Jodoh Instan

Jodoh Instan
Pesta Ulang Tahun Nenek Part 2


__ADS_3

Velan mengulas senyumnya kepada Vega, ibu mertuanya ini memang tidak suka berbasa-basi dalam menanyakan hal yang bagi Velan amatlah krusial. Kehamilan Velan merupakan berita yang sangat dinantikan oleh Vega. Vega sungguh berharap berita kehamilan Velan akan menjadi berita yang paling membahagiakan untuk keluarga Lazaro.


"Ibu, siang malam saya berdoa pada Tuhan, agar Tuhan bisa memberi kepercayaan untuk saya dan juga Voren, namun rupanya Tuhan belum menjawab doa-doa yang telah kami panjatkan, Bu," jawab Velan diplomatis.


"Ibu, saya percaya bahwa rencana Tuhan pastilah rencana terbaik untuk kami," lanjut Velan yang mendadak sok religius.


Sorot mata Vega nampak memancarkan kekecewaan. Namun Vega segera mengulas senyumnya.


"Ibu mengerti, yang penting jangan lupa perbanyak ikhtiar disertai dengan tawakal," kata Vega.


"Terima kasih, Bu," kata Velan.


Tuhan, maaf ya, hamba sudah menjual nama-Mu, Velan membatin.


"Ayo kita temui nenek dan kakek," ajak Vega.


Velan mengikuti langkah Vega menuju ke meja tempat nenek dan kakek Voren nampak dikelilingi oleh para tamu yang tak lain berasal dari kalangan keluarga besar mereka. Acara pesta ulang tahun Alena hanya mengundang keluarga besar pihak Alena dan keluarga besar Lazaro.


Terlihat Alena nampak membuka satu per satu kado yang diberikan oleh sanak keluarganya yang datang dan mengucapkan selamat. Mata Velan menangkap sosok wanita berwajah angkuh yang memakai gaun malam berwarna merah gelap berpotongan lurus. Wanita itu adalah wanita yang datang pada acara pesta pernikahan Velan, namun sama sekali tidak mengucapkan selamat pada Velan.


"Bibi Alena, terimalah pemberian sederhana dari saya, ini adalah kalung giok dari Tiongkok yang dipercaya akan memberi kesehatan dan umur yang panjang untuk Bibi," kata Darla sambil membuka kotak berbahan beludru warna merah ke hadapan Alena.


Sebuah kalung dengan rantai emas dan batu giok berwarna hijau berbentuk lingkaran terlihat mengesankan siapa pun yang melihatnya.


Velan merasa gelisah, ia bahkan tidak membawa kado mewah untuk nenek Voren seperti tamu-tamu yang lain.


"Terima kasih, Darla," kata Alena.


Asisten Alena dengan sigap mengambil kotak perhiasan itu agar tidak memenuhi meja.


"Darla, kau tidak datang bersama Daren?" tanya Alena.


"Bibi, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan Daren, Daren bilang akan segera menyusul kemari," jawab Darla.

__ADS_1


"Begitulah Bibi, anak-anak harus bekerja lebih keras  agar dapat meneruskan perjuangan orang-orang yang sudah tua," lanjut Darla.


Vega tertawa dalam hati, sungguh Darla sedang berusaha untuk menjilat ibu mertuanya dalam rangka mencari dukungan. Vega sungguh tak boleh  kalah dari Darla, ia juga harus berusaha untuk mendapatkan dukungan penuh dari mertuanya.


"Ibu, cucu menantu Ibu sudah datang," kata Vega ke arah Alena.


Velan segera mengambil tangan Alena dan mengecup punggung tangan yang sudah dipenuhi keriput itu. Velan membalas senyum Alena yang menatap lurus ke arah Velan.


"Selamat ulang tahun, Nenek," kata Velan.


"Terima kasih," kata Alena. "Ke mana Voren?" tanya Alena.


"Voren masih sibuk dengan pekerjaannya, Bu. Voren akan segera menyusul," jawab Vega.


"Voren sibuk? Wah sungguh hal yang sangat mengejutkanku," sahut Darla seraya tertawa dengan tawanya yang dibuat-buat.


"Darla, bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak harus bekerja lebih keras agar dapat meneruskan perjuangan orang-orang yang sudah tua?" tanya Vega dengan nada menyindir.


