Jodoh Instan

Jodoh Instan
Kunjungan Ibu Mertua


__ADS_3

Vega tersenyum sumringah menatap kalender yang ada di meja riasnya. Waktu seakan bergulir begitu cepat. Satu-satunya anak yang ia miliki sudah menikah dan selama ini ia tidak mendengar kabar berita kerusuhan yang menghiasi rumah tangga anak laki-lakinya itu. Selama ini Vega memang memberi waktu kepada anak dan menantunya untuk fokus berdua saja. Vega tentu tak ingin menjadi mertua yang terlalu kepo terhadap urusan rumah tangga anaknya. Hanya saja saat ini ia sungguh ingin mendengar kabar bahagia yakni kehamilan sang menantu.


Vega sudah tak sabar untuk mengumumkan kabar kehamilan tersebut, lantaran kabar itulah yang jelas sekali sangat ditunggunya. Vega sungguh berharap dengan kehadiran anak hasil pernikahan Voren dan Velan akan membuat Voren mendapat dukungan penuh dari ayah dan ibu mertuanya sebagai penerus keluarga Lazaro. Dengan demikian tampuk kekuasaan Emperor Grup otomatis akan jatuh ke tangan Voren.


Itulah rencana besar yang sedang disusun oleh Vega. Vega mau tidak mau harus melakukan cara ini lantaran kurangnya mendapat dukungan dari sang suami yang justru lebih berpihak pada Daren.


Daren sendiri adalah anak dari Darla, sepupu Alren dari pihak ibu mertuanya, Alena. Daren selalu digadang-gadang lebih unggul segalanya dari Voren. Vega tentu tak bisa membiarkan hal itu sehingga ia akan menggunakan segala cara agar Voren bisa meraih tahta tertinggi Emperor Grup. Vega tahu, Darla pun juga mengerahkan segala macam cara agar Daren bisa mendapatkan posisi itu.


Vega segera menghubungi menantunya, ia akan menemui Velan, dan membawakan banyak oleh-oleh untuk menantu kesayangannya itu. Karena selama ini Vega memanfaatkan waktunya untuk pergi berlibur setelah sebelumnya begitu sibuk mengurus pernikahan Voren.


Vega segera bersiap-siap untuk menuju ke apartemen Voren. Anak laki-lakinya itu memang sudah lima tahun memilih untuk tinggal sendiri. Oleh karena itu Vega kerap merasa cemas sehingga ia sering mengunjungi apartemen Voren dengan membawa beberapa pelayan dari rumah utama untuk melakukan kegiatan beres-beres secara berkala.


...~...


Velan terpaksa menutup kios lebih cepat dari hari biasanya. Ia segera meluncur kembali ke tempat tinggalnya begitu ibu mertuanya menelepon dan mengatakan akan berkunjung.


Velan tertegun saat tiba di unit apartemen, ibu mertuanya itu sudah menyambutnya dengan hangat. Velan melihat beberapa pelayan nampak berdiri menyambut kedatangannya.


"Velan sayang, apa kabar?" tanya Vega yang langsung memberi pelukan kepada menantunya.


"Baik Bu, Ibu sendiri bagaimana?" tanya Velan.


"Ibu tentu saja merasa baik," jawab Vega sambil mengulas senyumnya.


"Kamu dari mana, Velan?" tanya Vega.


"Dari kios, Bu," jawab Velan.


"Kios?" tanya Vega keheranan.


"Iya Bu, saya mengelola sebuah kios kecil," jawab Velan.


"Oh, kamu pasti cari-cari kesibukan, ya?" tanya Vega.

__ADS_1


Velan mengulas senyumnya, saya ini cari uang, Bu.


"Velan, selama ini kamu ya, yang mengurus semua  pekerjaan rumah ini?" tanya Vega.


"Benar, Bu," jawab Velan.


"Loh, kenapa harus kamu? Kenapa tidak menghubungi pelayan saja?" tanya Vega keheranan.


"Tidak apa-apa Bu, saya sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri," jawab Velan.


"Ya ampun, Velan, kamu harus menjaga kondisimu agar tetap prima," kata Vega.


"Iya, Bu," jawab Velan.


"Velan, bagaimana? Apakah sudah ada tanda-tanda  kehamilanmu?" tanya Vega.


