Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E24


__ADS_3

Voren terpelanting di atas kasur, mengerang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Pria itu memegangi hidungnya yang begitu sakit lantaran Velan membenturkan kepalanya ke wajah Voren. Velan melakukan hal tersebut karena ia tak ingin pria itu mengomentari pori-pori wajahnya lagi.


"Aduh! Hidungku patah! Hidungku patah!" seru Voren begitu histeris.


"Hei, Voren Lazaro, aku bahkan tidak menggunakan setengah kekuatanku!" celetuk Velan.


"Argh, hidungku!" Voren masih jejeritan sendiri.


Velan mendelik gusar, pria itu masih tetap bereaksi berlebihan.


"Istriku! Sungguh teganya dirimu menyiksaku seperti ini! Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga," sergah Voren masih tetap memegangi hidungnya.


"Haha! Kekerasan dalam rumah tangga darimana? Dari Hongkong?! Kau bahkan tidak menerima pernikahan kita! Jadi tidak ada itu yang namanya rumah tangga yang kita bina! Jadi kau jangan jadi orang yang asal klaim ya?!" tandas Velan seraya tertawa.


Voren benar-benar tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya ini. Wanita yang benar-benar sudah menyulut emosinya dengan sempurna.


"Istriku, hidungku itu terbuat dari tulang rawan! Mau diganti apa kalau aku sampai kehilangan hidung?! Hidung sapi?! Kau itu benar-benar keterlaluan! Dasar wanita kasar dan tak beradab!" cecar Voren meluapkan emosinya.


Velan dengan cepat segera berpikir untuk meningkatkan level perseteruan mereka. Velan kembali tertawa jahat.


"Haha! Kau saja yang terlalu lemah, Voren Lazaro!" Velan mengejek Voren.


"Apa?! Bisa-bisanya kau mengataiku lemah, Istriku! Sungguh tidak berakhlak!" Voren mengumpat keras, tak mampu lagi mengendalikan emosinya.


"Ya, aku ini istri yang kasar, tidak beradab, tidak berakhlak! Segera ceraikan aku sekarang juga!" kata Velan sambil menyeringai.


Voren terkesiap, ia menatap tajam ke arah Velan yang tersenyum ceria seakan momen inilah yang sudah ditunggu-tunggu oleh Velan.


Voren beranjak dari tempat tidur, ia melangkah menuju ke kamar mandi sambil tetap mengawasi Velan yang menatap sinis ke arahnya.


Dug...!


Kepala Voren terbentur pintu kamar mandi.


"Aduh!" keluh Voren.


"Haha," Velan kembali menertawai Voren yang mengaduh kesakitan.


Pria itu kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Punya mata tidak dipakai ya begitu," cibir Velan sambil keluar dari kamar Voren.


...~...


Pintu apartemen terbuka, sosok Doni muncul dengan begitu tergesa-gesa. Butuh perjuangan yang begitu besar agar Doni bisa datang ke apartemen Tuan Voren. Seharian Doni harus terjebak dalam kemacetan akibat banjir yang merendam jalan.


Mana hujan, tidak ada ojek, becek-becek, begitulah bagaimana Doni harus menghadapi hari ini.


Doni segera membungkuk dalam di hadapan Velan yang duduk bersantai di sofa sambil berkutat di depan ponselnya.

__ADS_1


"Selamat malam, Nona, maaf saya baru datang," kata Doni.


"Yo," sahut Velan nampak acuh.


"Nona, bagaimana kondisi Tuan Voren?" tanya Doni.


"Entahlah," sahut Velan masih tetap cuek.


"Saya akan menemui Tuan Voren, Nona," kata Doni.


Doni bisa menebak, pasangan suami istri itu pasti kembali bertengkar.


"Pak Doni," kata Velan menghentikan langkah Doni yang menuju ke kamar mandi.


"Ada apa, Nona?" tanya Doni.


"Lantainya tolong dipel, lumpur yang kau bawa membuat lantai jadi kotor," kata Velan dengan nada sinis.


"Oh, baik, Nona, saya ganti baju dulu, akan saya bersihkan," kata Doni.


Wih, Nona Velan kok jadi galak sekali ya? Batin Doni.


Entah mengapa Doni jadi merindukan sosok Nona Velan yang selalu bersikap ramah dan tersenyum ceria saat menyambut kedatangannya.


...~...


Doni mengetuk pintu kamar Tuan Voren, terdengar sahutan sebelum Doni memasuki kamar atasannya itu. 


"Tuan Voren, Anda baik-baik saja?" tanya Doni langsung menghampiri pria itu.


Voren hanya diam dan masih melotot dengan tangan terlipat di depan dada.


