
"Velan, kau dari mana saja?" tanya Renata begitu melihat Velan kembali ke ruang pertemuan.
"Saya dari luar untuk menghirup udara segar, Kak Renata," jawab Velan.
"Apa kau merasa lelah, Velan?" tanya Renava.
Velan hanya mengulas senyumnya.
"Velan, kamu jangan terlalu lelah ya," sahut Vega yang langsung menghampiri Velan.
"Iya Bu," jawab Velan.
"Untuk menjadi calon ibu, kau harus banyak beristirahat," kata Vega.
"Baik, Bu," jawab Velan sambil mengulas senyum kecut.
"Semuanya, Ibu pamit dulu untuk beristirahat," kata Alena sebelum berpamitan.
"Semuanya, selamat malam," kata Rendarto segera beranjak dari kursinya.
Satu per satu tamu segera berpamitan kepada pasangan sesepuh itu. Pasangan usia senja itu tentu saja harus banyak-banyak beristirahat.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Nenek, semoga Tuhan selalu memberi kesehatan kepada Nenek dan juga Kakek," kata Velan kepada Alena dan Rendarto usai melakukan sungkeman kepada keduanya.
"Terima kasih Cucuku, semoga Tuhan segera memberi kepercayaan, agar kau dan Voren juga cepat dianugerahi penerus keluarga Lazaro ya," kata Alena sambil tersenyum menatap Velan penuh arti.
"Terima kasih, Nenek," kata Velan dengan hati yang mencelos.
Bagaimana bisa cepat diberi keturunan, kalau suamiku saja tidak tertarik pada wanita?! Velan membatin.
Setelah pasangan sesepuh itu pergi, satu per satu tamu meninggalkan ruang pertemuan tersebut. Velan masih berada di ruangan itu bersama keluarga suaminya.
Alren terlihat mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Papa," kata Renata dan Renava bersamaan.
"Papa masih ada urusan," kata Alren.
"Baik Papa," sahut kedua anak perempuan Alren yang langsung merangkul Alren tanpa rasa sungkan.
Terlihat jelas Alren membalas rangkulan dua anak perempuannya yang sudah dewasa, namun bagi Alren keduanya masihlah gadis-gadis kecilnya. Ia melepaskan pelukan Renata dan Renava. Entah mengapa Velan melihat pria tua itu nampak menyerupai seorang sugar daddy yang akan berpamitan dengan sugar baby-nya.
Yah dilihat dari sisi mana pun, ayah mertuanya tergolong pria paruh baya yang kharismatik. Meski usia sudah tidak tergolong muda, penampilan pria itu benar-benar terawat dan terjaga. Sungguh tipikal pria-pria yang menjadi incaran para wanita muda yang gila harta.
Alren menatap ke arah Vega, ia menundukkan kepala kepada suaminya itu. Alren mengalihkan pandangannya ke arah Velan. Velan membungkuk memberi hormat kepada ayah mertuanya. Ia tentu sungkan untuk merangkul ayah mertuanya. Terlebih pertemuan kali ini merupakan pertemuan pertama mereka.
Alren juga melemparkan tatapannya kepada Renal yang membalas tatapan Alren dengan menundukkan kepala. Kemudian Alren bergegas meninggalkan ruangan pertemuan bersama para asistennya.
"Baiklah, kalau begitu Ibu juga mau beristirahat," kata Vega berpamitan.
"Baik Bu," jawab Velan.
__ADS_1
"Selamat beristirahat, Tante," kata Renata dan Renava.
Velan tertegun, mengapa kedua kakak iparnya memanggil Vega dengan sebutan tante? Apa Vega bukan ibu mereka?
"Velan, bisa minta nomor ponselmu? Kapan-kapan kita hangout bersama," kata Renata.
"Iya, aku juga ingin sekalian belajar memasak darimu Velan," kata Renava tak kalah antusias.
"Baik Kak, saya sudah tidak sabar untuk bisa beraktivitas bersama kalian, senang sekali rasanya langsung punya dua kakak perempuan yang begitu cantik seperti kalian," kata Velan.
"Iya, ya, Velan bahkan punya empat kakak laki-laki," kata Renava.
"Satu adik laki-laki kami saja sudah begitu meresahkan, apalagi kau sampai punya empat saudara laki-laki ya, pasti ramai sekali," sahut Renata.
"Hehe," Velan terkekeh.
Bukan hanya ramai Kak, tapi sangat merepotkan sekali, batin Velan.
"Velan, apa Voren memperlakukanmu dengan baik?" tanya Renata.
Renata dan Renava menatap Velan dengan rasa ingin tahu yang membludak. Karena bagi Renata dan Renava, adik mereka itu sungguh sangat menyebalkan. Tak heran mereka kerap bertengkar setiap kali bertemu. Sehingga lebih baik bagi mereka berdua tidak bertemu dengan adik mereka itu.
"Voren sungguh pria yang baik, Kak," jawab Velan.
"Kau yakin?" tanya Renata dan Renava nampak terbelalak.
"Sungguh Kak, Voren merupakan pria paling baik yang pernah kutemui dalam hidupku," jawab Velan.
