
Voren dan Doni saling melemparkan pandangan begitu kembali dari toilet. Terlihat pelayan berpamitan usai membersihkan kekacauan yang ditimbulkan oleh Voren.
Ketegangan jelas masih tercipta di antara Velan, Voren, dan juga Doni. Voren kembali mencuri pandang ke arah Velan. Doni pun juga sama, mencuri-curi pandang ke arah Nona Velan yang menurut Doni benar-benar tak bisa diprediksi.
Bagaimana bisa Nona Velan menjadi kekasih Tuan Daren?
Apakah ini alasan mengapa pria idaman lain Nona Velan sulit terdeteksi?
Meski Doni sudah mengerahkan empat detektif swasta sekaligus untuk menyelidiki kehidupan pribadi wanita ini, bagaimana mereka semua bisa kecolongan seperti ini?
Batin Doni kembali bergelut, ia melirik ke arah Tuan Voren yang jelas berusaha menyembunyikan rasa kesalnya di balik senyum ramah yang menampilkan kedua lesung pipinya.
Voren kembali mencuri pandang ke tangan Velan, tidak ada cincin kawin yang tersemat di tangan wanita itu.
Voren mengulas senyumnya, bertanya-tanya dalam hati, apakah Daren tidak tahu bahwa wanita yang dikencaninya ini sudah memiliki suami?
Yah, wanita ini pasti sudah memperdayai Daren, itulah yang ada dalam benak Voren.
Voren menimbang-nimbang, apakah Daren harus mengetahui bahwa wanita yang sedang dikencani oleh Daren masih berstatus sebagai istrinya?
Tidak, tidak, itu sama saja menggali lubang kuburku sendiri, batin Voren bergejolak sambil menatap tajam ke arah Velan.
Velan merasa risih dengan tatapan Voren yang jelas sangat mengintimidasinya. Ingin rasanya ia segera pergi dari hadapan Voren karena tidak menutup kemungkinan, pria itu akan bicara hal yang aneh seperti membongkar identitasnya sebagai suami Velan di depan Daren.
Jika Voren sampai membocorkan identitasnya di hadapan Daren, jelas kebohongan Velan pun akan ikut terbongkar. Tak menutup kemungkinan Daren pada akhirnya mengungkap kebenaran bahwa mereka hanya sekedar menjalin kerja sama yang baik.
Tidak, tidak! Jangan sampai Voren tahu bahwa hubunganku dan Daren hanya settingan semata. Bisa-bisa pria itu akan menertawakanku hingga ke alam baka! Velan membatin.
Velan sudah tidak betah berada di meja yang sama dengan para pria pendusta di hadapannya ini. Ia pun berinisiatif untuk mengajak Daren pergi.
"Daren, apa kau sudah selesai makan? Jika sudah, mari kita pergi," ajak Velan.
Daren menarik lengan kemejanya, melirik jam tangan bergaya sport berwarna hitam.
"Baiklah," kata Daren. "Voren, Doni, kami permisi dulu," kata Daren.
"Permisi ya, Tuan-Tuan," Velan berpamitan sambil tersenyum sinis ke arah dua pria tersebut.
Sandiwaranya harus sempurna, agar kedua pria itu yakin bahwa Daren benar-benar adalah kekasih Velan.
Velan dan Daren segera melangkah pergi, diiringi tatapan datar dari Voren, dan Doni yang tak bisa menutupi ekspresi terkejutnya.
Begitu tiba di area parkir, Daren membuka pintu sebuah mobil sport mewah berwarna putih dan mempersilakan Velan masuk.
Velan segera duduk dengan tenang, mengawasi Daren yang juga duduk di belakang kemudi. Daren mengamati Velan yang nampak tenggelam dalam lamunannya.
"Nona Velan," kata Daren dengan suaranya yang lembut dan rendah.
__ADS_1
"Oh, maaf," kata Velan.
"Tolong sabuk pengamannya dipakai," pinta Daren.
"Eh, oh," Velan salah tingkah karena kepergok melamun.
Velan mencari-cari sabuk pengaman, ia kelihatan kebingungan sendiri.
"Permisi, izinkan saya membantu Anda," kata Daren.
"Maaf merepotkan Anda, Tuan Daren, saya tidak pernah naik mobil di kursi depan, jadi saya tidak pernah memasang sabuk pengaman," kata Velan.
Daren tersenyum, ia mendekat ke arah Velan. Velan bisa mencium aroma parfum Daren yang maskulin, sungguh aroma yang menghipnotis.
Klik...
Terdengar bunyi sabuk pengaman telah terpasang, Daren kembali ke posisinya, memasang sabuk pengamannya sendiri, kemudian menyalakan mesin mobil. Mobil mewah itu pun melesat meninggalkan area parkir restoran.
"Tuan Daren, mengenai dua pria yang tadi, kalian sepertinya sudah saling mengenal dengan baik," kata Velan dengan hati-hati.
