Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E66 Epilog


__ADS_3

"Bu Velan, kenapa sampai menunggak begitu Bu, kalau sampai menunggak dan masuk daftar hitam, Bu Velan akan sangat sulit jika hendak mengajukan lagi kredit di bank".


"Ya, saya tahu, makanya saya harus mengumpulkan uang untuk membayar lunas semua pinjaman saya," Velan menatap lurus ke arah pegawai bank di hadapan Velan.


Pegawai bank itu bertugas untuk melayani nasabah yang hendak melakukan pelunasan pinjaman di bank.


"Ini langsung di debet dari rekening Bu Velan ya, untuk proses pengembalian agunan maksimal tiga puluh hari setelah pelunasan," pegawai bank itu menjelaskan.


Pegawai bank terlihat mengisi formulir penarikan dan menyerahkannya kepada Velan. Velan segera menandatangani formulir tersebut.


"Bu Velan ini begitu sulit dihubungi, tapi sekarang pinjaman langsung lunas semua," lanjut pegawai itu seraya terkekeh.


"Iya, dananya baru saja terkumpul," sahut Velan.


"Bu Velan, kami ada promo suku bunga di bawah sepuluh persen pertahun, angsuran flat hingga tiga tahun, barangkali berminat," pegawai bank kembali menawarkan pinjaman untuk Velan.


"Terima kasih, tapi lain kali saja," sahut Velan.


"Oh begitu, jangan segan untuk langsung hubungi saya ya, Bu Velan," kata pegawai bank.


Tidak! Cukup kali ini saja! Batin Velan.


"Baiklah, kalau begitu permisi," Velan pamit undur diri.


"Berbulan-bulan kita menjaga rekening Bu Velan yang kerap minus, eh, sekarang rekeningnya mendadak gendut begitu," seloroh rekan pegawai bank yang kebetulan melihat catatan Velan pada sistem.


"Iya, Bu Velan susah sekali dihubungi, seakan menghilang begitu saja! Bolak-balik itu debt collector ke rumah beliau, selalu tidak ada," lanjut yang lain.


"Apa jangan-jangan Bu Velan mengikuti Squid Game alias permainan cumi-cumi?"


"Permisi, kunci motor saya tertinggal".


Para pegawai bank itu seketika terkesiap melihat kemunculan mendadak Velan. Velan jelas mendengar obrolan pegawai bank yang menggunjingkannya. Velan mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja dan pergi diiringi dengan tatapan ketakutan para pegawai bank.


Cukup sekali aku berurusan dengan pihak bank! Velan membatin.


Velan menatap langit yang terlihat begitu cerah, ia melangkah ringan meninggalkan bank. Saat ini ia benar-benar bisa bernafas lega. Hutangnya dengan pihak bank sudah lunas, kemudian ia juga sudah melunasi hutangnya pada Desi. Uang di rekening Velan juga masih tersisa cukup banyak.


Velan sudah merencanakan dana kompensasi itu untuk melunasi semua hutang dan sisanya bisa digunakan untuk menjadi modal usaha Velan. Uang di rekening Velan masih tersisa empat milyar tujuh ratus juta. Nominal yang luar biasa fantastis bagi Velan. Kerja sampai pensiun saja belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak ini.


Wajar saja orang jadi berasumsi bahwa Velan telah mengikuti ajang permainan berbahaya untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Padahal uang itu didapatkan Velan dengan penuh drama yang menguras emosi dan air mata.


Velan bahkan harus tidur dengan Voren agar pria itu bersedia menceraikannya. Tidakkah uang kompensasi ini terkesan seperti uang hasil menjual keperawanannya?


Selebriti yang terjerat kasus prostitusi daring saja bertarif puluhan juta perjamnya.


Tidak, tidak! Ini mengerikan! Aku bukan pelacur! Batin Velan bergelut.


Dana kompensasi itu sudah disiapkan sejak awal ketika Voren memutuskan untuk menceraikan Velan. Tidur dengan Voren adalah syarat yang diajukan agar pria itu menceraikan Velan.


Hati nurani Velan jelas bergulat, jika Velan menggunakan uang itu untuk modal hidupnya dan bersenang-senang, apa bedanya Velan dengan wanita yang menjual tubuhnya kepada pria demi uang?


Oh tidak! Tidak! Betapa aku begitu berdosa! Oh Tuhan! Masuk neraka yang mana sudah aku ini? Batin Velan merana.


Velan melihat spanduk-spanduk besar yang terpasang di depan masjid yang masih dalam tahap pembangunan.


Jadikan harta anda sebagai amal jariyah.


Salurkan donasi anda ke rekening yayasan masjid.