"Habisnya aku pikir Voren hanya baik kepada sesama kaumnya saja!" Renata tertawa.
"Apa dia masih menempel seperti prangko pada Doni?" tanya Renava.
Velan hanya menyeringai, perkataan kedua kakak iparnya ini jelas sekali menohok Velan. Doni dan suaminya sungguh macam roti dan selai, bunga dan kumbang, hingga gawai cerdas dan power bank.
"Doni sudah menjadi asisten yang sangat loyal terhadap Voren, Kak," jawab Velan.
Ya, Velan bisa mengulas senyum di bibirnya, namunĀ hatinya tersayat-sayat sembilu lantaran terbakar cemburu akan kehadiran Doni yang berperan sebagai orang ketiga di antara ia dan suaminya. Hanya saja Velan harus pandai menyimpan semuanya sendiri secara rapat-rapat. Tidak boleh ada yang tahu masalah ini kecuali ia, Tuhan, dan pria panggilan yang pernah disewanya.
"Oh ya, jangan lupa nomor ponsel ya," kata Renata.
Ketiga wanita itu segera saling bertukar nomor ponsel. Velan sungguh merasa senang sekali, keluarga suaminya benar-benar menyambutnya dengan hangat. Padahal Velan sudah merasa cemas, lantaran biasanya keluarga konglomerat bersikap semena-mena seperti dalam sinetron yang biasa disaksikan oleh Kak Tomi.
...~...
Velan sudah kembali ke unit apartemen mewah yang nampak begitu hening. Hanya terdengar bunyi detik jam dinding yang menggema memenuhi ruangan tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan suaminya belum juga kembali pulang.
Akhir-akhir ini Voren memang kerap pulang hingga larut malam. Velan bahkan tidak menyadari bahwa suaminya itu sudah pulang karena Velan pasti telah terlelap.
"Malam ini aku akan menyambut bapak angkat kalian pulang!" kata Velan di depan tujuh akuarium ikan cup*ng yang penghuninya nampak berenang dengan santuy.
"Lihat, malam ini aku sudah berdandan yang cantik! Lihat gaun baruku ini! Begitu seksi dan menggoda kan?" Velan masih bermonolog sambil berputar-putar seperti penari balet.
__ADS_1
"Apa ya, yang harus kulakukan agar aku tidak mengantuk?" Velan bertanya-tanya sendiri.
"Mungkin aku harus membuat sesuatu," Velan bergegas menuju ke dapur.
Ia mengambil bahan-bahan yang ada dalam lemari es untuk membuat makanan ringan. Berbekal menyaksikan video memasak, ia mulai membuat kue yang rendah gula, mengingat Voren masih menjalankan diet konsumsi gula dan garam.
Velan sudah selesai membuat kue kering, aroma semerbak segera menghunus hidungnya. Entah seperti apa rasanya kue kering yang rendah gula. Mengingat semua kue kering kebanyakan pastilah manis. Ia membiarkan kue keringnya dingin di atas cooling rack.
Velan menatap ke arah jam, sudah jam dua belas dan suaminya masih belum kunjung datang.
"Jam berapa biasanya suamiku pulang, ya?" Velan bertanya-tanya sendiri.
Ia segera menghubungi Doni setelah beberapa kali mencoba menelepon suaminya namun sama sekali tidak ada jawaban.
"Halo, Pak Doni," kata Velan begitu Doni menjawab teleponnya.
"Selamat malam, Nona Velan," kata Doni.
"Doni, mengapa suamiku belum juga pulang? Ini sudah jam berapa?" tanya Velan seperti ibu-ibu yang panik ketika anak bujang mereka belum juga pulang ke rumah padahal sudah larut malam.
"Tuan Voren, tidak akan pulang malam ini, Nona," jawab Doni.
"Apa kalian menginap di kantor?" tanya Velan.
Doni nampak ragu untuk menjawabnya. Ia bisa menduga bahwa Nona Velan pasti akan mencari keberadaan suaminya itu.
"Tidak, Nona," jawab Doni.
"Lantas ke mana suamiku?" tanya Velan.
"Tuan Voren akan menginap di tempat saya, Nona," jawab Doni.
Doni terpaksa harus menutupi kenyataan bahwa Tuan Voren menginap di tempat Soraya.
Velan merasa ada petir yang menyambar dalam kepalanya. Dalam benaknya bermunculan adegan-adegan yang harusnya tak perlu dibayangkan oleh Velan.
"Pak Doni! Aku mau bicara dengan suamiku," kata Velan.
"Maaf Nona, Tuan Voren sudah tertidur, karena beliau mabuk," kata Doni.
"Pak Doni, antar suamiku pulang sekarang! Biar aku yang mengurusnya!" kata Velan setengah membentak.
"Maaf Nona, ini sudah terlalu malam, rawan berkendara saat malam," kata Doni.
"Pak Doni, kakak-kakakku bahkan kerap pulang dini hari dan mereka baik-baik saja hingga kini!" kata Velan.
"Halo... halo... Nona, suaranya tidak jelas...," kata Doni sebelum menutup teleponnya.
Doni segera mematikan ponsel. Malam ini menjadi malam paling menegangkan dalam hidup pria itu.
...~...
__ADS_1