu menyerahkan kembali amplop berisi dokumen proposal itu kepada Toro.
"Baiklah, aku menantikannya, dan silakan bawa kembali proposal kalian," kata Voren.
"Baik, Adik ipar, kalau begitu, kami permisi," kata Toro.
"Mari saya antar, Pak Taki, Pak Toro," kata Doni.
__ADS_1
Doni pun mengantar dua tamu Tuan Voren untuk meninggalkan ruang kerja Tuan Voren. Kedua pria itu pun nampak kehilangan kata-kata mereka lantaran tenggelam dalam pikiran masing-masing.
...~...