
Voren Lazaro adalah seorang pria yang sangat menjunjung tinggi reputasi, nama baik, dan harga diri yang baginya sudah menjadi harga mati sehingga tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Saat ini, ia merasa bahwa harga dirinya sedang dipertaruhkan. Hal tersebut terjadi lantaran istrinya mengaku telah memiliki pria idaman lain yang jauh lebih segalanya dari Voren.
Voren benar-benar yakin, jika istrinya memang memiliki pria idaman lain, pria itu pastilah hanya pria level sampah! Voren sangat menyakini bahwa pria idaman lain istrinya itu hanyalah pria tua yang mungkin sudah seumuran papanya, berkepala botak, dan berperut buncit. Pria yang bahkan sudah mengalami disfungsi seksualitas yang hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Pria yang hanya bisa menunggu dimangsa karena sudah tidak bisa memangsa lagi.
Pria seperti itulah yang tergambar jelas dalam benak Voren. Namun ia sungguh tidak bisa menyangka bahwa sosok pria idaman lain istrinya justru adalah Daren?!
Voren benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa pria macam Daren mengencani istrinya?!
Lelucon macam apa ini?
Mau ditaruh dimana wajah Voren jika Daren sampai tahu bahwa ia adalah suami kekasihnya?!
Lelucon macam apa ini?
Apa yang harus kulakukan? Batin Voren berpikir keras.
Otaknya yang tidak terbiasa berpikir keras jelas harus ia pergunakan demi menyelamatkan harga dirinya. Saat ini ia tentu tidak bisa hanya sekedar berharap pada Doni yang masih mematung. Pria itu membatu seakan baru saja melihat kepala Medusa.
"Meja," kata Voren tiba-tiba.
"Meja?" tanya Daren keheranan.
Doni tersadar dari keterpahatannya, ia segera mengerti apa maksud Tuan Voren sehingga pria itu pun langsung melakukan improvisasi.
"Benar, Tuan Daren, kami menumpang di meja ini karena meja yang lain masih penuh," jawab Doni.
Anda memang pintar Tuan Voren, Doni membatin sambil melirik ke arah pria itu.
"Oh begitu, kalian tidak reservasi dulu?" tanya Daren.
"Kami tidak menduga bahwa restoran akan sepenuh ini, Tuan Daren," jawab Doni.
Velan masih menegang, begitu pun dengan Voren yang berusaha menutupi ketegangannya.
Voren jelas mengalami pergulatan batin, ia bertanya-tanya apa benar Daren adalah kekasih istrinya.
Jika harus mengingat masa lalu, Daren memang kerap mengencani banyak gadis. Tidak ada tipe khusus ataupun standar operasional yang ditetapkan oleh Daren.
Mulai dari gadis yang paling cantik dan populer hingga gadis kutu buku pernah berkencan dengan Daren. Tapi itu bukan berarti Daren adalah seorang fucek boy, karena pada saat itu semua gadis seakan bersedia mengantri untuk berkencan dengan Daren.
Oleh sebab itu, hal yang saat ini perlu dilakukan oleh Voren adalah mengawasi dan memastikan kembali apa benar Daren adalah kekasih istrinya.
Sementara dalam benak Velan, saat ini wanita itu jelas bertanya-tanya sendiri, bagaimana Daren bisa mengenal Voren?
Apakah Voren atau Doni pernah menggunakan jasa Daren?
Terlintas dalam benak Velan, ketiga pria ini sedang berada di sebuah kamar hotel jenis presidensial. Ketiga pria itu melakukan aksi penuh gairah dan bersenang-senang bertiga dalam pesta lajang yang begitu berbahaya.
Oh Tuhan, otakku rusak! Batin Velan begitu gelisah.
Tapi Doni bahkan memanggil Daren dengan sebutan yang setara dengan Voren. Apa karena Daren merupakan pria yang berada di puncak piramida dikalangan pria penghibur? Batin Velan bertanya-tanya.
"Daren, maaf ya, kami tidak bermaksud mengganggu kencanmu," kata Voren.
Voren jelas harus mulai melakukan sandiwara di atas panggung yang mau tidak mau harus diciptakannya guna menjaga nama baiknya.
Daren mengulas senyumnya ke arah Velan yang terlihat menegang. Velan mengawasi Voren yang sepertinya sedang memasang strategi sehingga Velan jelas harus memasang strategi yang sama.
Ini adalah pertempuran mereka di atas meja makan. Perang mental babak satu yang harus di hadapi oleh Velan.
"Tuan Daren, saya tidak menduga bahwa Anda punya kekasih," kata Doni tiba-tiba.
Daren kembali tersenyum.
"Velan, perkenalkan, ini Voren dan Doni," Daren memperkenalkan kedua pria itu pada Velan.
Daren, aku bahkan sangat mengenal dua pria pendusta ini, batin Velan sambil mengulas senyumnya.
