
Doni baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dari kamar tempatnya menginap dan menemukan Tuan Voren yang terlelap di sofa ruang tamu.
Voren benar-benar kelelahan usai bermain basket, begitu tiba di cottage ia langsung merebahkan diri di sofa.
Doni harus membangunkan Tuan Voren. Pria itu harus mandi dan berganti pakaian daripada menimbulkan masalah kulit pada keesokan harinya.
Doni mendekat ke arah Tuan Voren, menggoyangkan tangan pria itu.
"Tuan, bangun," kata Doni.
Terlihat ekspresi pria itu menegang meski matanya tertutup rapat.
"Tidak! Tidak!" Voren menggeleng pelan.
"Tuan," Doni mencoba membangunkan pria itu.
"Istriku!" raung Voren.
Doni tersentak kaget karena Tuan Voren langsung mencekik lehernya.
"Tuan! Ugh... Tuan!" seru Doni langsung menggelepar.
Doni meronta membuat lelaki yang mencekiknya itu terbangun.
Bola mata Voren membulat besar, napasnya memburu dengan jantung bergemuruh ditambah keringat dingin yang bercucuran. Voren melepas tangan yang mencekik leher Doni.
"Uhuk... uhuk...," Doni terbatuk heboh dengan tubuh merosot ke lantai.
Doni benar-benar merasa nyawanya akan tercabut dari raga. Doni masih memegangi lehernya yang terasa sakit akibat cekikan penuh tenaga.
"Do-Doni, ma-maaf," kata Voren tergagap.
Voren tertegun, tangannya gemetaran. Ia menoleh ke segala arah. Ia sudah tersadar dan terbangun dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata dan sungguh menyiksanya.
Doni meneguk ludah, menghirup udara sebanyak mungkin seakan baru saja tenggelam.
Doni mengatur napas secara perlahan, ia benar-benar nyaris mati di tangan atasannya.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya Doni mencemaskan Tuan Voren.
"Doni, tidak bisa! Tidak bisa!" sahut Voren dengan begitu panik.
"Tuan, apa yang tidak bisa?" tanya Doni.
Voren segera keluar dari cottage dan berlari ke cottage yang ditempati Daren.
Tok.. Tok..
"Daren! Daren!" teriak Voren sambil menggedor pintu cottage dengan keras.
Bayang-bayang percumbuan yang begitu mesra berkelebat dalam benaknya. Bagaimana jika kejadian tersebut bukan sekadar mimpinya?
Bagaimana jika Daren memang benar-benar sedang bermesraan dengan istrinya?
Doni benar-benar kebingungan melihat Tuan Voren yang tiba-tiba saja seperti orang kesurupan. Apa jangan-jangan Tuan Voren kesurupan jin penunggu hutan?
Oh ya ampun! Ke mana Doni harus mencari ustadz yang bisa meruqyah Tuan Voren?
"Tuan! Anda benar-benar Tuan Voren? Siapa nama lengkap Anda? Siapa nama saya?" Doni mencecar pria itu dengan pertanyaan.
"Doni! Diam! Apa kau mau kepalamu kuhantam balok?!" raung Voren.
"Astaga! Jin apa yang sedang merasuki Anda, Tuan?" Doni bergidik ngeri.
__ADS_1
Pintu cottage terbuka, sosok Daren muncul di ambang pintu. Pria itu terlihat memakai jubah mandi dengan rambut yang nampak masih basah. Voren langsung menerobos masuk ke cottage tersebut, mengabaikan tatapan Daren dan Doni yang benar-benar keheranan melihat tingkah Voren.
Voren membuka kamar utama yang ada di cottage tersebut, siapa tahu istrinya ada di kamar itu.
Melihat kamar yang kosong, Voren keluar dari kamar itu dan membuka kamar lain yang juga kosong.
"Voren, ada apa? Dan kenapa kau seperti ini?" tanya Daren keheranan.
Voren menghentikan kegiatan sidaknya, ia menghela napas lirih, merasa kelegaan merasuk dalam hatinya lantaran tidak melihat tanda-tanda keberadaan Velan di cottage Daren.
Voren menyugar rambutnya, lalu memasang ekspresi seakan tidak ada hal yang terjadi.
"Daren, aku akan menginap di sini bersamamu!" kata Voren.
Daren mengerutkan kening.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin menginap di sini bersamaku?" tanya Daren keheranan.
"Ah ya, aku ingin kita menghabiskan malam bersama! Let's stick together like a sticker! Sticker!" sahut Voren dengan senang.
...~...
Voren sama sekali tidak bisa menutup matanya meski hanya sekejap. Ia benar-benar gelisah, berkali-kali mengubah posisi tidur. Mulai dari miring ke kiri, miring ke kanan, telungkup, hingga telentang, namun matanya benar-benar tak bisa diajak berkompromi. Ia terus menerus melotot ke arah Daren yang saat ini terlelap sambil memunggunginya.
Voren tidak bisa tidur nyenyak karena berpikir bagaimana jika Daren menyelinap tengah malam, diam-diam ke cottage sebelah, lalu memulai perang gerilya bersama istrinya.
Voren jadi bisa membayangkannya dengan jelas lantaran mengalami sendiri bagaimana Velan melakukan aksi teror penuh gairah yang meresahkannya seperti malam-malam yang pernah mereka lewatkan bersama. Lelaki sehat dan normal pasti akan luluh lantak saat menerima serangan erotis itu, namun bagi Voren, ia tidak bisa melakukannya tanpa ada perasaan.