Tanpa pikir panjang, Velan pun akhirnya mendonasikan uang yang tersisa di rekeningnya untuk pembangunan masjid, panti asuhan, dan panti sosial lainnya.


***


"Velan, kamu benar-benar sudah bercerai dari suamimu?"


Suara Bu Veny terdengar sedih ketika mendapat kabar bahwa Velan sudah resmi bercerai.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab Velan dengan mantap.


"Kenapa Velan? Ada masalah apa sampai kau bercerai? Dalam setiap rumah tangga pasti ada masalah yang akan timbul. Masalah-masalah itulah yang nantinya akan mendewasakan dan menguatkan ikatan pernikahan," Bu Veny menjelaskan.


"Ibu, aku dan suami bercerai, karena memang sudah habis jodohnya," kata Velan. "Lagipula perceraian ini merupakan jalan terbaik bagi kami berdua, dan sudah menjadi kesepakatan kami bersama," lanjut Velan.


"Yah, mau bagaimana lagi, kalau itu sudah keputusan kalian, Ibu bisa apa selain menerimanya," kata Veny.


"Ibu, terima kasih," kata Velan.


Velan menutup teleponnya, semua kakak laki-laki Velan melemparkan tatapan tak percaya pada Velan.


"Velan! Kok bisa sih kamu dan suamimu bercerai?" tanya Yoyok.


"Aduh Velan! Bagaimana kau bisa bercerai dari suamimu yang luar biasa tampan dan kaya raya itu? Apa kau sudah gila?!" seru Tomi.


"Ada masalah apa sih sampai kalian bercerai? Apa kamu tidak bisa melayani semua kebutuhan suamimu?" tanya Yoyok.


"Ah ya, jangan-jangan kemampuanmu di ranjang sangat buruk, sampai-sampai kamu dicerai!" tuding Tomi.


"Kakak! Apapun alasan perceraian kami sungguh tidak penting lagi, toh kami sudah bercerai!" sahut Velan.


Taki dan Toro saling melemparkan pandangan mereka. Perceraian Velan jelas akan memengaruhi hubungan kerja sama yang dilakukan oleh Taki dan Toro kepada mantan adik ipar mereka.


"Vels, rujuk, segeralah rujuk dengan suamimu!" tandas Taki.


"Ya, kalau memang harus memohon pada suamimu, akan kulakukan!" tukas Toro.


"Kakak, cerai tetaplah cerai!" sahut Velan.


"Lalu bagaimana dengan hutangmu? Apa kau sudah melunasinya?" tanya Yoyok.


"Kakak! Untuk masalah hutang, tidak perlu kalian permasalahkan lagi! Sekarang fokus kita bersama adalah mencari dan mendapatkan pekerjaan!" sahut Velan.


Velan segera menuju ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia segera berbaring di tempat tidurnya.


Untuk apa punya suami tampan dan kaya raya tapi hanya simbolis?


Untuk apa membuang-buang waktu dengan hidup bersama pria yang tidak mencintai Velan.


Velan mengelus bulu boneka kucing yang berbaring di atas tempat tidurnya.


"Aku cari pria lain saja, tidak perlu tampan dan kaya, tapi benar-benar mencintaiku! Apa kau setuju?" tanya Velan pada boneka kucing berwarna jingga bermata besar itu.


"Huh! Daripada cari pria lain, lebih baik cari pekerjaan saja! Toh kalau jodoh tak akan kemana!" Velan bermonolog.


Velan masih memandangi boneka kucing itu. Velan yakin bahwa saat ini Voren pasti sudah menemui Soraya. Soraya pasti meninggalkan Voren karena Velan melabraknya dan mengatainya pelakor.


Kepergian Soraya membuat Voren akhirnya meminta Velan untuk menggantikan posisi Soraya, menjadikan Velan hanya sebagai pelampiasan.


"Skenario balas dendam yang begitu sempurna, untung saja aku dan Voren sudah bercerai!" Velan kembali bermonolog.


***


Velan menyeka air mata haru yang tumpah saat menyaksikan prosesi akad nikah Desi. Desi, teman Velan sejak zaman SMA terlihat begitu bahagia begitu wanita itu dan kekasihnya dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Mengingat bahwa Desi dan kekasihnya sudah berpacaran selama tujuh tahun lamanya sebelum akhirnya benar-benar berakhir di pelaminan.


Desi begitu senang saat Velan menyerahkan uang yang dipinjam Velan untuk menambah biaya pernikahan yang jumlahnya tidak sedikit demi mewujudkan pernikahan impiannya.


Sebuah pernikahan yang idealnya dilangsungkan atas kesepakatan dua orang yang telah bersama dan saling berkomitmen hidup bersama untuk meraih kebahagiaan bersama-sama.