"Silakan marah, Tuan! Silakan! Cecar saja saya! Luapkan semua kemarahan Anda! Anda boleh menjadikan saya sebagai kantong samsak jika perlu!" kata Doni sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Rasa takut Doni benar-benar melebihi saat ia harus menghadapi sidang skripsi di depan empat dosen yang mengujinya.


"Doni, katanya penghuni neraka itu kebanyakan adalah wanita!" kata Voren.


Doni terkesiap, ia menatap Tuan Voren yang tiba-tiba saja mengatakan hal yang aneh. 


"Ya, saya dengar begitu, Tuan," kata Doni.


"Aku rasa, salah satu penghuni neraka yang lepas itu adalah istriku, Doni!" kata Voren lagi.


"Kenapa Anda bicara begitu, Tuan?" tanya Doni keheranan.


"Istriku benar-benar menjelma menjadi istri yang durhaka! Dia benar-benar keterlaluan, Doni! Dia bahkan menyakitiku! Dia menghantam hidungku hingga aku rasa hidungku ini patah!" sahut Voren.


"Ba-bagaimana bisa, Tuan? Coba sini saya periksa," Doni begitu terkejut.

__ADS_1


"Doni, aku hanya merasa, bukan berarti benar-benar patah!" gerutu Voren.


"Saya sungguh mencemaskan anda, Tuan," kata Doni.


"Istriku benar-benar keterlaluan! Aku benar-benar yakin, dia jadi begitu pasti karena pria idaman lainnya! Kita harus menemukan pria itu dan membuat perhitungan dengannya!" kata Voren berapi-api.


Voren turun dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir sambil berpikir, memegangi dagu, lalu beralih memijat pelipisnya.


"Tuan, Nona Velan bahkan begitu rapi dalam menyimpan hubungan dengan pria idaman lainnya! Hingga kini, saya bahkan tidak tahu siapa pria idaman lain Nona Velan!" kata Doni.


"Menurut saya, sepertinya kita harus memancing pria itu agar muncul ke permukaan, Tuan!" Doni memberi usulan.


"Memancing? Apa kau pikir pria itu adalah ikan di tempat pemancingan?!" sungut Voren.


Doni menghela napasnya.


"Tuan, ikan di pemancingan perlu umpan agar bisa dipancing! Ikan di laut pun ditangkap dengan menggunakan jaring!" Doni mencoba menjelaskan.


"Doni, kau ini mau menemukan pria idaman lain istriku atau mau jadi nelayan sih?!" keluh Voren yang merasa kesal karena Doni menggunakan kiasan-kiasan yang tidak bisa dimengertinya di saat pikirannya kalut seperti saat ini.


Doni mendelik gusar, terkadang Tuan Voren harus mendapat penjelasan secara gamblang. Saat sedang kalut, otak pria itu seakan kehilangan kemampuan untuk berpikir.


"Tuan, intinya, kita harus mengatur strategi agar pria itu muncul dan menampakkan dirinya. Melihat betapa rapinya Nona Velan menutupi hubungan percintaannya dengan pria itu, berarti pria itu jelas bukan orang sembarangan! Pria itu pastilah pria yang punya kuasa besar hingga hubungan mereka begitu terselubung!" Doni menjelaskan analisisnya.


"Pria yang punya kuasa besar?! Haha!" Voren tertawa renyah.


"Istriku yang seperti itu berhubungan dengan pria yang punya kuasa besar? Apa kau tidak salah, Doni?!" tanya Voren.


"Tuan, sebagai buktinya, hingga kini kita belum bisa mendapatkan identitas pria itu! Jika pria yang menjadi kekasih Nona Velan adalah pria yang biasa-biasa saja, pasti akan sangat mudah bagi kita untuk menemukan pria itu! Saya bahkan sudah menyewa beberapa detektif swasta selain Detektif Shareloc untuk menyelidiki Nona Velan! Namun hingga kini belum ada hasilnya!" jawab Doni.


"Wah, wah, ini benar-benar sangat menarik!" Voren terkekeh kesal.


"Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah memancing keluar pria itu dari persembunyiannya!" kata Doni.


"Bagaimana caranya?" tanya Voren menatap skeptis ke arah Doni.


"Tuan, bagaimana cara memancing ikan dengan menggunakan pancingan?" tanya Doni.


"Ya harus ada umpannya!" sahut Voren.


Doni mengulas senyumnya.


"Kita bisa menggunakan Nona Velan sebagai umpan," kata Doni.


Voren terdiam sambil berpikir.


"Begitu ya," Voren mengangguk.


Doni mengangguk dan menatap Tuan Voren yang nampaknya sudah mengerti apa maksud Doni.

__ADS_1


...~...


__ADS_2