"Wah, aku sungguh tak menduga akan bertemu denganmu dan kekasihmu, Daren," kata Voren.
Cih, bagaimana bisa kau mengencani istriku Daren! Dasar laki-laki tidak berakhlak! Voren mengumpat dalam hati.
"Tuan Daren, Anda dan Nona Velan sudah berkencan lama?" tanya Doni. "Ha-habisnya, Tuan Daren tidak pernah terdengar berkencan dengan wanita," kata Doni.
"Doni, kau berkata seperti itu seakan aku adalah pria yang mengencani pria," Daren terkekeh.
"Oh, ah, maafkan atas kelancangan saya, Tuan Daren," Doni menunduk dalam.
Ah, kenapa aku jadi teringat asumsi Dinar? Doni menyeringai kikuk.
"Tidak bisa disebut lama dan tidak bisa disebut baru juga, Pak Doni," jawab Velan dengan cepat.
__ADS_1
Velan harus melakukan improvisasi, jangan sampai kebohongannya terbongkar.
Daren mengulas senyumnya ke arah Velan, Velan membalas senyuman Daren. Entahlah, saat ini Velan benar-benar berharap dengan sangat agar kebohongan sempurnanya ini jangan sampai terbongkar.
Saat rencana A gagal, mari kita coba rencana B! Batin Velan sambil terus tersenyum lembut dan hangat ke arah Daren.
Doni bisa melihat kedua orang itu benar-benar seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara. Terlebih Nona Velan tersenyum begitu lembut dan hangat kepada Tuan Daren. Senyum yang kini tak pernah ditampilkan lagi di hadapan Doni dan juga Tuan Voren.
Nona Velan, Anda benar-benar wanita yang sungguh tidak terduga!
Bagaimana anda bisa mengencani Tuan Daren? Bagaimana bisa Nona? Batin Doni kembali bergulat pada kenyataan yang mencengangkan.
"Oh ya Voren, kau dan Doni datang berdua saja? Kau tidak mengajak istrimu?" tanya Daren.
Voren mengulas senyumnya, menimbang-nimbang apa yang harus dikatakannya. Ia tentu tidak boleh sampai salah bicara.
Awasi musuhmu!
"Istriku sangat sibuk, Daren," jawab Voren.
Ya, dia sibuk mengejar pria lain, sibuk tersenyum menyebalkan kepada pria lain, sibuk membanggakan pria lain! Pria lain yang tak lain adalah kau Daren! Sial! Voren mengumpat dalam hati namun wajahnya tetap tersenyum memamerkan dua lesung pipinya.
Ya ampun, Tuan Daren, jika Anda tahu, kekasih Anda adalah istri Tuan Voren, apa yang akan Anda lakukan? Batin Doni.
Daren merogoh saku jasnya, ponselnya berdering.
"Sebentar, aku angkat telepon dulu," kata Daren berpamitan.
Sepeninggal Daren, ketiga manusia yang duduk di satu meja saling tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Istriku, apa kau serius berkencan dengan Daren?" tanya Voren menjaga nada bicaranya.
"Kenapa? Kaget ya?" tanya Velan dengan nada mengejek.
Voren menatap lurus ke arah Velan yang saat ini sedang tersenyum sinis ke arahnya.
"Ya, tapi bagaimana bisa?" tanya Voren.
"Ya bisalah! Jodoh kan tidak akan kemana! Haha! Terlebih kami saling mencintai dan saling membahagiakan! Harus berapa kali kukatakan agar kau bisa mengerti?!" sahut Velan penuh kemenangan.
Voren mengepalkan tangannya, rasanya saat ini ia ingin menguras kolam ikan saking jengkelnya.
"Tuan, Nona, tolong jangan bertengkar sekarang," Doni menengahi kedua pasangan suami istri ini.
Daren kembali bergabung dengan mereka bertiga, bertepatan dengan pelayan yang datang mengantarkan pesanan makanan.
"Wah, aku bahkan belum memesan makanan, tapi makanannya sudah datang," kata Daren keheranan.
"Tuan Daren, maaf atas kelancangan saya, hanya saja saat ini memang sudah jam makan Tuan Voren, Anda tidak keberatan kan, kami mengganggu kencan Anda?" kata Doni.
"Bagaimana, Velan?" tanya Daren ke arah Velan.
"Daren, aku tidak keberatan, selama kau ada di sisiku," jawab Velan.
"Terima kasih, Velan, kau sungguh pengertian," kata Daren.
Entah mengapa Voren merasa mual melihat dua pasangan di hadapannya ini.
"Daren, karena kau sudah bersedia berbagi meja, maka izinkan aku untuk berbagi makanan, silakan dimakan bersama," kata Voren.
"Terima kasih, Voren," kata Daren.
