Jodoh Instan

Jodoh Instan
Sesi Konsultasi


__ADS_3

"Saya ini belum lama menikah dengan seorang pria yang sangat tampan, yah, setampan anda Tuan, tapi di mata saya, suami saya jauh lebih tampan lagi," kata Velan mulai bercerita.


Pria tampan itu mendengarkan Velan dengan saksama.


"Kami menikah karena perjodohan, bagi saya itu tidak masalah karena suami saya adalah sosok pria yang sempurna sekali di mata saya," kata Velan dengan tatapan mata yang menerawang.


Velan tentu tak perlu menceritakan secara detail bahwa ia datang ke paranormal untuk dicarikan jodoh. Dan tentu masalah utangnya pun tidak perlu dijelaskan secara terperinci. Durasi konsultasi dengan pria panggilannya ini tentu tidak boleh disia-siakan begitu saja.


"Anda menikah dengan pria yang begitu sempurna, kalau begitu masalahnya di mana?" tanya pria tampan itu.


Velan menghela napas berat, rasanya sungguh berat harus mengatakan hal ini pada siapapun. Sungguh aib rumah tangga yang sebenarnya tak boleh ia umbar. Hanya saja, lagi-lagi karena ini adalah sesi konsultasi, maka ia harus berterus terang. Lagipula mereka tidak saling mengenal, sehingga tidak ada salahnya ia menceritakan kisah pahitnya ini.


"Suami saya tidak tertarik pada wanita dan saya baru tahu setelah kami menikah," jawab Velan dengan air mata yang kembali menetes.


Pria tampan itu tertegun mendengar perkataan Velan.


"Bayangkan bagaimana perasaan saya begitu hancur! Di malam pertama pernikahan kami harusnya menjadi malam pertama yang indah, saya harus mendapati sebuah kenyataan yang begitu pahit! Miris sekali, kan?! Saya hanya bisa mengagumi keindahan suami saya tanpa bisa merasakannya!" Velan menangis sesenggukan.


Ih wow, miris sekali, pikir pria tampan itu.


Velan berusaha menenangkan dirinya, ia tak boleh menangis, jangan sampai membuang-buang durasi.


"Jadi, menurut Anda, apa yang harus saya lakukan agar suami saya bisa kembali ke fitrahnya sebagai seorang pria dan agar suami saya bisa tertarik pada saya?" tanya Velan.


"Nyonya," kata pria itu ke arah Velan.


"Saya minta maaf sebelumnya, saya tidak bisa memberi saran untuk masalah orientasi seksual suami Anda," kata pria itu.


Pria itu menatap lurus ke arah Velan.


"Tapi Tuan, Anda adalah orang yang sudah berpengalaman dalam melayani klien baik pria maupun wanita, menurut saya Anda pasti tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi para klien Anda, karena Anda adalah ahlinya," kata Velan.


Pria tampan itu mengulas senyumnya.


"Baiklah, untuk kasus Anda ini menurut saya solusinya ada pada diri Anda sendiri, cobalah Anda menilai diri Anda, temukan semua kekurangan dan kelebihan yang Anda miliki, lalu perbaiki kekurangan Anda. Kekurangan yang Anda miliki bisa menjadi kelebihan Anda! Sedangkan untuk kelebihan Anda lebih ditingkatkan dan dikembangkan ke arah yang lebih baik," pria tampan itu masih mengulas senyum cemerlangnya.


"Bisa Anda coba jelaskan pada saya menurut Anda apa kekurangan saya? Saya butuh pendapat Anda sebagai seorang pria yang sangat berpengalaman, tolong beri saya kritik dan saran yang membangun agar saya bisa memperbaiki semua kekurangan itu," kata Velan.


...~...


Daren mengulas senyum saat memerhatikan dengan saksama wanita yang saat ini sedang berkonsultasi dengannya. Entah mengapa Daren merasa hanyut dalam keluh kesah yang disampaikan oleh wanita malang tersebut. Wanita ini dijodohkan dan ternyata suaminya justru tidak tertarik pada wanita. Sungguh miris karena ternyata wanita ini mengetahui hal tersebut setelah mereka menikah.


Itulah salah satu alasan mengapa Daren tidak bersedia mengikuti perjodohan. Ia lebih memilih pasangan hidup yang dipilihnya sendiri. Sehingga apapun yang terjadi ke depannya sudah menjadi tanggung jawabnya atas pilihannya sendiri.


Daren terpaksa meladeni wanita ini lantaran merasa sangat kasihan pada si wanita. Entah pria macam apa yang menjadi suaminya. Terlihat jelas bahwa wanita ini begitu mencintai sang suami, namun cintanya bertepuk sebelah tangan lantaran suami yang tak tertarik pada wanita.


Bagi sang suami pernikahan tersebut jelas hanyalah sebuah status semata, sementara bagi sang istri, ia sangat berharap dapat menjalani pernikahan bahagia yang seutuhnya.


"Jadi, menurut Anda, apa kelebihan Anda?" tanya Daren ke arah wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu nampak berpikir keras.


"Saya tidak punya kelebihan apapun, selain lebih banyak mendapat masalah," jawab wanita itu nampak tertunduk lesu.


"Nyonya, percayalah, Tuhan tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba-Nya," kata Daren.


Wanita itu tertegun mendengar perkataan Daren.


Wah, aku terkejut! Untuk ukuran seorang pria panggilan ternyata dia religius sekali, batin wanita itu.


"Kalau Anda tidak menemukan kelebihan yang Anda miliki, itu artinya Anda belum mengenal diri Anda sendiri, itulah menurut saya kekurangan terbesar Anda," kata Daren.


"Be-begitu ya?" tanya wanita itu dengan ekspresi terperangahnya yang menurut Daren sangatlah lucu.


