Jodoh Instan

Jodoh Instan
Pertemuan


__ADS_3

"Itu dia Pangeran datang!"


Seruan seorang gadis nampak memberi komando kepada kawan-kawannya yang menunggu di bawah pepohonan rindang dekat pintu gerbang. Berbondong-bondong mereka langsung menyambut kedatangan sebuah mobil mewah yang memasuki pintu gerbang menuju ke area parkir gedung. Mereka semua berlari mengejar mobil mewah itu, dan dalam sekejap sudah bergerombol di sekitarnya. Seorang pemuda berkemeja flanel berwarna cokelat segera turun dari kursi kemudi. Dengan sigap pemuda itu membukakan pintu penumpang di samping kursi kemudi.


Pemuda berkemeja biru gelap turun dari mobil mewah itu. Ia mengenakan kacamata hitam bergaya aviator dan nampak mengabaikan kerumunan yang tercipta.


"Senior Voren! Senior Voren!" seru para gadis menjerit histeris.


"Hari ini Senior Voren juga masih tetap terlihat tampan!"


Begitulah setiap hari seruan demi seruan selalu menghujani seorang Voren Lazaro. Tak ada seorang pun yang tak mengenal Voren Lazaro, mahasiswa tingkat akhir dari fakultas ekonomi yang tersohor akan ketampanannya, membuat semua gadis tergila-gila. Ketampanan yang tidak umum, pribadi yang santun dan ramah membuat pemuda itu dipuja lahir dan batin. Sungguh tak mengherankan Voren mendapat julukan sebagai Pangeran dari para penggemar fanatiknya.


Voren selalu nampak didampingi oleh pemuda berparas ramah dan murah senyum bernama Doni. Voren dan Doni sudah berteman sejak mereka masih di satu SMA yang sama. Kedua pemuda itu menjadi bintang di fakultas ekonomi. Voren yang diidolakan berkat ketampanannya, sementara Doni terkenal karena kecerdasannya. Namun tetap saja, menjadi tampan akan lebih banyak diidolakan daripada orang yang cerdas.


"Senior Voren, terimalah surat cinta dariku!" kata para gadis menghadang langkah Voren.


"Senior Voren, terimalah kukis buatanku!" para gadis itu bergerombol dan berdesak-desakan menghampiri Voren.


Voren dan Doni menghentikan langkah mereka. Voren membuka kacamata hitamnya, menatap satu per satu wajah-wajah yang tidak ia kenal sambil mengulas senyum ramah, memamerkan dua lesung pipinya.


"Terima kasih ya," kata Voren mengambil semua surat cinta itu satu per satu.


Ia juga mengambil semua kukis yang diberikan para gadis itu. Para gadis nampak berusaha untuk tidak bersorak kegirangan, mereka menahan perasaan antusias tersebut.


"Aku sungguh berterima kasih atas perhatian dan dukungan yang kalian berikan padaku, sementara kukis ini aku berikan saja untuk kalian!" kata Voren.


"Senior Voren tidak mau memakan kukis buatan kami?" tanya salah satu dari mereka.


Voren mengulas senyum ramah kepada mereka.


"Aku sudah terlalu manis, sehingga makanan manis bisa membuatku terserang diabetes, bukankah begitu?" kata Voren.


Para gadis nampak terpesona mendengar jawaban Voren.


"Baiklah, terima kasih untuk surat cinta dari kalian, kalau ada waktu aku pasti akan membacanya, terima kasih ya," kata Voren.

__ADS_1


Voren segera melanjutkan langkahnya, meninggalkan para gadis yang meleleh dengan pesona dan kharisma pangeran rupawan, bertutur kata santun, dan berakhlak mulia itu.


"Doni," Voren menyerahkan semua tumpukan surat cinta itu ke arah Doni.


"Baik, Voren," sahut Doni.


Doni sungguh mengerti apa yang harus ia lakukan terhadap tumpukan surat cinta yang setiap hari diterima oleh Voren. Semua surat cinta itu akan berakhir di tempat sampah dan akan dibumihanguskan tanpa tersisa.


Langkah Voren kembali terhenti saat rombongan gadis kembali menghadang langkahnya. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut hitamnya yang tergerai indah rupanya menjadi pemimpin rombongan gadis itu.


"Siapa di antara kalian yang bernama Voren Lazaro?" tanya gadis itu sambil mengulas senyum ramah.


