
Velan masih memandangi pria yang saat ini tak henti-henti menatapnya. Sudah lama mereka tidak berjumpa dan tidak saling bertegur sapa. Daripada disebut bertegur sapa, lebih tepatnya mereka tak pernah saling bertukar kabar berita.
Velan memperbaiki posisi tangannya yang terasa kram akibat belitan selang infus di tangan kanannya. Velan merasa sudah lebih baik sejak cairan infus bercampur obat menyusup masuk ke pembuluh darahnya.
Velan sudah berada di ruang perawatan VIP yang jauh lebih tenang dan eksklusif dibandingkan dengan ruangan UGD yang terlalu terbuka.
Velan mendengus kesal, merasa bahwa saat ini ia lagi-lagi menerima ketidakadilan. Saat ini Velan sedang berjuang melalui kehamilan yang begitu menyiksanya, namun pria yang menghamilinya ini nampak baik-baik saja. Pria itu bahkan terlihat lebih bersolek dengan rambut ungunya yang nyentrik.
Voren menggeser posisi tangan kanannya yang dibelit dengan selang infus bercampur obat yang kini sedang menjalar sangat cepat melalui pembuluh darah, memberi efek nyaman pada ulu hatinya yang terasa terbakar akibat tingginya asam lambung yang sedang meronta-ronta dalam lambungnya.
Matanya menatap wanita di hadapannya ini yang nampak lemah, dengan wajah pucat, mata cekung, dan terlihat jauh lebih kurus daripada saat mereka bertemu terakhir kali.
Apa karena wanita ini sedang mengandung?
Mengandung? Hamil? Anak siapa?
Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dalam benak Voren dan ia berharap mendapat jawabannya.
"Sudah berapa bulan kau mengandung?" tanya Voren.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Voren terdengar singkat namun penuh selidik bagi Velan. Velan tidak segera menjawab, saat ini ia masih memendam perasaan kesal pada pria itu.
"Apa anak yang kau kandung adalah anakku?" tanya Voren.
"Aku benar-benar kesal karena anak yang kukandung ini adalah anakmu!" jawab Velan dengan sinisnya.
Voren tidak tahu harus bereaksi apa, namun dalam hatinya saat ini sedang bermekaran berjuta-juta bunga kebahagiaan.
"Dasar pria brengsek!" sembur Velan.
__ADS_1
Jutaan bunga-bunga yang bermekaran di sekitar Voren seketika layu. Ada kemarahan yang secara perlahan merambat dalam hatinya.
"Apa? Aku pria brengsek? Bagaimana bisa kau menyebutku pria brengsek?" Voren terperangah.
"Ya, kau pria yang brengsek karena kau sudah menghamiliku!" tandas Velan.
"Istri, em, Velan, kau jangan lupa, kita bercinta atas kesepakatan dan persetujuan bersama," kata Voren masih menjaga intonasi bicaranya.
"Ya, aku memang setuju untuk tidur bersamamu! Tapi aku tidak setuju jika harus hamil seperti ini!" sembur Velan lagi.
"Velan, aku bahkan menggunakan pengaman yang baik dan benar! Aku rasa tidak mungkin kau bisa hamil, jika kau hamil pun, kemungkinan itu pasti bukanlah benihku!" tukas Voren.
"Jika kau memang sudah menggunakan pengaman secara baik dan benar, lantas mengapa aku sampai hamil begini?! Dan kini kau bahkan menuduh janin yang kukandung bukanlah benihmu padahal aku hanya tidur denganmu!" cecar Velan.
Velan melemparkan tatapan penuh kebencian pada pria yang justru mengurai senyum, memamerkan dua lesung pipinya yang dalam.
"Baiklah, kalau memang kau mengandung anakku, aku akan bertanggung jawab," kata Voren.
"Velan! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?! Bukankah sudah kukatakan akan bertanggung jawab atas janin yang sedang kau kandung?" sergah Voren.
"Bertanggung jawab? Bagaimana caramu untuk bertanggung jawab? Apa kau akan memberi semua uangmu?"
"Apa kau pikir dengan semua uangmu, kau bisa membuatku merasa baik-baik saja untuk menjalani kehamilanku ini?! Jujur saja aku tidak sanggup menderita seperti ini, aku tidak bisa makan enak, aku tidak bisa tidur nyenyak! Sementara kau bisa hidup nyaman di atas penderitaanku ini!" cecar Velan.
