Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bonus Ch 01


__ADS_3

Wanita itu duduk termenung di depan televisi yang menyala yang kini sedang menayangkan iklan popok bayi. Bayi bertubuh gembul dengan kulit putih sedang tertawa riang saat belajar berjalan dengan memakai popok ekstra kering, ektra nyaman, membuat si bayi tetap nyaman meski aktif bergerak.


Iklan berikutnya menampilkan seorang ibu sedang memandikan bayinya yang baru lahir dengan sebuah sabun yang diformulasi khusus untuk kulit bayi baru lahir. Terlihat sang ibu dengan sentuhan lembut dan penuh kasih beserta sang ayah tersenyum bahagia melihat buah cinta mereka. Memandikan dengan hati-hati bayi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Iklan selanjutnya menampilkan balita aktif yang memakai bedak bayi sehabis mandi. Balita yang diperkirakan berusia kurang dari dua tahun itu menyambut riang kedatangan ayahnya yang baru saja pulang kerja. Sang ayah menggendong balita itu ke udara sambil mengendus aroma wangi bedak bayi yang diklaim memberikan keharuman dan kesegaran sepanjang hari untuk bayi.


Lucu sekali bayi-bayi itu, pantas saja kan menjadi bintang iklan! Batin wanita itu.


Wanita itu mengusap perutnya yang masih rata, di dalam rahimnya saat ini juga sedang tumbuh dan berkembang janin yang akan menjadi bayi gembul dan sehat seperti bintang iklan popok bayi, sabun bayi, hingga bedak tabur bayi-bayi lucu itu.


Wanita itu mati-matian menahan rasa mualnya. Sesekali ia menyeruput teh hangat sambil mengunyah sedikit demi sedikit sepotong roti yang harus dikunyahnya pelan-pelan. Belum sempat ia menelan rotinya, rasa mual itu kembali muncul. Wanita itu mengambil ember yang posisinya tak bisa jauh darinya. Ember itu berisi muntahannya dan sudah dicampur dengan karbol guna mencegah aroma tidak sedap dari muntahannya.


Tersiksa, begitulah yang saat ini sedang dialami oleh Velan. Awalnya Velan pikir, dia terkena penyakit vampir. Tiba-tiba saja ia kehilangan kemampuannya untuk melihat sinar matahari. Ia mual, pusing, dan muntah terus menerus hingga tak ada yang bisa ia muntahkan lagi.


Kedua teman Velan melihat Velan yang nampak menyedihkan. Wanita itu nampak semakin kurus dan terlihat lemah lantaran terus menerus muntah. Jelas sekali saat ini Velan sedang mengalami dehidrasi berat.


"Sudah berapa bulan, Velan?" tanya Desi sambil memijat tengkuk Velan.


Velan menyeka mulutnya dengan tisu. Air mata dan ingusnya berlomba keluar.


"Menurut perkiraan bidan, baru jalan tiga bulan," jawab Velan.


"Wah, wah, kau benar-benar luar biasa, Velan! Bagaimana bisa kau bercerai saat sedang hamil begini?" tanya Lita.


"Lita, aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa hamil!" sahut Velan.

__ADS_1


"Velan, apa kau pikir sel ****** membuahi sel telurmu melalui makanan dan minuman?" tanya Lita.


"Aduh, kenapa aku sampai bisa hamil begini padahal dia memakai pengaman?! Apa gara-gara terlalu banyak... Huek...," Velan kembali mual dan muntah.


"Aku rasa bukan masalah berapa banyak kalian bercinta menggunakan pengaman, tapi bagaimana kondisi pengaman itu sendiri. Bisa jadi pengamannya bocor dan terjadilah kehamilan," Lita menjelaskan.


"Kalian melakukannya pasti dengan begitu luar biasa, makanya sampai kebobolan begitu!" Desi menanggapi.


Velan merasa wajahnya memanas jika harus mengingat kembali malam panas yang ia dan Voren lalui. Voren memang melakukannya dengan penuh kelembutan namun sangat bertenaga. Saat itu mereka bercinta seakan besok akan mati saja. Velan jelas menyesali keputusannya karena sudah membiarkan dirinya membuat keputusan yang salah.