Voren dan Doni saling berpandangan. Baru kali ini ada gadis yang tidak mengenal seorang Voren. Voren mengamati gadis itu dengan tatapan penuh selidik.


"Saya," jawab Doni tanpa ragu.


Doni tentu saja harus memastikan bahwa gadis ini apakah sungguh tidak tahu siapa Voren.


"Untuk apa anda mencari saya?" tanya Doni.


"Maaf, bukan seperti itu," kata gadis itu masih nampak tersenyum ramah. "Nama saya Soraya, saya adalah mahasiswi tingkat akhir dari jurusan fashion design," gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Saya mendengar kabar yang beredar bahwa Anda memiliki visual yang cocok untuk konsep proyek tugas akhir yang sedang saya garap," lanjut Soraya.


Voren dan Doni kembali berpandangan.


"Saya pikir Anda benar-benar tinggi dan tampan seperti kabar yang beredar, ternyata penampilan Anda di luar ekspektasi saya," kata Soraya saat mengamati penampilan Doni.


Saat itu baru pertama kalinya ada seorang gadis yang membuat harga diri Voren tergores. Voren yang senantiasa berpenampilan sempurna dikatai berpenampilan di luar ekspektasi?


"Jadi, apa ekspektasi Anda terhadap seorang Voren Lazaro? Anda sungguh tidak tahu ya siapa Voren Lazaro?" tanya Voren ke arah Soraya.


"Ya, saya memang bukan mahasiswi yang gaul karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di studio kerja," jawab Soraya.


"Kalian juga tidak tahu siapa Voren Lazaro?" Voren melemparkan pertanyaan kepada rombongan gadis di belakang Soraya.

__ADS_1


Mereka semua menggeleng dengan cepat. Lagi-lagi Voren merasa harga dirinya terluka.


"Baiklah, terima kasih sudah meluangkan waktu kalian, saya dan teman-teman permisi dulu," kata Soraya berpamitan.


"Wah, berarti kabar bahwa Voren Lazaro begitu tampan hanya hoaks saja, ya," kata Soraya kepada teman-temannya.


"Iya, ternyata biasa saja," sahut mereka.


Voren dan Doni kembali berpandangan.


"Wah, wah! Kita masih di sini dan mereka sudah menggunjingkan kita seperti itu, Doni! Sungguh gadis-gadis tak punya akhlak," keluh Voren.


"Aku pikir mereka hanya berpura-pura saja tidak mengenalimu, Voren," kata Doni.


"Bisa-bisanya mengatai ketampananku ini hanya hoaks!" Voren mendelik gusar.


"Mereka sepertinya gadis-gadis kurang pergaulan, Voren," kata Doni seraya tertawa.


"Coba kau cari tahu Soraya itu, masa' iya dia benar-benar tidak tahu siapa Voren Lazaro yang tersohor di universitas ini?!" keluh Voren.


...~...


Doni pun langsung mencari tahu tentang Soraya. Rupanya Soraya merupakan bintang idola dari jurusan fashion design. Selain berparas cantik, Soraya pun memiliki prestasi akademik yang bagus. Sebagai mahasiswa jurusan fashion design, proyek pagelaran busana menjadi tugas akhir untuk para mahasiswa jurusan tersebut. Soraya pun memang mencari model yang akan mengenakan busana yang tengah digarapnya. Menurut kabar yang beredar, Soraya memang mencari Voren Lazaro yang digadang-gadang memiliki penampilan yang cocok untuk konsep yang tengah dikerjakannya.


"Ketampanan di luar ekspektasi," Voren tertawa saat mengulang kembali kata-kata yang dilontarkan oleh Soraya untuknya.


"Ayo Doni, kita datangi itu perempuan! Bisa-bisanya meremehkanku! Dia benar-benar keterlaluan!" keluh Voren lagi.


"Oke!" sahut Doni.


Voren segera menuju ke gedung jurusan fashion design. Kehadirannya tentu saja membuat semua orang bertanya-tanya.


"Kami mencari Soraya dari jurusan fashion design," kata Doni kepada semua orang yang ia temui di gedung jurusan tersebut.


Voren terpana saat melihat sosok Soraya yang nampak terlihat begitu cantik saat mengenakan busana megah yang membuat Voren percaya bahwa bidadari itu ada dan bernama Soraya.

__ADS_1


...~...


__ADS_2