Hari pernikahan Velan, sungguh menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup Velan. Menikah dengan pria yang memiliki ketampanan tanpa pertentangan dan kaya raya tentu membuat Velan begitu bangga lahir batin.


Namun begitu pesta pernikahan yang begitu mewah dan meriah itu berakhir, berakhir pula kebahagiaan Velan. Semua kebahagiaan semu itu digantikan dengan kebohongan, air mata, dan pertengkaran.


Velan benar-benar bersyukur karena ia sudah terlepas dari kehidupan rumah tangga penuh prahara yang benar-benar menguji kewarasannya. Perpisahan memang jalan terbaik untuk Velan. Toh, sekarang Velan benar-benar merasa jauh lebih bahagia dengan kebebasan yang dimilikinya saat ini.


Velan bersama teman-temannya segera menghampiri Desi untuk mengucapkan selamat kepada Desi.

__ADS_1


"Selamat ya Desi, semoga langgeng sampai maut memisahkan," Velan memeluk erat Desi yang nampak begitu cantik dalam balutan kebaya berwarna putih gading.


"Terima kasih ya, Velan, semoga kamu juga cepat menemukan jodoh lain yang lebih baik lagi," kata Desi.


"Haha," Velan tertawa karena ia tidak berpikir untuk mencari pria dalam waktu dekat ini.


"Ya ampun Velan, kau ini ya, aku bahkan belum bertemu dengan suamimu yang katanya begitu tampan!" sahut Lita.


"Iya, nikahnya mendadak, eh, cerainya mendadak juga," sahut Sam.


"Sudah macam selebriti saja kau Velan," Gian menimpali.


"Yah, mau bagaimana lagi, namanya juga sudah habis jodoh!" seloroh Velan seraya tertawa.


"Velan, Velan, kau ini, jadi janda kok bangga!" celetuk Mila yang kebetulan mendengar obrolan Velan.


"Kau pasti tidak menjadi istri yang baik, makanya sampai dicerai begitu," Oman menimpali.


"Hati-hati, jangan sampai kau dicap jadi janda gatal," lanjut Mila.


Velan mengulas senyumnya, pasangan suami istri yang begitu kompak saat nyinyir dengan kehidupan orang lain.


"Mila, lebih baik jadi janda yang bahagia, daripada menikah tapi hidup macam trial di neraka!" Velan menimpali Mila. "Buat apa menikah tapi cuma untuk pura-pura bahagia! Pura-pura bahagia itu berat! Haha," Velan tertawa.


"Boleh! Boleh!" teman-teman Velan bersorak heboh.


"Tuh, Oman, dengarkan baik-baik telingamu itu!" Sam dan Gian mengejek Oman.


Mila langsung menarik Oman, seakan ia adalah induk ayam yang sedang melindungi anaknya.


"Yah, tidak masalah sih yang penting kau jangan gatal-gatal ke Oman!" Mila tertawa dengan tawa yang dibuat-buat.


Tak ada yang ikut tertawa membuat Mila jadi salah tingkah.


"Oman, ayo kita pergi!" ajak Mila.


"Hihhh, Mila itu ya, kayak Oman indah-indahnyaΒ  saja!" cibir Lita.


"Sudah! Sudah! Biarkan saja Oman dan Mila!" sahut Velan.


"Bagaimana nanti malam kita pergi bersama? Mumpung aku belum naik ke lokasi nih," ajak Sam.


"Wah, kalian curang, kalian pergi tanpaku!" keluh Desi.


"Ya, masa iya, kau mau ikut kami, Des!" seloroh Gian.


"Bisa ditalak kau nanti, meninggalkan suami di malam pertama! Ahaha!" Sam berkelakar.


"Haha," Velan tertawa.


Menertawakan dirinya ketika melewatkan malam pertama dengan Voren yang begitu miris. Malam pertama yang menjadi awal dari semua kebohongan yang mewarnai pernikahan mereka. Syukurlah pernikahan itu sudah berakhir dan membuat Velan merasakan kebahagiaan lagi.


Tamat


Pembaca Author yang tersayang, peluk online satu-satu.


Terima kasih atas dukungan hangat dari pembaca yang sudah membaca sampai episode terakhir. Terima kasih sudah memberi otor semangat untuk terus berkarya.


Tidak ada yang instan, apalagi cinta.


Hargai dan selalu syukuri apa yang sudah kita miliki sebagai anugerah.


Itulah pesan yang kira-kira bisa otor sampaikan dari karya ini.


Selalu jaga kesehatan dan sampai jumpa lagi di karya otor selanjutnya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2