"Maksud Anda, Voren dan Doni?" tanya Daren dengan pandangan lurus ke depan.
"Benar," jawab Velan.
"Ya, saya sudah mengenal mereka cukup lama," jawab Daren.
Daren mengulas senyumnya, sementara Velan tak henti-hentinya menatap ke arah Daren.
"Nona Velan, ini adalah kerja sama antara Anda dengan saya, orang lain tentu tidak perlu terlibat," jawab Daren diplomatis.
Velan terpana mendengar perkataan Daren. Ia juga merasakan kelegaan yang sangat saat mendengar jawaban pria itu.
Sungguh pria yang profesional! Hati Velan bersorak kegirangan.
Velan tentu tidak perlu mengorek lebih jauh tentang hubungan antara Voren, Doni, dan Daren. Lebih baik ia diam daripada nantinya malah terdengar mencurigakan saat ia kepo.
"Nona Velan, saya akan mengantar Anda pulang," kata Daren.
"Terima kasih, Tuan, saya ingin pergi ke sebuah tempat, jika Anda sibuk, turunkan saya di halte terdekat," kata Velan.
"Memangnya Anda mau ke mana, Nona Velan?" tanya Daren.
Velan mengulas senyumnya untuk menjawab pertanyaan Daren.
...~...
Semilir angin berhembus kencang, hamparan pasir putih di sepanjang mata memandang, deburan ombak berkejaran di bawah langit yang nampak muram.
__ADS_1
Velan membuka sepatu dan meletakkannya di bawah pohon kelapa terdekat. Ia segera melangkah di atas pasir pantai yang basah karena ombak-ombak yang bergulung-gulung itu pecah di bibir pantai.
Velan memandangi buih-buih pecahan ombak yang menyapu kakinya. Air laut yang hangat benar-benar kontras dengan embusan angin kencang yang dingin lantaran mendung yang mulai pekat.
Daren mengikuti langkah Velan yang terlihat ringan, rambut panjang wanita itu berkibar diterpa angin, begitu pula dengan gaun terusan berwarna biru gelap yang dikenakannya.
Velan menghentikan langkah, memutar tubuhnya agar ia bisa memandangi wajah tampan Daren.
"Tuan Daren, mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bertemu," kata Velan sambil mengulas senyumnya.
"Mengapa Anda bicara begitu, Nona Velan?" tanya Daren.
"Menurut pendapat saya, mungkin setelah pertemuan ini, suami saya akan segera menceraikan saya, karena dia melihat sendiri bahwa saya benar-benar memiliki kekasih yang membuat saya bahagia," jawab Velan.
Daren mengulas senyumnya.
"Saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih atas kebaikan Anda, sungguh berkat Anda, saya sudah merasa menghirup aroma-aroma kebebasan," kata Velan dengan tatapan menerawang jauh.
"Jujur saja, dari lubuk hati yang terdalam, saya merasa menyesal karena rumah tangga saya harus hancur berantakan seperti saat ini. Saya sebenarnya tak ingin pernikahan yang begitu suci harus berakhir seperti ini," lanjut Velan.
"Anda mengatakan hal itu seakan Anda menyesali pernikahan Anda," kata Daren.
"Saya tidak menyesal karena telah menikah. Yang saya sesali adalah saya salah memilih orang yang menikahi saya. Saya menikah dengan orang yang tidak mencintai saya, tidak memberi saya kesempatan untuk ada di hatinya," Velan mengulas senyum dengan matanya yang berbinar-binar.
"Tuan Daren, Anda benar-benar seorang pria yang sangat baik, semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang telah Anda lakukan untuk saya," kata Velan sambil menyodorkan tangannya.
Daren tersenyum, menyambut tangan Velan.
Tiba-tiba gulungan ombak yang cukup besar menyapu Velan, membuat Velan terlonjak kaget.
"Kyaa...!" jerit Velan.
Dengan sigap, Daren langsung menopang tubuh Velan agar tidak jatuh. Kemudian mereka saling menatap dan tersenyum bersama-sama.
Velan jelas harus menahan debaran-debaran yang menggelitik dadanya. Daren jelas sungguh amat sangat memesonanya. Siapa yang sanggup menolak pesona seorang pria panggilan yang begitu kharismatik?!
"Maaf," kata Velan dengan wajah bersemu merah.
"Tidak masalah," ucap Daren dengan lembut.
Dari tempat yang jauh, dua orang pria menyaksikan kebersamaan antara Velan dan Daren yang nampak begitu romantis dan penuh dengan kemesraan.
Pria itu melemparkan teropong, mendengus kesal sambil memijat pelipisnya.
Sedangkan seorang pria yang lain hanya bisa terdiam tak berani mengatakan apa pun.
"Sialan! Sialan!" pria itu mengumpat sambil meninju udara.
__ADS_1
...~...