"Dan yang lebih mengerikan lagi, setelah aku harus melalui masa kehamilan mengerikan ini, lantas kau akan mengambil anak ini, lalu hidup berbahagia selamanya dengan Soraya! Sungguh skenario sempurna yang sudah kau siapkan! Begitu kan, Voren Lazaro?!"
Air mata mulai menetes dari kedua pelupuk mata Velan. Dadanya bergemuruh, sakit rasanya harus meluapkan semua asumsinya itu. Namun Velan pikir lebih baik ia mengutarakan semua itu daripada hanya memendamnya saja.
"Itulah alasan mengapa aku berpikir untuk menggugurkan janin yang tidak kuinginkan ini!" Velan menyeka air matanya.
__ADS_1
Voren beranjak dari sofa tempatnya duduk, lalu berlutut di hadapan Velan yang masih duduk di tempat tidurnya. Voren mengambil tangan Velan, Velan berusaha menepis tangan Voren, namun sia-sia saja, pria itu menggenggam tangan kirinya dengan erat.
"Velan, jika kau berpikir seperti itu, kau sungguh salah," kata Voren.
"Kau salah jika melampiaskan kesalahan kepada anak yang sedang kau kandung. Kau cukup membenciku, jangan membenci anak yang kau kandung. Kau salah besar jika berasumsi seperti itu terhadapku."
"Aku akan bertanggung jawab penuh tidak hanya secara materi, jika kau merasa tidak adil lantaran aku hidup nyaman di atas penderitaanmu, lebih baik kita jalani bersama kehidupan itu agar kau tidak merasa bahwa hanya aku saja yang hidup dengan nyaman," lanjut Voren.
"Velan, jujur, aku mengaku bersalah karena aku sudah bersikap egois, aku bersalah karena sudah menyakitimu dengan menginginkan wanita lain padahal aku sudah memilikimu. Aku benar-benar sudah membuat keputusan yang salah karena mencintai wanita yang tidak pernah mencintaiku, menyia-nyiakan cinta dari seseorang yang benar-benar mencintaiku."
Velan menunduk, tak sanggup melihat tatapan mata Voren yang terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Aku dan Soraya benar-benar sudah berakhir bahkan tanpa pernah dimulai. Aku sungguh bersalah padamu, Velan. Kumohon, cintailah aku seperti saat itu. Cintailah aku seperti saat sebelum kau membenciku. Jika kau memang sudah tidak bisa mencintaiku lagi, maka bencilah aku hingga kau lupa bahwa kau sangat membenciku."
"Aku sungguh menginginkanmu untuk kembali ke sisiku, Velan, bukan hanya sekadar karena ada benihku yang sedang kau kandung. Aku sungguh menginginkanmu karena aku membutuhkan dirimu untuk menjadi segalanya bagiku," lanjut Voren.
Velan menangis, jauh di lubuk hatinya ia sungguh ingin memercayai semua perkataan pria pendusta ini, namun akal sehat masih menghalanginya. Apa yang bisa membuat Velan percaya bahwa pria ini bersungguh-sungguh?
Masih segar dalam ingatan Velan, bagaimana pria ini bersikap sesuka hatinya ketika menyakiti Velan. Namun, tak menutup kemungkinan juga bila pria ini bersungguh-sungguh terhadap ucapannya. Namun lagi-lagi, siapa yang bisa menjaminnya?
Siapa yang bisa menjamin bahwa pria ini tidak akan mempermainkan Velan?
Tidak menutup kemungkinan, pria ini hanya menggunakan Velan untuk menampung benihnya. Menjadikan Velan hanya sebagai tempat untuk menumbuhkan benihnya saja.
Voren bisa melihat bahwa Velan jelas merasa keberatan untuk memulai kembali kehidupan bersamanya. Luka yang ditorehkan oleh Voren jelas begitu dalam untuk Velan. Terlebih Velan adalah seorang wanita yang begitu keras kepala dan sangat teguh dengan pendiriannya.
Semakin Voren memohon, semakin Velan berkeras untuk menolak permohonan Voren.
"Velan, jika kau memang ragu untuk hidup bersamaku, baiklah tidak masalah, namun izinkan aku untuk berbagi kehidupan denganmu sampai kau melahirkan anak ini," tutup Voren.
__ADS_1
...~...