"Pelayan!" panggil Velan ke arah pelayan yang kebetulan lewat.
"Tolong bawakan gula, garam, dan lada putih," kata Velan.
"Baik," jawab pelayan itu.
Velan sungguh tahu, hidangan sup ikan di hadapan mereka ini jelas adalah selera Voren. Jangan sampai ia memakan sup yang rasanya seperti air kobokan.
Daren akan mengambil sup itu, namun Velan menahannya.
"'Daren, izinkan aku meracik sup untukmu," kata Velan.
"Oh baiklah," kata Daren.
Pelayan datang membawa pesanan Velan. Velan segera mengambil mangkuk dan menuangkan sup ke dalam mangkuk lalu mulai menaburkan gula dan garam ke dalam sup itu.
"Daren, silakan," kata Velan.
"Terima kasih, tapi untuk apa kau meracik lagi sup ini?" tanya Daren keheranan.
"Oh, dari aromanya aku sudah mencium bahwa sup itu akan kurang bumbu," jawab Velan.
__ADS_1
"Oh begitu," kata Daren menanggapi.
Daren segera mencicipi sup tersebut, begitu juga dengan Doni yang sibuk menuangkan sup untuk Tuan Voren.
"Bagaimana, Daren?" tanya Velan. "Apa racikannya pas?" tanya Velan.
"Ini enak sekali, terima kasih," jawab Daren.
Velan mengulas senyum penuh kemenangan, setidaknya ia sudah menyelamatkan Daren dari memakan sup yang seperti air kobokan karena diet aneh Voren.
Voren benar-benar kehilangan selera makannya. Saat ini ia benar-benar sedang merasa jengkel dan emosi. Apa kedua manusia di hadapannya ini sedang bermain peran?
Voren benar-benar tidak merasa tenang, bagaimana bisa Daren adalah sosok pria idaman lain istrinya?
Ini tidak mungkin! Ini pasti bohong kan?!
Padahal ia sudah berpikir bahwa istrinya jelas hanya berhalusinasi tentang adanya pria idaman lain.
Lalu kini, istrinya justru menghadirkan sosok Daren sebagai pria idaman lain istrinya!
Katakan bahwa ini hanya sebuah kebohongan!
Katakan bahwa semua ini hanya prank demi konten!
Semua ini tidaklah nyata!
Batin Voren benar-benar bergejolak melihat istrinya yang saat ini sedang membersihkan mulut Daren dengan tisu.
"Pelan-pelan saja makannya, Daren sayang," kata Velan.
"Terima kasih," kata Daren.
Haha! Lihatlah! Istrimu terang-terangan melakukan perselingkuhan! Dan kau hanya bisa diam? Setan mulai berbisik di telinga Voren.
Lihat, ikan-ikan di kolam pun ikut menertawakan betapa meng-sedihnya dirimu, diselingkuhi di depan kedua bola matamu! Lanjut setan-setan yang berbisik.
Meng-sedih! Meng-sedih! Setan-setan bersorak.
Wanita itu bahkan tidak pernah bersikap lembut terhadapku! Dia selalu ngegas dan menyeret nama Soraya yang akhirnya memicu pertengkaran! Batin Voren kembali bergejolak.
Voren jadi bertanya-tanya, apa yang dilihat Daren dari istrinya itu?
Voren bahkan tidak pernah sedikit pun tertarik pada istrinya. Tapi bagaimana Daren bisa tertarik?
Apa istimewanya wanita ini?
Prang...!
Mangkuk sup Voren pecah karena Voren tanpa sadar memukul mangkuk sup dengan sendoknya. Kuah sup langsung memenuhi meja.
"Tuan Voren, Anda baik-baik saja?" tanya Doni membuyarkan lamunan Voren.
"Oh maaf," kata Voren.
Voren segera menyeka mulutnya dengan tisu.
"Aku ke toilet dulu," Voren berpamitan.
"Saya juga," sahut Doni segera mengekori Tuan Voren.
Velan mencuri pandang ke arah dua pria yang meninggalkan meja.
"Astaga, Voren mengagetkanku saja," kata Daren.
Velan mengulas senyumnya ke arah Daren.
"Oh ya, Velan, katamu suamimu akan datang bersama kekasihnya?" tanya Daren sambil melihat berkeliling.
"Oh, sepertinya mereka sudah pergi karena melihat kita seperti ini," jawab Velan.
"Benarkah?" tanya Daren. "Apa itu artinya sandiwara saya berhasil?" tanya Daren.
Velan mengulas senyumnya.
"Anda sepertinya pantas menjadi seorang aktor kenamaan," puji Velan.
"Saya hanya bertindak sesuai insting," kata Daren.
Velan terpana melihat Daren yang benar-benar bersikap profesional.
Pantas saja kan, pria ini menduduki puncak piramida sebagai pria panggilan nomor wahid?
...~...
__ADS_1