
Dinar menghentikan mobil yang ia kendarai di depan sebuah rumah mewah yang tak lain milik atasannya. Dinar sungguh terkejut karena pagi-pagi Pak Daren minta dibawakan sarapan.
Dinar juga terkejut melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumah mewah tersebut. Sosok pria bersetelan jas abu-abu terang, yang selalu dan senantiasa tersenyum ramah itu nampak gusar, membuat perhatian Dinar tersita. Terlihat Doni nampak mondar-mandir seperti setrikaan di depan pagar tinggi yang tertutup rapat. Doni bahkan berkali-kali celingukan untuk mengintip apa yang ada di balik pagar.
"Doni!" sapa Dinar.
"Eh, oh, selamat pagi, Dinar," Doni terkesiap karena sapaan Dinar.
"Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?" tanya Dinar.
Doni tidak langsung menjawab pertanyaan Dinar. Ia tentu merasa sungkan jika Dinar mengetahui hal yang terjadi.
"Dinar, kau mau masuk ke rumah Tuan Daren?" tanya Doni.
"Tentu saja," sahut Dinar.
Doni bergegas menuju ke bagasi mobil mewah tersebut dan mengeluarkan sebuah koper hitam mengilap berukuran besar.
"Mari masuk bersama-sama," kata Doni sambil mendorong koper besar tersebut.
"Ada apa denganmu, Doni? Kau benar-benar aneh," kata Dinar keheranan.
Dinar segera membuka pintu rumah Pak Daren dengan kunci duplikat yang ia miliki. Keduanya memasuki rumah mewah yang nampak kosong, namun dari halaman belakang terdengar keriuhan.
Dinar melangkah cepat ke halaman belakang dan menemukan dua orang pria yang sedang melakukan lomba renang.
Voren terlihat tak terima saat Daren nampak mengunggulinya. Voren menarik kaki Daren di tengah-tengah perlombaan. Keduanya terhenti tepat di tengah kolam dan saling beradu pandang.
"Voren! Jangan curang begitu!" seru Daren.
"Kau yang duluan berbuat curang, Daren! Kau curi start duluan!" sergah Voren.
Dinar yang berada di pinggir kolam renang terpana melihat kedua pria tampan yang nampak basah kuyup. Kedua pria bertubuh atletis yang beradu pandang begitu intens. Membuat jiwa Dinar meronta-ronta.
"Kau minta dicekik ya, Voren?!" Daren langsung meringkus Voren dengan sikunya.
"Daren! Beraninya kau mencekikku!" Voren balas akan meringkus Daren.
Ya Tuhan! Tidak sia-sia pagi-pagi aku datang ke sini! Dinar menjerit histeris dalam hatinya melihat keakraban dua pria tampan itu.
"Doni, kenapa Tuan Voren ada di sini?" tanya Dinar keheranan.
Doni mengulas senyum kecut. Semalam Doni sama sekali tidak menjawab telepon yang berdering hingga puluhan kali lantaran Doni pergi ke bioskop untuk menyaksikan midnight show. Film yang ditunggu Doni benar-benar tidak boleh terlewatkan, dan kapan lagi Doni bisa punya waktu kosong untuk dirinya sendiri. Itulah yang menjadi motivasi Doni untuk mengabaikan semua telepon yang masuk kecuali dari Tuan Voren.
"Doni! Panjang umur kau!" seru Voren begitu melihat kehadiran Doni.
__ADS_1
Voren segera berenang ke tepi kolam, begitu pun dengan Daren.
Doni segera ke tepi kolam dan menyerahkan handuk yang ia ambil dari dalam koper besar itu.
"Tuan Voren, saya minta maaf," kata Doni. "Saya tidak menjawab telepon dari Tuan Daren, karena saya pikir untuk apa Tuan Daren mencari saya malam-malam," Doni menjelaskan.
"Terus?" tanya Voren penuh selidik.
"Terus apa, Tuan?" Doni balik bertanya.
"Terus, kenapa kau tidak menelepon balik?" tanya Voren.
"Maaf Tuan, saya benar-benar minta maaf," sahut Doni.
"Memangnya semalam apa yang kau lakukan sampai kau begitu berat untuk mengangkat telepon?" tanya Voren.
"Maaf Tuan, saya benar-benar minta maaf," jawab Doni.