"Velan, apa kau sudah memberitahu mantan suamimu? Setidaknya, dia harus tahu kondisimu saat ini," kata Desi.


"Benar, Velan, ayah dari janin yang kau kandung harus bertanggung jawab penuh! Tidak mudah menjalani masa kehamilan seorang diri, terlebih di trimester pertama seperti ini!" kata Lita.


"Aduh, Lita, Desi, masalahnya tidak semudah itu! Aku sungguh tidak mau berurusan dengan mantan suamiku!" tolak Velan.


"Apa sebaiknya kugugurkan saja ya?" tanya Velan.


"Astaga, Velan!" seru Desi dan Lita terlonjak kaget.


"Kalau kau menggugurkan kandunganmu, sama saja kau merenggut hak hidup seseorang! Itu sama saja kau menjadi seorang pembunuh!" sergah Lita.


"Lita, sekarang aku tanya padamu, bagaimana jika sekarang kau ada di posisiku?! Kehamilan ini tidak kuinginkan! Aku mabuk berat seperti ini tanpa didampingi siapa pun! Lagipula, saat ini aku belum siap menjadi seorang ibu, apalagi menjadi ibu tunggal!" tandas Velan.


"Velan! Coba kau pikirkan baik-baik! Kau dan suamimu yang memiliki masalah! Anak yang kau kandung sama sekali tidak bersalah!" kata Lita.

__ADS_1


"Velan, apa yang dikatakan Lita benar! Berani berbuat harus berani bertanggung jawab! Jangan lempar batu sembunyi tangan!" Desi menasehati.


"Velan, percayalah, setiap anak yang lahir ke dunia ini, sudah punya rezekinya masing-masing! Jadi jangan takut!" kata Lita.


"Jika kau memang tidak mau berurusan lagi dengan suamimu, tidak masalah! Kau bisa merawat, membesarkan, dan mendidik anakmu dengan sebaik-baiknya! Anak itu adalah anugerah dari Tuhan!" lanjut Lita.


"Velan, asal kau tahu, aborsi ilegal itu berbahaya! Kau pasti sudah sering melihat beritanya kan? Bahwa aborsi ilegal selain melanggar hukum, juga akan membahayakan dirimu! Rahimmu bisa rusak dan kau bisa-bisa tidak diberi keturunan lagi!" kata Desi.


"Benar, Velan, jadi jangan pernah berpikir untuk aborsi kecuali aborsi dengan alasan medis," Lita menambahkan.


Saat ini Velan benar-benar dilema. Apakah ia harus membesarkan anak yang dikandungnya? 


Menjadi ibu tunggal di saat Velan masih belum siap untuk menjadi seorang ibu. Kondisi finansial Velan jelas menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan olehnya.


Dalam kondisi mabuk berat seperti ini, mustahil Velan bisa bekerja mencari uang. Velan juga belum mempunyai tabungan yang cukup untuk membiayai kehidupannya selama menjalani masa kehamilan ini. 


Velan sungguh bertanya-tanya, kira-kira apa yang  sedang dilakukan oleh Voren?


Di saat Velan harus terpuruk menjalani masa kehamilannya yang terasa begitu berat, apa yang sedang dilakukan oleh pria itu?


Sudah tiga bulan mereka tidak bertemu. Hubungan mereka benar-benar terputus sejak Velan keluar dari apartemen pria itu. Sejak saat itu pula Velan benar-benar tidak pernah melihat pria itu ataupun mendengar kabar pria itu.


Velan memang tidak mau berurusan dengan pria itu lagi. Ia juga telah menghapus kontak Doni dari ponselnya. 


Tujuan Velan setelah bercerai dari Voren jelas adalah untuk mendapatkan kebahagiannya sendiri. Ia bahkan bersedia ditiduri pria itu asalkan mendapat perceraiannya. Namun rupanya Velan benar-benar telah melakukan kesalahan lain yang kini harus ditanggung. Kehamilan yang benar-benar tidak diinginkannya. Kehamilan yang membuka babak baru kehidupan Velan.

__ADS_1


...~...


__ADS_2