Velan menunduk, ia tak tahu harus berkata apa. Ia merasa terlalu takut untuk mengatakan hal yang sejujurnya pada ibu mertua yang nampak berharap sangat pada kehamilan Velan. Hanya saja masalahnya, bagaimana Velan bisa hamil sedangkan hingga detik ini ia masih tetap perawan? Suaminya yang tak tertarik pada wanita itu benar-benar tak menyentuhnya seujung rambut pun.


"Velan, ada apa?" tanya Vega yang melihat perubahan ekspresi Velan yang begitu drastis.


Hanya saja Velan tak mungkin membuka aib tersebut, ia tentu tak mau dituduh menjelek-jelekkan suaminya di hadapan Vega.


"Ibu, bisakah kita bicara empat mata saja?" tanya Velan yang merasa kurang nyaman dengan empat orang pelayan yang dibawa Vega dari rumah utama untuk berbenah di tempat tinggal Voren.


...~...


Kedai kopi yang dikunjungi Velan dan Vega nampak sepi pengunjung. Velan menyeruput es kopinya sambil memilah kata yang tepat untuk melukiskan keadaannya saat ini.


Kehidupan pernikahan yang manis tentu menjadi dambaan setiap pengantin baru yang baru mulai berumah tangga. Hanya saja tidak dengan Velan, ia merasa rumah tangganya tidak ada manis-manisnya, yang ada justru rasa hampa. Hanya saja, lagi-lagi Velan tidak akan mengutarakan hal tersebut. 


"Ibu, sebelumnya saya minta maaf, karena sepertinya saya masih harus mengenal lebih dekat tentang Voren, dan lagipula Voren masih begitu sibuk dengan pekerjaannya," kata Velan berusaha memilih kata-kata yang tepat agar tak menyinggung ataupun terkesan menjelek-jelekkan siapa pun.


"Velan, apa maksudmu?" tanya Vega keheranan.

__ADS_1


"Begini Bu, kami masih sama-sama malu dan sungkan," jawab Velan ragu-ragu.


"Apa?!" Vega terperangah mendengar pengakuan Velan.


"Kalian belum melakukan apapun?" tanya Vega lagi.


Velan mengangguk malu-malu.


"Astaga! Velan, bagaimana bisa? Kalian sudah bersama-sama selama ini! Kalian tidur di satu kamar dan di tempat tidur yang sama kan?" tanya Vega.


Velan kembali mengangguk malu-malu.


"Jadi selama ini kalian hanya saling memandang saja?" tanya Vega lagi.


Velan menyeringai, ia bahkan selalu ingin menyentuh Voren yang benar-benar begitu menggoda birahinya. Namun berhubung pria itu tak tertarik pada wanita, Velan bisa apa?


Melakukan penyerangan secara paksa kepada Voren sudah cukup membuat harga diri Velan begitu terluka dan membuat Voren menjadi sangat menjaga jarak terhadap Velan.


"Aduh, dasar Voren," keluh Vega.


"Ibu, tolong jangan menyalahkan Voren, mungkin saya saja yang kurang berusaha," kata Velan.


"Saya bisa memaklumi bahwa Voren begitu sibuk dan lelah bekerja, sehingga kami belum bisa fokus membangun ikatan yang kuat," lanjut Velan.


Vega menghela napasnya, entah mengapa ia jadi teringat perkataan Madam Yue mengenai Voren yang belum bisa membuka hatinya kepada wanita manapun. Padahal salah satu alasan Vega untuk segera menikahkan Voren adalah agar Voren bisa membuka kembali hatinya. Mengingat cinta ada karena terbiasa bersama.


"Baiklah, Velan, Ibu paham keadaan kalian, bagaimana kalau kalian pergi berbulan madu?" usul Vega.


"Bu-bulan madu?" Velan terperangah.


"Ya, dengan berbulan madu, kalian bisa beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan, dan tentunya bisa sama-sama saling mendekat serta mengakrabkan diri," Vega menjelaskan.


"Ibu, tapi Voren sangat sibuk," kata Velan.

__ADS_1


"Velan, kau tenang saja, nanti Ibu yang mengaturkan semuanya, kau hanya perlu fokus dan mempersiapkan diri untuk berbulan madu," kata Vega.


...~...


__ADS_2