Daren berguling ke arah Voren, Voren melengos, merasa kesal karena Daren bisa tidur dengan nyenyaknya. Mata Voren menangkap sebuah benda berkilat, keluar dari piyama biru yang dikenakan Daren. Sebuah cincin berlian menjadi liontin dari kalung tipis yang dikenakan Daren.
"Doni," Voren berbisik saat berguling ke arah Doni.
"Hmm, ada apa, Tuan?" tanya Doni.
"Ada apa, Tuan?" bisik Doni.
"Coba kau lihat liontin kalung Daren," bisik Voren.
Doni menyalakan senter ponselnya, lalu mengarahkannya ke arah Daren. Doni yang tadinya masih mengantuk sekali, seketika menjadi segar.
"Tuan, bukankah itu cincin kawin Nona Velan?" bisik Doni.
Voren dan Doni saling berpandangan. Mereka berdua jelas bertanya-tanya mengapa cincin kawin milik Velan ada pada Daren.
Itu artinya, Daren tahu bahwa Velan sudah menikah dan mereka terang-terangan menjalin hubungan romantis.
Wah... wah... luar biasa kau, Istriku! Geram Voren.
...~...
Udara pagi terasa begitu sejuk saat Velan keluar dari cottage dan mendapati Daren sudah melakukan olahraga pagi. Pria itu berlari-lari kecil mengelilingi komplek cottage.
Daren terhenti saat melihat Velan di teras cottage.
"Selamat pagi," sapa Daren.
"Selamat pagi," balas Velan.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Daren.
Velan mengangguk, "Bagaimana denganmu?" tanya Velan.
Daren balas mengangguk sambil mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan pagi?" tanya Daren.
Velan mengangguk lagi sebagai jawabannya.
Velan dan Daren segera pergi berjalan-jalan diiringi tatapan dingin Voren yang melihat dari balik jendela cottage.
...~...
Usai sarapan pagi, mereka semua berkemas untuk meninggalkan tempat wisata tersebut.
"Wah, semoga pembangunan di tempat ini segera selesai sesuai dengan target ya, Pak Daren," kata Dinar saat mereka berjalan menuju ke area parkir.
"Semua tergantung aliran dananya saja," sahut Daren sambil melirik ke arah Voren.
Voren nampak memasang ekspresi datar, seolah ia tidak tahu menahu masalah tersebut.
"Tempat ini bagus sekali, Dinar, bagaimana kalau kita foto bersama?" tanya Velan.
"Oh ide yang sangat bagus, Nona Velan," sahut Dinar antusias.
Dinar celingukan mencari spot foto yang bagus.
"Doni, tolong foto kami berdua di sebelah situ," kata Dinar pada Doni.
"Baik," sahut Doni.
Dinar dan Velan segera berpose saat Doni mulai memotret.
"Pak Daren, Anda juga harus berfoto," kata Dinar mengajak Daren.
"'Kalian saja," kata Daren.
"Pak Daren," Dinar menarik Velan ke arah Daren.
Daren dan Velan saling memandang kemudian sama-sama mengulas senyum.
Daren segera merangkul bahu Velan, sedangkan Velan merangkul pinggang Daren. Doni merasa gemetaran saat akan mengambil gambar Pak Daren dan Nona Velan yang terlihat begitu mesra.
"Wah, Pak Daren dan Nona Velan, kalian seperti sedang foto pra wedding saja!" goda Dinar.
Daren dan Velan kembali berpandangan dan tersenyum malu-malu.
Voren benar-benar merasa kesal melihatnya. Ia pun langsung muncul di tengah-tengah Daren dan Velan.
Voren langsung menyikut leher Daren dan mengulas seringaian.
"Aduh, Daren, kau kaku sekali seperti patung selamat datang!" kata Voren dengan nada mengejek.
"Apa kau tidak bisa berpose yang lebih natural?" Voren melepas tangannya dan merangkul bahu Daren.
"Doni, cepat foto yang benar! Yang bagus ya!" perintah Voren.
Velan mendelik gusar, dalam hati merutuk kelakuan aneh Voren. Velan pun bergeser dan membiarkan Voren dan Daren mengambil foto berdua. Terlihat Voren berpose seakan sedang melakukan pemotretan Next Top Model.
Dinar berbinar-binar melihat Tuan Voren yang memeluk Pak Daren dari belakang. Mereka benar-benar sangat serasi! Batin Dinar bersorak kegirangan.
Namun di mata Velan, Voren terlihat seakan hendak meremukkan tubuh Daren dalam pelukan bak ular piton yang sedang memangsa buruannya.
Dia kenapa begitu sih? Apa dia kesambet jin? Batin Velan.
Usai berfoto, mereka semua segera masuk ke dalam mobil. Doni pun bergegas mengemudikan mobil yang membawa mereka semua kembali ke kota. Velan masih tak putus-putusnya menatap ke arah tempat wisata yang bergerak semakin jauh ke belakang.
Sementara Voren saat ini sedang berpikir, apa yang harus dilakukan untuk memisahkan sang istri dengan pria yang saat ini hendak merebut istrinya tepat di depan matanya.
__ADS_1
...~...