Daren mengangguk.


"Tapi, saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik! Saya bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika pakaian dengan rapi, saya juga sangat cermat terhadap keuangan," kata wanita itu.


Daren mengulas senyumnya, wanita di hadapannya ini tipe ibu rumah tangga pada umumnya. Sungguh tipe wanita yang langka dan nyaris punah lantaran pergeseran zaman.


"Ya, maksud saya seperti itu," kata Daren menanggapi.


"Tapi apa gunanya semua itu, jika suami saya tidak tertarik pada wanita," keluh wanita itu lagi.


"Apa anda yakin, suami Anda tidak tertarik pada wanita?" tanya Daren.


"Suami saya mengatakannya sendiri," jawab Velan.


"Nyonya, kalau menurut saya pribadi, pada dasarnya pria adalah makhluk visual, sehingga para pria kebanyakan merasa lebih senang melihat segala sesuatu yang membuat mereka merasa senang dan tertarik," kata Daren.


"Apalagi menurut penuturan Anda tadi, bahwa suami Anda bahkan lebih tampan dari saya, jelas itu berarti suami Anda sangat peduli pada penampilannya," Daren melanjutkan.


"Be-begitu ya," kata wanita itu kembali terperangah.


"Dan menurut saya kunci keberhasilan sebuah hubungan adalah komunikasi yang baik! Saya yakin, semua hal akan lebih baik jika dibicarakan dengan kepala dingin. Jika memang suami Anda tidak tertarik pada wanita, mungkin Anda bisa mendiskusikannya, bersama-sama mencari solusi. Jika hanya Anda yang mencari solusi, saya rasa sungguh tidak efektif! Pernikahan itu kan menyatukan dua manusia yang berbeda baik jenis kelamin hingga persepsinya," Daren menjelaskan panjang lebar.


Entah mengapa Daren merasa ia menjelma menjadi seorang motivator dadakan. Rasanya sungguh aneh, seorang pria lajang sepertinya malah memberi nasehat untuk orang yang sudah menikah.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk menggurui Anda, hanya saja hal ini murni sebagai bentuk pandangan saya saja," Daren melanjutkan.


Wanita itu nampak terlihat bimbang, terlihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.


"Tuan, apakah Anda tahu, saya sempat berpikir apakah saya harus menjadi seorang pria agar suami saya tertarik pada saya?" kata wanita itu dengan air mata yang kembali berlinangan.


"Nyonya, menurut saya sederhananya seperti ini saja, Anda sebaiknya mencintai diri Anda sendiri lebih dulu sebelum mencintai suami Anda," kata Daren.


"Fokuslah untuk memperbaiki diri Anda demi menjadi versi diri Anda yang lebih baik lagi," lanjut Daren.


Wanita itu menatap cukup lama ke arah Daren. Terlihat ia menghapus air matanya dan beranjak dari sofa. Wanita itu menuju ke meja yang menyediakan teko listrik, kemudian memanaskan air untuk membuat mie cup.

__ADS_1


"Tuan, apa Anda tahu, saya bahkan belum ada makan sejak kemarin malam," kata wanita itu sambil mengaduk-aduk mie cupnya.


Aroma mie cup yang diseduh menguar membuat perut Daren langsung berorkes dangdut.


"Anda mau juga?" tanya si wanita melihat Daren yang nampak meneguk ludahnya.


Wanita itu menyerahkan mie cup yang masih tersegel beserta teko listrik ke hadapan Daren.


"Maaf, saya hanya bisa menyiapkan mie cup," kata wanita itu.


"Terima kasih atas kebaikan Anda," kata Daren sambil mengaduk mie cupnya.


"Saya sungguh baru merasa lapar sekarang," kata wanita itu sambil menarik senyumnya.


Daren segera menikmati mie cup yang sudah lama tak pernah ia makan. Entah mengapa rasanya sungguh enak sekali, apa karena saat ini Daren memang kebetulan sedang lapar?


Keheningan tercipta di antara mereka. Mereka berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Tuan, sepertinya durasi pertemuan kita ini hampir berakhir, Anda mau pembayaran tunai atau saya transfer?" tanya wanita itu nampak ragu-ragu.


Daren mengulas senyum, dalam hati ia tertawa.


Serius wanita ini menganggap Daren sebagai pria panggilan?


"Saya sungguh berterima kasih karena Anda bersedia mendengarkan keluhan saya, saya sungguh tak tahu ke mana harus menceritakan salah satu dari sekian banyak masalah yang saya hadapi, namun setelah berbincang seperti ini saya jadi merasa sedikit lega," kata wanita itu.


Daren kembali mengulas senyum.


"Nyonya, Anda tak perlu membayar saya, toh saya tidak melakukan apapun," kata Daren.


"Serius, Tuan?" tanya wanita itu.


Daren mengangguk.


"Terima kasih Tuan, Anda sungguh baik sekali," kata wanita itu kembali meneteskan air mata.


"Baiklah, jika tak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalau begitu saya pamit undur diri," kata Daren sambil mengambil dua ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja.


Daren melangkah menuju ke pintu keluar, wanita itu mengikuti langkah Daren.


"Tuan, sungguh terima kasih dan selamat tinggal," kata wanita itu.


Daren mengulas senyumnya, ia segera keluar dari kamar mewah tersebut.


Sungguh Daren hanya bisa tersenyum, entah mengapa pertemuannya dengan wanita itu jauh lebih menarik daripada kencan buta yang biasa ia datangi.


Pada kencan buta biasanya ia mendengarkan autobiografi dari para rekan kencan butanya yang membuatnya merasa bosan. Namun kali ini sungguh berbeda, karena ia mendengar kisah hidup seorang istri yang begitu miris dan membuatnya bisa bersimpati.


...~...

__ADS_1


__ADS_2