"Vega, aku malah berpikir bahwa kesibukannya hanya menjadi alasan agar ia tidak datang ke pesta ulang tahun neneknya," sahut Darla.


Suasana seketika menegang, Darla dan Vega harus benar-benar pandai menyembunyikan emosi mereka. Darla melotot tajam ke arah Velan dengan mata kucingnya. Bibirnya yang tebal dan penuh dalam sapuan perona bibir berwarna merah gelap itu nampak mengerut menunjukan ekspresi seakan ia sedang mengunyah mangga muda.


Alena mengarahkan pandangannya ke arah Vega dan Velan secara bergantian.


"Vega, apa maksud perkataanmu barusan bahwa istri Voren saat ini tengah mengandung?" tanya Alena.


Darla merasa mendengar petir yang sambar-menyambar dalam kepalanya.


Apa?! Istri Voren hamil?! Batin Darla berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Ibu, kita doakan saja berita baiknya," kata Vega sambil mengulas senyum penuh kemenangan saat melirik ke arah Darla yang menyembunyikan rasa kesalnya.


Alena meraih tangan Velan, wanita tua itu tersenyum hangat pada Velan.

__ADS_1


"Kami tunggu kabar baiknya ya, Cucuku," kata Alena.


Velan merasa sungguh terbebani dengan keadaan ini. Semua orang jelas terlihat berharap sangat pada kehamilannya.


"Oh wow, ini toh istrinya Voren?" terdengar suara seorang wanita nampak menyeruak di antara kerumunan orang-orang.


"Hmm, selera Voren sungguh unik," sahut seorang wanita lain yang juga ikut bergabung membelah kerumunan.


"Renata, Renava, perkenalkan ini Velan, istrinya Voren," kata Vega sambil mengulas senyumnya kepada dua anak tirinya.


Renata memerhatikan penampilan Velan yang nampak begitu sederhana. Gaun hitam dengan model V berpotongan lurus sebatas lutut. Renata sendiri mengenakan gaun hitam tanpa lengan dengan panjang medium yang membalut sempurna tubuh tinggi dan rampingnya. Rambut hitam dan panjang milik Renata tergerai indah, begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Renata memakai riasan tipis dengan perona bibir berwarna merah cerah.


Renava memiliki mata besar yang membuat Velan jadi teringat pada Kak Toro. Mata besar yang melotot tajam itu membuat nyali Velan menciut. Renava juga memiliki tubuh tinggi dan ramping. Kulitnya seputih susu dengan rambut hitamnya yang panjang ditata bergelombang. Renava memakai gaun berwarna merah muda yang mengekspos bahunya yang ramping dan mulus.


Lagi-lagi Velan merasa rendah diri lantaran melihat penampilan kakak-kakak iparnya yang bervisual serbuk berlian. Mereka begitu cantik dan berpenampilan mewah. Mata Velan tertuju pada kalung dan sepasang anting berlian yang menyempurnakan penampilan mereka. Keduanya memakai kalung dan anting yang sama persis seperti perhiasan yang Velan temukan di saku jas Voren. Kalung dan anting berlian yang keberadaannya tiba-tiba saja menguap. Tiba-tiba saja perasaan Velan menjadi tidak enak. Dalam benaknya muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat Velan seketika gundah. 


Kalung dan anting berlian model itu sedang tren ya?


"Hai, Velan," sapa Renata membuat lamunan Velan seketika buyar.


"Hadir!" jawab Velan.


Renata dan Renava sontak berpandangan. Velan tersenyum kikuk karena saat ini semua mata tertuju padanya.


"Velan, apa kau pikir aku dosen yang sedang memanggil daftar kehadiran mahasiswa?" tanya Renata keheranan.


"Ma-maaf Kak, saya gagal fokus, karena kalian sungguh membuat saya terpesona dengan kecantikan kalian," jawab Velan sambil menyeringai kikuk.


"Terima kasih atas pujianmu, Velan," kata Renava.


Tiba-tiba suasana kembali menegang tatkala kedatangan seorang pria yang langsung disambut dengan penuh penghormatan.


Semua orang langsung nampak membubarkan diri ketika pria itu beserta rombongannya menghampiri Alena.

__ADS_1


...~...


__ADS_2