"Doni, apa kau tahu, semalam aku benar-benar mengalami hal paling buruk dalam hidupku?! Di mana letak kesetiaan yang selalu kau agung-agungkan itu?" tanya Voren.
"Maaf Tuan, sungguh saya menyesal dan tak akan mengulanginya lagi," jawab Doni.
"Voren, cukup! Doni kan sudah minta maaf padamu," sahut Daren.
"Huh, Daren! Minta maaf memang mudah! Lantas jika semalam terjadi sesuatu padaku, apa maaf saja sudah cukup untuk menyelesaikan semuanya?" tanya Voren dengan nada penuh kekesalan.
Oh Tuan Daren, betapa bijaksananya Anda! Ingin rasanya saya mencium kaki Anda! Batin Doni.
"Baiklah, aku terima permohonan maafmu kali ini karena Daren yang memohon padaku, Doni," kata Voren.
Siapa yang memohon padamu, Voren? pikir Daren.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda yang tiada tara dan seluas serta sedalam samudera dan setinggi langit di angkasa, Tuan Voren!" kata Doni.
Dinar ingin tertawa keras-keras mendengar perkataan Doni. Yah, menghadapi pria kompleks seperti Tuan Voren memang susah-susah gampang.
"Jadi, semalam Anda menginap di sini, Tuan Voren?" tanya Dinar.
"Sebenarnya aku tidak berniat untuk menginap di sini, harusnya aku menginap di hotel termewah, namun asistenku yang luar biasa ini benar-benar mengabaikanku," jawab Voren sambil melotot jengkel ke arah Doni.
"Iya Tuan, saya yang salah, saya," kata Doni mengiba.
"Tuan, silakan mandi dan berganti pakaian, saya sudah menyiapkan semuanya," kata Doni.
Dinar kembali mengulas senyum misteriusnya. Dua pria tampan, semalaman bersama, apa yang sudah terjadi di antara mereka ya?
__ADS_1
Ah, aku jadi berdebar-debar hanya dengan memikirkannya saja, batin Dinar bersorak kegirangan.
...~...
"Doni, berhenti!" perintah Voren.
Doni menghentikan mobil yang ia kemudikan tepat di depan sebuah toko bunga yang masih buka padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Voren segera turun dari mobil dan memasuki toko bunga tersebut. Seorang penjaga toko bunga langsung menyambutnya ramah.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko yang langsung terpesona saat melihat sosok pria luar biasa tampan dan berkilauan itu.
"Saya butuh buket bunga mawar merah," jawab Voren sambil mengulas senyum ramah.
"Ukuran besar atau kecil?" tanya penjaga toko bunga itu merasa deg-degan.
Gila, tampan sekali, ia membatin histeris.
"Yang besar lebih baik," jawab Voren.
"Baiklah, sebentar akan saya siapkan," sahut penjaga toko itu.
Doni segera menghampiri Tuan Voren yang nampak melihat-lihat bunga-bunga segar yang terpajang di dalam toko.
"Tuan mau beli bunga?" tanya Doni.
"Doni, apa aku ke toko bunga untuk membeli gorengan?" Voren balik bertanya.
Doni menyeringai, sepertinya ia sudah mengajukan pertanyaan yang salah.
"Maksud saya, bunga yang Anda beli, apakah untuk istri Anda?" tanya Doni.
"Doni, aku bahkan lebih tahu bahwa mawar merah adalah bunga kesukaan Soraya," jawab Voren.
Doni memutar bola matanya, entah mengapa ia benar-benar mengasihani Nona Velan. Tak ada sedikit pun tempat yang tersisa di hati Tuan Voren untuk wanita itu.
Apakah Nona Velan bisa membuat suaminya ini berpaling dari Soraya dan kembali kepadanya?
Meski Nona Velan bisa membelah Laut Merah seperti Nabi Musa tidak menjamin bahwa Tuan Voren akan bisa memberikan cinta untuknya.
Keegoisan dari seorang Tuan Voren benar-benar tidak bisa dibendung.
"Ini bunganya," kata penjaga toko yang datang menyerahkan buket bunga mawar merah kepada Voren.
"Terima kasih," kata Voren menerima buket bunga mawar merah itu dan mencium aroma bunga mawar yang begitu harum.
Dalam benaknya, terlintas untuk menyiapkan satu kebun bunga mawar merah saat ia akan melamar Soraya. Soraya pasti benar-benar akan sangat menyukainya.
__ADS_1
...~...